Persiapan Membangun Kemah Suci

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 35:1-29

Setelah Musa turun dari Gunung Sinai dengan membawa dua loh batu yang baru yang berisi sepuluh hukum Allah (34:27-29), Musa mulai melakukan persiapan untuk membangun Kemah Suci.

Yang menarik, persiapan pertama yang dilakukan Musa sebelum pembangunan dimulai adalah mengingatkan tentang peraturan Sabat (35:1-3). Jelaslah bahwa peraturan Sabat bukan hanya berlaku untuk masa depan (setelah pembangunan selesai), melainkan telah diberlakukan sebelum Kemah Suci mulai dibangun. Para pekerja yang membangun Kemah Suci juga harus mengindahkan peraturan Sabat. Mereka harus beristirahat setiap hari yang ketujuh. Dari satu sisi, pemberlakuan peraturan Sabat menjelang pelaksanaan proyek pembangunan Kemah Suci ini secara tidak langsung mengingatkan bahwa walaupun orang-orang yang membangun itu merupakan orang-orang yang ahli dalam bidangnya (35:30-36:2), mereka memiliki keterbatasan manusiawi. Mereka perlu beristirahat sesudah bekerja keras. Dari sisi lain, Sabat juga mengingatkan bahwa sumber kekuatan dan pengetahuan yang memampukan para pekerja melaksanakan tugas mereka adalah berasal dari Allah sendiri.

Persiapan kedua yang dilakukan Musa sebelum pembangunan Kemah Suci dimulai adalah mempersiapkan hati. Musa menghendaki agar seluruh bangsa Israel terlibat dalam pembangunan. Mereka yang tidak ikut membangun secara fisik pun harus ikut membangun dengan mempersembahkan harta benda mereka. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus bersabda, “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21). Melalui tindakan mempersembahkan harta, seluruh bangsa Israel ikut merasakan bahwa pembangunan Kemah Suci itu merupakan proyek bersama, bukan sekadar proyek Musa.

Persiapan membangun Kemah Suci yang dilakukan Musa ini adalah pelajaran berharga bagi gereja pada masa kini dan bagi setiap orang yang ingin melayani Allah. Kita harus menyadari bahwa sumber kekuatan kita dalam melayani terletak pada Allah yang memberi kekuatan. Kita pun harus melayani dengan segenap hati, termasuk dengan mempersembahkan harta benda kita yang sebenarnya juga berasal dari pemberian Allah. Dengan demikian, seluruh pelayanan yang kita lakukan akan membuat Allah dimuliakan melalui kehidupan kita. [GI Purnama]

Peringatan Penting!

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 34

TUHAN itu luar biasa sabar. Sesungguhnya, pengkhianatan bangsa Israel yang ditunjukkan melalui pembuatan dan penyembahan anak lembu emas amat menyakitkan hati TUHAN. Sekalipun demikian, kesabaran Allah dan kemurahan hati-Nya membuat Ia mau mengampuni bangsa Israel, bahkan Ia berjanji untuk melakukan berbagai perbuatan yang sungguh-sungguh dahsyat (34:10). Allah mengetahui betapa lemahnya umat Israel. Oleh karena itu, Ia memperingatkan bangsa Israel agar mereka tidak mengadakan perjanjian dengan penduduk Tanah Kanaan serta tidak menjalin hubungan keluarga melalui ikatan pernikahan dengan mereka. Allah kuatir bahwa bila terjalin ikatan pernikahan antara bangsa Israel dengan bangsa kafir, umat Allah akan ikut terseret dalam penyembahan kepada ilah asing (34:12-16).

