Apakah Kristus Ada di dalam Kamu?

2 Korintus 13

Kunci kehidupan Kristen yang sukses adalah adanya kehadiran Kristus di dalam diri kita. Jika Kristus tidak ada di dalam diri kita, kita tidak akan tahan uji (13:5). Kita harus menyadari bahwa diri kita sebenarnya lemah. Rasul Paulus pun mengakui bahwa dia adalah seorang yang lemah (2 Korintus 13:4). Tanpa Kristus, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Tanpa Kristus, kita tidak akan sanggup melawan keinginan hawa nafsu kita, sehingga mau atau tidak, kita tetap akan melakukan dosa. Keinginan untuk melakukan dosa itu adalah ujian terhadap iman kita. Di dalam Kristus, kita akan sanggup menghadapi semua ujian terhadap iman kita. Harapan Rasul Paulus agar jemaat Korintus berusaha menjadi sempurna dalam melakukan kehendak Allah (13:11) hanya dapat terwujud bila mereka berdiam di dalam Kristus. Bila Kristus diam di dalam diri kita, kita memiliki kuasa yang tak terbatas yang membuat kita sanggup melawan dosa dan melakukan kebenaran (bandingkan dengan Galatia 2:20).

Apakah Anda sudah memiliki keyakinan bahwa Kristus berdiam di dalam diri Anda (bandingkan dengan pertanyaan dalam 2 Korintus 13:5)? Bila Anda belum yakin, Anda perlu memeriksa kembali keyakinan Anda tentang berita Injil, yaitu bahwa Kristus telah menerima hukuman Allah dengan mati di kayu salib untuk menggantikan orang berdosa, sehingga setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dibebaskan dari hukuman Allah dan menerima hidup yang kekal (menerima kehidupan baru di dalam Kristus sehingga menjadi ciptaan baru—2 Korintus 5:17). Orang yang percaya kepada Kristus menjadi ciptaan baru karena Kristus berkenan untuk tinggal di dalam kehidupannya melalui kehadiran Roh Kudus (bandingkan dengan Efesus 1:13). Roh Kudus yang berdiam di dalam kehidupan semua orang yang percaya kepada Kristus inilah yang membuat orang percaya sanggup menghadapi ujian iman yang terus muncul dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana dengan Anda: Apakah Anda selalu tegak dalam iman saat menghadapi masalah dalam kehidupan Anda. Bila Anda gagal, segeralah datang kepada Allah yang selalu setia terhadap umat-Nya, mengakui segala dosa kita, dan memohon kekuatan untuk kembali melawan dosa. Jangan pernah putus asa dan teruslah mengejar kesempurnaan (1 Yohanes 1:9; 1 Korintus 10:13; 2 Korintus 13:11; Matius 5:48). [GI Purnama]

Tidak Mencari Keuntungan

2 Korintus 12:11-21

Beberapa kali Rasul Paulus menegaskan bahwa pelayanannya kepada jemaat Korintus itu bukanlah untuk mencari keuntungan. Mengapa Rasul Paulus melakukan penegasan ini? Penyebabnya adalah karena saat itu, ada banyak orang yang memberitakan firman Allah agar mendapat-kan uang. Rasul Paulus tidak mau bila pelayanannya terhambat karena masalah uang. Oleh karena itu, dia tidak mau menerima uang dari jemaat Korintus. Sebaliknya, dia bekerja keras dengan melakukan pekerjaan sebagai seorang tukang kemah (Kisah Para Rasul 18:3). Yang nampak aneh, dia justru bersedia menerima pemberian dari jemaat di wilayah Makedonia (jemaat Filipi, Tesalonika, dan Berea) yang relatif miskin bila dibandingkan dengan jemaat Korintus. Nampaknya, Rasul Paulus kuatir bahwa bila dia menerima bantuan keuangan dari jemaat Korintus, bisa berkembang gosip yang akan menghambat pelayanannya. Karena motivasi Rasul Paulus dalam melayani adalah untuk melakukan kehendak Allah, bukan untuk mencari keuntungan, dia tidak mau bila pelayanannya terganggu oleh masalah uang (2:17; 7:2; 8:1-5; 11:9; 12:13-18; Filipi 4:18).

