Pemulihan Relasi

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 1

Injil Matius dimulai dengan silsilah Yesus Kristus, mulai dari Abraham sampai Yusuf. Silsilah ini memaparkan bahwa Yesus Kristus menggenapi nubuat Perjanjian Lama tentang Sang Mesias sebagai keturunan Daud (Lihat 2 Samuel 7:12 – Nubuat dalam ayat ini mempunyai dua penggenapan, yaitu penggenapan saat itu pada diri raja Salomo serta penggenapan menyangkut masa depan pada diri Yesus Kristus). Matius juga mengungkapkan bahwa Tuhan Yesus menggenapi nubuat tentang kelahiran Sang Mesias dari seorang perawan (Kata yang diterjemahkan sebagai “perempuan muda” dalam Yesaya 7:14 berarti perempuan muda secara umum. Akan tetapi, menurut tradisi, kata itu menunjuk kepada seorang “perawan”). Dalam Injil Matius, disebutkan bahwa Tuhan Yesus lahir dari rahim Maria, seorang perawan yang telah bertunangan dengan Yusuf dan yang menjaga keperawanannya sampai Yesus Kristus lahir (1:25).

Mengapa Tuhan Yesus datang ke dalam dunia? Malaikat berkata, “... karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21). Dosa merupakan masalah serius bagi Allah karena dosa merusak relasi Allah dengan manusia yang tidak lagi menginginkan Allah menjadi pusat hidupnya. Ciptaan yang seharusnya hidup mengikuti aturan main Sang Pencipta malah ingin mengatur Sang Pencipta sesuai dengan keinginannya. Manusia telah memberontak kepada Allah sehingga layak dihukum. Konsekuensi dosa adalah maut. Usaha manusia untuk membenarkan diri dan kembali kepada Allah melalui perbuatan baik, moralitas, dan agama tidak bisa meniadakan konsekuensi dosa, karena Allah menuntut kesempurnaan. Syukurlah bahwa Allah, Allah tidak hanya mengutus para nabi untuk menyatakan kasih dan keadilan-Nya, tetapi Allah sendiri—hadir ke dalam dunia melalui Yesus Kristus untuk menyatakan kasih-Nya kepada manusia berdosa.

Tuhan Yesus datang untuk memulihkan kembali relasi antara manusia dengan Allah yang telah rusak. Apakah relasi Anda dengan Allah telah pulih? Apakah kehadiran Allah dalam hidup Anda telah memberi kepuasan terbesar, sehingga Anda menginginkan Allah lebih dari apa pun atau siapa pun yang ada di dunia ini? Perkataan “Allah menyelamatkan manusia dari dosa” berarti bahwa Allah memulihkan relasi dengan manusia yang sebelumnya telah rusak, sehingga manusia dapat mengalami Allah—sumber kepuasan hidup sejati—dan memuliakan Dia. [FL]

Pemulihan Relasi

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 1

Injil Matius dimulai dengan silsilah Yesus Kristus, mulai dari Abraham sampai Yusuf. Silsilah ini memaparkan bahwa Yesus Kristus menggenapi nubuat Perjanjian Lama tentang Sang Mesias sebagai keturunan Daud (Lihat 2 Samuel 7:12 – Nubuat dalam ayat ini mempunyai dua penggenapan, yaitu penggenapan saat itu pada diri raja Salomo serta penggenapan menyangkut masa depan pada diri Yesus Kristus). Matius juga mengungkapkan bahwa Tuhan Yesus menggenapi nubuat tentang kelahiran Sang Mesias dari seorang perawan (Kata yang diterjemahkan sebagai “perempuan muda” dalam Yesaya 7:14 berarti perempuan muda secara umum. Akan tetapi, menurut tradisi, kata itu menunjuk kepada seorang “perawan”). Dalam Injil Matius, disebutkan bahwa Tuhan Yesus lahir dari rahim Maria, seorang perawan yang telah bertunangan dengan Yusuf dan yang menjaga keperawanannya sampai Yesus Kristus lahir (1:25).

