Kemurahan Hati

Ulangan 15

Allah yang murah hati ingin agar orang Israel yang telah menerima kemurahan-Nya belajar untuk bermurah hati kepada orang lain. Tuhan Yesus juga mengajarkan tentang kemurahan hati, misalnya di Matius 5:7. Sikap murah hati kepada orang lain sangat disukai Tuhan, sehingga Ia berjanji akan memberkati orang yang murah hati (Ulangan 15:10, 18). Sebaliknya, keengganan berlaku murah hati terhadap orang lain adalah dosa di mata Tuhan (15:9). Tuhan tidak menginginkan orang Israel berlaku serakah dengan menikmati berkat Tuhan bagi diri sendiri saja dan mengabaikan orang lain yang membutuhkan.
Ada dua hal yang diperintahkan Allah kepada orang Israel untuk dilakukan: Pertama, menghapus hutang sesama umat Tuhan pada tahun penghapusan hutang. Setiap akhir tujuh tahun dari masa yang ditentukan Tuhan, orang Israel yang berpiutang (meminjamkan uangnya) kepada sesama orang Israel harus menghapus hutang tersebut, tetapi piutang kepada orang asing boleh ditagih (15:1-5). Inilah bentuk pemeliharaan Allah kepada orang Israel sesuai dengan perjanjian yang Ia adakan dengan mereka. Dengan demikian, ketaatan kepada Allah akan membuat orang Israel tidak mengalami kekurangan. Sebaliknya, Tuhan ingin memakai orang Israel untuk menjadi berkat bagi sesamanya. Kedua, Allah memerintahkan agar orang Israel memerdekakan atau membebaskan sesama orang Israel yang menjadi budak mereka pada tahun ketujuh. Saat budak itu pergi, tuan rumah harus membekali dia dengan murah hati sesuai dengan berkat yang telah diterimanya dari Allah (15:12-14). Mengapa orang Israel harus membebaskan budaknya pada tahun ketujuh? Karena orang Israel pernah menjadi budak di Mesir dan mereka telah ditebus oleh Tuhan, sehingga mereka dapat hidup dengan sejahtera di Tanah Perjanjian (15:15). Mereka tidak boleh melupakan kebaikan Tuhan yang telah mereka terima. Allah berjanji akan memberkati usaha mereka di masa depan (15:18).
Pada zaman ini, tidak mudah bagi kita untuk meminjamkan uang kepada orang lain. Kita juga tidak lagi memiliki budak. Konteks zaman kita sudah sangat berbeda dengan konteks zaman Musa. Akan tetapi, prinsip yang diajarkan firman Tuhan tetap berlaku: Berkat Tuhan yang diberikan kepada kita bukan untuk kita nikmati sendiri secara egois, melainkan agar kita bisa menjadi saluran berkat. [GI Wirawaty Yaputri]

Ketika Allah Terasa Jauh

Mazmur 10

Apa yang biasanya kita lakukan saat kita menjumpai kenyataan bahwa pelanggaran/kejahatan tetap tidak bisa ditindak sekalipun sudah diperhadapkan dengan hukum? Mungkin, kita akan mulai mempertanyakan pihak yang berwenang, bahkan mempertanyakan otoritas dari hukum yang berlaku. Hal semacam inilah yang sempat dipertanyakan oleh Daud kepada Allah, “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh dan menyembunyikan diri-Mu pada waktu-waktu kesesakan?” (10:1). Keluhan Daud didasarkan atas kenyataan yang dialaminya. Ia menjumpai orang fasik yang seakan-akan menari-nari di atas kenyataan bahwa ada Allah yang menghakimi dunia. Orang fasik ini digambarkan sebagai orang yang congkak dan penuh tipu daya (10:2). Mereka sombong dan berani menista Tuhan (10:3). Mereka berpikir bahwa mereka aman dari penghakiman Allah (10:4, 6, 11). Tindakan-tindakan mereka selalu berhasil (10:5). Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, tipu dan kelaliman (10:7). Mereka menindas orang yang lemah dan orang yang tidak bersalah untuk kepentingan mereka sendiri (10:8-10).

