Oikumene

Yohanes 17:20-26

Kata oikumene berkaitan dengan kesatuan gereja. Gereja perlu bersatu dan bergandeng tangan untuk memberikan nilai yang khas kristiani dalam dunia ciptaan Allah. Kata oikumene berasal dari kata oikos yang artinya rumah atau tempat, dan mene atau menein yang artinya berdiam atau tinggal. Dunia bagaikan rumah besar yang di dalamnya berdiam atau tinggal segala mahkluk ciptaan Allah. Di dunia inilah, orang percaya (gereja) ditempatkan.

Oikumene sebenarnya adalah suatu istilah umum yang bisa diartikan sebagai bumi yang dihuni manusia. Dalam sejarah gereja, usaha-usaha Oikumene telah dan terus dilakukan agar tercipta suatu gereja kristen yang esa. Oikumene bukanlah sekedar aktivitas bersama atau suatu program atau target tertentu yang wajib dipenuhi (diusahakan) oleh setiap gereja, namun oikumene merupakan sikap iman yang mendorong gereja-gereja untuk bersama-sama melangkah pada tujuan dan arah yang sama. Arah dan tujuaan yang dimaksud adalah agar dunia percaya kepada Tuhan. Kesatuan gereja akan membuat gereja memiliki kekuatan yang lebih besar untuk melaksanakan tiga fungsi gereja, yakni persekutuan (koinonia), pelayanan kasih (diakonia), dan kesaksian (marturia). Panggilan dan fungsi gereja pada tataran teori dipahami oleh semua gereja. Namun, dalam aplikasi praktis, gereja sulit bersama-sama dalam satu kesatuan gerak pelayanan. Walaupun, pada hakekatnya, gereja adalah satu dalam Kristus, ego pribadi—yang menganggap gereja sendiri paling benar dan gereja lain salah, hamba Tuhan gereja sendiri paling benar dan hamba Tuhan gereja lain sesat—membuat gereja terkotak-kotak dalam denominasi masing-masing, dan pada gilirannya mengancam kesatuan gereja.

Sebelum naik ke surga, Tuhan Yesus sungguh-sungguh berdoa bagi para murid-Nya dan juga bagi orang-orang percaya yang akan percaya kepada Yesus Kristus melalui pemberitaan para murid-Nya. Ia berdoa agar orang percaya di segala tempat dan segala abad bersatu. Yesus Kristus yang adalah Tuhan pasti mengetahui apa yang akan terjadi terhadap para murid-Nya dan setiap orang percaya di dunia ini. Oleh karena itu, sebelum meninggalkan dunia ini dan naik ke surga, Ia berdoa bagi semua pengikut-Nya. Kesatuan yang sempurna membuat dunia dapat mengenal sumbernya. (Yohanes 17:23). [GI Laazar Manuaim]

Gereja Itu Milik Tuhan

1 Petrus 2:1-10

Gereja adalah milik Tuhan, baik dilihat dari sudut pandang universal maupun lokal. Secara universal, gereja mencakup semua orang percaya mulai dari orang percaya yang berkumpul saat peristiwa Pentakosta terjadi sampai orang percaya yang diangkat untuk bertemu Tuhan Yesus saat Tuhan Yesus datang kedua kali (1 Tesalonika 4:13-17). Tuhan Yesus memilih orang percaya dari segala suku bangsa untuk dihimpun dalam suatu kumpulan besar orang percaya yang disebut Eklesia. Orang-orang percaya itu sebelumnya hidup dalam kegelapan dosa, kemudian bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus serta berpindah kepada hidup dalam terang. Orang-orang percaya itu bukan hanya sekadar dipilih Tuhan, tetapi mereka ditebus dengan harga yang telah lunas dibayar (1 Korintus 6:20). Karena orang-orang percaya itu adalah milik Tuhan, maka Tuhan akan melindungi dan membela mereka dalam segala situasi. Karena Pemilik gereja adalah Tuhan yang kudus, maka orang percaya harus hidup dalam kekudusan. Orang percaya harus mencerminkan kekudusan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Rasul Petrus menyebut orang-orang percaya sebagai umat kepunyaan Allah (1 Petrus 2:9). Pilihan Allah semata-mata didasarkan atas anuge-rah, bukan atas usaha atau jasa manusia. Akan tetapi, ingatlah bahwa anugerah Allah disertai tanggung jawab untuk meninggalkan dosa, bertumbuh secara rohani, serta melayani Tuhan dan sesama.