Sikap Rasul Paulus dalam hal uang mengajarkan dua prinsip pen-ting dalam kehidupan bergereja: Pertama, pelayanan dalam gereja tidak boleh dilandasi oleh motivasi mencari keuntungan (uang). Bila motivasi pelayanan adalah mencari keuntungan, ada kemungkinan (potensi) bahwa pelayanan itu menyesatkan. Bagaimana dengan pelayanan kita masing-masing? Bila kita masih memiliki keinginan mencari keuntungan di dalam gereja, kita harus mengevaluasi kasih kita kepada Tuhan dan kepada sesama. Kedua, saling memberi dalam kehidupan bergereja merupakan sesuatu yang wajar, bahkan sudah semestinya, bila setiap pemberian dilandasi oleh ketulusan serta motivasi agar terjadi keseimbangan (lihat renungan 2 Korintus 8:1-15). Bila saling memberi dilakukan secara semestinya, saling memberi akan mewujudkan kesatuan dalam gereja. Oleh karena itu, waspadalah agar setiap orang yang memberi tidak merasa superior (merasa berkuasa) karena telah memberi. Ingatlah bahwa seharusnya kita memberi sebagai ungkapan rasa syukur karena kita telah menerima karunia yang berlimpah-limpah dari Tuhan, terutama karunia keselamatan, tetapi juga berbagai karunia lain, termasuk karunia berupa harta benda atau uang. [GI Purnama]

Kekuatan dalam Kelemahan

2 Korintus 12:1-10

Walaupun Rasul Paulus pernah mendapat penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan khusus dari Tuhan tentang sorga, dia beranggapan bahwa sebenarnya tidak ada faedahnya menceritakan pengalaman-pengalaman itu kepada jemaat (12:1-4). Selain itu, Rasul Paulus juga menyadari bahwa menceritakan pengalaman-pengalaman itu bisa membuat dirinya jatuh ke dalam dosa kesombongan. Untuk mencegah agar Rasul Paulus tidak menjadi sombong, Tuhan memberi-kan suatu duri di dalam dagingnya (12:7). Kita tidak bisa memastikan apa yang dimaksud dengan “duri di dalam daging” ini, tetapi ada kemung-kinan bahwa yang dimaksud adalah suatu penyakit di bagian perut yang menimbulkan rasa sakit (misalnya sakit maag atau sakit karena ada batu empedu). Rasa sakit ini sangat mengganggu pelayanan Rasul Paulus, sehingga “duri di dalam daging” ini juga disebut sebagai “utusan Iblis” yang menggocoh (meninju dengan keras) agar Rasul Paulus tidak menjadi sombong karena pengalaman spiritual yang ia alami. Rasul Paulus telah tiga kali berseru (berdoa) kepada Tuhan agar ia dibebaskan dari gangguan “utusan Iblis” itu, tetapi Tuhan menjawab, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Akhirnya, Rasul Paulus bisa menerima keadaan itu dan ia berkata, “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (12:8-9). Kelemahan yang dia alami membuat ia bisa menikmati kekuatan yang berasal dari Tuhan (12:10).

Bacaan Alkitab hari ini merupakan peringatan bagi setiap orang yang memiliki kelebihan (kuasa, pengetahuan, kekayaan, pengalaman, dan sebagainya) agar tidak menjadi sombong, serta merupakan dorong-an bagi setiap orang yang memiliki kelemahan (penyakit, kesusahan) agar bergantung kepada kekuatan yang berasal dari Tuhan. Menyom-bongkan kelebihan maupun mengomel (mengeluh) karena kekurangan adalah dua penghalang yang membuat kita sulit mempersembahkan yang terbaik pada diri kita untuk kemuliaan Tuhan. Apakah Anda sering menyombongkan kelebihan Anda? Apakah Anda sudah bisa menerima semua kekurangan (penyakit, keterbatasan uang, keterbatasan pengetahuan, keterbatasan kuasa) dan tetap bisa bersyukur dalam segala situasi? [GI Purnama]

Jangan Mengalah Terhadap Penyesat!

