Gema

Karunia dan Pengendalian Diri

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 14:26-40

Pernahkah Anda mendengar ungkapan seperti, “tergantung pada gerakan Roh Kudus”, “nanti lihat saja bagaimana Roh Kudus menggerakkan atau mengarahkan saya”, atau “saya melakukan sesuai dengan pimpinan Roh Kudus”. Dari satu sisi, ungkapan seperti di atas menunjukkan adanya unsur keterpaksaan dalam diri seseorang karena orang itu didorong (dipaksa) oleh Roh Kudus untuk melakukan sesuatu. Di sisi lain, kadang-kadang ungkapan seperti di atas disalahgunakan untuk bertindak semaunya dengan alasan bahwa Roh Kuduslah yang berwewenang mengatur. Salah satu contoh nyata: Orang yang berbahasa roh sering berkata bahwa ia tidak dapat mengendalikan lidahnya, sehingga ia harus terus-menerus berbahasa roh sampai Roh Kudus menghentikannya. Pemikiran seperti di atas bertentangan dengan ajaran Rasul Paulus tentang karunia roh dalam bacaan Alkitab hari ini. Menurut Rasul Paulus, karunia berbahasa roh seharusnya dapat dikendalikan.

Rasul Paulus menegaskan bahwa bila ada orang yang berbahasa roh dalam pertemuan jemaat, harus ada orang yang menafsirkan (14:5). Bila tidak ada orang yang memiliki karunia untuk menerjemahkan bahasa roh, anggota jemaat yang memiliki karunia berbahasa roh harus berdiam diri atau berdoa secara pribadi, dan tidak boleh mengucapkan kata-kata dalam bahasa roh (14:27-28). Dalam sebuah pertemuan jemaat, yang diizinkan untuk berbicara dalam bahasa roh seharusnya hanya dua atau tiga orang saja, dan penggunaan karunia berbahasa roh itu harus dilakukan secara teratur (bergiliran satu per satu) serta diikuti tafsirannya agar bisa dipahami oleh seluruh jemaat. Bahasa roh tidak boleh diucapkan secara serempak (sekaligus beramai-ramai) karena bahasa roh yang diucapkan secara serempak itu tidak akan bisa dimengerti. Petunjuk pelaksanaan penggunaan karunia yang disampaikan oleh Rasul Paulus ini menjelaskan bahwa karunia-karunia Roh Kudus—termasuk karunia berbahasa roh—harus digunakan secara teratur, dengan pengendalian diri. Ingatlah bahwa karunia-karunia rohani harus digunakan untuk membangun jemaat, bukan untuk kebanggaan diri sendiri. Penonjolan karunia tertentu dalam ibadah—seperti karunia berbahasa roh—akan memadamkan karunia-karunia yang lain, padahal karunia berbahasa roh yang tidak ditafsirkan hanya bermanfaat bagi orang yang memiliki karunia itu saja (14:4). [GI Wirawaty Yaputri]

Karunia Yang Berfaedah

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 14:1-25

Dalam sejarah gereja, terdapat banyak kelompok orang Kristen yang sangat mengagungkan karunia berbahasa roh, termasuk jemaat di kota Korintus. Di awal pasal 12, Rasul Paulus mengatakan bahwa dia menginginkan agar jemaat Korintus mengetahui ajaran yang benar tentang karunia-karunia Roh (12:1). Di awal pasal 14, Rasul Paulus melanjutkan uraian tentang pentingnya kasih dalam pasal 13 dengan mengingatkan jemaat Korintus untuk mengejar hal yang paling utama dalam kehidupan Kristen, yaitu memiliki kasih (14:1). Kasih menjadi alasan dan dorongan bagi orang percaya untuk memakai karunia rohani yang ada padanya guna kepentingan bersama.

