Hari Raya Paskah

Bilangan 9

Hari Raya Paskah adalah hari raya bangsa Israel yang diadakan untuk memperingati karya Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Tanah Mesir. Pada hari itu, mereka menyembelih seekor anak domba dan makan sayur pahit. Pada perayaan Paskah ini, para orang tua akan menceritakan kembali peristiwa di malam saat Tuhan membebaskan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Hari Raya Paskah diadakan setiap tanggal empat belas bulan pertama (Catatan: Dalam Keluaran 23:15, sebutan untuk bulan pertama ini adalah Abib. Akan tetapi, sesudah pembuangan, bangsa Israel memakai kalender Babel dan menyebut bulan pertama sebagai Nisan) dan diikuti oleh Hari Raya Roti Tidak beragi selama seminggu. Selama seminggu itu, bangsa Israel harus memakan roti yang tidak beragi (Imamat 23:5-6). Tindakan ini bukan sekadar kerutinan, melainkan tanda syukur.

Pada masa Perjanjian Lama, orang yang menyentuh mayat men-jadi najis dan tidak boleh mengikuti upacara keagamaan. Orang yang najis karena menyentuh mayat serta orang yang dalam perjalanan jauh diharuskan untuk merayakan Paskah sebulan berikutnya, yaitu pada tanggal keempat belas bulan yang kedua (9:10-11). Mereka yang tidak najis dan tidak dalam perjalanan, tetapi tidak mau ikut merayakan Paskah “harus” dilenyapkan (9:13). Orang asing yang ingin ikut me-rayakan Paskah diizinkan (9:14). Aturan di atas mengingatkan kita agar tidak mengabaikan pertemuan ibadah dan hari raya keagamaan (bandingkan dengan Ibrani 10:25).

Paskah dalam Perjanjian Lama—yaitu peringatan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan merupakan simbol dari penyelamatan umat manusia dari dosa yang diwujudkan melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Anak domba yang disembelih dalam Perjanjian Lama menunjuk pada Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang tidak bercacat cela yang dikorbankan untuk menebus manusia berdosa (Yohanes 1:29; Efesus 1:7). Tuhan Yesus bukan hanya mati untuk kita, tetapi Dia juga bangkit dari kematian, dan kebangkitan-Nya merupakan jaminan bahwa orang yang percaya kepada-Nya memperoleh pengampunan dosa dan memiliki kehidupan yang baru (Kisah Para Rasul 10:43; Roma 6:4). Apakah Anda sudah memiliki jaminan pengampunan dosa serta memiliki kehidupan yang baru? [GI Roni Tan]

Ditahirkan Agar Diterima

Bilangan 8

Suku Lewi adalah suku yang dipilih Tuhan untuk melayani Dia penuh waktu dan seumur hidup. Akan tetapi, apakah pemilihan Tuhan ini membuat mereka bebas untuk melakukan apa pun yang mereka anggap baik? Tidak, mereka tetap harus hidup dalam ketaatan terhadap perintah Tuhan untuk melakukan pelayanan di hadapan Tuhan. Dalam Bilangan 8:5-22 dituliskan tentang aturan yang harus mereka taati. Sebagai contoh, saat menjalankan tugas di hadapan Tuhan, mereka harus lebih dahulu dipercik dengan air penghapus dosa, mencukur, mencuci pakaian, dan mempersembahkan korban penghapus dosa. Tindakan ini bertujuan agar mereka dianggap layak oleh Tuhan. Pesan penting yang Tuhan ingin tanamkan pada Suku Lewi dan bangsa Israel adalah bahwa Tuhan itu kudus. Oleh karena itu, pelayan yang ingin melayani-Nya harus men-jalani proses pengudusan. Perintah ini dilakukan secara “tepat” (8:20) oleh suku Lewi yang akan melayani di Kemah Pertemuan atau Kemah Suci. Setelah melakukan tindakan pentahiran, barulah mereka melakukan pekerjaan jabatan mereka (8:21-22).

Proses pentahiran yang Tuhan perintahkan ini mengingatkan kembali bangsa Israel—termasuk suku Lewi—bahwa kekudusan Tuhan harus dihormati dan dijaga. Bila mereka tidak menghormati kekudusan Tuhan, mereka akan menerima hukuman Tuhan, yaitu terkena tulah (8:19). Oleh karena itu, agar tulah tidak menimpa mereka, sikap dan tindakan mereka haruslah menaati semua perintah Tuhan secara tepat.

