Sikap Terhadap Orang yang Lemah

Ulangan 24

Sesudah masuk ke Tanah Kanaan, orang Israel harus memperhatikan ketentuan perlakuan terhadap kaum lemah, miskin, atau papa. Meskipun orang-orang itu tidak berdaya, bukan berarti bahwa orang yang lebih kuat, lebih kaya, lebih berkuasa boleh memperlakukan orang-orang yang tidak berdaya itu dengan semena-mena.
Terhadap sesama umat Israel, orang yang memiutangi tidak boleh meminta riba (Imamat 25:35-37), tetapi mengambil barang milik pemin-jam sebagai gadai diizinkan. Barang yang digadaikan harus didasarkan atas persetujuan bersama untuk menjamin bahwa peminjam akan melunasi hutangnya. Perhatikan bahwa orang Israel dilarang berbuat semena-mena dengan mengambil barang yang sangat penting—bagi kehidupan si peminjam—sebagai gadai. Barang yang tidak boleh diambil sebagai gadai misalnya batu kilangan (yang merupakan sumber mata pencaharian si peminjam, Ulangan 24:6) atau kain yang merupakan satu-satunya kain yang dimiliki oleh si peminjam (sehingga sangat diperlukan untuk menghangatkan badan saat tidur di malam hari). Orang yang memiutangi tidak boleh masuk ke rumah si peminjam untuk mengambil barang gadaian. Barang yang digadaikan diberikan oleh si peminjam di luar rumahnya. Dengan demikian, Allah menjaga kehormatan si peminjam, meskipun ia adalah orang miskin. Jika peminjam miskin, barang yang digadaikan itu sangat penting bagi dirinya. Oleh karena itu, orang yang memiutangi harus segera mengembalikan barang yang su-dah telanjur diterima sebagai barang gadai (24:10-13). Seorang majikan tidak boleh memeras pekerja yang miskin dan menderita. Upah pekerja harus dibayar tepat waktu, tidak boleh ditahan, karena upah itu sangat dibutuhkan. Jangan menunggu sampai pekerja itu berseru (berdoa) kepada Allah meminta keadilan (24:14-15). Orang asing, anak yatim, dan janda tidak boleh ditindas. Hasil panen harus disisihkan untuk mereka (24:17-21; bandingkan dengan Imamat 19:9-10).
Perintah Allah agar orang Israel memperhatikan kepentingan orang yang miskin itu dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa mereka pernah menjadi budak di Mesir (24:18,22). Setelah menerima anugerah Tuhan, mereka harus berbuat baik kepada sesama manusia. Rasul Paulus mengingatkan jemaat agar tidak jemu-jemu berbuat baik, karena kelak kita akan menuai upah (Galatia 6:9). [GI Wirawaty Yaputri]