Dalam pengertian sebagai gereja lokal, gereja juga merupakan milik Tuhan. Gedung dan seluruh aset gereja lokal adalah milik Tuhan. Semestinya, saat anggota jemaat hendak memberi persembahan kepada Tuhan, uang yang hendak dipersembahkan itu telah didoakan dan disiapkan, lalu dipersembahkan dengan segenap hati. Dengan demikian, semua yang dipersembahkan kepada Tuhan telah dikuduskan untuk Tuhan dan menjadi milik Tuhan. Oleh karena itu, seorang pun tidak ada yang boleh mengklaim persembahan itu sebagai milik pribadi atau mengambilnya sebagai milik pribadi.

Ketika Bait Suci akan dibangun kembali, Tuhan bersabda kepada nabi Hagai bahwa segala kemegahan bait suci itu adalah milik Tuhan. Bait Suci itu dikuduskan (dikhususkan) untuk Tuhan, tidak boleh di najiskan dengan sikap, tindakan atau perlakuan yang sembrono (Hagai 2:7-20). Kiranya Tuhan menolong kita untuk menyadari hal ini! [GI Laazar Manuaim]

Gereja dan Diskriminasi

Kisah Para Rasul 17:22-31

Diskriminasi adalah sikap atau tindakan yang tidak adil atau tidak seimbang yang dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu terhadap individu atau kelompok lainnya. Dengan kata lain, diskriminasi adalah perbedaan perlakuan terhadap sesama. Diskriminasi dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Diskriminasi terhadap sesama bisa dilakukan berdasarkan warna kulit, golongan, ras, ekonomi, sosial, gender, agama, dan sebagainya.

Mungkin kita bertanya, “Apakah diskriminasi dapat terjadi di gereja?” Jawabannya adalah bahwa hal itu mungkin saja terjadi. Diskriminasi dapat terjadi bila gereja atau anggota gereja tidak memahami hakikat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Secara natural, semua orang merupakan gambar Allah dan rupa Allah. Dalam kedaulatan-Nya, Allah menciptakan manusia dengan keadaan baik, bahkan sungguh amat baik (Kejadian 1:31), dan semua manusia sama di mata Tuhan. Dosa membuat manusia melihat dirinya, budaya-nya, sukunya, rasnya, warna kulitnya, sebagai yang terbaik bila diban-dingkan dengan yang lain. Perasaan superior (lebih tinggi, lebih baik) daripada orang lain ini membangkitkan sikap merendahkan, lalu muncullah sikap diskriminatif (membeda-bedakan).

Dalam khotbahnya yang terkenal di kota Athena (Kisah Para Rasul 17:16-34), Rasul Paulus menguraikan suatu visi alkitabiah tentang suatu masyarakat yang multirasial (terdiri dari banyak suku bangsa), bahwa Allah adalah Tuhan bagi semua ciptaan. Didalam Dia kita ada, kita hidup, kita bergerak. Dia adalah Bapa dari seluruh umat manusia. Diskriminasi merupakan kejahatan, bahkan merupakan dosa, di mata Tuhan. Mengenal Allah secara benar sebagai Pencipta atas seluruh umat manusia, seluruh ras, dan etnis akan berdampak pada sikap kita terha-dap sesama manusia. Dengan demikian, akan tergenapi penglihatan Rasul Yohanes di pulau Patmos tentang gereja, ‘Kemudian daripada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.” ( Wahyu 7:9). Inilah visi alkitabiah yang akan tergenapi saat parousia (Yesus Kristus datang untuk kedua kali) tiba. [GI Laazar Manuain]

