Pemimpin Sebagai Gembala

Bilangan 27

Rombongan bangsa Israel beserta ternak mereka masih harus menempuh perjalanan panjang sebelum bisa memasuki Tanah Kanaan. Sementara itu, kesalahan yang dilakukan Musa membuat ia tidak diizinkan untuk ikut memasuki Tanah Perjanjian (20:12). Musa menyadari bahwa bangsa Israel memerlukan seorang pemimpin untuk menggantikan dirinya. Oleh karena itu, Musa memohon agar Tuhan mengangkat seorang pemimpin untuk menggantikan Musa, dan Tuhan menunjuk Yosua untuk menjadi pemimpin bangsa Israel. Untuk meneguhkan kepemimpinan Yosua, Tuhan memerintahkan Yosua untuk berdiri di depan Imam Eleazar. Musa diminta untuk memberikan sebagian wibawanya kepada Yosua di depan segenap umat Israel, kemudian imam Eleazar harus menanyakan keputusan Tuhan dengan memakai Urim (27:15-23).

Kepemimpinan seperti apa yang harus menjadi ciri khas Yosua? Kepemimpinan gembala (bandingkan dengan 27:17). Sebagai gembala, Yosua nanti harus memimpin perjalanan umat Israel, memimpin peperangan untuk merebut Tanah Perjanjian, membagi-bagi Tanah perjanjian pada setiap suku Israel. Gambaran tentang Yosua sebagai seorang pemimpin yang harus menggembalakan bangsa Israel ini mengingatkan kita kepada peran Tuhan dalam kehidupan umat-Nya. Jadi, bukan sekedar gambaran Tuhan sebagai Raja tapi juga gambaran Tuhan sebagai gembala atas umatNya yang digambarkan melalui kepemimpinan Yosua. Konsep Tuhan sebagai gembala banyak disebut dalam Perjanjian Lama dan juga dalam Perjanjian Baru. Dalam Matius 9:36, orang banyak disebut oleh Tuhan Yesus sebagai seperti domba yang tidak bergembala. Yosua merupakan gambaran tentang konsep Gembala Agung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Tuhan Yesus merupakan penggenapan dari Sang Gembala Agung yang menjagai dan mau mengorbankan nyawa-Nya bagi umat gembalaan-Nya. Tuhan Yesus juga memanggil kita untuk menjadi gembala bagi sesama kita (Bandingkan dengan Yohanes 21:15-17). Kita harus menjadi gembala yang memperhatikan dan menjagai sesama serta senantiasa siap sedia menolong sesama yang sedang mengalami kesulitan. Sudahkah Anda menjalankan tugas sebagai gembala bagi sesama umat Tuhan dengan menunjukkan kepedulian dan mendoakan mereka? [GI Roni Tan]

Hukuman Tuhan Pasti Terlaksana

Bilangan 26

Tuhan menjatuhkan hukuman kepada bangsa Israel yang telah memberontak pada Tuhan, yaitu bahwa bangsa Israel harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun. Dalam pengembaraan itu, seluruh generasi tua Israel akan mati semua di padang gurun, kecuali Kaleb dan Yosua. Hukuman tersebut telah terwujud saat Musa dan Imam Harun melaksanakan sensus yang kedua di padang gurun Sinai. Dalam sensus kedua ini, jelaslah bahwa generasi tua bangsa Israel telah meninggal semua di padang gurun Sinai (26:64-65). Hasil sensus kedua ini menunjukkan bahwa ancaman hukuman Tuhan telah dilaksanakan. Angkatan yang dicatat dalam sensus kedua ini merupakan angkatan baru bangsa Israel.