Kewajiban menghormati dan menjaga Kekudusan Tuhan bukan hanya berlaku pada masa Perjanjian Lama, tetapi juga berlaku bagi semua murid Kristus. Salah satu perkataan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam khotbah di bukit adalah, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Perkataan tersebut berlaku bagi semua anak-anak Allah. Apakah Anda menghormati dan menjaga kekudusan Tuhan dalam kehidupan Anda? Setiap kali jatuh dalam dosa, apakah Anda selalu segera mengaku dosa di hadapan Tuhan sehingga kehidupan, pelayanan, dan ibadah Anda layak di mata Tuhan? Tuhan yang kita sembah adalah kudus, sehingga Dia menuntut agar kita berhenti berbuat dosa dan menjalani hidup dalam kekudusan. Hendaklah setiap orang yang mengetahui keinginan Tuhan melakukan hal ini dalam anugerah-Nya. [GI Roni Tan]

Persembahan dan Ibadah

Bilangan 7

Persiapan untuk penahbisan Kemah Suci membutuhkan ketelitian, ketekunan, dan pengorbanan. Persiapan penahbisan ini penting karena kehadiran Kemah Suci menandakan kehadiran Tuhan semesta alam di tengah umat-Nya. Perhatikanlah bahwa persiapan penahbisan Kemah Suci ini diatur oleh Tuhan sendiri dengan perantaraan Musa (7:11). Salah satu persiapan yang dilakukan untuk penahbisan Kemah Suci ini adalah pengumpulan persembahan. Para pemimpin umat Israel diatur untuk memberi persembahan ke hadapan Tuhan. Tindakan membawa persembahan ini merupakan simbol bahwa para pemimpin beserta seluruh rakyat memandang Tuhan sebagai Raja yang selama ini memimpin dan memerintah bangsa Israel. Oleh karena itu, wajarlah bila pengaturan persembahan yang dilakukan oleh Allah itu harus dipandang seperti perintah seorang raja yang harus ditaati.

Pengumpulan persembahan bukanlah satu-satunya tujuan bagi pendirian Kemah Suci. Dalam 7:89, dikemukakan bahwa Musa masuk ke Kemah Pertemuan untuk “berbicara dengan Dia, mendengar suara-Nya dan mendengar Dia berfirman”. Tujuan utama keberadaan Kemah Suci adalah agar umat menyadari keberadaan Tuhan di tengah mereka dan agar mereka selalu memiliki kerinduan untuk datang beribadah ke hadapan Tuhan. Jadi, tujuan utama keberadaan Kemah Suci adalah menjadi tempat berkumpul bagi umat untuk bersama-sama beribadah kepada TUHAN.

Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa sehubungan dengan keberadaan Rumah Tuhan, umat Allah wajib untuk membawa persembahan. Memberi persembahan merupakan ungkapan ketundukan dan kepatuhan kita kepada Tuhan. Kita harus senantiasa menyadari bahwa Rumah Tuhan bukanlah hanya sekadar tempat untuk berkumpul atau tempat untuk mengobrol, melainkan tempat untuk beribadah kepada Tuhan. Apakah selama ini, Anda telah membiasakan diri untuk memberikan persembahan secara pantas di hadapan Tuhan? Apakah selama ini, Anda telah setia mengikuti pertemuan ibadah di gereja Anda? Semoga Tuhan menolong dan memampukan kita untuk beribadah dengan setia, sehingga kita bisa menjadi anak-anak Allah yang hidup berkenan kepada Allah. [GI Roni Tan]

TUHAN, Sumber Berkat

Bilangan 6

Kita pasti tidak asing dengan berkat imam yang ditulis dalam Bilangan 6:22–27. Doa berkat imam itu sering kali digunakan oleh hamba Tuhan dalam doa berkat yang disampaikan saat mengakhiri ibadah. Bacaan Alkitab hari ini menjelaskan bahwa doa berkat ini adalah rumusan yang diajarkan Tuhan untuk digunakan oleh para imam guna memberkati umat Tuhan. Imam menjadi sarana yang Tuhan gunakan untuk menyampaikan berkat dari Tuhan kepada umat-Nya. Jadi, doa berkat ini bukanlah sekadar ungkapan keinginan manusia, melainkan ungkapan keinginan Tuhan bagi umat-Nya.