Sewajarnya, bangsa Israel yang baru saja menerima hukuman Tuhan yang amat keras karena mereka tergoda untuk membuat patung anak lembu emas itu sadar bahwa peringatan Allah itu penting dan harus selalu diingat! Akan tetapi, ternyata bahwa bangsa Israel itu benar-benar keras kepala. Setelah mereka memasuki Tanah Perjanjian, akan terlihat bahwa bangsa Israel sering mengabaikan peringatan Allah ini. Berbagai peristiwa menyedihkan terjadi karena bangsa Israel berkali-kali lalai dan mengikatkan diri dalam hubungan perjanjian serta pernikahan dengan suku-suku asing. Itulah sebabnya, sebagian besar sejarah Israel merupakan sejarah yang kelam!

Pada masa kini, Allah tetap memberi peringatan yang sama, yaitu bahwa anak-anak Allah harus berhati-hati dalam menjalin relasi dengan sesama yang belum percaya, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33). Sungguh menyedihkan bahwa di kalangan Kristen pun, kita bisa menemukan terjadinya penipuan, korupsi, perselingkuhan, perceraian, dan berbagai dosa lain yang jelas menyakiti hati Tuhan. Mengikuti peringatan TUHAN untuk menjaga diri dalam pergaulan merupakan cara paling aman untuk mempertahankan iman. Rasul Paulus mengingatkan, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Korintus 6:14). [GI Purnama]

Dosa itu Masalah Serius!

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 33

Dosa yang dilakukan bangsa Israel—yaitu membuat dan menyembah patung anak lembu emas—merupakan masalah yang sangat serius! Allah yang kudus itu tidak bisa membiarkan dosa! Kekudusan Allah “memaksa” Allah untuk menghukum orang berdosa, tetapi anugerah Allah membuat Allah memberikan jalan keluar. Tindakan bani Lewi yang telah menewaskan 3000 orang Israel telah meredakan murka Allah (32:26-28). Sekalipun demikian, dosa yang telah dilakukan bangsa Israel benar-benar telah melukai hati TUHAN, sehingga Ia berniat untuk tidak lagi berjalan bersama-sama dengan bangsa Israel, melainkan mengutus malaikat-Nya untuk mengawal bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian (32:34; 33:2-3). Jalan keluar yang diberikan TUHAN ini sudah merupakan suatu anugerah. Akan tetapi, bagi Musa, penyertaan TUHAN itu amat penting. Penyertaan TUHAN inilah yang membedakan bangsa Israel dengan bangsa-bangsa lain (33:16). Musa rela mengorbankan dirinya asal dosa bangsa Israel diampuni dan TUHAN kembali menyertai umat Israel (32:31-32). Akhirnya, karena kesungguhan Musa memohon agar TUHAN Allah menyertai umat-Nya, TUHAN kembali berjanji untuk menyertai umat-Nya.

Bila Allah berkenan berdiam di antara orang Israel pada zaman Musa, saat ini Allah berkenan untuk berdiam dalam hati setiap orang yang percaya melalui kehadiran Roh Kudus (Efesus 1:13; 1 Korintus 3:16; 6:19). Bagi orang percaya pada masa kini, sikap TUHAN tetap sama. TUHAN membenci dosa dan Ia tidak bisa menutup mata terhadap dosa. Akan tetapi, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9). Pada zaman Musa, Allah tetap mau tinggal bersama-sama dengan umat Israel karena permohonan Musa. Pada zaman ini, Allah mau mengampuni dosa kita, dan Dia berkenan untuk diam di dalam hati kita, karena pengorbanan Kristus di kayu salib telah menyelamatkan kita. Melalui kematian-Nya, Kristus telah menanggung hukuman dosa kita. Sekalipun demikian, hal itu tidak berarti bahwa pada saat ini, perbuatan dosa sudah tidak menjadi masalah. Allah tetap membenci dosa, tetapi Allah memperhitungkan Kristus yang telah mati menanggung dosa kita. Oleh karena itu, seharusnya kita senantiasa hidup menjauhi dosa! (Bandingkan dengan Roma 6:1-2). [GI Purnama]