Jabatan Rohani

Ulangan 23

Benarkah seorang laki-laki yang cacat organ vitalnya tidak boleh masuk menjadi anggota jemaah Allah (23:1)? Benarkah anak haram juga tidak boleh masuk menjadi anggota jemaah Allah (23:2)? Beberapa penafsir Alkitab mengatakan bahwa kemungkinan besar, orang-orang yang mengalami cacat di organ vital dan anak yang haram tidak boleh menduduki jabatan rohani maupun politik, bukan tidak boleh menjadi anggota umat Allah. Kata jemaah atau congregation dapat berarti kumpulan anggota jemaah atau umat (misalnya dalam 31:30), namun dapat juga berarti kumpulan para pemimpin (misalnya dalam 31:28). Pandangan ini lebih konsisten dengan tema-tema atau prinsip-prinsip lain dalam Alkitab.
Jika Allah tidak dapat menerima seorang yang cacat organ vitalnya, misalnya cacat yang dialami karena kecelakaan, maka ketentuan ini tidak konsisten dengan sifat Allah yang Maha Pengasih. Karena kecelakaan yang menimpa, ia tidak boleh menjadi umat Allah meskipun ia sungguh-sungguh percaya. Ini jelas tidak sesuai dengan kepribadian Allah. Jika Allah tidak menerima seorang anak haram, ini ju-ga tidak sesuai dengan firman bahwa seorang anak tidak boleh dihukum karena dosa orang tuanya. Setiap orang harus dihukum menurut dosa-nya sendiri (Ulangan 24:16). Anak haram yang dimaksud di sini—menu-rut beberapa penafsir—kemungkinan adalah anak hasil perkawinan orang Israel dengan bangsa lain yang tidak mengenal Allah. Anak seperti ini lahir ke dunia bukan karena niatnya sendiri, melainkan karena Allah mengizinkan ia hidup. Bagaimana mungkin Allah tidak menerimanya ketika ia sungguh-sungguh mau taat dan percaya kepada Allah?
Tetapi jika orang-orang demikian tidak boleh menduduki jabatan rohani atau politik tertentu, ini adalah hal yang dapat diterima. Pemimpin-pemimpin sepatutnya merupakan orang-orang terpilih dan orang-orang terbaik. Secara kerohanian dan fisik, mereka harus yang terbaik, sehingga mereka dapat melakukan tugas pelayanan mereka dengan baik tanpa keberatan-keberatan tertentu. Sepatutnya kita sangat ber-syukur kalau Tuhan memanggil kita menjadi pemimpin yang melayani tanpa melihat kondisi fisik kita, bahkan Ia berkenan memakai kita yang penuh dengan kelemahan dan dosa. Mari, layanilah Dia dengan sungguh-sungguh! [GI Wirawaty Yaputri]
34

Mengasihi Sesama

Ulangan 22

Allah ingin agar orang Israel—yang kelak akan memasuki Tanah Perjanjian—sungguh-sungguh hidup mengasihi orang lain, bukan hanya mengasihi diri sendiri. Kasih kepada Allah harus dibuktikan dengan kasih kepada sesama. Dalam 1 Yohanes 4:20 tertulis, “Jikalau seseorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.”
Orang Israel yang sudah menerima kasih Allah dan tidak mau me-ngasihi sesamanya dipandang berdosa oleh Allah. Dalam Yakobus 4:17 dikatakan, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Allah memerintahkan orang Israel untuk mengasihi dengan cara menolong sesama yang sedang menghadapi kesulitan. Allah menekankan berkali-kali bahwa orang Israel tidak boleh berpura-pura tidak mengetahui kesulitan sesama dan kemudian menutup mata (Ulangan 22:1, 3, 4). Pertolongan kepada sesama itu mencakup menolong hewan dan mengembalikan barang yang dimiliki orang itu. saat seseorang menemukan hewan yang dimiliki sesamanya tersesat atau rebah di jalan, Allah memerintahkan agar mereka menolong hewan itu. Bila mereka menemukan pakaian atau barang lain, pakaian atau barang lain itu harus dikembalikan kepada pemiliknya. Hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan perintah mengasihi itu adalah perintah untuk mengasihi secara mendalam dan dengan kesungguhan hati. Mengasihi seseorang mencakup kepedulian terhadap apa yang dimiliki oleh orang itu.
Perintah untuk mengasihi adalah panggilan bagi setiap orang percaya. Kasih kepada sesama harus bersifat mendalam dan sungguh-sungguh, bukan hanya kasih di mulut saja. Kasih harus diwujudkan dalam perbuatan. Pada zaman ini, semakin sulit menemukan orang yang bersedia menolong orang lain karena setiap orang mencari kepentingan diri sendiri. Perkataan yang biasa menjadi alasan adalah, “Hidup saya sendiri saja sudah susah, bagaimana saya dapat menolong orang lain?” Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus memberikan perintah, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39b). Kasih harus diwujudkan dengan menolong orang lain secara sungguh-sungguh. Sudahkah Anda melakukannya? [GI Wirawaty Yaputri]