2 Korintus 11:16-33

Rasul Paulus bisa bersikap lembut, tetapi bisa bersikap keras juga. Terhadap anggota jemaat yang telah bertobat dan menyesali dosanya, dia bersikap lembut dan menghibur. Ia tidak menghendaki bahwa orang yang telah bertobat terus tenggelam dalam penyesalan dan kesedihan yang tidak berujung. Oleh karena itu, supaya orang yang telah bertobat tidak terus bersedih, sikap Rasul Paulus adalah menghibur (bandingkan dengan 2:7). Akan tetapi, dia benar-benar merasa kesal dan sulit bersabar saat menghadapi guru-guru palsu yang telah menyesatkan jemaat yang dilayaninya. Perkataan “karena kamu begitu bijaksa-na” (11:19) adalah sindiran yang mengungkapkan kekesalan hati Rasul Paulus terhadap sikap jemaat Korintus yang terlalu lunak terhadap para pengajar sesat. Dalam keadaan biasa, dia selalu bersikap rendah hati. Akan tetapi, saat menghadapi ajaran sesat yang hendak menghancurkan pelayanannya, kesabarannya habis. Rasul Paulus tidak akan meng-ucapkan perkataan yang bisa ditafsirkan sebagai tindakan menyombong-kan diri seandainya jemaat Korintus tidak sedang terancam oleh ajaran sesat. Karena sikap para pengajar sesat yang meninggikan dirinya sendiri itu amat mempesona dan membuat jemaat meremehkan pengajaran yang disampaikan oleh Rasul Paulus, Rasul Paulus terpaksa meng-ungkapkan kelebihan dirinya agar jemaat tidak terus terpesona terhadap ajaran sesat dan memperhatikan pengajarannya. Dari sisi latar belakang keturunan, pengabdian, pengorbanan, dan pelayanan, Rasul Paulus tidak kalah—bahkan sebenarnya melampaui—para guru palsu itu (11:5-13, 21-33).

Bila Anda beranggapan bahwa Anda telah berusaha melayani dengan baik, tetapi Anda mengalami respons yang mengecewakan, Anda merasa tidak dihargai, renungkanlah ungkapan isi hati Rasul Paulus dalam pasal 11 ini. Siapakah di antara kita yang—karena kesetiaan memberitakan Injil—harus mengalami keadaan dipenjarakan, dipukuli, dicambuk, serta menghadapi ancaman bahaya maut yang datang dari bencana alam dan dari perampok? Bukankah tantangan yang dialami oleh orang-orang Kristen pada umumnya belum seberat yang dialami oleh Rasul Paulus? Dalam melayani, walaupun kita harus bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang menyesali dosanya, kita tidak perlu ragu untuk bersikap keras terhadap para penyesat! [GI Purnama]