Selanjutnya, Rasul Paulus menjelaskan bahwa karunia yang paling berguna untuk dimiliki oleh orang percaya adalah karunia bernubuat, bukan karunia berbahasa roh. Di satu sisi, karunia berbahasa roh adalah karunia berbahasa tertentu--yang tidak dimengerti manusia--yang digunakan untuk berdoa kepada Allah (14:2). Bahasa roh tidak ditujukan kepada manusia, melainkan kepada Allah, sehingga pemakaian bahasa roh hanya bermanfaat untuk membangun diri sendiri. Dengan bahasa Roh, seseorang bisa mengungkapkan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan, (bandingkan dengan Roma 8:26). Rasul Paulus tidak bermaksud meremehkan atau menolak karunia berbahasa roh. Akan tetapi, agar bahasa roh itu berguna bagi orang lain, ia meminta agar orang yang memiliki karunia berbahasa roh berdoa juga agar Allah memberikan karunia untuk menterjemahkan bahasa roh, sehingga orang yang berdoa bersama-sama dengan dia dapat mengerti apa yang ia doakan (14:13). Di sisi lain, karunia bernubuat bersifat membangun, menasihati dan menghibur (14:3), sehingga karunia ini bermanfaat untuk anggota jemaat yang lain. Secara khusus, karunia bernubuat ini sangat bermanfaat saat ada orang baru atau orang tidak beriman yang datang ke dalam gereja, karena karunia bernubuat menumbuhkan iman. Sebaliknya, karunia berbahasa Roh membingungkan (14:23-25). Rasul Paulus meminta jemaat Korintus untuk bersikap dewasa dalam menggunakan karunia rohani yang ada pada mereka (ay. 20-22). Jangan memamerkan karunia yang tidak memberi faedah bagi orang lain. Seharusnya, karunia digunakan untuk membangun orang lain karena kita mengasihi Tuhan dan gereja-Nya. [GI Wirawaty Yaputri]

Anugrah Untuk Membangun

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 12:1-11

Semua karunia rohani diberikan oleh Roh Kudus berdasarkan kehendak-Nya bagi orang percaya. Tujuan utama pemberian karunia-karunia rohani adalah agar orang percaya memuliakan Kristus, baik di tengah jemaat maupun di luar jemaat (12:3). Roh Kudus hadir untuk bersaksi tentang Kristus, sehingga semua karunia rohani jelas dimaksudkan untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk memuliakan diri sendiri. Rasul Paulus menjelaskan hal ini karena ada anggota jemaat Korintus yang bersikap “ masa bodoh” terhadap karunia-karunia rohani. Ayat 1b dapat diterjemahkan menjadi, “Aku tidak ingin kalian bersikap masa bodoh.” Kemungkinan, sikap masa bodoh ini disebabkan karena mereka merasa sudah mengerti tentang karunia-karunia rohani. Rasul Paulus mengingatkan bahwa karunia-karunia Roh Kudus berbeda dengan karunia-karunia yang diajarkan dalam upacara penyembahan berhala (12:1-2).

Karunia-karunia rohani yang diberikan Roh Kudus dimaksudkan untuk membangun gereja (12:7), bukan untuk berkompetisi atau untuk kebanggaan dan kepentingan pribadi. Karunia-karunia rohani itu berbeda-beda bagi setiap orang agar bisa digunakan untuk saling melengkapi. Tidak semestinya bila karunia-karunia yang diberikan oleh Roh yang sama itu dibanding-bandingkan untuk menentukan siapa yang memiliki karunia lebih besar dan siapa yang memiliki karunia lebih kecil (12:11). Pemberian karunia-karunia rohani itu didasarkan pada kehendak dan kedaulatan Roh Kudus, bukan pada kehendak kita. Oleh karena itu, wajar bila kita tidak selalu bisa memahami mengapa Roh Kudus memberikan karunia tertentu kepada seseorang. Yang paling penting untuk diperhatikan adalah bahwa karunia-karunia rohani itu tidak menentukan kedewasaan rohani seseorang. Perkataan “karunia-karunia rohani” dalam bahasa Yunani—yaitu kharismata—berasal dari kata kharisyang berarti anugerah (pemberian tanpa syarat). Kharismata ini diberikan kepada orang-orang tertentu tanpa memandang kedewasaan rohaninya. Oleh karena itu, syarat bagi seorang pemimpin rohani bukanlah karunia rohani, tetapi kedewasaan rohani (1 Tim. 3:1-13; Titus 1:5-9). Karunia-karunia rohani penting untuk membangun jemaat. Akan tetapi, yang terpenting untuk dilakukan oleh semua orang percaya adalah mengejar pengenalan dan keserupaan dengan Kristus, bukan mengejar karunia rohani. [GI Wirawaty Yaputri]