Melalui doa berkat imam. Tuhan menjanjikan berkat, perlindungan, terang yang menuntun, kasih karunia, dan damai sejahtera kepada umat-Nya (6:24–26). Melalui doa berkat yang disampaikan oleh seorang imam, Tuhan meletakkan nama-Nya atas orang Israel dan Ia berjanji untuk memberikan berkat-Nya (6:27). Kata ‘meletakkan” bisa berarti menempatkan atau menyebutkan nama Tuhan. Saat nama Tuhan disebutkan oleh imam, berkat akan mengalir atau melekat pada diri umat Tuhan. Jadi, berkat yang disampaikan oleh imam itu berasal dari Tuhan, Sang Sumber berkat. Imam atau hamba Tuhan hanyalah alat atau saluran di tangan Tuhan untuk menyampaikan kepastian yang datangnya dari Tuhan untuk umat-Nya.

Saat menyadari bahwa berkat yang sesungguhnya berasal dari Tuhan, kita dipanggil untuk senantiasa mengarahkan hidup kita kepada Tuhan. Kita tidak boleh mengagungkan para hamba-Nya dan mengabaikan keagungan Tuhan yang adalah Sang Tuan yang sesungguhnya. Panggilan kita adalah agar kita hidup untuk memuliakan TUHAN, bukan untuk memuliakan manusia atau untuk memuliakan diri sendiri. Kita harus hidup untuk melayani Tuhan sepenuhnya, tanpa keinginan untuk dilihat atau untuk dipuji oleh manusia. Percayalah kepada Tuhan, Sang Sumber berkat yang senantiasa memberkati kita yang hidup taat kepada-Nya dengan sepenuh hati dan dengan seluruh hidup kita. Marilah kita mempersembahkan hidup kita untuk menyenangkan hati Tuhan, bukan hanya sekadar merindukan berkat Tuhan saja. Sadarilah bahwa damai sejahtera yang dihasilkan saat kita dekat dengan Tuhan lebih berharga daripada berkat-Nya. [GI Roni Tan]

Kekudusan Menuntut Pengudusan

Bilangan 5

Kekudusan Tuhan merupakan salah satu tema penting dalam Perjanjian Lama. Istilah “kudus” berarti “dikhususkan, diistimewakan, dipisahkan, diabdikan kepada”. Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa diri-Nya adalah kudus. Kekudusan Tuhan menuntut adanya aturan dan tindakan Tuhan yang menunjukkan kekudusan-Nya. Selain itu, Tuhan menuntut bangsa Israel untuk menghormati kekudusan-Nya. Bila bangsa Israel melanggar kekudusan Tuhan, mereka akan menerima hukuman berupa tulah (kemalangan), penyakit, dan bahkan kematian.

Kekudusan Tuhan membuat Ia menuntut agar bangsa Israel menjadi umat yang kudus. Oleh karena itu, kekudusan menjadi cermin bagi kita untuk memahami setiap larangan, penghukuman, pengucilan, dan hukuman mati yang dikenakan pada bangsa Israel. Bilangan 5:1-4 membicarakan tentang orang yang sakit kusta, orang yang mengeluarkan lelehan, dan orang yang menjadi najis karena menyentuh mayat. Perintah Tuhan jelas, yaitu agar mereka yang najis diasingkan dari antara bangsa Israel (5:3). Setelah mendengar perintah tersebut, bangsa Israel berbuat seperti yang Tuhan perintahkan. Mereka yang najis itu baru boleh kembali dalam komunitas setelah mereka dinyatakan sembuh/tahir. Perintah tersebut adalah tindakan untuk menguduskan bangsa Israel, agar mereka yang masih sehat tidak tertular oleh mereka yang sedang berstatus najis.

Kekudusan Tuhan menuntut pengudusan hidup kita. Puji Tuhan! Tuhan tidak hanya sekedar menuntut, tetapi Ia juga menyertai umat-Nya dengan maksud agar umat-Nya hidup dalam kekudusan. Pengudusan itu diawali dengan pengorbanan Tuhan Yesus melalui karya keselamatan yang Dia kerjakan di kayu salib dan melalui pengakuan percaya kita kepadanya, lalu berlanjut dengan proses pengudusan yang dilakukan oleh Allah Roh Kudus sebagai Roh Penolong dan Penghibur yang membantu kita dalam proses pengudusan tersebut. Oleh karena itu, jangan menyerah saat menjalani proses pengudusan yang Tuhan kerjakan karena kita tidak sendirian dalam kelemahan kita saat menjalani proses pengudusan tersebut. Bila kita jatuh dalam dosa, segeralah mengaku di hadapan Allah untuk mendapat pengampunan. Setiap orang percaya pasti menjalani proses pengudusan dan memerlukan pertolongan Tuhan dalam menjalani proses tersebut. [GI Roni Tan]