Cemburu Ilahi

2 Korintus 11:1-15

Apa yang membuat Rasul Paulus merasa cemburu? Apakah dia cem-buru bila melihat pelayanan orang lain lebih sukses daripada dirinya? Apakah dia cemburu bila orang lain mendapat uang lebih banyak daripada dirinya? Tidak! Rasul Paulus tidak memandang pelayanannya sebagai suatu kompetisi! Pelayanannya bukanlah profesi untuk mencari uang! Pelayanannya semata-mata dilandasi oleh kasih yang telah lebih dulu diterimanya dari Allah. Dia melayani bukan untuk mencari uang, bahkan dia tidak mau menerima uang dari jemaat Korintus! Dia mela-yani jemaat Korintus secara cuma-cuma! (11:7). Sebaliknya, Rasul Paulus bersedia menerima bantuan keuangan dari jemaat di Makedonia (11:9) yang notabene adalah jemaat yang miskin (bandingkan dengan 8:1-2). Pemaparan Rasul Paulus ini dari satu sisi merupakan suatu sindiran kepada jemaat Korintus yang relatif kaya bila dibandingkan dengan jemaat di Makedonia. Di sisi lain, pemaparan Rasul Paulus ini memper-lihatkan bahwa dia melayani secara tulus. Pelayanannya sama sekali tidak dilandasi keinginan mencari keuntungan (uang). Dia memilih tetap bekerja sebagai tukang kemah untuk memenuhi kebutuhannya agar masalah uang tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang Korintus untuk menerima berita Injil. Oleh karena itu, dia merasa cemburu (sangat kesal) saat melihat atau mendengar bahwa jemaat Korintus bisa disesatkan oleh guru-guru palsu yang mengaku sebagai rasul-rasul yang hebat (11:2-5). Rasa cemburu yang diungkapkan Rasul Paulus ini bukan rasa cemburu duniawi yang dilandasi oleh hawa nafsu, melainkan rasa cemburu ilahi yang dilandasi oleh kasih kepada Allah dan kasih kepada jemaat Korintus.

Apa yang membuat Anda cemburu? Apakah Anda cemburu saat melihat orang yang lebih sukses, lebih populer, lebih kaya, lebih disukai daripada diri Anda? Sebaliknya, apakah Anda merasa cemburu dengan cemburu Ilahi seperti Rasul Paulus yang merasa sangat kesal saat melihat jemaat disesatkan oleh ajaran-ajaran palsu yang menyesatkan? Apakah Anda merasa kesal terhadap para pengajar palsu yang ajarannya menarik sehingga menyesatkan banyak orang yang sudah lebih dulu menerima Injil yang sejati? Ingatlah bahwa cemburu Ilahi selalu dilandasi oleh kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia, bukan oleh kasih kepada diri sendiri atau oleh keinginan mencari keuntungan. [GI Purnama]

Memahami Batas Pelayanan

2 Korintus 10:12-18

Rasul Paulus adalah seorang hamba Tuhan senior. Sekalipun demi-kian, dia tidak mau membanggakan dirinya atau membanggakan pelayanannya. Dia beranggapan bahwa membandingkan diri sendiri dengan orang lain (supaya bisa membanggakan diri atau dipuji oleh orang lain) merupakan suatu kebodohan (10:12). Satu-satunya kebang-gaan yang patut hanyalah bila kita dipuji Tuhan (10:18). Kita akan mendapat pujian dari Tuhan bila kita setia mengerjakan pelayanan yang ditugaskan Tuhan kepada diri kita. Bagi Rasul Paulus, Tuhan sudah menetapkan batas-batas pelayanannya, dan dia harus setia melakukan tugas tersebut (10:13-16).

Mengapa kita perlu memusatkan perhatian kita kepada tanggung jawab yang telah diberikan Tuhan kepada kita? Pertama, kita harus memusatkan perhatian pada tanggung jawab yang Allah percayakan kepada kita karena kita harus mempertanggungjawabkan pelayanan kita kepada Tuhan (5:10). Tuhan sudah memberikan karunia-karunia rohani kepada setiap orang percaya, dan karunia-karunia tersebut harus digunakan untuk kepentingan bersama, sesuai dengan tujuan Allah bagi diri kita masing-masing (Roma 12:3-8; 1 Korintus 12:7-11). Kedua, kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain karena setiap orang percaya bertanggung jawab secara pribadi di hadapan Allah (1 Korintus 12:28-30). Dalam melaksanakan tanggung jawab kita, kiita harus bekerja sama dengan orang lain untuk melakukan pelayanan bersama (Efesus 4:16), tetapi kerja sama itu bukanlah suatu kompetisi. Perlu selalu diingat bahwa tujuan pelayanan bukanlah kesuksesan diri sendiri, melainkan kemuliaan Tuhan. Ketiga, membandingkan pelayanan kita dengan orang lain hanya membangkitkan kebanggaan diri (bila pelayanan kita lebih berhasil) atau rasa rendah diri (bila pelayanan orang lain lebih baik daripada pelayanan kita), dan kedua hal itu merupakan racun yang akan merusak pelayanan kita.