Mengapa Tuhan Yesus datang ke dalam dunia? Malaikat berkata, “... karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21). Dosa merupakan masalah serius bagi Allah karena dosa merusak relasi Allah dengan manusia yang tidak lagi menginginkan Allah menjadi pusat hidupnya. Ciptaan yang seharusnya hidup mengikuti aturan main Sang Pencipta malah ingin mengatur Sang Pencipta sesuai dengan keinginannya. Manusia telah memberontak kepada Allah sehingga layak dihukum. Konsekuensi dosa adalah maut. Usaha manusia untuk membenarkan diri dan kembali kepada Allah melalui perbuatan baik, moralitas, dan agama tidak bisa meniadakan konsekuensi dosa, karena Allah menuntut kesempurnaan. Syukurlah bahwa Allah, Allah tidak hanya mengutus para nabi untuk menyatakan kasih dan keadilan-Nya, tetapi Allah sendiri—hadir ke dalam dunia melalui Yesus Kristus untuk menyatakan kasih-Nya kepada manusia berdosa.

Tuhan Yesus datang untuk memulihkan kembali relasi antara manusia dengan Allah yang telah rusak. Apakah relasi Anda dengan Allah telah pulih? Apakah kehadiran Allah dalam hidup Anda telah memberi kepuasan terbesar, sehingga Anda menginginkan Allah lebih dari apa pun atau siapa pun yang ada di dunia ini? Perkataan “Allah menyelamatkan manusia dari dosa” berarti bahwa Allah memulihkan relasi dengan manusia yang sebelumnya telah rusak, sehingga manusia dapat mengalami Allah—sumber kepuasan hidup sejati—dan memuliakan Dia. [FL]

Berkumpul Mendengarkan Firman Allah! (Renungan Misi)

Bacaan Alkitab hari ini:

Kisah Para Rasul 10:19-48

Kisah Kornelius dalam Kisah Para Rasul 10 ini amat menarik. Kornelius adalah orang non-Yahudi yang menganut agama Yahudi. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah (10:2). Karena diperintah oleh Allah (melalui seorang malaikat) untuk mengundang Rasul Petrus datang ke rumahnya (10:5), Kornelius mempersiapkan penyambutan terhadap kedatangan Rasul Petrus dengan mengundang sanak saudara dan sahabat-sahabatnya (10:24). Saat Rasul Petrus menyampaikan khotbah, Roh Kudus bekerja (10;44), sehingga berita Injil tentang Yesus Kristus disambut dengan hati terbuka. Semua orang yang mendengar khotbah Rasul Petrus merespons dengan mempercayai berita Injil, sehingga Rasul Petrus merasa telah tiba saatnya untuk melakukan pembaptisan massal (10:47).

Mengadakan acara untuk berkumpul bersama merupakan kebiasaan berbagai suku di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, umum terjadi bahwa banyak orang berkumpul dalam sebuah rumah untuk melakukan bermacam-macam kepentingan, antara lain untuk mengadakan perayaan ulang tahun, pernikahan, peringatan kematian, mengucap syukur untuk rumah baru, dan berbagai keperluan lain. Apa yang dilakukan oleh Kornelius itu merupakan teladan bagi kita bahwa acara kumpul bersama bisa membuka kesempatan untuk menyampaikan berita Injil. Tidak mudah mengundang orang untuk datang ke gereja. Mengundang orang untuk datang ke rumah lebih mudah karena hal itu merupakan hal yang wajar. Oleh karena itu, bila Anda memiliki kerinduan untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, salah satu cara yang bermanfaat adalah dengan menyelenggarakan acara syukuran di rumah Anda.