Perjamuan Kudus

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 11:17-34

Perjamuan kudus adalah salah satu upacara gerejawi yang sangat penting. Selain memberikan perintah untuk melaksanakan pembaptisan, Tuhan Yesus memerintahkan semua orang percaya di sepanjang zaman dan tempat untuk melaksanakan perjamuan kudus (Matius 28:19). Namun, sampai sekarang, masih banyak orang percaya yang salah mengerti tentang perjamuan kudus. Ada orang Kristen yang beranggapan bahwa perjamuan kudus adalah sarana untuk mendapatkan berkat Tuhan, misalnya berkat berupa kesembuhan dari penyakit. Ada juga orang Kristen yang percaya bahwa roti dan anggur benar-benar berubah menjadi tubuh dan darah Tuhan Yesus saat diterima dalam perjamuan kudus. Pandangan ini adalah pandangan gereja Roma Katolik.

Pada umumnya, kalangan Protestan berpegang pada ajaran John Calvin. Calvin mengajarkan bahwa Yesus Kristus hadir secara spiritual melalui roti dan anggur perjamuan. Zwingli berpendapat bahwa roti dan anggur adalah simbol yang mewakili tubuh dan darah Yesus Kristus. Perjamuan kudus merupakan upacara yang kudus karena kita memercayai bahwa Yesus Kristus hadir saat perjamuan kudus dilangsungkan. Dengan melaksanakan perjamuan kudus, kita memproklamasikan atau memberitakan kepada semua orang tentang kematian Yesus Kristus yang menyelamatkan orang berdosa (1 Korintus 11:26). Perjamuan kudus harus dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga semua orang—baik orang yang sudah percaya maupun yang belum percaya dapat merasakan kasih Tuhan yang besar melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.

Oleh karena alasan di atas, Rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang tidak menghormati perjamuan kudus. Perjamuan kudus (atau perjamuan Tuhan) pada masa pelayanan Rasul Paulus dilakukan secara bersamaan dengan perjamuan kasih di antara jemaat. Sebelum perjamuan Tuhan dilakukan, anggota jemaat yang kaya sudah makan lebih dulu sampai kekenyangan dan mabuk, sedangkan anggota jemaat yang miskin tidak mendapat bagian dan menjadi lapar (11:20-22). Sikap dan cara melakukan perjamuan kudus yang dipersoalkan Rasul Paulus disini adalah sikap tidak hormat yang akan mendatangkan hukuman Tuhan (11:27-31). Setiap orang percaya harus mempersiapkan diri dengan baik saat menerima perjamuan kudus, yaitu melalui sikap hormat dan penuh ucapan syukur. [GI Wirawaty Yaputri]

Tradisi dan Firman Tuhan

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 11:1-16

Apakah orang percaya boleh mengikuti tradisi? Pertanyaan seperti ini sering ditanyakan oleh orang percaya di segala zaman. Pertanyaan ini muncul karena di satu sisi, kita menghadapi tuntutan dari keluarga dan masyarakat yang tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, kita bergumul karena firman Tuhan yang kita junjung tinggi mengatasi semua tradisi. Dalam surat 1 Korintus ini, Rasul Paulus memberikan prinsip tentang bagaimana bersikap terhadap tradisi bagi orang percaya.