Pencatatan kali ini ditujukan kepada orang Israel yang berusia 20 tahun ke atas (26:2). Jumlah mereka dihitung karena merekalah laskar Israel yang harus berjuang untuk merebut Tanah Kanaan. Mereka mengemban tugas untuk merebut Tanah Perjanjian dan mengibarkan panji Tuhan. Tugas yang mereka emban menuntut ketaatan dan kekudusan hidup di hadapan Tuhan, sehingga hidup mereka senantiasa diberkati dan dipelihara oleh Tuhan. Kekudusan hidup itulah kunci keberhasilan mereka dan kunci perkenanan Tuhan atas mereka.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan tentang dua hal: Pertama, walaupun setiap generasi memiliki kisah dan pengalaman masing-masing, setiap generasi harus senantiasa hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan, sehingga setiap generasi seharusnya merupakan generasi orang beriman yang hidup memuliakan TUHAN. Kedua, firman Tuhan pasti akan terjadi. Ancaman penghukuman Tuhan pasti akan terlaksana sehingga tidak boleh diremehkan. Janji berkat Tuhan pun pasti akan terwujud sehingga janji-janji Tuhan bisa menjadi pegangan kita. Oleh karena itu, bila kita berbuat dosa, kita harus segera datang kepada Tuhan untuk mengakui pelanggaran kita, meminta pengampunan-Nya, dan kembali bertekad untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Apakah kehidupan Anda bisa menjadi kebanggaan bagi Tuhan? Apakah anak-anak Anda merupakan generasi penerus yang menjalani kehidupan beriman di hadapan Tuhan? Jagalah diri Anda dan siapkanlah generasi anak-anak Anda agar kehidupan kita semua menjadi kehidupan yang memuliakan Tuhan. [GI Roni Tan]

Dosa Lagi, Hukuman Lagi

Karena bangsa Israel begitu mudah jatuh dalam dosa, akhirnya murka Allah ditimpakan lagi kepada mereka. Allah menjatuhkan hukuman mati kepada orang-orang Israel yang telah berzinah dengan perempuan-perempuan Moab serta turut dalam penyembahan kafir dengan mempersembahkan korban kepada Baal-Peor. Tindakan orang Israel ini melanggar dua hukum dari sepuluh hukum Taurat, yaitu “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (hukum pertama, Keluaran 20:3) dan “Jangan berzinah” (hukum ketujuh, Keluaran 20:14). Ingatlah bahwa kekudusan Tuhan membuat Ia pasti menghukum dosa! Tuhan menjatuhkan hukuman mati terhadap setiap orang Israel yang secara berpasangan menyembah Baal Peor (25:5). Saat Musa dan seluruh umat Israel menangis menyesali peristiwa di atas, Pinehas—anak Eleazar yang adalah anak imam Harun—melihat kedatangan seorang Israel yang membawa seorang perempuan Moab. Dia menjadi amat marah sehingga ia segera membunuh mereka berdua (25:6-8). Tindakan Pinehas ini menyurutkan murka Tuhan terhadap bangsa Israel. Mengapa hukuman Tuhan demikian keras? Jelas bahwa TUHAN menghendaki agar bangsa Israel menjauhi dosa dengan menaati seluruh perintah Allah untuk menghormati kekudusan-Nya. Sebagai umat pilihan Allah, mereka tidak boleh meniru penyembahan berhala yang dilakukan oleh bangsabangsa kafir yang masih menyembah berhala. Sebagai hukuman terhadap orang Midian yang membuat orang Israel berdosa dengan ikut menyembah Baal-Peor, Tuhan menjatuhkan hukuman mati (25:16-17). Dalam perjalanan ke Tanah Kanaan, bangsa Israel sering melanggar perinntah Tuhan, sehingga Tuhan menjatuhkan beraneka ragam hukuman, mulai dari tulah sampai kematian. Riwayat bangsa Israel menyadarkan kita bahwa kita ini rentan jatuh ke dalam dosa. Banyak godaan yang berupaya menjatuhkan kita. Kita harus memilah keinginan-keinginan kita serta memilih keputusan yang hendak kita ambil dalam hidup kita. Dalam segala kondisi, kita harus menyandarkan pikiran, hati, dan hidup kita pada Tuhan. Kita harus mempertahankan relasi yang sehat dengan Tuhan agar kita bisa menghindari pelanggaran dan belajar untuk menjalani hidup dalam ketaatan kepada Allah. Apakah Anda telah dan terus menjalin relasi dengan Tuhan dan setia menjalankan segala perintah-Nya? [GI Roni Tan]