Kepemimpinan Gereja Masa Kini

Efesus 4:11-16

Di sepanjang sejarah gereja, secara umum dikenal 3 model sistem pemerintahan gereja, yaitu: Pertama, model episkopal atau model hierarkis. Dalam model ini, kekuasaan tertinggi gereja berada di tangan seorang pengawas (uskup). Jadi, ada garis komando dari atas ke bawah. Kedua, model presbiterian. Model ini berakar pada ajaran Calvin yang mengacu pada Efesus 4:11. Kekuasaan tertinggi gereja berada di tangan sejumlah penatua atau majelis yang dipilih oleh para anggota gereja. Pendeta merupakan salah satu penatua atau majelis. Ketiga, model kongregasional yang dapat disebut sebagai sistem independen. Dalam sistem ini, kekuasaan tertinggi gereja berada di tangan anggota jemaat. Setiap gereja memiliki pemerintahan sendiri atau otonom. Hak suara se-tiap anggota jemaat menentukan perwakilan jemaat melalui pemben-tukan panitia untuk menjalankan pelayanan gereja. Walaupun secara umum hanya ada 3 sistem pemerintahan gereja, namun ketiga sistem pemerintahan gereja ini memiliki perkembangan atau variasi, khususnya dalam hal ikatan dan kerja sama dengan gereja-gereja lain yang memiliki kepercayaan (doktrin) dan sistem yang sama.

Ketiga sistem pemerintahan gereja di atas didasarkan pada firman Tuhan. Akan tetapi, kurang bermanfaat bila kita memperdebatkan mana sistem pemerintahan gereja yang lebih baik atau lebih alkitabiah. Yang penting, setiap gereja harus memilih suatu pemerintahan gereja yang paling cocok bagi gereja tersebut. Seiring dengan perkembangan zaman, para pemimpin gereja harus dapat menyesuaikan diri dengan konteks dan zaman tempat gereja berada dan melayani. Dalam bacaan Alkitab hari ini, jelas bahwa para pemimpin gereja (rasul, nabi, pemberita Injil, gembala-pengajar) berasal dari Allah (4:11). Hal ini berarti bahwa para pemimpin gereja haruslah memiliki reputasi yang baik, memenuhi kuali-fikasi rohani yang baik, bijaksana, dan terus mengembangkan karunia rohani yang ada pada mereka untuk melayani. Para pemimpin gereja harus menolong (memperlengkapi) para anggota untuk melakukan pe-kerjaan pelayanan. Usaha memperlengkapi anggota jemaat untuk mela-yani ini lazim disebut sebagai memuridkan. Bila para pemimpin gereja memuridkan para anggota jemaat untuk melayani bersama, pelayanan gereja akan bisa terus berkembang. Tanpa pemuridan, pelayanan gereja akan terbatas perkembangannya. [GI Laazar Manuain /GI Purnama]

Gereja dan Sarana Anugerah

Roma 8:18-30

Michael Horton, dalam bukunya, “Kekristenan tanpa Kristus”, meng-ajukan suatu pertanyaan: Mengapa banyak orang Kristen yang mengalami kejenuhan dalam gereja? Jawabannya adalah karena mereka menjalani kehidupan Kristen tanpa penghayatan yang benar akan anugerah Tuhan. Penekanan kehidupan bergereja berpusat pada sarana-sarana ibadah, dan bukan pada sarana-sarana anugerah Allah.