Pada zaman saat Rasul Paulus menuliskan surat 1 Korintus, orang Yunani, Romawi dan Yahudi memegang tradisi tentang pemakaian kerudung (penutup kepala, tudung) di kalangan wanita. Kerudung atau tudung ini hanya untuk menutup kepala dan rambut, bukan cadar yang menutup semua bagian wajah dan hanya menyisakan mata. Wanita yang baik—bukan wanita asusila—selalu memakai tudung saat keluar rumah dan atau saat menghadiri pertemuan-pertemuan. Sebaliknya, kaum pria tidak boleh memakai tudung (penutup kepala) dan tidak boleh memanjangkan rambut karena tindakan semacam itu akan membuat dia terlihat feminine (seperti wanita), dan dengan demikian merendahkan gendernya (jenis kelaminnya) sendiri.

Rasul Paulus meminta jemaat Korintus—pria maupun wanita—tetap menjalankan tradisi ini, karena tradisi ini tidak bertentangan dengan firman Tuhan, bahkan tradisi ini mendukung kebenaran firman Tuhan. Menurut Alkitab, pria diciptakan lebih dulu dan wanita dibentuk dari tulang rusuk pria, sehingga Tuhan menetapkan agar pria menjadi kepala atau pemimpin, baik di gereja maupun di rumah tangga. Wanita diharapkan untuk bersikap tunduk secara sukarela kepada sang kepala, yaitu pria. Sekalipun demikian, Rasul Paulus menekankan bahwa pria pun harus tunduk kepada Kristus sebagaimana Kristus tunduk kepada Allah Bapa (11:3-10). Selain itu Rasul Paulus mengingatkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi (11:11-12). Laki-laki memerlukan perempuan dan perempuan memerlukan laki-laki. Fakta ini merupakan dasar mengapa laki-laki (meskipun menjadi kepala dari perempuan), tidak diperkenankan bersikap atau bertindak semena-mena terhadap perempuan. Ajaran firman Tuhan tentang tatanan laki-laki dan perempuan melampaui tradisi! [GI Wirawaty Yaputri]

Untuk Kemuliaan Allah

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 10

Apakah makna ungkapan “melakukan segala-sesuatu untuk kemuliaan Allah”? Ungkapan ini adalah nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Korintus agar mereka melakukan segala sesuatu—termasuk makan dan minum—untuk kemuliaan Allah (10:31). Makan dan minum pun harus dilakukan sedemikian rupa agar orang lain turut memuliakan Allah. Hal ini dikatakan Rasul Paulus berkaitan dengan perihal makan daging yang dipersembahkan kepada berhala (10:23-28). Ada jemaat Korintus yang berargumen bahwa segala sesuatu diperbolehkan karena bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan (10:23, 26). Oleh karena itu, memakan daging persembahan berhala bukan masalah karena daging hewan adalah kepunyaan Tuhan. Namun, Rasul Paulus mengingatkan mereka bahwa kebebasan mereka haruslah kebebasan yang membangun dan tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri (10:23-24, mungkin nasihat ini berkaitan dengan diskon yang didapat bila membeli daging persembahan berhala). Memuliakan Tuhan berarti melakukan segala sesuatu dengan berhati-hati agar tidak menimbulkan syak (kecurigaan) dalam hati orang lain, baik orang percaya maupun orang yang tidak percaya, sehingga semua orang yang melihat perbuatan kita turut memuliakan Bapa di surga (10:29-33).

Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar bersikap hati-hati dan tidak menjadi sombong (terlalu percaya diri) karena merasa sudah memiliki iman yang teguh (10:12). Walaupun sudah dibaptis dan sudah terbiasa mengikuti perjamuan kudus, jangan beranggapan bahwa Tuhan sudah pasti berkenan terhadap kehidupan kita (10:16-21). Rasul Paulus mengingatkan bahwa orang Israel pernah mengalami pengalaman rohani yang luar biasa bersama Tuhan. Mereka mendapat banyak sekali hak-hak istimewa (10:1-4). Akan tetapi, Tuhan tidak berkenan kepada mereka karena hati mereka menyimpang kepada penyembahan berhala, percabulan, sikap mencobai Tuhan, dan bersungut-sungut (10:6-10). Walaupun makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala adalah makanan biasa yang boleh dimakan, orang Kristen tidak boleh memakan makanan itu bersama-sama dengan para penyembah berhala dalam suatu upacara penyembahan karena mengikuti upacara penyembahan berhala berarti ikut menyembah berhala (10:18-22). Apakah segala sesuatu yang Anda lakukan bertujuan untuk memuliakan Tuhan? [GI Wirawaty Yaputri]

Menaati Hukum dan Melayani

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 7:17-40

Ada dua hal yang ingin ditekankan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Korintus dalam bacaan Alkitab hari ini, yaitu:

Pertama, ketaatan kepada hukum dan pelayanan adalah bukti dari iman yang menyelamatkan. Rasul Paulus mengajar jemaat Korintus agar tidak memperhatikan status atau hal-hal lahiriah, melainkan lebih memperhatikan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Keadaan bersunat atau tidak bersunat serta status sebagai budak atau orang merdeka tidak mempengaruhi keselamatan. Seseorang pasti diselamatkan jika ia sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan Yesus. Yang penting diperhatikan adalah ketaatan terhadap perintah Tuhan dan kerelaan untuk melayani Tuhan (7:18-24).

Kedua, melayani dengan fokus pada Tuhan adalah yang terbaik, mengingat bahwa jemaat pada masa itu menghadapi ancaman dari pemerintah Romawi yang sewaktu-waktu bisa bertindak represif berdasarkan fitnah yang sering dilontarkan orang Yahudi yang tidak menyukai perkembangan kekristenan (Perhatikan perkataan “waktu yang singkat” dalam 7:26, 29, 31b dan “kesusahan” dalam 7:28). Orang yang hidup lajang akan lebih leluasa melayani Tuhan (7:35). Mengingat bahwa waktu untuk melayani Tuhan terbatas, sedangkan ladang begitu luas. Rasul Paulus mengingatkan agar hidup ini tidak dipusatkan pada hal-hal duniawi yang bersifat sementara (7:29-31). Dalam kondisi seperti di atas, kehidupan selibat (tidak menikah) akan mengurangi risiko dalam pelayanan, khususnya saat muncul penganiayaan. Bayangkan kondisi Rasul Paulus saat menghadapi penganiayaan jika ia memiliki istri dan anak yang masih kecil. Bukankah keluarganya merupakan beban yang membangkitkan rasa khawatir? Pilihan untuk hidup selibat sesuai dengan panggilan dan anugrah Tuhan akan membuat seseorang dapat melayani dengan lebih efektif karena tidak diganggu oleh masalah keluarga, termasuk mengurus suami, istri, dan anak. Waktu mereka dapat dipersembahkan sepenuhnya untuk melayani Tuhan (7:32-35).

Apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus di atas bukanlah sekadar mengulang kembali perkataan Tuhan Yesus (7:25), melainkan merupakan hasil pengilhaman Roh Kudus yang memberi hikmat kepadanya (7:40). Pilihan hidup selibat atau menikah sangat penting untuk kondisi jemaat saat itu! [GI Wirawaty Yaputri]

