Dua Jalan Kehidupan

Mazmur 1

Dalam percakapan sehari-hari, mungkin kita sering mendengar kehidupan digambarkan dengan berbagai macam ungkapan. Ada yang menggambarkan hidup seperti roda yang selalu berputar, kadang kala di atas, kadang kala di bawah. Ada pula yang menggambarkan hidup seperti tumbuhan, mulai dengan benih yang bertunas, tumbuh, berbuah, lalu mati. Ada banyak lagi ungkapan lain yang dipakai untuk menggambarkan kehidupan. Setiap gambaran yang ada mengajarkan suatu pelajaran penting mengenai kehidupan.

Di permulaan kitab Mazmur, hidup manusia digambarkan seperti “jalan.” Di sini dikontraskan antara dua jenis jalan hidup. Jalan hidup yang pertama adalah kehidupan yang dijalani berdasarkan masukan dari orang-orang fasik (1:1). Orang fasik, orang berdosa dan pencemooh adalah gambaran pribadi-pribadi yang menjalani hidup tanpa takut akan Allah. Mereka berusaha mengajak orang lain untuk “berjalan,” “berdiri”, dan “duduk” bersama mereka, yaitu mengikuti pola pikir, cara hidup, serta nilai-nilai mereka yang tidak saleh. Dalam penilaian pemazmur, jalan hidup orang fasik ini seumpama sekam (1:4). Sekam adalah kulit yang menutupi biji-bijian gandum atau padi. Berbeda dengan gandum dan padi yang dikumpulkan untuk dimakan, sekam biasanya hanya dipakai sebagai bahan bakar. Kehidupan yang dijalani dengan nilai-nilai kefasikan ibarat sekam yang tidak menghasilkan buah. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang ateis—orang yang menolak dan melawan Allah—yang bisa memberi dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Namun, berguna atau tidaknya kehidupan seseorang harus dilihat dari akhir jalan hidupnya di hadapan Allah (1:5-6). Yang paling penting, hidup harus dijalani secara bertanggung jawab, pertama-tama dan terutama kepada Allah. Tanpa ketaatan kepada Allah, segala pencapaian macam apa pun tidak berguna di mata Allah.

Jalan hidup yang kedua—yang berkebalikan dengan jalan hidup berdasarkan masukan orang fasik—adalah jalan hidup yang berdasarkan firman Allah (1:2). Jika jalan hidup yang pertama dicirikan dengan kemandulan dan ketidakbergunaan, maka jalan hidup yang kedua seumpama pohon yang berbuah banyak (1:3). Hidup yang dijalani berdasarkan nasihat firman Allah adalah hidup yang berbahagia, berbuah, dan berkenan kepada Allah. [GI Williem Ferdinandus]

Pusaka Tetap Pusaka

Bilangan 36

Penaklukan wilayah sebelah Timur sungai Yordan membuat suku Ruben, suku Gad, dan setengah suku Manasye bisa lebih dulu mendapat tanah sebagai milik pusaka mereka. Di tanah tersebut, mereka bisa membangun kota untuk tempat tinggal, bercocok tanam dan menggembalakan ternak. Karena tanah tersebut merupakan milik pusaka, tanah tersebut tidak boleh dijual kepada suku Israel yang lain (berganti kepemilikan), sehingga tanah itu tetap menjadi milik masing-masing suku Israel. Masalah muncul saat seorang dari suku Manasye bernama Zelafehad—yang tidak memiliki anak laki-laki—mewariskan tanahnya kepada anak-anak perempuan (36:2). Secara normal, anak-anak perempuan itu akan menikah. Bila mereka menikah dengan suku lain, otomatis milik pusaka mereka akan beralih menjadi milik suku lain (suku suami mereka). Menghadapi kondisi seperti ini, Tuhan menetapkan peraturan bahwa anak-anak perempuan Zelafehad itu hanya diizinkan untuk menikah dengan pria dari sesama suku Manasye. Dengan demikian, tanah yang menjadi milik pusaka suku Manasye tidak beralih menjadi milik pusaka suku lain.