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, dapat saja orang percaya mundur karena berbagai alasan, termasuk karena jatuh dalam dosa atau karena faktor-faktor lain yang menjauhkan dia dari Tuhan, sehingga ia mengalami kejenuhan. Namun, apabila ia mau bertobat, Tuhan sanggup membawa dia kembali melalui sarana-sarana anugerah Allah. Sarana anugerah Allah itu meliputi: Pertama, gereja. Para hamba Tuhan dalam gereja adalah sarana yang sering Tuhan pakai untuk menolong umat-Nya. Melalui gereja, kita berjumpa dengan Tuhan, dan kita terus diingat-kan akan anugerah Tuhan. Kedua, Alkitab (2 Timotius 3:16-17). Alkitab adalah sarana anugerah Allah yang menerangi kita untuk terus berada di jalan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Ketiga, doa (Roma 8:26). Doa adalah sarana anugerah Allah untuk menyampaikan keluhan-keluh-an kita kepada Tuhan. Doa tidak didasarkan pada kelebihan manusiawi (lamanya berdoa atau keindahan kata-kata dalam doa). Doa adalah ungkapan hati kepada Tuhan. Saat kita berdoa, Roh Kudus menguatkan kita—bahkan berdoa untuk kita—agar kita kuat menjalani kehidupan sebagai orang percaya. Keempat, Perjamuan Kudus (1 Korintus 11:24-26). Perjamuan Kudus adalah sarana anugerah Allah yang mengingatkan kita akan karya Kristus yang mendatangkan pengampunan, penebusan dan pendamaian.

Puji Tuhan! Sarana-sarana anugerah Allah akan membuat iman kita terpelihara, bertambah, dan semakin teguh. Dengan demikian, orang yang sungguh-sungguh memercayai Tuhan tidak mungkin murtad (ber-pindah kepercayaan) dan akan terus disegarkan kembali saat mengalami kejenuhan dalam gereja. Apakah Anda sedang berpikir untuk berpaling dari Tuhan? Apakah Anda sedang berpikir untuk meninggalkan iman Anda? Apakah Anda merasa jenuh dalam bergereja? Bila Anda meng-alami hal seperti itu, ingatlah bahwa anugerah Tuhan cukup bagi kita. Tuhan akan menolong Anda! [GI Laazar Manuain]

Gereja dan Visi Bersama

Efesus 4:1-6

Hasil studi berkelanjutan dari dewan gereja-gereja sedunia, meng-hasilkan suatu dokumen yang diberi judul “The Church Towards a Common Vission”. Dokumen ini sangat bermanfaat untuk mendorong gereja-gereja di Indonesia menggumuli bersama pemahaman tentang gereja dan misi gereja dalam masyarakat Indonesia yang majemuk serta menyikapi perubahan zaman yang begitu cepat. Gereja-gereja di Indonesia merupakan bagian dari gereja di semua belahan dunia. Gereja adalah tubuh Kristus yang utuh. Gereja harus bersatu untuk meng-hadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di tengah realitas dunia yang ditandai konflik dan perpecahan. Gereja terpanggil dalam visi bersama untuk hadir dalam pergumulan-pergumulan dan ikut berperan memberi solusi untuk kemaslahatan (kebaikan) dunia. Gereja-gereja sedunia bagaikan arak-arakan oikumene (tanpa dibatasi oleh denominasi gereja) menuju suatu panggilan bersama demi kemuliaan Allah.

Dalam cakupan yang lebih kecil, setiap gereja lokal mempunyai visi tersendiri. Visi gereja lokal diberikan Tuhan kepada setiap komunitas anak Tuhan dalam suatu gereja. Kepada jemaat Efesus, Rasul Paulus memaparkan “visi“ yang secara umum harus dihayati dan dilakukan oleh setiap gereja: Pertama, setiap gereja harus mengajar jemaatnya untuk hidup berpadanan dengan panggilan sebagai pengikut Kristus (Efesus 4:1). Hidup berpadanan dengan panggilan adalah hidup berintegritas (ada kesamaan antara pengetahuan dengan perbuatan atau perilaku sehari-hari). Kedua, gereja harus bersatu. Setiap anggota gereja harus memiliki semangat kesatuan, Tanpa kesatuan, gereja tidak akan bisa berfungsi dengan baik. Sadarilah bahwa bersatu itu tidak harus berarti seragam. Bersatu bisa dilakukan dalam keberagaman. Kesatuan harus dipelihara (Efesus 4:3; Yohanes 17:21), bukan hanya secara internal dalam sebuah gereja, tetapi juga secara eksternal bersama gereja lain.