Bukan Milikmu Sendiri

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 6:12-20

Kebebasan yang dimiliki orang percaya bukanlah kebebasan untuk berbuat sesuka hati, melainkan kebebasan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita menemukan bahwa ada anggota jemaat Korintus yang melakukan percabulan atau penyimpangan seksual (aktivitas seksual di luar konteks pernikahan). Mereka mencoba untuk membela diri dengan memakai slogan, “Makanan untuk perut dan perut untuk makanan”. Kemungkinan, slogan ini dilanjutkan dengan pemikiran, “tubuh untuk seks, dan seks untuk tubuh”. Rasul Paulus menjelaskan bahwa slogan di atas adalah keliru. Di satu sisi, benar bahwa makanan untuk memenuhi kebutuhan perut dan perut untuk diisi makanan. Akan tetapi, perut dan makanan tidak kekal sifatnya (6:13). Di sisi lain, tubuh berbeda dengan perut. Tubuh jelas-jelas bukan untuk seks, melainkan untuk Tuhan (6:13). Selain itu, tubuh kita akan dibangkitkan kelak, sehingga kelak akan ada tubuh kebangkitan yang bersifat kekal dan yang tidak memerlukan makanan (6:14).

Percabulan adalah dosa yang serius! Perlu diingat bahwa seksualitas diciptakan Tuhan untuk keintiman dalam hubungan suami istri. Dengan melakukan percabulan, seseorang telah mengikatkan dirinya dan menjadi satu dengan pasangan asusila yang bersamanya ia melakukan percabulan (6:16). Jiwa raganya bersatu dengan jiwa raga pasangannya yang cabul. Keadaan berdosa seperti ini sungguh mengerikan! Kekristenan memandang percabulan sebagai dosa yang serius karena tubuh adalah tempat berdiamnya Roh Kudus (6:19). Roh Allah diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, dan Roh Kudus akan menyertai orang percaya sebagai Meterai Keselamatan (Efesus 1:13) dan sebagai Penolong (Yohanes 14:16). Melakukan percabulan berarti mencemari tubuh yang seharusnya dipandang sebagai kudus dan mulia.

Hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan tentang percabulan adalah bahwa Tuhan Yesus sudah menebus hidup kita dari dosa. Tubuh yang kita miliki bukan lagi milik kita semata, karena Tuhan Yesus telah membayar tubuh kita, diri kita, dengan darah-Nya sendiri. Tubuh ini masih milik kita, tetapi tubuh kita juga merupakan milik Tuhan, sehingga kita tidak boleh memakai tubuh kita untuk melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Tubuh ini selayaknya kita pakai untuk memuliakan Sang Penebus kita. [GI Wirawaty Yaputri]

Sikap Terhadap Dosa

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 5

Apa yang harus dilakukan orang percaya saat mengetahui bahwa sesama anggota jemaat di gereja melakukan dosa tertentu? Rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang bersikap membiarkan terhadap anggota jemaat yang jelas-jelas melakukan dosa asusila, yaitu berhubungan seksual dengan ibu tirinya. Bukannya berdukacita karena adanya dosa tersebut, jemaat di Korintus malah menjadi sombong (5:2). Mengapa mereka menjadi sombong? Kemungkinan, kesombongan itu muncul dari rasa bangga karena mereka merasa telah menerapkan kasih melalui sikap toleran terhadap dosa asusila yang di kalangan orang yang belum percaya pun dianggap keterlaluan (5:1).

Rasul Paulus menegaskan bahwa sekalipun ia tidak hadir secara fisik di tengah jemaat, ia hadir secara roh dan ia telah menjatuhkan hukuman terhadap dosa seperti itu. Ia merasa berwewenang untuk menghakimi dalam kasus ini karena ia adalah rasul yang dipanggil dan dipakai Tuhan untuk membangun jemaat Korintus. Rasul Paulus memerintahkan agar jemaat berkumpul bersama, dan Rasul Paulus ikut hadir secara roh, kemudian mereka bersama-sama mengeluarkan orang itu dari gereja dalam nama Tuhan Yesus (“menyerahkan kepada Iblis” kemungkinan besar berarti dikeluarkan dari gereja, diserahkan kepada dunia sebagai tempat yang sarat dengan tipu muslihat iblis) (5:4-5). Tujuan dari disiplin rohani melalui ekskomunikasi (pengasingan) ini adalah agar orang itu sungguh-sungguh bertobat dan jiwanya diselamatkan pada hari penghakiman (5:5).