Itulah Yang Akan Kukatakan

Bilangan 23-24

Balak—raja Moab diselimuti ketakutan besar saat melihat bangsa Israel berjalan mendekati daerah kekuasaannya. Ketakutan ini bisa dipahami karena sebelumnya, TUHAN telah melakukan banyak perkara ajaib dalam memimpin perjalanan bangsa Israel keluar dari Tanah Mesir. Peristiwa tenggelamnya Firaun bersama pasukannya yang gagah perkasa saat mengejar bangsa Israel telah tersebar di antara bangsabangsa yang selama ini tunduk pada kerajaan Mesir. Dalam bacaan Alkitab hari ini, bangsa Israel telah berada di daerah Moab. Kegentaran Balak terhadap bangsa Israel membuat ia memanggil Bileam untuk mengutuki bangsa Israel. Pemikirannya, bila bangsa Israel mendapat kutuk, mereka akan mudah dikalahkan oleh bangsa Moab. Raja Balak mengantar Bileam ke tiga lokasi yang berbeda untuk mengutuk bangsa Israel, tetapi Bileam bertindak sebaliknya, yaitu memberkati bangsa Israel dan bukan mengutuki. Walaupun Raja Balak telah menjanjikan upah yang besar bila Bileam mengutuki bangsa Israel, Bileam tidak sanggup melanggar titah TUHAN. Bileam berkata, “Apa yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan” (24:13). Dalam hal ini, Bileam menyatakan bahwa dia tunduk terhadap perintah TUHAN. Bileam tidak sanggup mengutuki bangsa Israel bila TUHAN menghendaki agar dia memberkati. Bila Anda sudah mengenali kehendak Tuhan, apakah Anda berani dengan setia mengatakan hal-hal yang sesuai dengan kehendak-Nya, apa pun juga risiko yang harus Anda hadapi? Manakah yang lebih penting bagi diri Anda: Keinginan dan kepuasan diri sendiri atau keinginan dan kepuasan Tuhan? Apakah perkataan Anda umumnya menjadi berkat bagi orang lain atau justru membuat orang lain menjadi kesal atau berduka? Apakah perkataan Anda selalu membuat Allah dimuliakan? Marilah kita memeriksa kembali perkataan yang biasa kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun kita bebas mengatakan apa pun, kita harus mengusahakan agar perkataan kita bersifat membangun orang lain dan mendatangkan kemuliaan Tuhan. Perkataan kita haruslah mencerminkan ketaatan terhadap perintah Tuhan. Kita harus menyediakan waktu untuk membaca, mendengar, mempelajari, dan merenungkan firman Tuhan agar kita bisa memahami kehendak Tuhan serta bisa menerapkan firman Tuhan dalam hidup kita. [GI Roni Tan]