Kesatuan gereja dan kehidupan yang berpadanan dengan panggilan sebagai seorang Kristen akan menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam dunia yang sudah rusak ini. Di dunia yang sudah rusak Inilah, gereja harus bergandeng tangan untuk menghadirkan shalom Allah (damai sejahtera Allah) dalam dunia. Sudahkah kita hidup berpadanan dengan panggilan kita? Sudahkah kita hidup dalam kesatuan sebagai satu tubuh, yaitu tubuh Kristus? [GI Laazar Manuain]

Gereja Yang Kudus dan Am

1 Korintus 3:10-17

Dalam pengakuan iman rasuli, kita menemukan perkataan “Gereja yang Kudus dan Am”. Dalam Alkitab, kata “gereja” atau “Jemaat” selalu menunjuk pada orang (segenap orang percaya), bukan pada tempat atau bangunan. Dr. Verkuyl menyimpulkan bahwa “Hakekat Gereja ialah umat Allah yang dipanggil dari antara segala bangsa, persekutuan orang-orang beriman dari segala zaman dan tempat, orang-orang jahat yang dibenarkan, dan kini dipanggil untuk memberitakan kebaikan Dia yang memanggil mereka keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”.

Banyak kiasan dalam Alkitab yang menolong kita untuk mengerti makna gereja, yaitu antara lain: bangsa yang terpilih, umat yang kudus, imamat rajani, milik Allah, pengantin Kristus, dan bait Allah. Dengan kiasan-kiasan ini, orang percaya bertanggung jawab untuk hidup kudus di hadapan Allah (1 Petrus 1:15-16). Dalam perkataan “Gereja yang kudus dan am”, kata “kudus” berarti Allah memilih kita menjadi milik-Nya. Kita dikhususkan dari dunia ini untuk dipakai Allah. Kata “am” artinya umum atau universal. Jika kata “am” dipakai untuk gereja, maka gereja yang am berarti gereja yang bersifat universal atau yang maknanya adalah semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus di seluruh dunia dan sepanjang masa, tanpa memandang denominasi. Orang-orang percaya ini dipanggil bukan hanya untuk mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi, tetapi juga untuk hidup bersama saudara seiman yang lain. Dalam pengertian inilah, kita disebut sebagai gereja yang kudus dan am.

Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus dan semua orang percaya akan sesuatu yang seharusnya sudah mereka ketahui, yaitu bahwa mereka adalah bait Allah. Bait Allah adalah tempat suci. Dalam pengertian ini, Rasul Paulus menggunakan kata Yunani naos (bait) untuk secara khusus menunjuk pada tempat kediaman Allah (1 Korintus 3:16). Jadi, Tuhan bukan hanya menciptakan kita, lalu bersikap tidak peduli. Akan tetapi, Ia memilih kita dari segala bangsa supaya kita menjadi terang dunia dan garam dunia yang memperkenalkan Allah dan kehendak-Nya terhadap dunia ini. Karena Allah yang kudus berkenan untuk berdiam dalam hidup kita, bolehkah kita hidup sembrono? Bolehkah kita meremehkan pilihan Tuhan atas diri kita dan kita tidak mempedulikan kehendak-Nya dalam kehidupan kita? [GI Laazar Manuain]

Gereja dan Perubahan Zaman

Lukas 12:54-59

Kita hidup dalam dunia yang terus berubah mengikuti zaman yang tak pernah berhenti berubah. Perubahan zaman ini “memaksa” gereja untuk ikut berubah (beradaptasi) agar gereja tidak tersingkir dan tetap dapat menjalankan fungsinya dalam dunia. Arus perubahan zaman ini tidak bisa dihentikan oleh siapa pun atau oleh kekuatan apa pun.