Bagi sembilan setengah suku Israel yang belum mendapat tanah sebagai milik pusaka, adanya milik pusaka itu masih merupakan suatu pengharapan yang harus diperjuangkan. Bagi orang percaya di luar bangsa Israel, kita memang tidak memiliki tanah yang menjadi milik pusaka. Akan tetapi, penulis kitab Ibrani menyebut tentang warisan tanah yang berbeda, yaitu tanah air sorgawi (Ibrani 11:16) yang akan menjadi milik pusaka setiap orang percaya. Di sanalah kita akan tinggal bersama dengan Tuhan selama—lamanya. Tanah pusaka itu tidak bisa diperjualbelikan dan pasti akan menjadi milik kita (bandingkan dengan Yohanes 14:2). Sama seperti bangsa Israel yang harus mempercayai dengan iman bahwa Allah telah menyediakan milik pusaka bagi mereka di Tanah Kanaan, demikian pula kita memerlukan iman untuk bisa meyakini bahwa Allah telah menyediakan tanah air sorgawi bagi kita. Dengan iman, kita bisa meyakini bahwa Tuhan pasti akan menggenapi janji-Nya dan bahwa Tuhan Yesus pasti akan datang kembali untuk menjemput setiap orang yang percaya kepada-Nya (bandingkan dengan 1 Tesalonika 4:14-17). Sementara kita menanti penggenapan janji di atas, jalanilah hidup yang berkenan kepada-Nya! [GI Roni Tan/ GI Purnama]

Tegakkanlah Keadilan!

Bilangan 35

Ada pembunuhan yang disengaja dan ada pembunuhan yang tidak disengaja atau pembunuhan yang sebenarnya merupakan suatu kecelakaan. Sering terjadi bahwa pihak yang terbunuh—keluarga atau teman—dikuasai oleh emosi sehingga melakukan pembalasan tanpa berpikir panjang. Akibatnya, kadang-kadang terjadi pembalasan yang salah sasaran atau pembalasan kepada orang yang sesungguhnya tidak bersalah. Untuk mengatasi persoalan semacam itu, ditetapkanlah kota-kota perlindungan yang tersebar di enam kota. Tersangka pembunuh yang melakukan pembunuhan secara tidak sengaja dapat melarikan diri ke kota-kota itu, dan di sana penuntut balas tidak boleh melakukan pembalasan sebelum tersangka pembunuh itu dihadapkan ke rapat umat untuk diadili. Rapat umat itulah yang akan memutuskan apakah tersangka pembunuh itu benar-benar bersalah atau tidak, dan rapat umat itu juga yang memutuskan hukuman yang dijatuhkan bila ternyata bahwa tersangka pembunuh itu memang bersalah.

Tuhan menetapkan kota-kota perlindungan karena Tuhan yang adil itu menentang ketidakbenaran dan ketidakadilan. Dia selalu menghakimi secara adil dan keputusan-Nya tidak pernah salah. Kota perlindungan ditetapkan untuk memastikan terjadinya penghakiman yang adil. Dengan demikian, bisa dihindarkan terjadinya penumpahan darah orang yang tidak bersalah. Berlaku adil merupakan salah satu tuntutan Tuhan yang terutama terhadap umat-Nya (bandingkan dengan Mikha 6:8). Praktik suap adalah suatu praktik yang terkutuk karena suap bisa membuat keadilan diputarbalikkan (Ulangan 16:19; 27:25). Praktik menerima suap yang dilakukan oleh anak-anak Nabi Samuel membuat mereka tidak bisa meneruskan posisi ayah mereka sebagai hakim yang amat dihormati di Israel (1 Samuel 8:3-5). Tuhan menginginkan agar keadilan ditegakkan bukan hanya dalam masalah-masalah kriminal, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perdagangan, berlaku adil juga berarti menjauhi kecurangan. Ketepatan timbangan amat ditekankan dalam Perjanjian Lama (Imamat 19:35-36; Bilangan 25:13; Ulangan 25:15; Amsal 11:1; 16:11; 20:10, 23; Mikha 6:11). Apakah dalam posisi Anda saat ini (sebagai orang tua, pemimpin perusahaan, pemimpin organisasi, penegak hukum, dan sebagainya), Anda telah berlaku adil dalam setiap keputusan yang Anda ambil? [GI Roni Tan/ GI Purnama]