Apakah Anda memahami batas-batas pelayanan yang telah Allah percayakan kepada diri Anda dan apakah Anda telah bertanggung jawab melaksanakan tugas tersebut? Apakah Anda merasa puas terhadap batas-batas pelayanan yang telah Allah percayakan kepada diri Anda, sehingga Anda berjuang dengan sukacita dan dengan ketulusan untuk melaksanakan tanggung jawab Anda? [GI Purnama]

Menghadapi Tantangan dalam Pelayanan

2 Korintus 10:1-11

Rasul Paulus adalah seorang yang melayani dengan totalitas. Dia mencurahkan seluruh pikirannya, tenaganya, waktunya, bahkan juga uangnya (penghasilannya) untuk melayani orang lain secara tulus. Sekalipun demikian, dia tidak bebas dari tantangan. Dalam bacaan Alkitab hari ini, jelas bahwa ada orang yang menuduh dia sebagai seorang yang hidup secara duniawi (10:2) dan ada pula orang yang menganggap dia tidak memiliki integritas (10:10, surat-suratnya tegas dan keras, tetapi sikapnya lemah dan perkataannya tidak berarti atau sekadar omong kosong). Kedua tuduhan tersebut berbahaya dan bisa merusak pelayanannya serta merongrong kepemimpinannya.

Bila kita memperhatikan kehidupan dan pelayanan Rasul Paulus, jelas bahwa tuduhan-tuduhan semacam itu didasarkan pada fitnah dan hoaks. Beliau menyangkal keras tuduhan bahwa perjuangannya dilakukan secara duniawi (10:3, mengikuti standar umum yang mengutamakan kemenangan dan keuntungan), Rasul Paulus menegaskan bahwa dia mengandalkan kuasa Allah saat menghadapi semua tantangan dalam pelayanan (10:4-6). Sikapnya selalu dilandasi motivasi untuk membangun, bukan untuk menang atau meruntuhkan (10:8). Ucapan bahwa Beliau tidak berani bila berhadapan muka dan hanya berani bila berjauhan merupakan suatu sindiran terhadap jemaat Korintus. Sekalipun Rasul Paulus menghadapi tuduhan yang menyakitkan, ia tetap meneladani Kristus dalam hal bersikap lemah lembut dan ramah (10:1), tetapi ia juga menegaskan bahwa ia memiliki integritas (10:11, tindakan dan perkataannya sama).

Apakah Anda merasa kecewa dan kecil hati saat menghadapi berbagai masalah dalam pelayanan Anda? Jangan kecil hati dan jangan mundur! Tuhan Yesus mengatakan dalam Lukas 9:23 bahwa setiap orang yang ingin menjadi pengikut-Nya harus rela menyangkal keinginan dirinya (bersedia mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan), memikul salib setiap hari (tekun menghadapi kesulitan dan penderitaan), serta tetap hidup mengikuti kehendak Allah (tidak pernah menyerah saat menghadapi kesulitan). Tantangan apa yang sedang Anda hadapi dalam pelayanan Anda? Apakah Anda tetap bisa mempertahankan iman Anda dan tetap menumbuhkan sukacita Anda saat Anda sedang menghadapi tantangan itu? [GI Purnama]