Apakah Anda memiliki keterbukaan hati seperti Kornelius dalam menyambut berita Injil? Apakah Anda pernah memanfaatkan kesempatan kumpul bersama untuk keperluan pemberitaan Injil? Mengundang orang datang untuk acara syukuran merupakan salah satu cara yang efektif untuk memberitakan Injil. Tentu saja ada berbagai cara lain yang bisa dilakukan untuk memberitakan Injil. Kita perlu mengembangkan kreativitas dan kepekaan terhadap kehendak Allah dalam hidup kita. Bila Anda memiliki kerinduan untuk menjadi alat guna dipakai bagi pekerjaan Tuhan, pikirkanlah apa yang dapat Anda lakukan secara konkrit dan rencanakanlah pelaksanaannya. [P]

Mata Air yang Memancar Terus (Renungan Misi)

Bacaan Alkitab hari ini:

Yohanes 4:1-42

Kisah pertemuan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria dalam Yohanes 4 memperlihatkan bahwa kehadiran Tuhan Yesus merupakan jawaban terhadap berbagai keperluan khusus manusia. Perempuan Samaria yang bertemu dengan Tuhan Yesus ini adalah perempuan yang hidupnya bergelimang dengan dosa. Dosa bisa memberi kesenangan sesaat, tetapi tidak bisa memberikan kebahagiaan yang bertahan lama. Dosa tidak mungkin memberi kepuasan. Dalam kondisi semacam itu, Tuhan Yesus menawarkan “air hidup” yang akan memberikan kepuasan. Ada kemungkinan bahwa gaya hidup perempuan itu telah membuat retak banyak rumah tangga. Setelah bertemu Tuhan Yesus, kehidupan perempuan Samaria itu berubah. Sebagai seorang yang hanya memikirkan kepentingan sendiri, ia malu berjumpa dengan orang lain. Akan tetapi, perjumpaan dengan Tuhan Yesus—Sang Mesias—telah mengubah hidupnya. Dari seorng pemalu yang hanya memperhatikan kepentingan sendiri, dia berubah menjadi seorang yang amat bersemangat menceritakan pertemuannya dengan Sang Juruselamat. Setelah keperluan rohaninya terpenuhi melalui perjumpaannya dengan Tuhan Yesus, perempuan itu lupa dengan tujuan kedatangannya untuk mengambil air. Dia meninggalkan tempayannya di dekat sumur dan lari ke kota untuk menceritakan perjumpaannya dengan Tuhan Yesus.

Pernahkah Anda mengalami perubahan hidup yang disebabkan oleh perjumpaan Anda dengan Tuhan Yesus? Apakah Anda pernah mengalami sukacita meluap yang disebabkan oleh perjumpaan Anda dengan Tuhan Yesus, yang membuat Anda melupakan kepentingan Anda sendiri, dan membuat Anda bersemangat menceritakan tentang apa yang telah Anda alami melalui perjumpaan dengan Tuhan Yesus itu? Tahukah Anda bahwa Tuhan Yesus adalah Terang hidup bagi mereka yang hidup dalam kegelapan rohani? Tahukah Anda bahwa Tuhan Yesus adalah Air Hidup dan Roti Hidup bagi mereka yang kehausan dan kelaparan secara rohani? Tahukah Anda bahwa hanya Tuhan Yesus yang dapat memberikan damai sejahtera kepada mereka yang hidupnya penuh kegelisahan? Bila Anda mengalami kekosongan secara rohani, datanglah kepada Tuhan Yesus dan mintalah Dia mengubah hidup Anda, sehingga hidup Anda menjadi berarti. Bila Anda telah memiliki pengalaman yang nyata bersama dengan Tuhan Yesus, Anda memiliki sesuatu untuk dibagikan kepada orang lain. [P]

Kamu Harus Dilahirkan Kembali (Renungan Misi)

Bacaan Alkitab hari ini:

Yohanes 3:1-21

Apa yang terjadi saat seorang pemimpin agama Yahudi bernama Nikodemus menemui Tuhan Yesus merupakan sesuatu yang mengagetkan. Terhadap perkataan Nikodemus yang bernada pujian, Tuhan Yesus tidak memberi tanggapan, malahan Dia mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Perkataan ini mengagetkan karena Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi yang sudah pasti memahami dan taat kepada hukum Taurat. Ternyata bahwa pengetahuan tentang Kitab Suci (Perjanjian Lama) dan ketaatan terhadap peraturan Taurat tidak bisa menjamin bahwa seseorang pasti masuk ke surga (3:3, melihat Kerajaan Allah). Yang bisa menjamin bahwa seseorang pasti masuk ke surga adalah bila orang itu sudah dilahirkan kembali. Orang yang sudah dilahirkan kembali adalah orang yang sudah dilahirkan dari air dan Roh (3:5). Karena 3:6-8 merupakan tambahan penjelasan dari 3:5, maka dapat diduga bahwa dilahirkan dari air menunjuk kepada kelahiran jasmani (dilahirkan secara daging) dan dilahirkan dari roh merupakan hasil pekerjaan Roh Kudus di dalam diri seseorang. Penjelasan Tuhan Yesus selanjutnya menunjukkan bahwa melihat atau masuk ke dalam Kerajaan Allah itu sama dengan memperoleh hidup yang kekal dan bahwa persyaratan memperoleh hidup yang kekal adalah percaya kepada Tuhan Yesus, khususnya percaya (beriman) terhadap karya keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib (3:15-16).

Apakah Anda sudah dilahirkan kembali? Orang yang sudah dilahirkan kembali adalah orang yang hidupnya sudah diperbarui melalui pekerjaan Roh Kudus di dalam dirinya, sehingga ia menjadi ciptaan baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17). Mustahil bila seseorang yang sudah dilahirkan kembali tidak mengalami perubahan hidup. Perubahan hidup pasti terwujud saat Roh Kudus berdiam di dalam diri orang percaya. Apakah Anda sudah mengalami perubahan hidup sehingga Anda bisa meyakini bahwa diri Anda telah dilohirkan kembali oleh pekerjaan Roh Kudus? Bila Anda sudah mengalami perubahan hidup, maka Anda memiliki pengalaman yang bisa dibagikan kepada orang lain. Dengan menceritakan pengalaman tersebut, secara otomatis Anda telah menjadi saksi bagi pekerjaan Allah di dalam Kristus. Bacalah Bacaan Alkitab hari ini sekali lagi sebagai bekal untuk bersaksi tentang Kristus. [P]

Membawa Orang kepada Kristus (Renungan Misi)

Bacaan Alkitab hari ini:

Yohanes 1:35-51

Langkah pertama untuk menjalankan Amanat Agung Kristus adalah membawa orang kepada Kristus. Langkah ini kita sebut sebagai penginjilan. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Yohanes—yang disebut sebagai Yohanes Pembaptis—memberi tahu dua orang muridnya tentang Tuhan Yesus dengan mengatakan, “Lihatlah Anak domba Allah!” Usaha Yohanes Pembaptis ini membuat kedua muridnya kemudian beralih menjadi murid Tuhan Yesus. Salah seorang dari kedua orang itu, yaitu Andreas, bertemu dengan saudaranya (yaitu Simon Petrus) dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Itulah dua contoh penginjilan pada zaman Tuhan Yesus.

Pada zaman ini, memperkenalkan orang lain kepada Kristus tidak sesederhana kedua contoh di atas karena Kristus tidak lagi hadir secara fisik di bumi. Membawa seseorang kepada Kristus pada zaman ini berarti memberi penjelasan tentang Kristus. Hal terpenting yang perlu dijelaskan tentang Kristus adalah berita tentang kematian-Nya untuk menebus dosa manusia dan tentang kebangkitan-Nya yang menunjukkan bahwa Kristus memiliki kuasa atas kematian (bandingkan dengan 1 Korintus 15:3-4). Dalam pelaksanaan penginjilan pada zaman ini, bila kita belum terampil memberi penjelasan tentang Tuhan Yesus secara langsung, kita bisa mengikuti pelatihan di gereja (bila ada), atau kita bisa memperkenalkan orang yang menjadi sasaran penginjilan kepada orang yang mengerti cara menyampaikan berita Injil atau kepada rohaniwan setempat. Bila suatu saat, gereja Anda menyelenggarakan kebaktian penginjilan, kebaktian itu merupakan sarana yang bisa membantu kita untuk memperkenalkan seseorang kepada Yesus Kristus.