Darah Penebusan

Ulangan 21

Bila terjadi pembunuhan di Israel yang tidak diketahui pelakunya, mengapa harus ada persembahan korban untuk mengadakan pendamaian bagi orang Israel (21:1-9)? Menurut Bilangan 35:33-34, Allah berdiam di tengah-tengah orang Israel. Kehadiran Allah membuat tanah yang didiami orang Israel—yang merupakan tanah pemberian Allah kepada mereka—tidak boleh dicemari atau dinajiskan dengan penum-pahan darah karena pembunuhan. Pembunuhan merupakan perbuatan jahat yang menimbulkan kenajisan di Tanah Perjanjian, sehingga pembu-nuhan merupakan kekejian di mata Allah. Darah yang ditumpahkan karena pembunuhan hanya dapat didamaikan dengan penumpahan darah terhadap pelaku pembunuhan. Oleh karena itu, adanya pembu-nuhan yang pelakunya tidak diketahui menuntut diadakannya persem-bahan korban untuk mengadakan pendamaian guna menghindarkan hukuman Allah. Ingatlah bahwa darah hewan—baik hewan yang disem-belih untuk korban atau disembelih untuk dimakan—harus dicurahkan dan tidak boleh dimakan (bandingkan dengan Imamat 7:26).
Ketika orang Israel mendapati adanya kecemaran karena kemati-an seseorang yang dibunuh dengan tidak diketahui pembunuhnya, tua-tua yang ada di kota yang terdekat dengan mayat itu harus mengada-kan upacara pendamaian. Imam-imam dari bani Lewi yang memimpin upacara ini. Para tua-tua harus membawa seekor lembu muda ke suatu lembah yang selalu berair serta belum pernah dikerjakan atau ditaburi. Di sana, lembu muda itu dipatahkan batang lehernya dan para tua-tua membasuh tangan mereka dengan darah lembu itu. Mereka harus me-ngatakan bahwa mereka tidak menumpahkan darah orang yang mati itu, dan tidak melihat kejadian tersebut. Kemudian, mereka berdoa agar Allah mengadakan pendamaian bagi orang Israel (Ulangan 21:3-8).
Darah lembu muda yang dicurahkan untuk pendamaian bagi dosa dan kejahatan yang dilakukan oleh orang tidak dikenal adalah tipologi atau tipe dari darah Yesus yang harus dicurahkan bagi pendamaian dosa. Dosa tidak dapat dihapus dengan apapun kecuali dengan darah Yesus Kristus. Di zaman Perjanjian Lama, orang mencurahkan darah hewan sebagai korban untuk menggantikan dosa-dosanya, namun Yesus Kristus telah menjadi korban yang darah-Nya dapat menghapus dosa orang-orang yang percaya kepada-Nya. [GI Wirawaty Yaputri]

Jumlah Bukan Faktor Terpenting

Ulangan 20

Hal utama yang penting untuk diingat oleh orang Israel pada waktu mereka hendak berperang adalah bahwa mereka tidak boleh merasa takut dan mereka harus memercayai Allah (20:1). Dasar kepercayaan mereka bukanlah kata-kata atau janji-janji semata, tetapi mereka harus mengingat perbuatan Allah saat menyelamatkan mereka dari tanah Mesir. Allah telah membuktikan bahwa Ia dapat diandalkan dan dapat dipercaya, sehingga orang Israel harus berperang dengan penuh keyakinan. Pada waktu mereka berperang, Allah akan menyertai mereka dan memberikan kemenangan kepada mereka (20:4). Adanya penyertaan Allah itu membuat bangsa Israel tidak boleh merasa takut terhadap musuh yang lebih kuat (musuh yang memiliki kuda, kereta, dan pasukan dalam jumlah yang lebih banyak dari mereka, 20:1).
Di mata Allah, yang menentukan adalah sikap hati, bukan jumlah orang yang pergi berperang. Ia memerintahkan setiap orang yang masih memiliki urusan yang belum selesai—mendirikan rumah, membuat kebun anggur, bertunangan—untuk pulang dan mengurus urusan pribadi lebih dulu (20:6-7). Orang yang lemah hati dan takut juga disuruh pulang agar tidak mempengaruhi orang yang hendak ikut berperang (20:8). Jumlah bukanlah penentu kemenangan. Yang penting, setiap orang yang pergi berperang harus memiliki sikap hati yang sungguh-sungguh mempercayai Allah. Di kemudian hari, Allah menerapkan ketentuan ini saat orang Israel hendak berperang melawan bangsa Midian di bawah kepemimpinan Gideon (Hakim-hakim 7). Saat itu, ada 32.000 orang yang berkumpul untuk berperang. Dalam pandangan Allah, jumlah ini terlalu banyak. Allah memulangkan 22.000 orang yang takut, dan selanjutnya memulangkan lagi 7.700 orang, sehingga yang tersisa hanya 300 orang melawan 13 ribu orang Midian. Alah memenuhi janji-nya dan memberi kemenangan kepada bangsa Israel.
Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang siap membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah (Lukas 9:62). Sayangnya, pada zaman ini, ada gereja yang mengejar pertam-bahan jumlah dan menomorduakan kesungguhan dan kemurnian iman. Gereja seperti itu menurunkan standar kesucian karena takut kehilangan anggota jemaat. Semestinya, kemajuan gereja tidak hanya dilihat dari sisi jumlah, tetapi juga dari sisi pertumbuhan rohani. [GI Wirawaty Yaputri]