Tiap Orang, Tiap Bagian

Bilangan 4

Bilangan 4 membahas sensus (4:2-3, 22, 29-30) dan pemberian tugas bagi Bani Kehat (4:4-20), bani Gerson (4:24-28) dan Bani Merari (4:31-33). Kata “bani” berarti “anak cucu” atau “keturunan”. Kehat, Gerson, dan Merari adalah anak-anak Lewi, sehingga ketiga bani itu merupakan keturunan Lewi. Suku Lewi adalah suku yang dikhususkan oleh TUHAN untuk melayani dalam peribadatan di Kemah Pertemuan. Oleh karena itu, penunjukkan tugas terhadap ketiga bani tersebut—untuk mereka yang berusia di antara 30 sampai 50 tahun—merupakan hal yang lumrah dilakukan. Secara jelas, TUHAN memberikan tugas yang harus mereka lakukan serta menyampaikan apa yang dilarang untuk dilakukan. Bila larangan Allah dilanggar, mereka akan menghadapi kematian (4:15, 18-20)

Masing–masing bani dalam suku Lewi mendapat tugas yang berbeda dari Tuhan. Bani Kehat bertugas mengurus barang–barang yang mahakudus seperti tabut, meja, kandil, mezbah dan perkakas tempat kudus (4:4). Bani Gerson bertugas mengurus tirai pintu Kemah Pertemuan, di sekeliling Kemah Suci dan mezbah (4:24–25). Bani Merari bertugas mengurus papan kemah suci, kayu lintang, alas dan segala perabotannya (4:31-32). Semua tugas tersebut dilakukan secara terstruktur dan tertata dengan baik karena ada orang yang ditunjuk untuk menjadi penanggung jawab (4:49). Tujuan dari pembagian tugas itu adalah agar semua kegiatan peribadatan di Kemah Suci bisa terlaksana dengan baik.

Penugasan pada keturunan Lewi ini mengingatkan kita bahwa setiap orang percaya memiliki peran masing–masing dalam keluarga Tuhan. Kepelbagaian peran itu bukan sekadar berdasarkan kemauan kita semata, tetapi berdasarkan pengaturan Tuhan sendiri. Tuhan telah memberikan tugas kepada kita masing-masing sesuai dengan karunia yang telah Dia berikan kepada kita. Dia menginginkan agar kita melakukan tugas itu dengan setia. Oleh karena itu, kita harus terus bergumul agar bisa mengerti dan melaksanakan pelayanan yang telah Tuhan percayakan kepada kita dengan setia dan dengan penuh ucapan syukur. Bila kita masih bingung atau bergumul dalam melayani, mulailah dengan melakukan pelayanan yang telah tersedia dengan setia dan dengan dilandasi kasih kepada Tuhan. [GI Roni Tan]

Khusus Untuk Melayani Tuhan

Bilangan 3

TUHAN telah menetapkan suku Lewi sebagai suku yang dikhususkan untuk melayani Tuhan dan menyelenggarakan peribadatan di Kemah Suci atau Kemah Pertemuan. Hanya suku Lewi yang memiliki hak untuk melayani Tuhan di Kemah Pertemuan. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa ayat yang mengatakan bahwa orang awam yang mendekat (ke tempat kudus) harus dihukum mati (3:10,38). Perhatikan bahwa pencatatan suku Lewi yang dimulai dari laki–laki berusia satu bulan (3:15) menunjukkan bahwa orang yang dipanggil untuk melayani Tuhan sudah dikhususkan untuk Tuhan sebelum pelayanannya dilaksanakan. Pengkhususan suku Lewi ini menunjukkan bahwa status dan peran Suku Lewi sebagai pelayan dan penyelenggara peribadatan (3:31) sangatlah penting.

Apakah kekhususan suku Lewi masih tetap berlaku sampai saat ini? Karya penebusan di kayu salib yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus telah membuat sistem peribadatan yang diselenggarakan pada masa kini berbeda dengan sistem peribadatan pada masa Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru, kita mengenal istilah “imamat yang rajani” (1 Petrus 2:9). Status sebagai “imamat yang rajani” diberikan kepada orang percaya yang telah memperoleh keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Oleh karena itu, sebagaimana Suku Lewi bertugas untuk melayani di Kemah Suci, orang percaya juga dipanggil untuk melayani Tuhan, baik dalam gereja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hanya orang yang percaya kepada Tuhan Yesus yang mendapat panggilan untuk melayani Tuhan. Ingatlah bahwa setiap orang—yang telah memperoleh keselamatan di dalam Kristus—dipanggil untuk melayani Allah.