Janji Tuhan Pasti Terlaksana

Bilangan 34

Janji Tuhan kepada Abraham (Kejadian 13:14-15; 15:18-21; 17:8) akan segera digenapi. Bangsa Israel akan segera memasuki Tanah Kanaan dan merampas tanah yang subur itu menjadi milik pusaka mereka. Dalam pasal ini, Tuhan mulai menjelaskan batas-batas tanah yang akan menjadi milik bangsa Israel (Bilangan 34:2-12). Dua setengah suku Israel (suku Ruben, suku Gad, dan setengah suku Manasye) telah menerima tanah di sebelah Timur Sungai Yordan. Tanah Kanaan merupakan milik pusaka bagi sembilan setengah suku Israel (34:13) yang masih belum mendapatkan pembagian tanah (Perhatikan bahwa keturunan Yusuf dihitung sebagai dua suku, yaitu suku Efraim dan suku Manasye, sedangkan Suku Lewi tidak dihitung). Untuk memastikan bahwa pembagian tanah dalam sembilan setengah suku Israel ini dilakukan secara merata (adil), Tuhan menetapkan seorang pemimpin dari setiap suku untuk melakukan pembagian.

Walaupun janji Tuhan kepada Abraham sudah berlalu ratusan tahun, Allah tidak pernah melupakan janji-Nya! Kewajiban bangsa Israel adalah memercayai, menaati, serta menjalankan perintah Tuhan, dan mereka pasti akan menerima penggenapan janji Tuhan. Dalam Alkitab, terdapat banyak sekali janji Tuhan kepada umat-Nya. Pada masa kini, semua orang percaya (atau yang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat) telah diangkat menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12) dan berhak mewarisi janji-janji Allah (Roma 8:17; Galatia 3:29). Janji Allah tersebut meliputi janji untuk masa kini dan janji untuk masa depan. Janji Allah untuk masa kini antara lain adalah janji penyertaan melalui Roh Kudus (misalnya Matius 28:20; Yohanes 14:16, 26) dan janji pemeliharaan (misalnya Filipi 4:19). Janji Allah untuk masa depan—yang merupakan janji paling utama—adalah janji bahwa Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya guna menjemput orang percaya, sehingga kita akan tinggal bersama-sama dengan Dia (Yohanes 14:3). Masalahnya, apakah Anda memiliki iman untuk terus menantikan penggenapan janji Allah? Apakah Anda sanggup bertahan menghadapi berbagai tantangan iman dalam kehidupan Anda? Sementara menanti kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, marilah kita mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan giat. Ingatlah: Jerih payah yang Anda lakukan di dalam Tuhan tidak akan sia-sia (1 Korintus 15:58). [GI Roni Tan/ GI Purnama]

Selesaikan Sampai Tuntas

Bilangan 33

Tanah Kanaan adalah tanah yang telah dijanjikan Tuhan untuk diberikan sebagai warisan kepada bangsa Israel. Tanah Kanaan merupakan tanah yang sangat subur sehingga digambarkan sebagai tanah yang penuh susu dan madu. Tanah Kanaan merupakan tanah terbaik di kawasan itu. Sayangnya, bangsa Kanaan menyembah banyak dewa, antara lain Baal Hadad (dewa badai) dan banyak sekali dewa lainnya. Oleh karena itu, dengan sangat tegas dan jelas, Tuhan menyampaikan kepada bangsa Israel melalui Musa bahwa seluruh penduduk asli Tanah Kanaan harus dihalau (diusir) dari Tanah Kanaan (atau bisa juga berarti harus dibunuh) dan semua barang atau tempat yang berkaitan dengan penyembahan berhala (batu berukir, patung tuangan, bukit pengorbanan) harus dimusnahkan (33:51-55).

