Berakhirnya Era Bapa Leluhur

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 50

Belakangan ini, kita sering mendengar istilah “khilafah” yang dikumandangkan oleh sebagian kaum muslim. Khilafah memiliki arti dasar “para pemimpin umat beriman,” suatu posisi yang juga ditempati oleh para Bapa Leluhur Israel yang dimulai dari Abraham, Ishak, dan Yakub. Kita sudah melihat di pasal 48 dan 49, bahwa menjelang kematiannya, Yakub telah memberikan nasihat dan berkat kepada semua anaknya yang kelak akan menjadi cikal bakal bangsa Israel. Pada pasal 50 ini, kita melihat sisa-sisa pemerintahan “khilafah” Israel yang dipimpin oleh Yusuf, sang anak kesayangan Yakub yang mendapat anugerah memimpin bangsa Mesir.

Ada dua bagian menarik dalam pasal ini. Hal pertama adalah keengganan Yusuf untuk membalaskan dendamnya kepada semua sanak saudara yang dahulu pernah berniat membunuhnya. Pada zaman sekarang ini, tindakan balas dendam merupakan kekejian besar. Namun, pada zaman dulu, pembalasan dendam merupakan suatu hal yang lumrah terjadi. Tidaklah mengherankan apabila Alkitab berkata bahwa semua saudara Yusuf begitu ketakutan ketika Yakub meninggal dunia. Namun, sikap Yusuf amat luar biasa. Dia bukan hanya tidak mau membalas dendam, namun ia beranggapan bahwa semua yang telah terjadi pada dirinya di masa lampau merupakan tindakan Allah yang telah membawanya sampai pada kondisi yang mulia pada saat itu. Sungguh, sikap Yusuf telah merekonsiliasi keluarga besar Bapa leluhur Israel yang tidak pernah lepas dari pertikaian dan perasaan dendam. Sikap Yusuf merupakan suatu langkah maju yang tepat sekali dalam menyongsong era baru di tanah asing.

Hal kedua yang menarik adalah permintaan Yusuf kepada semua saudaranya untuk membawa pergi tulang-tulangnya saat Tuhan Allah memimpin mereka keluar dari Mesir dan menuju Tanah Perjanjian. Tindakan ini sungguh di luar kelaziman para penguasa Mesir di kala itu yang berusaha membangun piramida yang amat megah guna menyimpan mayat secara permanen serta memamerkan status sosial mereka sebagai penguasa Mesir. Namun, Yusuf tidak mengikuti kebiasaan tersebut karena ia beriman kepada Tuhan yang telah berjanji untuk memberikan Tanah Perjanjian. Sungguh, Yusuf telah mendemonstrasikan iman yang luar biasa! Rekonsiliasi dan pertunjukan iman yang luar biasa inilah yang mengakhiri kitab Kejadian! [Sung]