Iman yang Tidak Dewasa

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 32

Bangsa Israel adalah bangsa yang menyembah TUHAN Allah, tetapi iman mereka belum dewasa. Ketidakdewasaan mereka nampak dalam kebergantungan mereka kepada Musa. Mereka sudah terbiasa membawa semua masalah kepada Musa, tetapi mereka belum terbiasa mengatasi masalah mereka sendiri. Dalam hubungan dengan TUHAN, mereka bergantung sepenuhnya kepada Musa. Oleh karena itu, saat Musa meninggalkan bangsa Israel selama 40 hari dan 40 malam (24:18), iman mereka tergoncang. Keadaan mereka bagaikan domba tanpa gembala, sikap mereka menjadi tak terkendali. Saat Musa naik ke atas Gunung Sinai untuk menghadap TUHAN Allah, Harun dan Hur adalah para pemimpin pengganti (24:14). Sayangnya, Harun kurang berwibawa sehingga dia “terpaksa” menuruti permintaan bangsa Israel untuk membuat patung anak lembu emas sebagai sembahan yang bisa dilihat dengan mata jasmani (32:1-4).

Patung anak lembu emas tidak perlu diartikan sebagai “allah lain” karena patung ini juga disebut Elohim (sebutan untuk “Allah” dalam bahasa Ibrani). Akan tetapi, pembuatan patung ini menyalahi hukum kedua yang ditetapkan Allah, yaitu “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.” (20:4-5a). Dengan membentuk Allah sebagai patung yang bisa dilihat, bangsa Israel telah merendahkan Allah yang sebenarnya tidak sebanding dengan apa pun di dunia ini. Allah melampaui segala sesuatu, bahkan melampaui apa yang sanggup kita pikirkan tentang Dia. Menggambarkan kekuatan Allah sebagai kekuatan lembu—yang saat itu dianggap sangat kuat—adalah usaha yang merendahkan Allah. Pemahaman kita tentang Allah seharusnya dibentuk sepenuhnya oleh apa yang telah Allah nyatakan dalam firman-Nya. Iman yang dewasa adalah iman yang senantiasa tunduk terhadap apa yang telah Allah firmankan dan apa yang telah Allah tetapkan. Penolakan terhadap firman Allah sebagai sumber kebenaran serta ketidakmampuan menerima keadaan merupakan ciri-ciri sikap memberontak terhadap Allah dan kehendak-Nya. Bersediakah Anda menerima keadaan apa pun yang Allah izinkan terjadi dalam hidup Anda tanpa mencari jalan yang bertentangan dengan kehendak-Nya? [GI Purnama]

Hidup dalam Ketaatan

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 31

Allah bukan hanya memberikan petunjuk secara sangat terperinci kepada Musa mengenai pembuatan Kemah Suci dan perabot-perabot yang diperlukan untuk peribadatan, tetapi Dia juga menunjuk, menetapkan, dan melengkapi orang-orang yang mengerjakan pembuatan Kemah Suci tersebut. Perlu diingat bahwa Allah menghendaki agar pembuatan Kemah Suci dan perabot-perabot tersebut dilaksanakan persis seperti instruksi yang telah Allah berikan (31:2-11). Pemberian instruksi yang terperinci ini menunjukkan bahwa kehendak Allah tidak hanya bersifat umum, tetapi mencakup pula kehendak yang bersifat khusus (terperinci). Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa kita perlu mencari kehendak Allah bukan hanya secara umum (garis besar), tetapi kita perlu mencari kehendak Allah secara spesifik (terperinci).

Perlu diingat bahwa ketaatan yang dituntut Allah dari umat-Nya itu mencakup dua hal, yaitu ketaatan secara etis dalam kehidupan sehari-hari (menyangkut relasi dengan sesama) dan ketaatan dalam hal ibadah (menyangkut relasi dengan Tuhan). Kedua arah ketaatan ini harus dilaksanakan bersama-sama. Untuk menjaga agar hidup kita dijalani secara seimbang, Allah menetapkan bahwa pekerjaan orang Israel harus diselesaikan dalam enam hari, dan hari ketujuh dikhususkan sebagai hari perhentian (Sabat). Penetapan Sabat ini sangat penting, bukan hanya agar kita bisa beristirahat secara fisik, tetapi juga agar kita selalu mengingat Allah sebagai sumber segala kebaikan yang kita terima. Bila kita bekerja selama tujuh hari dalam seminggu, hidup kita akan menjadi tidak sehat, baik secara jasmani maupun secara rohani.