Dosa yang dibiarkan di tengah jemaat akan menjadi seperti ragi yang mengkhamirkan seluruh adonan (5:6-7). Artinya, dosa yang dilakukan orang itu dapat mempengaruhi anggota jemaat yang lain untuk ikut melakukan dosa. Sebagaimana Perayaan Paskah diikuti dengan Perayaan Roti Tidak Beragi, demikian pula pengorbanan Yesus Kristus—Sang Anak Domba Paskah yang sudah disembelih—harus diikuti dengan pembuangan ragi (dosa) supaya umat Tuhan menjadi adonan yang baru (hidup yang dipenuhi dengan kemurnian dan kebenaran) (5:7-8).

Kita tidak boleh bersikap toleran terhadap orang Kristen yang berbuat dosa, sekalipun kita memiliki relasi yang baik dengan orang itu. Sebaliknya, kita—bisa dengan bantuan rohaniwan di gereja—harus berusaha membawa dia kembali ke jalan kebenaran. [GI Wirawaty Yaputri]

Jangan Melampaui Yang Tertulis

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 4

Jemaat Korintus adalah jemaat yang mengutamakan kemegahan, jabatan, dan hikmat dunia. Sikap mereka yang memakai standar mereka sendiri dalam menilai orang lain membuat Rasul Paulus merasa dihakimi. Kemungkinan besar, sikap sebagian anggota jemaat Korintus membuat Rasul Paulus merasa direndahkan dan diragukan otoritas kerasulannya. Nampaknya, Rasul Paulus merasa dianggap kurang berkarisma, kurang pintar, dan kurang berhikmat bila dibandingkan dengan Apolos. Pandangan semacam ini muncul karena Rasul Paulus memilih untuk tidak memakai kata-kata yang indah—menurut standar hikmat dunia—dalam memberitakan Injil. Kemungkinan, Rasul Paulus juga diremehkan karena ia dianggap sebagai orang yang miskin. Pada intinya, jemaat Korintus meragukan kerasulan Rasul Paulus dan pelayanannya karena mereka beranggapan bahwa diri mereka lebih pintar, lebih berharga, dan lebih diberkati secara ekonomi (4:9-13).

Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar mereka jangan menghakimi melampaui apa yang tertulis (4:6). Mereka harus waspada agar tidak menjadi sombong sehingga menghakimi Rasul Paulus berdasarkan standar mereka sendiri, bukan berdasarkan standar firman Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan agar mereka jangan lupa bahwa segala sesuatu yang mereka miliki—baik harta, kepintaran, kemampuan, dan hal lain yang mereka banggakan—adalah anugerah (pemberian) Tuhan (4:7). Rasul Paulus dan Apolos hidup dalam kesusahan, kerendahan, penderitaan demi melayani jemaat Korintus yang kaya, pintar, dan sejahtera (4:6,9-13). Hal ini seharusnya membuat jemaat Korintus merasa malu dengan apa yang mereka banggakan (4:14). Mereka seharusnya berterimakasih dan mengapresiasi pelayanan Rasul Paulus, bukan malah meragukannya!

Bagaimana sikap Rasul Paulus terhadap jemaat Korintus yang bersifat menghakimi? Rasul Paulus tidak menjadi kecewa dan goyah. Ia tahu bahwa Tuhanlah—bukan manusia—yang pantas menghakimi. Meskipun Rasul Paulus tidak merasa terganggu hati nuraninya (4:4), ia tetap menyerahkan penghakiman atas pelayanannya kepada Tuhan (4:4). Ia menyadari bahwa manusia sering salah menilai sehingga penghakiman manusia sering tidak tepat. Rasul Paulus juga hanya mengharapkan pujian dari Tuhan, bukan dari manusia (4:5). [GI Wirawaty Yaputri]