Prinsip-prinsip Memberi

2 Korintus 9:6-15

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Rasul Paulus menyampaikan dua prin-sip yang merupakan pedoman bagi jemaat Korintus dalam memberi persembahan: Pertama, perhatikan bahwa ada suatu prinsip umum dalam kehidupan yang berlaku dalam berbagai situasi, yaitu bahwa apa yang kita tuai akan sesuai dengan apa yang telah kita tabur (9:6). Dalam konteks persembahan, khususnya dengan mengingat bahwa jemaat di Makedonia telah memberi melampaui kemampuan mereka (8:1-5, lihat renungan 2 Korintus 8:1-15), memberi berarti membuka kesempatan bagi kita untuk melihat bahwa Allah sanggup mencukupi semua kebutuhan kita (9:8). Selain itu, pemberian kita akan melimpahkan ucapan syukur dari penerima pemberian tersebut (9:12). Bila kita tidak berani memberi (hanya berani memberi “uang sisa”), kita bisa kehilangan kesempatan untuk melihat bagaimana Tuhan mencukupkan kebutuhan kita, dan kita juga kehilangan kesempatan untuk melihat buah dari pemberian kita dalam kehidupan orang yang menerima pemberian kita.

Kedua, kita harus memberi secara sukarela, bukan karena terpaksa (9:7). Memberi secara sukarela ini hanya akan bisa terwujud bila kita memberi karena kasih. Dari satu sisi, kita memberi karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi diri kita. Bila kita mengingat pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib bagi kita, kita akan menyadari bahwa apa yang bisa kita berikan kepada sesama menjadi terasa tidak berarti. Dari sisi lain, kita memberi karena Tuhan menghendaki kita mengasihi sesama. Kasih orang percaya kepada sesama yang kelihatan merupakan wujud dari kasih kepada Tuhan yang tidak kelihatan (bandingkan dengan 1 Yohanes 4:20). Kasih kita kepada Tuhan belum terbukti bila kita belum memiliki kerelaan untuk mengasihi sesama.

Kedua prinsip di atas perlu diterapkan dengan kewaspadaan. Pertama, sadarilah bahwa prinsip tabur-tuai itu tidak berarti bahwa kita memberi supaya kita bisa mendapat lebih banyak dari Tuhan (prinsip dagang). Berkat Tuhan harus kita pandang sebagai anugerah, bukan sebagai upah. Kedua, memberi secara sukarela bukan berarti bahwa kita cukup memberi dengan “uang kecil”. Pemberian yang wajar adalah pem-berian yang dilandasi oleh keinginan berkorban sebagai respons terhadap kebaikan Allah yang telah kita terima. Apakah kedua prinsip di atas sudah mewarnai cara Anda memberi persembahan? [GI Purnama]

Saling Mendorong dalam Pelayanan

2 Korintus 8:16-9:5

Setiap orang yang telah sungguh-sungguh bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus pasti telah dilahirkan kembali menjadi manusia baru yang memiliki keinginan dan pola pikir yang baru yang sesuai dengan kehendak Allah. Akan tetapi, karena kita semua masih hidup di dalam lingkungan yang lama, tidak mudah bagi kita untuk menjalani cara hidup yang baru itu. Kita perlu mencari tahu kehendak Tuhan melalui membaca dan mendengar pemberitaan firman Tuhan. Kita juga memer-lukan saudara-saudara seiman yang mengingatkan dan mendorong kita untuk melakukan kehendak Allah.

Jemaat di Yerusalem sedang menderita kekurangan sehingga mereka memerlukan bantuan (bandingkan dengan Kisah Para Rasul 24:17). Agaknya Titus ikut berperan dalam mendorong jemaat Korintus untuk melaksanakan pelayanan kasih (pelayanan membantu orang lain, khususnya dengan sokongan keuangan), sehingga jemaat itu telah mulai melaksanakan pelayanan kasih. Akan tetapi, pelayanan kasih kepada jemaat di Yerusalem baru sekadar keinginan yang belum terwujud (2 Ko-rintus 8:6, 10-11). Pelayanan kasih yang telah dimulai oleh jemaat Korintus (perlu diingat bahwa kota Korintus terletak di wilayah Akhaya) merupa-kan teladan yang membangkitkan keinginan yang besar dari jemaat di wilayah Makedonia (yaitu jemaat di kota Filipi, Tesalonika, Berea, dan sekitarnya) untuk memberi (9:1-2). Sebaliknya, respons jemaat Makedo-nia yang miskin, namun rela memberi melampaui kemampuan mereka, merupakan teladan ketulusan memberi bagi jemaat Korintus yang lebih kaya (8:1-4).