Umumnya, orang bisa menjadi bersikap skeptis (ragu-ragu, kurang percaya) terhadap penegakan hukum saat melihat kejahatan dan pende-ritaan yang terjadi di sekitarnya. Bahkan, skeptisisme ini dapat membuat orang mempertanyakan keberadaan Allah. Argumennya: Allah yang baik dan mahakuasa tidak mungkin membiarkan kejahatan terjadi. Oleh karena itu, adanya kejahatan menunjukkan bahwa Allah yang baik dan mahakuasa itu tidak ada. Akan tetapi, Daud tidak bersikap seperti itu. Sekalipun Daud merasa bahwa Allah itu jauh (10:1), Daud tetap berseru kepada Allah agar Allah menghajar orang-orang yang berbuat kejahat-an (10:15). Ia percaya bahwa Allah melihat—termasuk melihat kesusahan dan sakit hati—dan akan bertindak adil (10:14a). Allah tidak hanya melihat, tetapi Ia juga memasang telinga untuk mendengarkan serta menguatkan orang yang tertindas (10:17). Mengapa? Supaya keadilan dinyatakan dan setiap manusia menyadari keterbatasannya dan kedu-dukannya yang sebenarnya di hadapan Allah (10:18).

Sering kali mudah bagi kita untuk menuduh Allah meninggalkan atau menyembunyikan wajah-Nya dari ketidakadilan yang terjadi di dunia ini. Akan tetapi, percayalah bahwa sesungguhnya Allah melihat, mendengar, dan akan mengulurkan tangan-Nya. [GI Michele Turalaki]

Sang Pelindung

Mazmur 9

Ketika diperhadapkan dengan kesesakan, kesengsaraan dan penindasan dari musuh, kondisi kita bagaikan seorang anak kecil yang diganggu oleh segerombolan anak berbadan besar, berharap dirinya memiliki bodyguard (pengawal atau pelindung) yang dapat melindunginya. Kehadiran seorang bodyguard akan membuatnya merasa aman, lega, dan terbebas dari situasi yang menghimpitnya. Sayang sekali, umumnya seorang bodyguard dipekerjakan untuk melindungi mereka yang beruang atau terkemuka. Lalu, bagaimana dengan kita yang hanya “orang biasa” ini, siapakah yang dapat melindungi kita dari setiap situasi yang menyesakkan? Siapakah yang dapat kita andalkan?

Melalui Mazmur 9 ini, kita melihat ucapan syukur dan nyanyian sukacita pemazmur (9:2-3), bahkan ajakan untuk bermazmur (9:12). Mengapa? Di dalam kesesakan, kesengsaraan, dan penindasan yang dialaminya dari musuh-musuhnya, pemazmur mendapati bahwa Allah adalah Pelindung dan Pembela yang dapat diandalkan (9:4-5, 14). Jika para hakim dunia berpihak kepada mereka yang dapat menyuapnya dengan sejumlah uang, Allah adalah Hakim yang adil yang menghakimi dunia dengan keadilan serta mengadili bangsa-bangsa dengan kebenar-an (9:5, 9). Di dunia ini, umumnya mereka yang beruang memperoleh perhatian istimewa. Akan tetapi, Allah tidak melupakan teriakan mereka yang tertindas maupun mereka yang miskin (9:13, 19).

Bukankah apa yang disaksikan pemazmur ini menjadi sebuah berita baik bagi kita? Di tengah kesesakan, kesengsaraan serta penin-dasan yang membelenggu kita, kita dapat bernafas lega dan merasa aman. Mengapa? Ada Pribadi yang dapat kita andalkan sebagai Pelindung dan Pembela kita. Pribadi itu bukanlah sosok yang biasa saja. Dialah TUHAN, Raja yang bertakhta untuk selama-lamanya dan yang menghakimi dengan adil (9:8-9, 17). Kelegaan ini hanya akan dialami oleh setiap orang yang mengenal nama-Nya, percaya kepada-Nya dan yang mencari Dia karena Allah tidak akan meninggalkan orang-orang yang demikian (9:11). Jika saat ini, Anda seakan-akan tercekik oleh berbagai tekanan dan himpitan, ingatlah bahwa Allah lebih kuat dari musuh terkuat mana pun. Ia adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan (9:10). [GI Michele Turalaki]