Saat membaca kisah tentang Suku Lewi yang dikhususkan untuk melaksanakan pelayanan di Kemah Suci, ingatlah bahwa semua orang percaya—sebagai umat pilihan Allah—didorong untuk merespons panggilan Tuhan untuk melayani Dia sesuai dengan karunia yang telah Tuhan berikan kepada setiap orang percaya (1 Petrus 4:10). Apakah Anda telah memperoleh keselamatan yang tersedia di dalam Tuhan Yesus Kristus? Bila Anda telah memperoleh keselamatan, apakah Anda telah merespons panggilan untuk melayani Dia? Pelayanan apa yang pernah Anda lakukan dalam kehidupan Anda selama ini? Bila Anda belum merespons panggilan untuk melayani, segeralah untuk mulai merespons panggilan Allah tersebut! [GI Roni Tan]

Memelihara Identitas Kepunyaan

Bilangan 2

Yakub memiliki dua belas orang anak yang berkembang menjadi dua belas suku Israel. Setiap suku Israel memiliki identitas masing–masing yang unik. Dalam identitas itu terdapat kebanggaan, loyalitas, dan simbol. Panji–panji dalam Bilangan 2 merupakan simbol dalam wujud bendera. Panji–panji itu tidak untuk disimpan, tetapi harus selalu dikibarkan, baik saat menempuh perjalanan maupun saat berhenti dan menetap di suatu daerah, bahkan juga saat berperang. Saat bangsa Israel melakukan perjalanan, panji–panji ini dibawa di barisan terdepan setiap suku. Saat mereka berhenti di suatu daerah, setiap suku berkemah di dekat panji-panji masing–masing suku (2:2). Jadi, saat dalam perjalanan maupun saat berhenti dan berkemah, setiap orang harus berkumpul dengan orang-orang sesuku dan mengikuti komando yang diberikan oleh pembawa panji-panji. Walaupun setiap suku Israel memiliki panji-panji masing-masing, pusat yang mempersatukan mereka semua adalah kehadiran Tuhan dalam Kemah Pertemuan. Kemah Pertemuan ini selalu ditempatkan di tengah-tengah perkemahan bangsa Israel.

Penekanan Tuhan terhadap identitas kesukuan dan kebangsaan amat penting bagi bangsa Israel. Selama tinggal di Tanah Mesir, identitas bangsa Israel adalah sebagai budak yang tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Setelah keluar dari Tanah Mesir, mereka memiliki identitas baru, yaitu identitas sebagai bangsa pilihan Tuhan. Panji-panji dan kemah pertemuan merupakan tanda yang selalu mengingatkan bahwa mereka memiliki identitas baru yang harus selalu mereka ingat dan mereka pertahankan.

Orang Kristen pada masa kini juga menerima identitas baru saat percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dulu, identitas kita adalah sebagai hamba dosa (yang tidak bisa menghindar dari perbuatan dosa). Akan tetapi, saat ini, identitas kita adalah sebagai anak-anak Allah (Yohanes 1:12; 1 Yohanes 3:1), dan sekaligus sebagai hamba-hamba Tuhan yang seharusnya hidup untuk melakukan kehen-dak Tuhan (bandingkan dengan Lukas 1:38). Identitas yang baru ini harus terus-menerus kita pertahankan dan kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari yang selalu berpusat pada Tuhan yang telah menyelamatkan kita, sehingga orang lain bisa mengenal Tuhan melalui kehidupan kita. Apakah Anda merasa bangga terhadap identitas baru yang telah Tuhan berikan pada diri Anda? [GI Roni Tan]

Ada Bagian Masing-masing

Bilangan 1

Kitab Bilangan diawali dengan dua perintah kepada Musa menyang-kut bangsa Israel. Perintah pertama adalah perintah untuk mela-kukan pencatatan jumlah semua laki-laki yang berusia 20 tahun ke atas di dua belas suku Israel (Catatan: Dalam penghitungan ini, keturunan Yu-suf dihitung sebagai dua suku—yaitu Efraim dan Manasye—sedangkan suku Lewi tidak ikut dihitung) untuk dipersiapkan menjadi tentara Israel (1:2-3). Tentara itu disiapkan untuk berperang merebut Tanah Perjanjian. Perintah kedua adalah perintah untuk menghitung jumlah semua laki-laki Suku Lewi yang berusia satu bulan ke atas (3:15), dan selanjutnya menghitung jumlah laki-laki suku Lewi berusia 30-50 tahun untuk melaksanakan tugas khusus, yaitu mengurus Kemah Suci dan seluruh kegiatan peribadatan di Kemah Suci atau Kemah Pertemuan (4:3).