Tindakan Andreas memperkenalkan Simon Petrus kepada Yesus Kristus itu merupakan teladan untuk kita contoh pada masa kini. Tindakan memperkenalkan seseorang kepada Kristus itu biasa disebut sebagai gerakan Andreas. Apakah Anda pernah mendengar tentang “Gerakan Andreas” di gereja Anda. Bila di gereja Anda belum pernah ada “Gerakan Andreas”, Anda bisa mengusulkannya kepada gereja Anda saat gereja Anda hendak menyelenggarakan kebaktian penginjilan. Bila di gereja Anda belum pernah ada pelatihan penginjilan, Anda bisa juga mengusulkannya. Perlu diingat bahwa “Gerakan Andreas” ini perlu diiringi dengan gerakan untuk berdoa. Apakah Anda pernah berdoa agar bisa membawa orang lain kepada Kristus? [P]

Memahami Amanat Agung (Renungan Misi)

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 28:16-20

Misi Allah untuk dunia jelas tertampil dalam pesan Tuhan Yesus yang terakhir kepada murid-murid-Nya, yang biasa kita kenal sebagai Amanat Agung Kristus (Matius 28:18-20). Amanat adalah pesan atau perintah yang umumnya diberikan oleh orang yang posisinya dianggap lebih tinggi atau lebih terhormat bila dibandingkan dengan si penerima amanat. Amanat Tuhan Yesus disebut Amanat Agung karena Sang Pemberi amanat adalah Pemegang Kekuasaan Tertinggi dalam alam semesta ini. Selain itu, amanat ini disebut Amanat Agung karena jangkauannya adalah semua bangsa (seluruh dunia).

Pemahaman tentang jangkauan Amanat Agung yang mencakup semua bangsa (seluruh dunia) sering direduksi (dikurangi) oleh orang Kristen (gereja) menjadi hanya tertuju kepada suku tertentu di lokasi terdekat, bahkan banyak orang Kristen (gereja) yang sama sekali tidak pernah memikirkan Amanat Agung Kristus . Walaupun tidak secara terang-terangan menolak untuk melaksanakan Amanat Agung, banyak orang Kristen (gereja) yang menolak secara pasif, yaitu dengan tidak pernah membicarakan (apalagi melaksanakan) Amanat Agung. Apakah Anda atau gereja Anda pernah terlibat dalam memperbincangkan usaha melaksanakan Amanat Agung ini?

Pemahaman tentang Amanat Agung juga sering direduksi menjadi sekadar penginjilan yang bersifat “tabrak-lari”, artinya penginjilan yang berupa penyampaian berita, kemudian tidak peduli lagi dengan hasilnya (tidak disertai dengan tindak lanjut). Walaupun penginjilan yang bersifat “tabrak-lari” ini kadang-kadang “terpaksa” dilakukan (karena tidak meungkinkan untuk melakukan tindak lanjut), Amanat Agung Tuhan Yesus lebih dari sekadar amanat untuk menginjili karena amanat ini adalah amanat untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus, dengan cara membaptis (tugas ini biasa dilakukan oleh lembaga gereja) dan mengajar orang yang dimuridkan untuk melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Tuhan Yesus.

Pelaksanaan Amanat Agung ini perlu dilakukan dengan 3 komponen, yaitu doa, daya (tindakan), dan dana. Apakah doa Anda dan gereja Anda telah menerobos batas-batas kesukuan dan kedaerahan? Apakah Anda dan gereja Anda telah mengusahakan keterlibatan dalam melaksanakan Amanat Agung ini? Apakah Anda dan gereja Anda telah mengalokasikan dana untuk ikut menjangkau seluruh dunia? [P]

Berkat Allah Juga bagi Orang Jahat! (Renungan Misi)

Bacaan Alkitab hari ini:

Yunus 1:1-3; 3:1-10; 4:1-11

Dosa penduduk kota Niniwe yang telah melampaui batas membuat Allah mengutus Nabi Yunus untuk mengumumkan rencana datangnya hukuman Tuhan kepada penduduk kota Niniwe (1:1-2; 3:1-4). Nabi Yunus tahu jelas bahwa penduduk kota Niniwe—yaitu bangsa Asyur—adalah sumber ancaman yang amat berbahaya bagi bangsa Israel. Oleh karena Nabi Yunus sangat mencintai bangsa Israel, ia memilih untuk menentang perintah TUHAN dan melarikan diri ke Tarsis (menjauh dari kota Niniwe). Ia menginginkan agar rencana penghukuman itu segera dilaksanakan saja. Sebagai seorang nabi, Yunus tahu jelas bahwa Allah itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, sehingga Allah mudah merasa kasihan dan bisa membatalkan rencana penghukumannya bila penduduk Niniwe bertobat (4:2). Itulah yang membuat Nabi Yunus menolak untuk memperingatkan penduduk Niniwe akan rencana datangnya hukuman TUHAN. Pasal 3 menjelaskan bahwa dugaan Nabi Yunus ini memang benar: Allah membatalkan rencana penghukuman kepada penduduk Niniwe karena mereka bertobat. Pembatalan hukuman ini sangat mengesalkan hati Yunus (4:1).

Pesan apakah yang hendak disampaikan penulis kitab Yunus kepada para pembacanya? Pesan penulis jelas, yaitu bahwa Allah mengasihi semua bangsa, bukan hanya bangsa Israel, tetapi juga termasuk bangsa Asyur (penduduk kota Niniwe) yang amat jahat. Bila Allah tidak mengasihi bangsa Asyur, bangsa itu akan dihukum tanpa peringatan lagi. Sebagian pembaca kitab Yunus—yang adalah orang Kristen—mencibirkan bibir terhadap Nabi Yunus saat membaca kisah ini. Akan tetapi, tanpa disadari, banyak orang Kristen melakukan hal yang sama. Bila kita jujur kepada diri sendiri, apakah orang Kristen (gereja) pada masa kini sadar akan tanggung jawab untuk memberitakan Injil kepada mereka yang belum mengenal keselamatan di dalam Yesus Kristus dan sedang berbaris menuju ke neraka? Bukankah kadang-kadang kita beranggapan bahwa orang-orang yang belum mengenal Kristus itu terlalu jahat dan sudah pantas mendapat hukuman Allah? Apakah kita menyadari bahwa mereka yang menjadi sumber ancaman bagi orang Kristen juga merupakan objek dari kasih Allah? Allah mengasihi semua orang dari semua suku bangsa, tetapi apakah orang Kristen (gereja) memiliki hati yang sama dengan hati Allah? Apakah Anda—sebagai pribadi dan sebagai gereja—memiliki beban untuk mendoakan mereka? [P]

Rencana Allah Tak Mungkin Gagal

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 15-16

Walaupun janji Allah untuk memberikan tanah Kanaan kepada Abraham telah semakin nyata, Abraham harus menunggu waktu yang ditetapkan Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara memperoleh tanah itu sementara tanah itu masih dimiliki bangsa lain? Janji Allah tergantung kepada apakah Abraham mempunyai anak atau tidak. Untuk menjadi sebuah bangsa yang besar, Abraham harus memiliki keturunan. Pada zaman itu, orang yang tidak memiliki anak bisa mengadopsi anak untuk dijadikan ahli waris. Abraham berkata bahwa Eliezer akan menjadi ahli warisnya (15:2-3). Namun, Allah meyakinkan Abraham bahwa anak kandungnyalah yang akan menjadi ahli warisnya. Masalahnya, Allah belum menjelaskan bahwa Sara yang akan melahirkan anak untuk Abraham. Tidak mengherankan bila di pasal 16, Sara masih menyangka bahwa mungkin Abraham akan memiliki anak kandung sendiri melalui Hagar (hamba Sara). Ketika Sara memberikan Hagar kepada Abraham supaya Abraham menghampirinya, Abraham tidak protes (16:1-3). Di pasal 17, Abraham masih berpikir bahwa Ismael (anak kandung yang diperolehnya dari Hagar), adalah ahli waris (17:18). Namun, Tuhan menegaskan bahwa yang akan menjadi ahli waris Abraham adalah anak yang akan dilahirkan oleh Sara sendiri.