Mengenal Diri dan Mengagumi Allah

Mazmur 8

Mazmur 8 diawali dan diakhiri dengan pujian terhadap keagungan nama Allah (8:2, 10). Pujian itu mengapit rangkaian ungkapan kekaguman pemazmur akan posisi manusia dalam ciptaan. Jelas bahwa setiap pernyataan didasarkan pada kisah penciptaan yang termuat dalam permulaan Kitab Kejadian. Dalam mazmur ini, kejatuhan dalam dosa digemakan secara tersirat dalam ungkapan “lawan”, “musuh” dan “pendendam” (8:3). Keheranan pemazmur pertama-tama timbul dari perbandingan antara kebesaran alam semesta dengan manusia (8:4-5). Secara khusus, yang membuat pemazmur merasa heran adalah perhatian Allah kepada manusia yang begitu kecil di dalam alam raya yang demikian besar (8:5). Selanjutnya, ia juga heran dan kagum saat merenungkan kuasa dan hak istimewa atas ciptaan non-manusia yang diberikan kepada manusia (8:6-9). Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah diberi nilai yang lebih tinggi dari ciptaan lain, dan diberi kuasa atas segala binatang darat, air, dan udara.

Walaupun Mazmur 8 semula dimaksudkan untuk dinyanyikan oleh bangsa Israel, di dalamnya tersirat bahwa yang dibicarakan bukan hanya bangsa Israel, melainkan umat manusia secara umum. Secara khusus, dalam terang Perjanjian Baru, kita menemukan bahwa Yesus Kristus adalah gambaran manusia sejati yang ideal yang dimahkotai dengan kehormatan dan kemuliaan setelah menderita, mati, dan bangkit sebagai perwakilan manusia berdosa (bandingkan dengan Ibrani 2:6-9).

Kira-kira lima abad yang lampau, John Calvin memulai tulisan mahakaryanya dengan dua pernyataan yang bersifat paradoks, “Tanpa pengenalan akan diri sendiri, tidak ada pengenalan akan Allah. Tanpa pengenalan akan Allah, tidak ada pengenalan akan diri sendiri”. Kedua pernyataan itu tepat dan menunjukkan betapa pentingnya pengenalan akan Allah dan diri sendiri. Dalam kaitan dengan Mazmur 8, boleh dikatakan bahwa manusia tidak akan memahami kebesaran Allah tanpa melihat betapa kecilnya dirinya. Renungkanlah betapa kecil dan tidak berartinya diri kita dan betapa luar biasanya Allah yang mau mengasihi dan mengindahkan kita yang demikian kecil. Dengan terus-menerus merenungkan hal ini, kita akan terbentuk menjadi pribadi-pribadi yang penuh kerendahan hati dan juga penuh dengan kekaguman yang akan meluap keluar lewat pujian yang tulus kepada Allah. [GI Williem Ferdinandus]

Tuhan adalah Hakim yang Adil

Mazmur 7

Mazmur 7 perlu dibaca secara bersebelahan dengan Mazmur 6. Dalam Mazmur 6, sang pemazmur mengalami penderitaan karena dirinya telah melakukan kesalahan yang mendatangkan murka dan pendisiplinan Allah. Dalam Mazmur 7, pemazmur mengemukakan bahwa dirinya mengalami masalah, padahal dia merupakan pihak yang tidak bersalah.