Bagaimana sikap Gereja dalam menghadapi perubahan zaman? Di sepanjang sejarah gereja, setiap zaman selalu memiliki ciri yang me-nonjol. Saat ini, kita berada pada zaman informasi. Arus informasi yang sangat pesat membuat banyak orang tidak memiliki fokus (terombang-ambing) dalam hidupnya. Arus nilai dunia yang begitu kuat membuat banyak orang bimbang dalam memilih mana berita yang benar dan mana yang hoax. Ada orang yang menolak kemajuan teknologi dan terus melanjutkan gaya pelayanan yang lama, tetapi ada orang yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk membuat pelayanan menjadi lebih efektif. Kemajuan teknologi bisa memudahkan kita dalam segala hal serta mengefisienkan waktu dan tenaga, tetapi bisa pula membuka akses ke arah hal yang negatif (penyebaran berita hoax, modus penipuan, dan sebagainya). Gereja harus belajar menilai zaman agar bisa memberi pelayanan yang tepat (sesuai dengan perubahan zaman).

Tuhan Yesus menegur orang banyak dengan keras atas ketidak-pekaan mereka terhadap kondisi zaman. Mereka dapat melihat fenome-na alam dengan jelas, tetapi mereka tidak bisa melihat krisis rohani yang ada di depan mata. Dengan mata jasmani, mereka bisa melihat dan menilai segala sesuatu. Akan tetapi, kebutaan rohani membuat mereka tidak bisa melihat krisis rohani yang ada di depan mata. Sebagai murid Tuhan Yesus, seharusnya mereka dapat melihat betapa seriusnya krisis rohani yang ada saat ini. Banyak orang meninggalkan Tuhan, memilih jalan sendiri dan hidup dalam dosa, hidup tanpa arah. Krisis rohani saat ini (ciptaan meninggalkan Sang Pencipta) merupakan masalah serius, bahkan merupakan tragedi yang serius, Tuhan Yesus datang ke dalam dunia untuk mati di kayu salib guna memulihkan relasi antara ciptaan (manusia) dan Sang Pencipta (Tuhan). Tuhan Yesus menyebut orang yang acuh tak acuh terhadap krisis rohani sebagai orang munafik atau orang fasik atau orang bodoh. Teguran Tuhan Yesus yang keras ini berlaku juga bagi setiap orang percaya di sepanjang zaman. [GI Laazar Manuain ]

Gereja dan Tanggung Jawab Sosial

Yeremia 29:1-7

Sepanjang sejarah, umat Allah dituntut untuk memberikan nilai dan dampak yang positif dalam kehidupan sosial masyarakat. Adam Ferguson, seorang Pemikir Skotlandia, memunculkan istilah “Civil Society” yang menunjuk pada suatu masyarakat sipil non pemerintah yang beradab dan menghargai hak-hak asasi anggotanya. Gereja termasuk civil society yang harus berperan serta dalam mengusahakan masyarakat yang adil, makmur dan berkeadilan sosial. Dalam pemaknaan ini, tam-paknya gereja perlu memikirkan kembali tentang perannya dalam kehi-dupan sosial. Pemikiran kembali ini diharapkan bisa memberi pencerahan yang diperlukan bagi terciptanya sebuah teologi yang seimbang. Apabila gereja lemah atau sama sekali tidak pernah mengajarkan tentang partisipasi sosial, maka jemaatnya bisa mengabaikan realitas sosial.

Gereja sering hanya mengurus hal-hal yang terkait dengan ritual ibadah semata serta melupakan tanggung jawab sosial. Dalam meran-cang program pelayanan gereja, berapa besar persentase dana untuk kegiatan dan persentase dana untuk pelayanan sosial?