Perintah membunuh seluruh penduduk asli Tanah Kanaan itu sepintas lalu nampak sebagai perintah yang kejam. Akan tetapi, Allah memberikan perintah itu karena Ia mengasihi bangsa Israel, umat pilihan Allah. Agaknya penduduk asli Tanah Kanaan itu sudah sedemikian jahat, sehingga bangsa Israel tidak akan bisa mempengaruhi mereka untuk bersama-sama menyembah Allah Israel. Bila perintah membunuh itu diabaikan, penduduk asli Tanah Kanaan yang dibiarkan hidup itu akan menjadi sumber masalah karena mereka pasti akan menyesatkan dan membawa bangsa Israel kepada penyembahan berhala. Bila bangsa Israel tersesat, maka bangsa Israel harus berhadapan dengan penghukuman Tuhan (33:55-56). Oleh karena itu, perintah pemusnahan ini harus mereka laksanakan sampai tuntas dan tanpa kompromi agar mereka terhindar dari hukuman Tuhan.

Jadi, Bilangan 33 yang kita baca hari ini mengingatkan kita bahwa setiap kali kita membaca firman Tuhan, seluruh perintah Tuhan di dalam firman-Nya harus kita taati sepenuhnya tanpa kompromi agar kita tidak jatuh ke dalam dosa dan kita terhindar dari murka Tuhan. Apakah Anda telah berjuang untuk berusaha memahami firman Tuhan dan Anda telah bertekad untuk setia menjalankan perintah Tuhan sampai akhir hidup Anda? Apakah Anda pernah memikirkan hal-hal apa saja pada masa kini yang bisa menyesatkan diri Anda dan membuat Anda mengabaikan kehendak Tuhan dalam hidup Anda? Singkirkanlah segala hal yang bisa membuat Anda menjauhi Tuhan! [GI Roni Tan/ GI Purnama]

Komitmen Harus Dilaksanakan!

Bilangan 32

Bani Ruben dan bani Gad memiliki sangat banyak ternak. Saat melintasi tanah Yaezer dan tanah Gilead, mereka melihat bahwa kondisi lokasi tanah di tempat itu sangat cocok untuk mengembalakan ternak, dan mereka bisa membangun kehidupan di sana. Akan tetapi, masalahnya adalah bahwa saat itu, belum waktunya bagi mereka untuk berhenti berperang karena tanah yang dijanjikan Tuhan masih belum semuanya berhasil direbut. Oleh karena itu, mereka memberanikan diri untuk memohon kepada Musa agar tanah yang mereka lewati itu diberikan kepada mereka dengan catatan bahwa kaum lelaki kedua suku tersebut tetap maju berperang bersama dengan suku Israel yang lain sampai semua daerah yang dijanjikan Tuhan berhasil direbut dan diberikan kepada setiap suku Israel. Musa mengabulkan permintaan tersebut dengan catatan bahwa suku Ruben dan Gad harus tetap memiliki komitmen untuk maju berperang sampai seluruh suku Israel mendapatkan tanah warisan masing-masing. Bila mereka mengingkari komitmen mereka dan tidak ikut berperang, mereka tidak boleh tinggal di sana dan mereka akan menanggung akibatnya, yaitu dosa mereka akan tertimpa atas mereka (32:23). Perkataan Musa ini pada akhirnya menjadi janji mereka di hadapan Tuhan.