Tuhan Menghendaki agar Kita Taat

Bilangan 22

Walaupun Bileam bertanya (meminta izin untuk mengutuk bangsa Israel) kepada Allah sebelum menanggapi permintaan Balak, pertanyaannya dilandasi keinginan mendapatkan uang yang ditawarkan oleh Balak, sehingga pertanyaan itu membangkitkan murka Allah (22:22). Malaikat Tuhan menghadang dengan pedang terhunus, tetapi Bileam selamat karena keledai yang ditumpanginya mogok. Bileam menganggap keledainya tidak patuh sehingga ia memukul keledainya. Terjadilah suatu mujizat karena keledai itu tiba-tiba bisa protes, “Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?” (22:28). Selanjutnya, Tuhan membuka mata Bileam sehingga ia melihat bahwa ada Malaikat TUHAN yang menghadang dengan pedang terhunus (22:31). Mengapa Tuhan murka kepada Bileam? TUHAN murka karena Bileam bertanya tanpa ketulusan (22:8, 19). Bileam tahu bahwa Allah tidak mengizinkan dia pergi. Oleh karena itu, pertanyaannya menunjukkan bahwa dia memaksa TUHAN. Inilah yang membuat TUHAN murka! Bileam baru sadar setelah Malaikat Tuhan memberi penjelasan (22:31-34). Keledai—binatang yang bodoh—bisa dipakai Tuhan untuk menyingkapkan kebodohan Bileam. Kisah Bileam dan keledai tunggangannya mengingatkan agar kita tidak dengan sengaja menentang kehendak Tuhan. Kita bukan hanya harus mengembangkan kepekaan untuk bisa memahami kehendak Tuhan, tetapi kita juga harus mencari kehendak-Nya dengan ketekunan, kesabaran, dan kesediaan untuk taat. Bila kita dengan sengaja menentang kehendak Tuhan yang telah kita ketahui, kita akan menerima hukuman. Kita juga perlu menyadari bahwa cara Tuhan mengingatkan tidak selalu bisa kita duga sebelumnya, seperti hal keledai yang bisa berbicara dalam bacaan Alkitab hari ini. Tuhan menghendaki agar kita mengikuti panggilan-Nya, yaitu agar kita menjadi alat di tangan Tuhan yang dipakai untuk kemuliaan-Nya. Ingatlah bahwa mencari kehendak Tuhan itu menuntut ketekunan dan melakukan kehendak Tuhan itu menuntut pengorbanan. Apakah Anda memiliki ketekunan untuk mencari kehendak Tuhan dan memiliki kesediaan untuk menaati kehendak-Nya? Bila Anda tidak tekun mencari kehendak Tuhan atau Anda tidak memiliki komitmen (tekad) untuk melakukan kehendak-Nya, Anda tidak akan bisa memuliakan Tuhan melalui kehidupan Anda! [GI Roni Tan]

Pandang, Maka Tetap Hidup

Bilangan 21

Bangsa Israel adalah bangsa pemberontak yang tidak pernah puas. Saat berjalan dari gunung Hor menuju Laut Teberau, mereka tidak dapat lagi menahan hati (21:4). “Tidak dapat lagi menahan hati” berarti tidak bisa sabar untuk menahan diri agar tidak menggerutu. Suka menggerutu sudah menjadi karakter bangsa Israel. Karena tidak bisa menahan hati, mereka menyalahkan TUHAN dan Musa. Tuhan dan Musa dinilai salah karena tidak memberikan roti dan air kepada mereka. Tuhan dan Musa dinilai salah karena hanya bisa memberkati mereka dengan roti yang hambar (21:5). Tindakan mereka membuat TUHAN murka. Oleh karena itu, banyak di antara mereka yang mati dan sakit karena dipagut ular-ular tedung (21:6). Bila Tuhan terus dalam murka-Nya dan tidak bertindak untuk menghentikan serangan ular—ular tedung itu, bisa saja mereka semua akan mati karena bisa ular tedung yang mematikan. Dalam keadaan tidak berdaya dan berduka, mereka kembali meminta pertolongan Tuhan yang telah mereka sakiti hati-Nya. Puji Tuhan! Tuhan menolong mereka! Tuhan memerintahkan Musa membuat ular tembaga yang kemudian diletakkan di sebuah tiang (21:8-9). Setiap orang yang digigit ular tedung lalu memandang ular tembaga itu pasti akan disembuhkan dari bisa ular (21:9). Apakah ular tembaga itu memiliki khasiat menyembuhkan? Tidak! Sebenarnya, Tuhan-lah yang menyembuhkan mereka sehingga mereka tidak mati walaupun telah digigit ular. Ular tembaga itu merupakan simbol dari Tuhan Yesus yang telah mengorbankan diri-Nya sampai mati di kayu salib. Tuhan Yesus bersabda dalam Yohanes 3:14-15, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Kesembuhan dari orang yang memandang ular tembaga merupakan gambaran dari keselamatan yang diperoleh oleh setiap orang yang mempercayai pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib untuk menyelamatkan orang berdosa. Janganlah ragu untuk memercayai pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib agar murka dan hukuman Allah terhenti dan diganti dengan anugerah yang melimpah dari Allah Bapa, kasih dari Tuhan Yesus Kristus, dan pertolongan dari Allah Roh Kudus. Percayalah bahwa Tuhan Yesus menanti agar kita datang kepada-Nya! [GI Roni Tan]