Adanya Sabat tidak berarti bahwa ketaatan yang dituntut Allah hanyalah ketaatan sehari dalam seminggu. Sesungguhnya, Allah menuntut ketaatan dalam seluruh hidup kita! Dengan menyisihkan hari Sabat untuk Tuhan, kita mengaitkan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari dengan ketaatan secara rohani dalam hubungan dengan Allah. Sabat mengingatkan kita bahwa hidup kita tidaklah bebas semau kita. Sabat memberi kesempatan berpikir dan menyiapkan diri dalam menghadapi realitas kehidupan sehari-hari. Relasi dengan Allah adalah sumber kekuatan untuk menjalani hidup sehari-hari dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Saat ini, orang Kristen tidak lagi beribadah pada hari Sabat (hari ketujuh), melainkan pada hari Minggu (hari pertama) untuk mengingat Kristus yang telah bangkit dari kematian. [GI Purnama]

Pakaian Kemuliaan

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 28

Harun dan anak-anaknya adalah generasi pertama pemegang jabatan imam (28:1). Harun menjabat sebagai imam besar yang pertama dan anak-anak Harun menjabat sebagai imam biasa. Orang-orang dari suku Lewi di luar keluarga Harun—termasuk keluarga Musa—tidak menjabat sebagai imam. Sebelum Harun dan anak-anaknya menjabat sebagai imam, fungsi imam dilaksanakan oleh Musa (bandingkan dengan Mazmur 99:6). Hal ini nampak dari kenyataan bahwa Musa-lah yang menahbiskan Harun dan anak-anaknya ke dalam jabatan sebagai imam besar dan imam-imam biasa (pasal 29).

Jabatan imam besar adalah jabatan mulia, yang ditandai oleh dikenakannya pakaian yang amat mewah (28:4-39) yang disebut sebagai perhiasan kemuliaan (28:2). Allah sendiri yang menetapkan pakaian dinas bagi para imam—termasuk imam besar—berupa kemeja, serban (penutup kepala), ikat pinggang, dan celana dari lenan halus, yang harus selalu dipakai saat melaksanakan tugas di Kemah Pertemuan atau Kemah Suci (28:39-43). Khusus bagi imam besar, pakaiannya dilengkapi dengan baju efod beserta tutup bahu dan sabuk, tutup dada pernyataan keputusan, gamis panjang (jubah) dengan giring-giring dan buah delima di bagian bawah, serta patam (pelat) emas di dahi (28:4-38). Dari satu sisi, pakaian dinas imam besar yang amat mewah ini membangkitkan rasa kagum dan hormat dari umat Israel kepada Allah. Dari sisi lain, pakaian kehormatan semacam ini menuntut para imam untuk menjaga kehidupannya agar tanpa cacat sehingga pantas untuk dihargai oleh umat Allah. Ide pakaian jabatan yang membuat pemakainya nampak mengagumkan ini ditiru oleh gereja-gereja tradisional yang menuntut agar para pendeta selalu mengenakan pakaian jabatan saat melaksanakan tugasnya, khususnya saat memimpin upacara gerejawi.