Saat merenungkan Kejadian 13, kita telah mengamati bahwa Abraham tidak menganggap Lot sebagai penghalang untuk menerima Tanah Kanaan sebagai tanah pusaka. Di pasal 16 ini, Abraham melihat bahwa kemandulan istrinya adalah penghalang bagi dia untuk memiliki keturunan dan menjadi bangsa yang besar kelak. Setelah Ismael lahir, Abraham dan istrinya mengira bahwa penghalang berkat mereka telah diangkat. Padahal, Ismael sebenarnya adalah penghalang bagi Abraham untuk menerima penggenapan janji Allah bagi keluarganya. Apa yang diusahakan oleh Abraham dan Sara dalam kedua pasal ini telah menimbulkan masalah, khususnya bagi Abraham, untuk menerima penggenapan janji Allah. Akan tetapi, Allah begitu murah hati sehingga Ia tetap memberkati dengan menyelesaikan masalah mereka. Bagi Allah, tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk diselesaikan. Tidak ada seorang pun yang dapat menggagalkan rencana Allah. Apakah Anda percaya bahwa Allah sedang menggenapi rencana-Nya untuk membawa Anda kepada hidup yang berbahagia kelak? [Sung]

Mengikuti Agenda Allah

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 14

Pasal 14 berkaitan dengan pasal 13 dalam hal perjanjian Allah dengan Abraham. Allah telah berjanji untuk memberi tanah kepada Abraham, tetapi bagaimana realisasinya? Amrafel (raja Sinear), Ariokh (raja Elasar), Kedorlaomer (raja Elam), dan Tideal (raja Goyim) sedang memperluas daerah jajahan mereka dengan merebut beberapa daerah lain, termasuk daerah Sodom, tempat Lot tinggal. Walaupun Abraham tidak senang berperang, Abraham mengerahkan orang-orangnya yang terlatih untuk mengalahkan empat raja itu demi menyelamatkan Lot dan keluarganya. Perhatikan bahwa Abraham mempunyai 318 orang terlatih yang lahir di rumahnya dan ia juga memiliki sekutu dari pihak lain (14:24). Setelah memenangkan peperangan, Abraham memiliki kesempatan untuk memperoleh kekuasaan atas bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, kesempatan untuk memiliki tanah sudah ada di depan mata. Akan tetapi, apakah Allah menghendaki cara demikian untuk memberikan tanah pusaka kepada Abraham? Jelas bahwa jawabannya adalah “tidak.”

Abraham bertemu dengan Melkisedek, raja Salem. Kemungkinan, sebutan “Salem” menunjuk kepada Yerusalem kuno. Melkisedek menjalin hubungan damai dengan Abraham dan Abraham mengungkapkan ketundukannya kepada Melkisedek dengan memberi persembahan persepuluhan kepadanya. Raja Sodom hendak memberikan harta benda hasil jarahan kepada Abraham, tetapi Abraham menolaknya agar Raja Sodom tidak bisa berkata bahwa ia telah memperkaya Abraham. Penolakan Abraham kepada tawaran raja Sodom menunjukkan bahwa ia bergantung kepada Allah, bukan kepada pemberian manusia, untuk bisa membuat dirinya kaya, ternama, dan menjadi bangsa yang besar. Saat itu, Abraham memiliki kesempatan untuk menguasai Kanaan dan Sodom dengan kekuatan militernya. Satu hal yang sangat jelas adalah bahwa janji Allah kepada Abraham semakin bertambah nyata. Walaupun saat itu Abraham belum memiliki tanah pusaka, ia yakin bahwa keturunannya akan memiliki tanah pusaka.

Abraham tunduk kepada rencana dan waktu Allah untuk memperoleh janji Allah. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mengikuti agenda Anda sendiri atau Anda rela dengan sabar mengikuti agenda Allah? Apakah Anda bersandar kepada pengertian Anda sendiri atau kepada Allah? [Sung]