Ketaatan Lebih Dari Hasil

Bilangan 20

Kebiasaan bersungut-sungut adalah salah satu kelemahan bangsa Israel. Dalam Bilangan 20, orang Israel kembali bersungut-sungut karena tidak memiliki tempat untuk menabur, tidak ada pohon ara, anggur, dan delima, serta tidak ada air. Mereka menilai tempat mereka sebagai tempat celaka (20:5). Sungut-sungut mereka didengar Tuhan dan Musa. Tuhan memastikan bahwa mereka akan mendapat air untuk diri mereka dan untuk ternak mereka. Mereka akan mendapat air dari dalam bukit batu yang akan mengeluarkan air yang melimpah. Air ini sangat cukup untuk memuaskan rasa haus mereka, dan ternak mereka akan mendapat minum. Perintah Tuhan kepada Musa sangat jelas, yaitu agar ia mengumpulkan orang Israel dan berkata pada bukit batu untuk mengeluarkan air. Air pasti akan keluar dari bukit batu itu. Sayangnya, yang dilakukan Musa tidak tepat seperti yang diperintahkan Tuhan. Pertama, setelah Musa dan Harun mengumpulkan orang Israel, yang dikatakan Musa adalah, “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, ...” (20:10). Perkataan itu berfokus pada dirinya sendiri, padahal saat itu ia sedang mewakili Tuhan. Kedua, Musa menyapa orang Israel sebagai orang durhaka. Sapaan ini bukanlah sapaan yang diperintahkan Tuhan. Ketiga, Musa memukul bukit batu, padahal yang diperintahkan Tuhan hanyalah agar Musa berkata saja kepada bukit batu itu agar mengeluarkan air. Memang benar bahwa air keluar dari bukit batu dan orang Israel beserta ternak mereka bisa minum. Akan tetapi, hasil (keluarnya air) tidak berarti bahwa ketidaktaatan (memukul bukit batu) bisa diterima. Kadang-kadang kita bisa bersikap seperti Musa: Kita mendengar atau mengetahui firman Tuhan, tetapi kita menerapkan dengan cara yang semaunya, menurut cara yang kita anggap sebagai paling benar. Kita beranggapan bahwa yang paling penting adalah hasil. Adanya hasil kita anggap sebagai tanda bahwa Allah berkenan terhadap diri kita. Tidak mengherankan bila kita bisa memakai cara apa pun untuk mendapatkan hasil. Akan tetapi, kisah yang kita baca pada hari ini menunjukkan bahwa ketaatan lebih penting daripada hasil. Bila kita taat, hidup kita pasti berkenan kepada Allah. Jadi, ketaatan lebih penting daripada hasil. Mana yang lebih penting bagi Anda: ketaatan terhadap kehendak Allah atau pemenuhan keinginan Anda? [GI Roni Tan]