Walaupun jabatan sebagai imam besar merupakan jabatan bergengsi, Musa tidak mau mengambil jabatan ini untuk dirinya atau untuk anak-anaknya. Musa dan keluarganya rela menerima posisi sebagai orang Lewi biasa tanpa jabatan imam. Musa sendiri sudah sangat sibuk dengan kedudukannya sebagai pemimpin umat Israel yang sekaligus melaksanakan fungsi sebagai seorang nabi yang menyampaikan kehendak Alah kepada umat Israel. Apakah Anda rela membiarkan orang lain menempati posisi yang lebih terhormat dari posisi Anda? [GI Purnama]

Perabot dan Struktur Kemah Suci

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 27

Bahan dasar yang dipakai untuk membuat perabot di Kemah Suci adalah emas, perak, tembaga (25:3), dan kayu penaga (25:5). Kayu penaga adalah jenis kayu hitam yang tumbuh di padang pasir. Kayu ini sangat awet (tidak akan menjadi rapuh) dan tahan api, sehingga dipakai sebagai bahan utama untuk membuat tabut (peti), mezbah (meja), serta kayu pengusung. Perabot dalam Kemah Suci—yaitu Tabut Perjanjian atau Tabut Hukum (25:10-22), Meja (Mezbah) Roti Sajian dan peralatannya (25:23-30), Kandil (tempat lampu) dengan Tujuh Cabang (25:31-40), dan Mezbah Pembakaran Ukupan (30:1-10)—dibuat dari emas atau dari kayu penaga yang dilapis dengan emas, sedangkan perabot yang berada di luar Kemah Suci—Mezbah Korban Bakaran (27:1-8) dan Bejana Pembasuhan (30:18-21)—dibuat dari tembaga atau dari kayu penaga yang dilapis dengan tembaga. Perhatikan bahwa perabot dalam Kemah Suci berkaitan dengan ibadah atau perjumpaan dengan TUHAN, sedangkan perabot di luar Kemah Suci berkaitan dengan upacara penyucian bagi seseorang yang hendak menghadap Allah.

Allah tidak pernah bekerja sembarangan. Rancangan struktur Kemah Suci dan bahan-bahan yang dipakai memiliki makna penting. Penempatan Mezbah Korban Bakaran dan Bejana Pembasuhan di luar Kemah Suci memiliki makna bahwa seseorang yang ingin menghadap Allah (yang menyatakan diri-Nya di atas Tutup Pendamaian—yaitu penutup Tabut Perjanjian, Imamat 16:2) harus lebih dulu mengalami penyucian melalui persembahan korban bakaran dan bejana pembasuhan. Korban bakaran melambangkan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang mengorbankan diri-Nya sendiri di kayu salib. Bejana pembasuhan melambangkan penyucian oleh darah Kristus yang telah dicurahkan di kayu salib. Tanpa melalui Yesus Kristus, tidak ada seorang pun yang dapat menghadap Allah (bandingkan dengan Yohanes 14:6). Apakah Anda sudah mengalami penyucian dosa? Anda tidak mungkin mengalami penyucian dosa bila Anda tidak/belum percaya kepada Yesus Kristus. Bila Anda sudah mengalami penyucian dosa melalui Yesus Kristus, Anda menjadi manusia baru di dalam Kristus. Sebagai manusia baru, Anda hanya akan bisa bertumbuh bila Anda terus-menerus membina relasi dengan Allah melalui doa serta pembacaan dan penerapan firman Allah dalam kehidupan Anda! [GI Purnama]

Tempat Kudus bagi Allah

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 26

Kemah Suci yang dibicarakan dalam pasal 26 adalah tempat kudus, bukan karena bahan-bahan mahal yang dipakai, tetapi karena Allah berkenan diam di sana (25:8). Ada anggapan bahwa gereja (tempat ibadah orang Kristen) seharusnya seperti kemah yang bisa dipindah-pindah, bukan tempat permanen. Berdasarkan anggapan ini, pendirian gedung gereja yang megah dianggap sebagai melawan kehendak Allah. Anggapan semacam itu merupakan pandangan yang sempit, bahkan sesat! Sadarilah bahwa Kemah Suci dibangun saat bangsa Israel sedang dalam perjalanan menuju ke Tanah Kanaan. Dalam perjalanan, tidak mungkin mereka mendirikan bangunan permanen sebagai tempat untuk menyembah Allah. Oleh karena itu, Allah sendiri yang menetapkan agar Musa memerintahkan bangsa Israel membangun Kemah Suci sebagai tempat bagi Allah untuk menyatakan diri-Nya kepada umat Israel.