Seperti dalam Mazmur 6, dalam Mazmur 7 pun, pemazmur merasakan ancaman dari lawan yang digambarkan seperti singa yang berupaya untuk menerkam dirinya (7:2-3). Lalu, apa yang dilakukan oleh pemazmur dalam menghadapi situasi seperti itu? Ia membawa perkara-nya ke hadirat Allah dan berupaya untuk mengemukakan ketidakber-salahannya (7:4-6). Klaim ketidakbersalahan itu diikuti dengan kesiapan menanggung konsekuensi jika ternyata ia ditemukan bersalah. Pemazmur meyakini bahwa sifat Tuhan adalah adil (7:10, 12). Ia percaya bahwa Tuhan adalah Hakim atas segala bangsa, dan hal itu berarti bahwa Tuhan juga merupakan Hakim atas dirinya dan musuhnya (7:7-9). Ia tahu bahwa Allah bukan hanya memeriksa perbuatan yang kelihatan, namun juga memeriksa sampai kepada batin yang terdalam (7:10). Oleh karena itu, dia percaya bahwa ia akan ditemukan sebagai orang yang tulus ikhlas (7:9). Sementara itu, akan terungkap bahwa lawannya penuh dengan kejahatan dan kelaliman (7:15). Atas dasar keadilan Allah, ia percaya bahwa ia akan luput dari kejaran musuh, sedangkan rancangan musuh akan digagalkan dan bahkan akan dibalikkan kepada mereka sebagai wujud hukuman Allah (7:16-17).

Dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa, tidak jarang kita mengalami masalah yang bukan disebabkan oleh kesalahan kita. Bayangkanlah perundungan (bullying) yang dialami oleh anak yang “lemah” di sekolah, permusuhan dari partner di tempat kerja, serta persekusi dari orang yang berbeda keyakinan sebagai contoh tindakan permusuhan yang bisa jadi timbul tanpa adanya kesalahan dari pihak “korban”. Jika Anda sedang mengalami situasi seperti itu, bawalah perkara tersebut ke hadapan Tuhan kita. Mengeluhlah kepada-Nya, dan mintalah keadilan dari Tuhan. Hakim yang adil itu akan menunjukkan keadilan-Nya, baik secara langsung di dunia ini sekarang atau menyimpannya untuk penghakiman akhir kelak. [GI Williem Ferdinandus]

Kasihani Aku, Tuhan!

Mazmur 6

Dalam Alkitab, kerap kali kita menemukan bahwa Allah menghukum umat-Nya yang telah berdosa dan menjauh dari-Nya. Misalnya, dalam Kitab Hakim-hakim, kita membaca bagaimana bangsa Israel jatuh ke dalam siklus berulang. Mereka berpaling dari Allah dan menyembah berhala. Kemudian, Allah mengirim bangsa lain untuk menjajah mereka. Saat tertindas, mereka mengeluh dan memohon ampun serta meminta pertolongan Allah. Allah menolong dengan mengirimkan seorang hakim. Setelah era hakim tersebut berakhir, Israel kembali berpaling kepada berhala. Demikianlah siklus itu terus berulang dalam sejarah Israel.

Ternyata, siklus semacam itu bukan hanya terjadi dalam kehidup-an bangsa Israel, namun juga bisa terjadi dalam kehidupan setiap orang. Ada kalanya kesalahan tertentu langsung diganjar Tuhan dengan pendi-siplinan yang bertujuan untuk mengarahkan umat-Nya agar kembali kepada-Nya. Dalam Mazmur 6, pemazmur menjerit karena penderitaan yang merupakan pendisiplinan Allah. Kemungkinan, pemazmur menghadapi lawan/musuh (6:8-9, 10) yang membuatnya sakit secara fisik dan tertekan secara psikis (kejiwaan). Ia sadar bahwa segala kesulitan yang ia hadapi sesungguhnya bersumber dari murka Allah (6:2). Ia tahu bahwa Allah yang menunjukkan murka-Nya adalah Allah yang akan menyelamatkan Dia. Oleh karena itu, mazmur tersebut penuh dengan permohonan agar Allah mengasihani, menyembuhkan, meluputkan, dan menyelamatkan pemazmur (6:3, 5). Lewat penutup mazmur ini, kita menemukan bahwa permohonan pemazmur tidak sia-sia karena doa dan keluhannya telah didengar oleh Tuhan (6:9-11).