Melupakan yang lama, Mengarahkan diri ke depan

Filipi 3:1-14

Salah satu kebiasaan orang saat menyambut Tahun Baru Imlek ada-lah membersihkan dan menghias rumah serta mengenakan pakaian baru. Selain menunjukkan sukacita menyambut datangnya hari raya, tindakan ini juga menjadi simbol meninggalkan apa yang sudah berlalu dan bersiap menyambut hari-hari yang cerah di depan. Sikap ini sejalan dengan ajaran Alkitab yang kita baca hari ini. Rasul Paulus berkata, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku” (Filipi 3:13).
Apa yang dilupakan Rasul Paulus? Mengapa ia melupakan hal-hal yang telah lewat? Teks Alkitab mengungkapkan bahwa yang dilupakan Rasul Paulus adalah hal-hal yang sangat membanggakan dalam pan-dangan manusia, yakni identitas kebangsaan sebagai orang Yahudi asli, status rohani sebagai orang Farisi yang secara fanatik membela kedau-latan hukum Taurat, dan praktik keagamaan yang tidak bercacat menu-rut hukum Taurat (3:4-6). Namun, semua kebanggaan itu kini menjadi tidak bernilai, bahkan dianggap sebagai kerugian dan sampah—bahasa aslinya skybalon yang berarti kotoran. Mengapa demikian? Semua ke-banggaan itu dianggap sampah karena ia mendapat sesuatu yang jauh lebih mulia, yakni pengenalan yang mendalam akan Kristus. Pengenalan itu begitu bernilai karena telah membuat ia ikut merasakan penderitaan Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya yang telah mendatangkan kesela-matan dan kebenaran kepadanya dan akan memuncak pada panggilan sorgawi saat ia mengakhiri kehidupan. Oleh karena itu, dia mengatakan bahwa ia meninggalkan semua kebanggaan duniawi yang sementara untuk mengejar panggilan sorgawi yang mulia dan kekal itu (Filipi 3:7-14).
Bertepatan dengan perayaan Imlek hari ini, masukilah tahun yang baru dengan melupakan yang lama dan mengarahkan diri kepada apa yang di depan. Dalam hal keselamatan, pahamilah bahwa hanya iman di dalam Kristus Yesus yang menyelamatkan kita, sedangkan perbuatan baik, pelayanan, ibadah atau persembahan bukan alat atau sumber keselamatan, melainkan buah atau bukti bahwa kita sudah diselamatkan oleh Kristus. Dalam kehidupan sehari-hari, tahun baru adalah masa yang tepat untuk bertekad mengejar panggilan sorgawi dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela dan penuh dosa dan mengisi hari-hari kita dengan perbuatan mulia yang memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama. Selamat tahun baru Imlek! [Pdt. Timotius Fu]