Ketika umat Allah dibuang ke Babel, Tuhan berbicara kepada nabi Yeremia untuk mengingatkan umat Allah akan tanggung jawab sosial mereka. “Usahakanlah…. berdoalah….” (Yeremia 29:7). Mengusahakan kesejahteraan kota harus menjadi tindakan yang intensional (disengaja) untuk kebaikan “kota” atau tempat umat Allah berada. Tanggung jawab ini tetap melekat pada umat Allah di sepanjang sejarah.

Gereja perlu memikirkan pelayanan yang seimbang. Melalui pelayanan yang seimbang, kita belajar untuk semakin mengenal Tuhan. Adalah keliru bila gereja hanya menekankan relasi secara vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan) dan mengabaikan relasi secara horizontal (hubungan manusia dengan sesamanya). Gereja harus mengajar jemaat untuk mengasihi Tuhan dan sekaligus mengasihi sesama (dalam lingkup sosialnya). Sering kali, sikap gereja lemah (tidak bersuara) terhadap pelanggaran HAM dan ketidakadilan sosial. Kebanyakan gereja hanya merasa perlu mengajarkan pokok-pokok Alkitab terhadap anggotanya, namun tidak mengajarkan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Kiranya Tuhan menolong kita dan gereja kita untuk berperan serta melaksanakan tanggung jawab sosial. [GI Laazar Manuain]

Gereja Berada di Dunia

Yohanes 17:9-21 ; Matius 5:13-16

Gereja—sebagai persekutuan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus—diutus untuk berada di dunia (Yohanes 17:18). Gereja belum berada di sorga! Penekanan ini penting: Gereja harus memberi dampak terhadap dunia! Kata untuk “dunia” dalam bahasa Yunani adalah kosmos. Kata “Kosmos” umumnya dipa-kai dalam arti yang terbatas, yakni untuk manusia di alam semesta ini. Kosmos menunjuk kepada “Dunia yang Teratur”. Akan tetapi, melalui pelanggaran satu orang (yaitu Adam), dosa telah masuk ke dalam dunia (Roma 5:12). Sebagai akibatnya, dunia telah menjadi dunia yang tidak teratur di dalam cengkraman si jahat (1 Yohanes 5:19). Karena dunia telah tercemar oleh dosa, maka dunia membutuhkan Pribadi yang suci yang dapat menyucikan dunia. Dunia bukanlah surga! Dunia bukan tempat yang steril dari dosa! Gereja tidak di karantina di tempat yang bebas gangguan. Di dunia yang telah tercemar itulah gereja ditem-patkan.

Bila kita tidak sadar bahwa gereja diutus ke dunia yang telah tercemar, gereja tidak akan bisa berfungsi dengan baik. Pada gilirannya, orang-orang Kristen (Gereja) tidak akan terdorong untuk melakukan fungsi sosialnya di tengah dunia ini. Gereja hanya akan berpikir dan bergelut tentang bagaimana membawa orang berdosa ke surga, dan tidak akan pernah memikirkan bagaimana menularkan nilai-nilai yang khas kristiani di tengah dunia yang sudah rusak ini. Sebagian orang Kristen memahami pengutusan hanya sebagai pemberitaan injil melalui kesaksian secara verbal, tetapi tidak pernah menyentuh aspek sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam doa-Nya yang terakhir, Tuhan Yesus berdoa bagi murid-muridNya dan mengutus mereka ke dalam dunia. Pengutusan ini ditegaskan pula oleh Tuhan Yesus dalam khotbah di bukit, yaitu bahwa orang percaya adalah garam dan terang dunia. Sebagai “garam dunia” dan “terang dunia”, gereja semestinya memiliki fungsi yang penting bagi dunia yang telah dirusak oleh dosa ini. Orang percaya dituntut untuk menjaga citra diri sambil hidup berbaur di tengah masyarakat, agar fungsi sebagai garam dunia dan terang dunia dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Sebagai seorang Kristen, Marilah kita bersungguh-sungguh menyadari bahwa kita berada di dunia dan kita harus dapat berfungsi dengan baik. [GI Laazar Manuain]