Pandangan keliru berikutnya adalah anggapan bahwa rumah Allah tidak boleh mahal. Jangan memboroskan uang untuk membangun rumah Allah (pada masa kini: gedung gereja)! Pandangan semacam ini tidak tepat! Ingatlah bahwa Kemah Suci dibangun dengan bahan-bahan yang mahal, sehingga Kemah Suci jelas lebih mewah daripada kemah-kemah tempat tinggal umat Israel. Pada masa kini, wajar bila gedung gereja yang dibangun di tempat sederhana berupa rumah sederhana. Akan tetapi, merupakan ironi (sesuatu yang tidak semestinya terjadi) bila para anggota gereja berdiam di rumah-rumah mewah, sedangkan gedung gereja jauh lebih sederhana. Membangun gedung gereja yang pantas adalah ungkapan penghormatan yang wajar kepada Allah.

Perlu diingat bahwa kekudusan rumah Allah tidak ditentukan oleh mahalnya bahan yang dipakai untuk membangun Kemah Suci, tetapi oleh kesediaan Allah menyertai umat-Nya. Ingat pula bahwa respons yang paling dituntut dari umat Allah adalah ketaatan terhadap perintah Allah sebagai wujud penghormatan terhadap kekudusan Allah. Musa harus membangun Kemah Suci berdasarkan contoh yang diberikan Allah, tidak boleh secara sembarangan (25:9). Perhatikan bahwa petunjuk yang diberikan Allah kepada Musa sangat terperinci, baik menyangkut isi Kemah Suci (pasal 25), maupun menyangkut kemah dan perlengkapannya (pasal 26). Apakah Anda bersedia menaati kehendak Allah sampai kepada hal-hal yang Anda anggap sebagai ‘hal-hal kecil’? [GI Purnama]

Rela Mempersembahkan yang Terbaik

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 25

Kehadiran Allah di atas Gunung Sinai membuat gunung itu menjadi kudus, dan kekudusan Allah membuat bangsa Israel dilarang mendekati gunung itu (bandingkan 24:2 dengan 19:11-16,21). Saat menerima sepuluh hukum dan berbagai peraturan lain (pasal 20-23), Musa disertai oleh Harun (19:24). Akan tetapi, setelah perjanjian disahkan dalam pasal 24, Harun tinggal bersama dengan bangsa Israel agar bisa menyelesaikan permasalahan yang muncul di antara bangsa Israel, sedangkan Musa kembali menghadap Allah dengan disertai oleh Yosua (24:13). Akan tetapi, mengingat bahwa apa yang disampaikan Allah kepada Musa tentang penyelewengan bangsa Israel belum dimengerti oleh Yosua (32:7-18), nampaknya Yosua ditinggalkan di satu tempat di kaki gunung atau di lereng gunung, dan hanya Musa sendirian yang diperkenankan untuk menghadap TUHAN di atas puncak Gunung Sinai. Hal ini menunjukkan bahwa Allah memiliki derajat yang lebih tinggi daripada manusia, sehingga Allah harus dihargai. Allah tidak boleh diremehkan!