Tempat Perlindungan

Ulangan 19

Allah adalah tempat perlindungan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya (Mazmur 46:2; 61:4; 62:8; 91:1-2). Terhadap bangsa Israel, Allah secara nyata memberikan perlindungan kepada orang yang mencari perlindungan. Dalam bacaan Alkitab hari ini, orang-orang yang mencari perlindungan adalah orang-orang yang secara tidak sengaja membunuh sesamanya manusia, bukan membunuh karena membenci (Ulangan 19:4-5). Baik orang Israel maupun orang asing pendatang, boleh berlindung di kota-kota perlindungan bila mereka membunuh orang dengan tidak disengaja (Lihat Bilangan 35:15). Musa telah menentukan tiga kota di seberang sungai Yordan—yaitu Bezer, Ramot, dan Golan—sebagai kota perlindungan (Ulangan 4:41-43).
Tuhan memerintahkan agar orang Israel membuat tiga kota tempat perlindungan lagi sesudah mereka masuk ke Tanah Kanaan. Kota-kota perlindungan ini harus mudah dijangkau dan berada dalam jarak yang proporsional (seimbang)—yaitu di tengah-tengah—diukur dari seluruh wilayah pemukiman bangsa Israel di Tanah Kanaan yang akan mereka duduki (19:2). Hal ini terlihat jelas dalam terjemahan Alkitab versi NET2 (New English Translation, edisi kedua), “you must set apart for yourselves three cities in the middle of your land that the Lord your God is giving you as a possession.” (Ulangan 19:2). Sesudah mereka mendu-duki seluruh Tanah Kanaan, mereka harus menambah kota perlindungan di atas dengan tiga kota lagi di sebelah Barat sungai Yordan (19:8-9). Maksudnya adalah agar setiap orang yang ingin berlindung ke kota perlindungan mendapat akses yang cepat (tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada). Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai mereka bisa dibunuh terlebih dahulu oleh penuntut tebusan darah sebelum mereka tiba di kota perlindungan. Perlu disadari bahwa penuntut tebusan darah ada karena Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Tindakan membunuh adalah kejahatan dan dosa besar di mata Tuhan. Oleh karena itu, wajar bila seorang pembunuh dibunuh oleh penuntut tebusan darah (bandingkan dengan Kejadian 9:6).
Kota-kota perlindungan adalah gambaran bagi perlindungan yang sejati di dalam Yesus Kristus. Kita dapat mengandalkan Dia sebagai tempat perlindungan kita pada waktu kita membutuhkan (Ibrani 6:18). Pandanglah Dia dan berlindunglah pada-Nya! [GI Wirawaty Yaputri]

Jangan Menduakan Allah

Ulangan 18

Mengapa Allah melarang orang Israel meniru berbagai macam praktik supranatual yang biasa dilakukan oleh orang Kanaan seperti mempersembahkan anak sebagai korban dalam api, bertenung, meramal, menelaah, menyihir, memantera, bertanya kepada arwah atau roh peramal, serta meminta petunjuk kepada orang mati (18:9-11)? Praktik-praktik yang dilakukan orang-orang Kanaan tersebut merupakan tindakan menyembah kepada ilah-ilah yang bukan Allah. Orang-orang itu menggantikan Allah yang merupakan Pencipta langit bumi dan segala isinya dengan ilah-ilah yang bukan Allah. Orang-orang yang mencari hubungan dengan arwah atau roh-roh supranatural telah menghina Allah yang seharusnya menjadi Sumber dari segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Oleh karena itu, Allah memandang perbuatan-perbuatan orang-orang Kanaan di atas sebagai kekejian, sehingga Ia menghukum mereka dengan membinasakan dan menghalau mereka dari tanah Kanaan (18:12). Orang-orang Israel yang mencari jawaban, pertolongan, atau petunjuk dari arwah atau setan yang berkedok roh-roh pintar, sudah menduakan Allah dengan mengikatkan diri kepada roh-roh yang merupakan setan-setan. Mereka melanggar hukum pertama: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3).
Orang-orang yang mencari petunjuk atau pertolongan dari kuasa-kuasa gelap atau setan adalah orang-orang yang tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Allah lebih berkuasa dari kuasa gelap atau setan, padahal Ialah yang menciptakan segala sesuatu. Dalam Perjanjian Baru, setan-setan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berkuasa dan mereka takut kepada-Nya (Matius 8:28-32). Orang-orang yang mencari petunjuk dan pertolongan dari kuasa-kuasa gelap ingin mendapatkan jawaban atau solusi masalah mereka dengan cepat. Mereka tidak percaya bahwa Allah sanggup dan mau menolong mereka pada waktu yang tepat.
Walaupun kuasa gelap kelihatannya bisa memberi solusi, sebenar-nya orang yang mencari pertolongan dari kuasa gelap akan diperbudak dan membayar harga yang sangat mahal. Mula-mula, seakan-akan mereka bisa mendapatkan keuntungan. Akan tetapi, selanjutnya mereka akan diperhamba oleh setan. Kebaikan dan pertolongan sejati hanya datang dari Allah saja (Yakobus 1:17). [GI Wirawaty Yaputri]