Apakah Anda pernah memiliki komitmen untuk melakukan sesuatu dalam hidup Anda? Apakah Anda melaksanakan komitmen itu dengan setia atau Anda justeru sering melanggar komitmen yang telah Anda ikrarkan? Kita harus setia terhadap komitmen yang telah kita buat, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun komitmen untuk melayani Tuhan. Mintalah pertolongan Tuhan agar kita menjadi orang yang bisa dipercaya, baik dalam pandangan Tuhan maupun dalam pandangan sesama. Dalam kehidupan ini, kesetiaan terhadap komitmen lebih penting daripada kemampuan akademis maupun kemampuan bekerja. Orang yang dalam hidupnya memegang komitmen adalah orang yang setia dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas apa pun yang dipercayakan kepadanya. Apakah Anda saat ini memiliki komitmen tertentu dalam kehidupan—menyangkut pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan sebagainya—yang ingin Anda lakukan dengan setia di hadapan Tuhan? Semoga kita menjadi orang yang dapat dipercayai karena kita selalu mempertahankan komitmen. [GI Roni Tan]

Menjaga Kemurnian

Bilangan 31

Kisah pemusnahan terhadap orang Midian berkaitan dengan perintah Tuhan dalam Bilangan 25:16-18, yaitu perintah kepada Musa untuk memusnahkan orang Midian. Perintah pemusnahan ini diberikan karena perempuan-perempuan Moab dan Midian telah bekerja sama membuat orang Israel jatuh pada penyembahan berhala. Akibatnya, Tuhan murka kepada orang Midian dan orang Israel. Inilah yang melatarbelakangi eksekusi perintah Tuhan kepada bangsa Israel. Misi ini berhasil karena orang Israel—masing-masing suku diwakili oleh seribu orang—dengan mudah mengalahkan dan membunuh laki-laki Midian. Sayangnya, para perempuan dan anak-anak tidak mereka binasakan, melainkan mereka jadikan tawanan. Sikap semacam ini merupakan pelanggaran di hadapan Tuhan dan setiap pelanggaran pasti mendatangkan hukuman. Syukurlah bahwa Musa bersikap tegas serta memerintahkan agar semua anak laki-laki dan semua wanita yang pernah bersetubuh dibunuh untuk mencegah agar mereka tidak jatuh kembali dalam penyembahan berhala dan Tuhan tidak murka. Selanjutnya, mereka yang telah bersentuhan dengan mayat harus ditahirkan selama 7 hari di luar tempat perkemahan (31:19), dan mereka juga harus membawa upeti bagi Tuhan (31:28). Semua tindakan yang dilakukan oleh Musa ini bertujuan untuk menjaga kemurnian umat pilihan di hadapan Tuhan. Pentahiran ini untuk mencegah murka Tuhan tertimpa atas umat-Nya.

Kompromi untuk tidak menaati perintah Tuhan secara penuh serta upaya mencari celah dari suatu peraturan yang Tuhan berikan akan membuat kita rentan untuk jatuh ke dalam dosa dan menjauhkan kita dari Tuhan. Syukurlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia terus menjaga dan menolong kita. Pengampunan dosa senantiasa tersedia untuk memurnikan kita dan membuat kita semakin berkenan kepada-Nya. Oleh karena itu, dengar-dengaranlah dan taatlah pada perintah Tuhan, niscaya hidup kita akan semakin dimurnikan oleh Tuhan di tengah dunia yang sangat kotor ini. Berdoalah agar telinga dan hati kita senantiasa siap menerima perintah-Nya dan kita siap melakukan perintah itu. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk melakukan perintah Tuhan dengan kesetiaan dan ketundukan. Ingatlah bahwa pelanggaran terhadap perintah Tuhan pasti akan membawa kita kepada peng-hukuman Tuhan. [GI Roni Tan]