Najis dan Tahir

Bilangan 19

Najis dan Tahir merupakan dua kondisi bertolak belakang yang bisa dialami orang Israel. Najis terjadi bila mereka menyentuh mayat, orang yang mati terbunuh oleh pedang, tulang manusia, kubur (19:16) atau imam yang selesai membakar korban maka imam itupun najis (19:7). Ada kondisi najis yang berlangsung sampai matahari terbenam (19:8b) dan ada yang berlangsung selama 7 hari (19:11). Kenajisan yang dipertahankan bisa mendatangkan hukuman mati (19:13). Mereka yang dinilai najis akan diasingkan dan kemudian dibasuh dengan air pentahiran (19:13). Bila seorang yang dianggap najis menyentuh sesuatu, maka apa yang disentuh menjadi najis (19:22). Pentahiran merupakan tindakan untuk menjaga komunitas umat Allah dari pengaruh yang membuat cemar serta menerapkan tegaknya kemurnian moral. Orang yang tahir harus memercikkan air pentahiran ke kemah, segala bejana, dan orang-orang yang najis agar semuanya kembali menjadi tahir (19:18) di hadapan TUHAN dan bagi sesama. Bacaan Alkitab hari ini mengajar kita untuk menjaga kelayakan hidup di hadapan Tuhan dengan memahami apa yang boleh kita lakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, sehingga kita tidak jatuh dalam dosa (menjadi najis) di hadapan Tuhan. Bila kita jatuh dalam dosa yang sama, kita perlu mengintrospeksi diri dan memohon pengampunan Tuhan. Bila kita berada dalam kondisi tahir, kita harus menjaga diri agar kita jangan sampai jatuh ke dalam dosa. Kita dipanggil untuk menolong rekan-rekan seiman yang sedang bergumul melawan dosa, sehingga mereka segera sadar bila melakukan dosa dan mereka bisa menerima pengampunan dari Tuhan. Apakah Anda memiliki kerinduan untuk dipakai oleh Allah guna membantu sesama yang sedang bergumul melawan dosa agar bisa melepaskan diri dari jerat dosa dan kembali kepada Tuhan? Ingatlah bahwa sebenarnya banyak orang yang membutuhkan pertolongan dari sesama saudara seiman. Mereka yang memerlukan pertolongan kita itu mungkin adalah keluarga, tetangga, teman, atau mereka yang selama ibadah minggu duduk di sebelah Anda. Mereka yang membutuhkan pertolongan Anda itu mungkin sengaja Tuhan tempatkan di dekat diri Anda agar Anda bisa menolong mereka, sehingga kita semua memiliki kehidupan yang berkenan pada Tuhan. [GI Roni Tan]

Tanggung Jawabnya Juga Besar

Bilangan 18

Harun berasal dari suku Lewi, suku yang dikhususkan Tuhan untuk melayani Dia dalam Kemah Pertemuan atau Kemah Suci dengan mempersembahkan korban dan menjadi perantara antara umat Israel dengan Allah. Dari antara keturunan Lewi, Tuhan memilih Harun dan keturunannya untuk menjadi imam. Walaupun Harun dan anakanaknya—seperti semua anggota suku Lewi yang lain—tidak menerima warisan tanah, mereka memperoleh hak untuk menerima persembahan khusus dari suku-suku Israel lainnya dan juga hak untuk memakan bagian korban yang dikhususkan bagi para imam (18:8-20). Suku Lewi memperoleh hak untuk menerima persepuluhan dari umat Israel di luar suku Lewi (18:21, 24). Akan tetapi, mereka juga harus memberikan persepuluhan—dari persembahan persepuluhan yang mereka terima— kepada Imam Harun (18:26-28). Suku Lewi harus melaksanakan semua tugas menyangkut Kemah Suci untuk menjaga agar hubungan umat Allah dengan TUHAN tetap baik, sehingga mereka tidak dimurkai TUHAN. Suku Lewi harus menjaga agar umat Allah (di luar suku Lewi) tidak memasuki Kemah Suci yang merupakan wilayah terlarang dengan ancaman hukuman mati bagi bukan imam yang menerobos masuk. Harun dan keturunannya harus menjalankan tugas keimaman, yaitu mempersembahkan korban. Mereka harus senantiasa menjaga kekudusan hidup. Bila melakukan pelanggaran, mereka harus segera datang meminta pengampunan dan membawa persembahan korban ke hadapan Tuhan agar Tuhan melayakkan mereka untuk kembali melayani Dia di Kemah Suci. Dalam 1 Petrus 2:9, semua orang percaya disebut sebagai imamat rajani yang bisa menjalin relasi secara langsung dengan Allah, sebagaimana imam pada zaman Musa yang mewakili umat Allah untuk mempersembahkan korban kepada Allah. Status sebagai imamat rajani mengharuskan setiap orang percaya untuk tekun menjalin relasi dengan Tuhan. Sebagian orang percaya dipanggil secara khusus untuk menjadi hamba Tuhan yang melayani penuh waktu. Hamba Tuhan penuh waktu harus setia melayani dan menjaga diri agar hidupnya menjadi teladan bagi orang-orang percaya yang lain. Dengan demikian, hidupnya berkenan di hadapan Tuhan dan dia bisa menjadi alat yang siap dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan Allah di dunia ini. [GI Roni Tan]