Jelaslah bahwa setiap permasalahan atau pergumulan yang kita hadapi tidak bisa langsung kita tafsirkan sebagai bentuk pendisiplinan Allah (ingat kisah Ayub). Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa penyakit, bencana, permusuhan dari orang sekitar adalah bentuk hukuman Allah. Akan tetapi, pada saat yang sama, kita perlu kepekaan untuk menyadari bahwa dosa tertentu memang bisa mendatangkan konsekuensi yang wajar. Seandainya ada pelanggaran yang menyebabkan kita mengalami tekanan dan permasalahan tertentu, kita perlu bertobat dan segera datang kepada Allah. Mintalah dengan sungguh pengampunan dan pertolongan dari-Nya, maka niscaya Ia akan mendengar! [GI Williem Ferdinandus]

Mengeluh Menghadapi Kebohongan

Mazmur 5

Pada tahun 2016, Kamus Oxford menjadikan kata “pasca kebenaran (post-truth)” sebagai kata tahun ini (word of the year). Istilah “Paska kebenaran” kerap dipakai untuk menggambarkan kondisi sosial di selu-ruh dunia. Pada masa lampau, benar salahnya sebuah pernyataan dinilai berdasarkan bukti dan fakta obyektif. Akan tetapi, pada masa kini, orang menilainya berdasarkan perasaan subyektif. Misalnya, dalam 10 tahun terakhir, berdiri 3 gedung gereja di tempat yang penduduknya mayoritas non-Kristen. Orang-orang tertentu yang terganggu berkata, “semakin banyak gereja berdiri di sini dan kita semua akan terlibas.” Benar tidak-nya pernyataan tersebut tidak dinilai berdasarkan data yang teramati (misalnya: berapa tepatnya jumlah orang yang berpindah keyakinan), tetapi berdasarkan opini dan sentimen emosional saat melihat dan merasakan perubahan yang terjadi dalam 10 tahun terakhir. Dalam era pasca kebenaran, hoaks dan ujaran kebencian menjamur di mana-mana. Celakanya, perkembangan teknologi membuat hoaks dan ujaran kebencian itu menyebar cepat dan semakin menambah sentimen emosional masyarakat banyak. Kita semua hidup dalam era seperti ini!

Dalam Mazmur 5, tampak bahwa pemazmur sangat terganggu oleh para lawannya. Secara berulang-ulang dan mendesak, ia mengeluh kepada Tuhan (5:2-4). Perhatikan bahwa sebagian besar kejahatan yang ia keluhkan berhubungan dengan perkataan yang tidak benar. Ia meyakini bahwa Allah bersikap anti terhadap pembual, pembohong, penipu, orang munafik, dan orang yang perkataannya mematikan (5:5-7,10). Dalam kondisi semacam itu, pemazmur mengingat anugerah Allah dan melekatkan diri kepada-Nya (5:8-9). Ia mengekpresikan imannya melalui keyakinan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan akan senantiasa dilindungi Allah (5:12-13).

Dalam menghadapi hoaks dan ujaran kebencian, pertama-tama kita harus berdoa. Mendahulukan doa bukanlah berarti pasifisme (tidak menyuarakan atau melakukan apa pun untuk melawan kebohongan), te-tapi doa menolong kita untuk membereskan hati lebih dahulu di hadap-an Allah. Reaksi terhadap hoaks yang emosional hanya membuat upaya kita sia-sia, bahkan bisa makin memperburuk sentimen emosional yang telah ada. Hanya orang yang mempercayai keadilan dan perlindungan Allah yang dapat menghadapi hoaks dengan kepala dingin. [GI Williem Ferdinandus]

Evaluasi Diri Sebelum Tidur

Mazmur 4

Waktu tidur di malam hari menandakan bahwa satu hari telah berakhir dan besok—saat bangun—kita akan memasuki hari yang baru. Momen sebelum tidur, saat segala kesibukan berhenti, merupakan waktu yang baik untuk memeriksa kondisi jiwa kita. Mazmur 4 mengajar kita untuk melakukan hal itu. Perhatikanlah kata “tempat tidur” (4:5) dan “segera tidur” (4:9) dalam Mazmur yang kita baca hari ini. Kedua perkataan itu menunjukkan bahwa tampaknya mazmur tersebut dinyanyikan sebelum tidur di atas ranjang.