Nazar Bukan Nyasar

Bilangan 30

Istilah “nazar” dibahas terutama dalam Imamat 27, Bilangan 6, dan Ulangan 23. Dalam Bilangan 30, yang dibahas adalah pengesahan nazar seorang perempuan. Perbedaan nazar seorang perempuan de-ngan nazar pada umumnya adalah bahwa perempuan yang melakukan nazar tetap terikat dengan ayah maupun suaminya. Ayah atau suami perempuan yang bernazar bisa membatalkan nazar perempuan itu. Perlu diingat bahwa dalam tradisi Yahudi, perempuan berada di bawah kekuasaan laki-laki. Sebelum menikah, seorang perempuan berada dalam kekuasaan ayahnya. Sesudah sang ayah meninggal, ia berada dalam kekuasaan kakak laki-laki. Sesudah menikah, perempuan berada dalam kekuasaan suami. Perlu diingat juga bahwa peraturan ini dibuat untuk melindungi perempuan itu yang bisa jadi salah bernazar atau sembarangan saja bernazar, sehingga merugikan dirinya sendiri.

Berdasarkan tradisi Yahudi tersebut, tidaklah mengherankan bila Tuhan menetapkan peraturan bahwa nazar seorang perempuan dapat dibatalkan oleh ayahnya atau suaminya jika perempuan itu dinilai tidak mampu melaksanakan nazar tersebut. Karena kaum perempuan pada masa itu umumnya tidak mengetahui peraturan keagamaan, ketidak-tahuan itu bisa membuat dia mengikrarkan nazar yang terlalu berat atau yang bisa mempersulit dirinya atau keluarganya. Oleh karena itu, baik ayah maupun suami yang lebih memahami peraturan keagamaan berhak membatalkan nazar istrinya untuk melindungi sang istri dan seluruh keluarganya.

Peraturan dalam pasal ini mengajarkan bahwa sesuatu yang bertujuan baik tidak serta merta harus selalu disetujui dan didukung. Diperlukan hikmat untuk bisa melihat, menilai, dan memutuskan sesuatu secara tepat agar keputusan yang kita ambil tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Diperlukan komunikasi, kepedulian, serta ketegasan terhadap orang yang kita kasihi agar tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan. Apakah Anda sudah melaksanakan tanggung jawab dalam keluarga Anda? Sadarilah bahwa peran yang baik selalu dilandasi oleh relasi yang baik. Oleh karena itu, kita harus membangun dan memelihara relasi yang baik dengan anggota keluarga kita agar kita bisa saling mengingatkan, saling melindungi, dan saling mendukung satu dengan yang lain dalam kasih Allah. [GI Roni Tan]

Perayaan Bagi TUHAN

Bilangan 29

Dalam Alkitab, terdapat berbagai peraturan tentang perayaan hari-hari raya bagi bangsa Israel. Dalam bacaan Alkitab hari ini, yang dibahas adalah korban-korban yang dipersembahkan pada hari raya yang berlangsung di bulan ketujuh, yaitu Hari Raya Peniupan Serunai pada tanggal satu (29:1-6), Hari Raya Pendamaian pada tanggal sepuluh (29:7-11), dan Hari Raya Pondok Daun pada tanggal lima belas (29:12-38). Pada ketiga hari raya tersebut, selain ada persembahan korban juga ada pertemuan kudus. Saat berlangsungnya pertemuan yang kudus itu, bangsa Israel dilarang melakukan pekerjaan berat. Dengan demikian, setiap orang bisa memusatkan perhatian pada pertemuan tersebut. Adanya pertemuan kudus di antara umat pilihan Tuhan ini mengingatkan kita akan pentingnya menyediakan waktu untuk menjaga kesatuan dan persatuan orang percaya. Walaupun adanya berbagai perayaan itu menuntut biaya yang mahal, berbagai perayaan itu penting untuk menjaga relasi antara umat Israel dengan Allah serta relasi antar umat Israel sendiri. Perayaan-perayaan itu penting bukan hanya bagi generasi saat itu, tetapi juga penting untuk menjadi sarana mengajar generasi berikutnya, supaya generasi muda belajar menjalin relasi dengan Allah dan dengan sesama.