Untuk mempersiapkan pengumpulan bantuan bagi jemaat di Ye-rusalem, Rasul Paulus mengutus Titus (8:6) bersama seseorang yang ter-puji di semua jemaat karena pekerjaannya dalam pemberitaan Injil (8:18, mungkin yang dimaksud adalah dokter Lukas), dan seorang lain lagi yang telah terbukti berusaha membantu (8:22, mungkin yang dimaksud adalah Apolos). Dalam melaksanakan pelayanan kasih, sering kali kita harus saling mendorong dan mengerjakan bersama-sama agar pelayan-an kita membawa dampak yang lebih berarti. Itulah sebabnya, dalam gereja pada masa kini biasanya ada tim diakonia yang bertanggung jawab melaksanakan pelayanan kasih oleh gereja. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk saling mendorong dalam pelayanan? [GI Purnama]

Ujian Keikhlasan

2 Korintus 8:1-15

Semua ungkapan kebaikan—termasuk memberi—haruslah dilandasi oleh kasih. Karena memberi kepada sesama itu bersifat sukarela, maka memberi itu merupakan ujian terhadap keikhlasan kasih jemaat Korintus (8:8). Rasul Paulus berusaha membangkitkan keikhlasan jemaat Korintus dengan memberikan informasi tentang jemaat-jemaat di wila-yah Makedonia (termasuk di antaranya adalah jemaat di Filipi, Tesaloni-ka, dan Berea), yang walaupun sangat miskin (bila dibandingkan dengan jemaat di Korintus), namun kaya dalam kemurahan, sehingga mereka dengan penuh semangat ikut mendukung pelayanan dengan kondisi keuangan mereka yang terbatas (8:1-4).

Selain memberikan contoh yang diperagakan oleh jemaat di Makedonia, Rasul Paulus menjelaskan beberapa prinsip tentang persem-bahan yang digunakan untuk pelayanan sosial: Pertama, kasih karunia Tuhan Yesus Kristus (yang sebenarnya kaya) yang rela menjadi Manusia (yang menanggalkan kekayaan-Nya sehingga menjadi miskin) perlu kita teladani dengan cara berlaku murah hati kepada sesama yang memer-lukan bantuan kita (bandingkan dengan 8:9). Kedua, kata “keikhlas-an” (8:8) menunjukkan bahwa tindakan menolong orang lain yang memerlukan bantuan kita itu harus dilakukan dengan sukarela (8:11-12). Ketiga, tindakan menolong orang lain yang membutuhkan bantuan keuangan itu bukanlah dimaksudkan untuk memanjakan, tetapi supaya ada keseimbangan (8:13-14) yang membuat setiap orang (orang kaya maupun orang miskin) bisa menikmati berkat Tuhan. Prinsip keseim-bangan ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kekurangan masing-masing, sehingga orang yang lebih kaya pun mungkin memiliki kekurangan yang membuat dia memerlukan bantuan sesama (yang lebih miskin, namun memiliki kelebihan dalam hal lain). Dengan demikian, prinsip keseimbangan ini akan membuat yang kaya tidak merasa su-perior dan yang miskin tidak merasa rendah diri, dan prinsip keseim-bangan ini bersifat mempersatukan orang percaya.

Apakah Anda sudah mengembangkan kepekaan untuk membantu sesama? Ingatlah bahwa membantu ini bukan hanya menyangkut keuangan, tetapi bisa berarti memperhatikan, mengunjungi, mendoakan dan sebagainya. Kerelaan (keikhlasan) kita untuk membantu sesama akan membangun kesatuan umat Tuhan. [GI Purnama]