Manakah yang lebih penting dari kedua perintah di atas? Kedua perintah tersebut sama–sama penting karena masing-masing perintah memiliki kepentingan tersendiri, sehingga kedua perintah itu harus ditaati. Dalam 1:54, dituliskan bahwa “orang Israel berbuat demikian; tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat mereka.” Dalam sejarah bangsa Israel, kita sering melihat respons yang bertolak belakang dengan respons di atas, sehingga bangsa Israel sering disebut sebagai “bangsa yang tegar tengkuk”. Akan tetapi, kali ini, ternyata bahwa bangsa Israel memberi respons ketaatan terhadap perintah Allah melalui Musa.

Dalam Alkitab, terdapat banyak perintah yang harus kita taati sesuai dengan situasi yang sedang kita hadapi. Karena setiap orang menghadapi situasi yang berbeda, wujud dari ketaatan terhadap perintah Allah bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Perbedaan wujud ketaatan bagi setiap orang percaya ini juga disebabkan karena setiap orang percaya memiliki karunia yang unik, yang berbeda dengan karunia yang diberikan Allah kepada orang lain. Akan tetapi, penerapan karunia yang berbeda-beda itu sama penting dan semuanya berguna bagi komunitas orang percaya. Oleh karena itu, kita tidak perlu (dan tidak boleh) membandingkan karunia (dan tugas) kita dengan karunia (dan tugas) orang lain. Marilah kita memuliakan Tuhan melalui ketaatan menjalankan karunia (tugas) yang telah dipercayakan kepada diri kita masing-masing. [GI Roni Tan]

Tuhan Menjaga Gereja-Nya

Matius 16:13-19

Sebagaimana umat Israel adalah bangsa pilihan Allah, demikian juga orang percaya (gereja) adalah umat pilihan Allah. Baik umat Israel maupun gereja disebut sebagai umat kepunyaan Allah. Apa yang membedakan umat Israel atau gereja dari umat atau bangsa yang lain? Perbedaannya terletak pada kehadiran dan penyertaan Allah. Selama umat Israel dalam perjalanan di padang belantara, Allah hadir dan menuntun mereka dalam bentuk tiang api di malam hari dan tiang awan di siang hari sebagai bukti bahwa Tuhan menyertai dan menjaga umat-Nya (Keluaran 13:21).

Pada masa kini, Tuhan tetap dan terus menjaga gereja-Nya mela-lui penyertaan Roh kudus. Roh Kudus terus-menerus menyertai kehidup-an orang percaya, baik dalam proses pengudusan yang berlangsung seumur hidup maupun dalam membimbing orang percaya ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13; 14:26). Karena Allah hadir di antara kita, menyertai orang percaya, apa yang harus kita takutkan? Dalam komunitas kita sebagai gereja, Tuhan menyertai kita. Tuhan menjaga gereja-Nya. Dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di kota Roma, terdapat “teriakan” yang lantang, “jika Allah di pihak kita siapakah yang akan melawan kita?” Tidak ada! Tuhanlah Pembela kita! (Roma 8:31-34).

Saat bercakap-cakap dengan para murid-Nya, Tuhan Yesus me-ngemukakan suatu pernyataan yang kuat “… di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasai-nya“ (Matius 16:18). Tuhan menjaga gereja-Nya! Kata dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan menjadi “alam maut” adalah hades. Dalam mitologi Yunani, kata hades menunjuk kepada dewa dunia bawah. Dunia bawah adalah tempat bagi orang mati. Padanan kata hades dalam bahasa Ibrani adalah sheol yang juga menunjuk kepada dunia orang mati. Hades tidak bisa merebut jemaat Tuhan. Di sepanjang sejarah, gereja telah melewati berbagai tantangan dan ujian yang sangat hebat, tetapi gereja tetap ada dan bisa menjalankan tugas panggilannya di dunia yang berdosa ini. Kenyataan bahwa Tuhan sudah terbukti sanggup menyertai dan melindungi gereja-Nya di sepanjang sejarah sampai saat ini merupakan jaminan bahwa Tuhan yang sama akan sanggup untuk terus menjaga gereja-Nya sampai Tuhan Yesus datang kembali untuk kedua kalinya. [GI Laazar Manuain]