Dalam kehidupan orang Kristen masa kini, hari-hari raya pada masa Alkitab sudah tidak kita rayakan lagi karena konteks orang Kristen pada umumnya bukanlah konteks Yahudi. Saat ini, gereja menyelenggarakan beberapa hari raya yang berkaitan dengan kehidupan dan karya Yesus Kristus serta Roh Kudus, yaitu Natal (memperingati kelahiran Tuhan Yesus), Jumat Agung (memperingati kematian Tuhan Yesus), Paskah (memperingati kebangkitan Tuhan Yesus), Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, dan Pentakosta (memperingati turunnya Roh Kudus untuk menyertai orang percaya di dunia ini). Perayaan-perayaan yang kita rayakan itu berkaitan dengan peristiwa sejarah yang amat penting (relevan) dengan kehidupan kita. Bila kita dan seluruh keluarga kita mengikuti perayaan-perayaan tersebut dengan setia setiap tahun, kita akan selalu diingatkan akan keyakinan-keyakinan terpenting dalam kepercayaan Kristen. Oleh karena itu, saat merayakan hari-hari raya di atas, fokus perhatian kita bukanlah bersenang-senang, melainkan menghayati karya Allah dalam kehidupan kita. [GI Roni Tan/GI Purnama]

Korban Tanda Kesetiaan

Bilangan 28

Korban, pada umumnya, dihubungkan dengan bangsa—bangsa di dunia kuno. Mereka mempersembahkan korban kepada dewa—dewa mereka. Yang dipakai sebagai korban bukan hanya binatang, tetapi juga bisa manusia. Mereka mempersembahkan korban karena mereka diselimuti ketakutan bahwa mereka akan ditimpa malapetaka bila mereka tidak mempersembahkan korban. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk mempersembahkan korban di hadapan-Nya. Korban yang dipersembahkan bisa berupa korban binatang (misalnya kambing, domba, lembu, dan burung) atau tepung. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah memerintahkan—bahkan Tuhan melarang—pengorbanan anak, yang malahan dianggap sebagai suatu kekejian di hadapan Tuhan.

Umat Israel diwajibkan untuk mempersembahkan korban di ha-dapan Tuhan. Setiap jenis korban yang dipersembahkan disebut dengan istilah tersendiri. Jenis korban yang disebut dalam Alkitab adalah korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan, korban penghapus dosa, dan korban penebus salah. Sebenarnya, persembahan korban kepada Tuhan sudah ada sejak zaman nenek moyang Israel. Dalam Kitab Kejadian, kita bisa membaca tentang persembahan korban yang dilakukan oleh Kain, Habel, Abraham, Ishak, dan Yakub. Setelah orang Israel dituntun oleh Tuhan untuk keluar dari Tanah Mesir, barulah perintah untuk mempersembahkan korban diberikan dan dilaksanakan. Banyaknya korban sembelihan dan korban bakaran yang dipersembahkan di atas mezbah menunjukkan begitu banyaknya pelanggaran yang sudah dilakukan umat Allah, tetapi begitu besar pula pengampunan yang sudah diberikan oleh Tuhan.

Akhirnya, Allah memberikan Anak-Nya sendiri—Yesus Kristus—sebagai korban penghapus dosa yang sempurna, yang hanya satu kali saja dipersembahkan. Pengorbanan Yesus Kristus itu membuat kita saat ini sudah tidak perlu lagi mempersembahkan korban binatang ke hadapan Tuhan. Akan tetapi, kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1). Mempersem-bahkan tubuh adalah respons yang wajar terhadap keselamatan dan pengudusan yang telah kita terima. [GI Roni Tan]