Saat Nafiri Berbunyi

Bilangan 10

Nafiri merupakan alat yang digunakan untuk memberi tanda atau memberi pengumuman kepada seluruh orang Israel, seperti misal-nya panggilan untuk berperang, pengumuman bulan baru, pengumuman tahun Yobel, dan pengangkatan raja. Pada umumnya, nafiri ini terbuat dari tanduk domba jantan, tetapi bisa juga terbuat dari perak (10:2). Bangsa Israel sudah sangat mengenal maksud peniupan nafiri, sehingga mereka otomatis berespons untuk bertindak melakukan apa yang sedang diperintahkan. Peniupan nafiri juga merupakan tanda seruan mereka di hadapan Tuhan. Hal ini ditunjukkan melalui perkataan “diingat di hadapan Allahmu” (10:10) yang menunjukkan bahwa Tuhan akan menyelamatkan umat-Nya.

Penggunaan nafiri untuk berkomunikasi bukan hanya terdapat pa-da masa Perjanjian Lama, tetapi juga kembali muncul pada saat keda-tangan Tuhan Yesus yang kedua kali di akhir zaman. Perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 24:31, “dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka (para malaikat) akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya ...” menunjukkan bahwa saat nafiri (sangkakala) berbunyi, orang-orang pilihan Allah akan dikumpulkan bersama-sama dengan Tuhan. Selain itu, nafiri merupakan tanda bahwa Tuhan mengingat dan menyelamatkan orang-orang pilihan-Nya. Tuhan tidak pernah melupa-kan orang-orang pilihanNya! Sekalipun orang beriman bisa saja meng-alami pergumulan iman yang berat, Tuhan tidak membiarkan orang benar sendirian. Tuhan selalu memperhatikan dan perhatian Tuhan akan dibuktikan saat bunyi nafiri dikumandangkan di akhir zaman.

Saat ini, kita harus bergumul untuk bisa meyakini kepedulian Tuhan terhadap diri kita dalam perjalanan hidup yang sedang kita jalani. Kita juga menantikan penggenapan janji bahwa pada akhir zaman, Tuhan Yesus akan menyatakan kemuliaan-Nya secara nyata dalam kehidupan umat-Nya dan membawa umat-Nya untuk tinggal bersama-Nya di rumah Bapa di surga. Inilah kerinduan hati orang percaya di segala abad dan di segala tempat saat menantikan penggenapan janji bahwa semua orang percaya akan dikumpulkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus dalam kekekalan. Pada masa penantian ini, kita diingatkan untuk bertahan dalam iman kepada Tuhan Yesus dalam anugerah kasih-Nya. [GI Roni Tan]