Apa yang diungkapkan oleh Mazmur ini dan apa yang bisa kita pelajari? Ada 3 jenis perkataan yang diungkapkan dalam Mazmur ini: Pertama, yaitu perkataan yang ditujukan kepada “lawan” khayalan (4:3-4). Dengan mengingat kekeliruan yang telah dilakukan oleh orang kepadanya, pemazmur tidak membiarkan kesalahan, kebohongan dan kesia-siaan lewat begitu saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa (4:3). Pada saat yang sama, ia juga mengingat bahwa Tuhan mengkhususkan mereka yang dikasihi oleh-Nya (4:4).

Kedua, perkataan kepada diri sendiri (4:5-6). Pemazmur menegas-kan bahwa perasaan marah dan terluka karena kesalahan orang perlu dihadapi dengan benar (4:5). Hal ini mengingatkan kita bahwa setiap emosi perlu diekspresikan secara sehat dan tidak dipendam. Tidak ada orang yang bisa tidur dengan nyenyak selama ia masih dikuasai oleh amarah. Cara menyelesaikan emosi tersebut adalah dengan membawa-nya ke hadapan Tuhan (4:6). Amarah dan keinginan untuk membalas hanya dapat dipadamkan oleh keyakinan bahwa Tuhan adalah Allah yang adil yang akan membalas menurut waktu dan kehendak-Nya (bandingkan dengan Roma 12:19).

Ketiga, perkataan kepada Allah (4:7-9). Di dalam Alkitab, “wajah Tuhan” adalah perkataan yang mengungkapkan kehadiran Allah. Di sini, pemazmur mengingat kehadiran Tuhan yang sifatnya terus-menerus dalam kehidupannya. Ia merenungkan sukacita yang diberikan Allah, yang tidak ditentukan oleh kelimpahan materi. Menghayati kehadiran Allah serta meresapi sukacita di dalam dan dari diri-Nya akan membuat kita bisa menutup hari dan beristirahat dengan damai. Sebelum ber-baring dan tidur pada hari ini, sediakanlah waktu untuk membaca ulang Mazmur 4 ini dan memeriksa jiwa kita di hadapan Allah. [GI Williem Ferdinandus]

Allah Lebih Besar dari Masalah Anda

Mazmur 3

Pernahkah Anda mengalami kondisi saat seluruh dunia terasa seperti berkonspirasi memusuhi diri Anda, semua yang Anda kerjakan salah, dan orang yang dekat dengan diri Anda hanya menambah masalah? Jika Anda pernah atau sedang menghadapi masalah yang menumpuk yang membuat Anda sulit tidur atau tidak dapat tidur dengan tenang, Anda dapat berkaca dan belajar banyak dari Mazmur 3 ini.

Mazmur 3 ini ditulis oleh Daud saat ia lari dari Absalom (3:1), yaitu saat terjadinya peristiwa kudeta yang dilakukan oleh Absalom (2 Samuel 15). Absalom—anak kandung Daud—perlahan-lahan merebut hati rakyat dan mendeklarasikan diri sebagai raja Israel. Tidak hanya rakyat yang membelot, Ahitofel—penasihat kepercayaan Daud—juga turut membelot dan mendukung Absalom. Daud menyadari datangnya bahaya, sehingga ia segera melarikan diri dari Yerusalem bersama-sama dengan orang-orang kepercayaan yang masih setia kepadanya.

Mazmur 3 merekam kondisi jiwa Daud dalam situasi di atas. Jiwa-nya menyadari betapa banyak orang yang ingin menyingkirkannya, dan ia beranggapan bahwa tidak akan ada keselamatan baginya (3:2-3). Akan tetapi, Daud percaya penuh kepada Tuhan yang melindungi diri-nya dan mendengar keluh kesahnya (3:4-5). Di tengah tekanan, ia tetap bisa tidur. Tidur adalah kondisi tanpa perlawanan. Orang yang sedang tidur tidak bisa menyandang pedang atau mengangkat perisai. Tidur adalah kondisi tanpa perlindungan. Oleh karena itu, orang yang merasa tidak aman akan sulit tidur dan sulit beristirahat. Akan tetapi, Daud bisa tidur dan bangun sebab ia percaya bahwa Tuhan menjaganya (3: 6-7).