Penghargaan terhadap kekudusan Allah harus diwujudkan dalam ibadah, khususnya dalam persembahan kita kepada TUHAN. Perhatikan bahwa persembahan yang harus dipungut dari orang Israel untuk keperluan peribadatan—yaitu untuk membangun Kemah Suci dan membuat pakaian imam—adalah barang-barang yang berharga (emas, perak, tembaga, kain ungu tua, dan seterusnya, 25:1-7). Perhatikan pula bahwa persembahan ini merupakan persembahan sukarela (berdasarkan dorongan hati, 25:2), bukan persembahan yang dipaksakan. Dengan demikian, persembahan semacam ini hanya akan diberikan oleh orang-orang yang menghargai Allah! Ingatlah bahwa dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan), orang Israel tidak mungkin bekerja untuk mengumpulkan kekayaan. Mereka hanya membawa barang-barang yang mereka kumpulkan saat masih tinggal di Gosyen (tempat tinggal bangsa Israel saat berada di Tanah Mesir) serta membawa barang-barang yang mereka minta dari orang-orang Mesir (11:2; 12:35). Oleh karena itu, jelas bahwa kesediaan memberi mencerminkan kesediaan berkorban. Bagi orang Kristen pada masa kini, kesediaan memberi yang terbaik secara sukarela masih tetap dituntut (2 Korintus 9:6-7). Apakah Anda sudah membiasakan diri untuk menghargai TUHAN dengan mempersembahkan yang terbaik secara sukarela? [GI Purnama]

Janji dan Tuntutan Allah

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 23:20-33

Janji Allah kepada bangsa Israel luar biasa. Ia berjanji untuk mengutus malaikat-Nya mendampingi umat Israel. Malaikat Allah itu akan merealisasikan semua janji Allah kepada umat-Nya, khususnya yang berkaitan dengan Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan, 23:20, 23, 30-31). Allah berjanji untuk memberikan makanan, minuman, kesehatan, dan kemenangan dalam peperangan (23:20, 23, 25-31). Respons yang dituntut Allah dari umat Israel adalah kesediaan mendengar, ketaatan, dan kesetiaan kepada Allah (23:21-22, 24-25), serta kesediaan untuk tidak mengikat perjanjian dengan penduduk Tanah Kanaan (23:32). Mengingat bahwa bangsa Israel telah melihat berbagai perbuatan Allah yang dahsyat, baik selama mereka masih berdiam di Mesir maupun sepanjang perjalanan ke padang gurun, seharusnya jelas bahwa janji Allah sangat meyakinkan dan tuntutan-Nya tidaklah berat. Sayangnya, di kemudian hari, nampak bahwa bangsa Israel tidak dapat bertahan untuk terus setia kepada Allah.

Orang percaya pada zaman ini adalah pewaris janji Allah yang diberikan kepada Abraham (Galatia 3:29). Ada banyak sekali janji yang diberikan Allah kepada umat-Nya di dalam Alkitab. Sebagian janji bersifat khusus (hanya berlaku saat itu), tetapi ada sangat banyak janji yang bersifat umum (Berlaku sepanjang zaman). Yang dituntut Allah dari umat-Nya pada masa kini masih tetap sama dengan apa yang dituntut Allah pada masa lampau, yaitu kesediaan untuk mendengarkan firman Tuhan, kesediaan untuk taat, dan kesetiaan. Sangatlah bodoh bila kita membiarkan hati kita tertarik kepada tawaran dunia ini dan mencampakkan janji-janji yang begitu berharga yang kita warisi di dalam Kristus. Sekalipun demikian, di satu pihak, perlu disadari bahwa ketaatan yang dituntut Allah itu adalah ketaatan jangka panjang atau ketaatan yang disertai dengan kesetiaan. Di lain pihak, Iblis terus-menerus mencari kesempatan untuk menggoda kita dan menggoyahkan iman kita (bandingkan dengan Lukas 4:13 dan 1 Petrus 5:8). Sepanjang zaman, firman TUHAN tetap merupakan sumber kekuatan yang akan menolong kita untuk melawan dan menolak godaan Iblis (Perhatikan bahwa Tuhan Yesus pun memakai firman TUHAN sebagai senjata untuk mengalahkan godaan Iblis (Matius 4:4, 7, 10). Kita perlu memandang kehidupan kita ini sebagai arena untuk berlomba dalam iman. Untuk memenangkan perlombaan ini, kita harus melawan dosa, bertekun, dan meneladani Kristus (Ibrani 12:1-4). [GI Purnama]