Mengapa Daud bisa tetap berharap kepada Allah? Tampaknya, Daud mengingat pertolongan Tuhan di masa lalu. Ayat 8 mengatakan bahwa Tuhan “telah” menghukum musuh-musuhnya sebagai rangkuman semua peristiwa yang terjadi di masa lalu. Mungkin ia mengingat bagaimana Tuhan menolong saat ia masih menggembalakan kambing domba sampai setelah ia menjadi raja.

Seperti Daud, kita perlu senantiasa mengingat bahwa sesungguhnya Allah lebih besar dari segala masalah kita. Ia tidak pernah meninggalkan kita dan senantiasa mendengar keluh kesah kita. Agar keyakinan kita kepada Allah semakin kuat saat menghadapi masalah, ingatlah segala kebaikan dan pertolongan Allah di masa lalu. [GI Williem Ferdinandus]

Raja Yang Diurapi Tuhan

Mazmur 2

Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa orang yang akan dipakai Tuhan pada umumnya diurapi dengan minyak. Pengurapan atas para imam, para nabi dan para raja merupakan simbol pemilihan dan pengudusan mereka untuk melayani Allah (bandingkan dengan Imamat 8:10-13; 1 Samuel 9-10; 16:1-13; 1 Raja-raja 19:16; Mazmur 105:15). Dalam Mazmur 2, terdapat rujukan terhadap “yang diurapi Tuhan” (2:2). Dari ayat-ayat selanjutnya, kita dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud adalah raja Israel (2:6).

Dari permulaan Mazmur ini, kita bisa menemukan adanya penolakan terhadap kepemimpinan dari raja yang diurapi Tuhan (2:1-3). Penolakan ini tidak main-main karena yang menolak pemerintahan sang raja adalah bangsa-bangsa, raja-raja dunia, dan para pembesar. Raja yang diurapi adalah pelayan Allah. Oleh karena itu, perlawanan pada dirinya adalah bentuk perlawanan kepada Tuhan. Namun, Tuhan adalah Allah yang mahakuasa dan berdaulat. Tidak ada yang dapat melawan ketetapan dan kuasa-Nya (ay. 4-9). Perlawanan kepada Tuhan dan raja yang diurapi-Nya akan berakhir dengan kehancuran dan kebinasaan (2:9). Oleh karena itu, respons yang tepat semestinya adalah menundukkan diri dan menghormati Allah, yang dalam hal ini diwakili oleh raja yang diurapi-Nya (2:10-12). Jelas bahwa ketundukan pada raja yang diurapi ini memprasyaratkan bahwa sang raja sendiri adalah raja yang adil, benar, dan hidup dalam ketaatan pada hukum Tuhan (bandingkan dengan Ulangan 17:14-20).

Selanjutnya, penting bagi kita untuk mencermati bahwa kata Ibrani untuk istilah “yang diurapi” adalah “Mesias”, sedangkan kata Yunaninya adalah “Kristus.” Tidaklah mengherankan bahwa dalam Perjanjian Baru, para rasul beranggapan bahwa Mazmur 2 ini membicarakan Yesus Kristus sebagai sosok Raja yang diurapi Tuhan (Kisah Para Rasul 4:25-26; 13:33; Ibrani 1:5). Yesus Kristus adalah Raja yang adil dan benar, yang ditetapkan Allah untuk memerintah dan menghakimi umat-Nya. Kita hanya mempunyai dua pilihan, yaitu menundukkan diri kepada Yesus Kristus atau menolak Dia. Agar kita bisa memiliki kehidupan yang bercirikan damai sejahtera dan sukacita, kita harus menundukkan diri di hadapan Yesus Kristus. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya! [GI Williem Ferdinandus]