Berbuat Adil

Ulangan 16:18-17:20

Mudahkah berbuat adil di dalam kehidupan kita sehari-hari? Tidak mudah, bahkan dapat dikatakan sangat sulit! Sistem dunia yang jahat membuat manusia sering kali sulit berbuat adil. Berbuat adil semakin sulit untuk dilakukan setelah seseorang memiliki kekuasaan atau otoritas. Kekuasaan yang dimiliki membuat seseorang dapat dengan mudah menyelewengkan keadilan. Orang-orang yang berada di bawah kuasa atau otoritas orang tersebut tidak akan mampu protes atau berbuat apa-apa selain menerima perbuatan tidak adil yang dilakukan atasan mereka. Namun, di mata Tuhan, berbuat tidak adil adalah dosa.
Allah memerintahkan agar orang Israel mengangkat hakim-hakim karena mereka tinggal tersebar di Tanah Kanaan. Allah memerintahkan agar ibadah dilakukan di tempat yang Ia pilih kelak, yaitu di Yerusalem. Di sana, ada imam-imam, orang-orang Lewi, dan hakim-hakim. Mereka akan memutuskan perkara yang terlalu sukar untuk diputuskan oleh hakim-hakim lokal (17:8-9). Namun, perkara sehari-hari diputuskan oleh hakim-hakim di daerah masing-masing. Allah ingin agar semua hakim memutuskan perkara dengan benar. Tidak memutarbalikkan keadilan, dan tidak menerima suap (16:18-19). Allah yang Adil tidak dapat menerima orang-orang yang melakukan ketidakadilan. Pada waktu seseorang melakukan ketidakadilan, ada orang lain yang dianiaya, dirugikan, atau ditindas hak-hak mereka. Allah tidak ingin orang Israel melakukan hal-hal tersebut kepada orang lain. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa hukum yang kedua adalah perintah untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri (Matius 22:39). Ketika seseorang melakukan ketidakadilan, tindakan tersebut menunjukkan bahwa dia tidak mengasihi sesamanya, melainkan menindas mereka. Perlakuan tidak adil ini dibenci oleh Allah.
Apakah Anda sudah berbuat adil di dalam hidup Anda? Ketika hak orang-orang lain ada di bawah kekuasaan Anda, apakah Anda sudah berbuat adil kepada mereka? Sebaliknya, saat Anda memiliki kuasa, apakah Anda justru dengan seenaknya tidak memberikan apa yang menjadi hak orang lain (misalnya dengan terlambat membayar gaji pegawai)? Apakah Anda mudah mengambil apa yang menjadi hak orang lain? Apakah Anda selalu memutuskan perkara dengan adil, atau Anda justru menindas orang yang lemah? [GI Wirawaty Yaputri]

Hari Raya Utama

Ulangan 16:1-17

Ada tiga hari raya utama yang ditegaskan Allah untuk dilakukan oleh orang Israel. Mengapa Allah memerintahkan agar orang Israel melakukan ketiga perayaan utama tersebut? Tujuannya adalah agar orang Israel senantiasa mengingat perbuatan Allah di masa lampau (16:3b, 12). Orang-orang Israel yang akan masuk ke tanah Kanaan adalah generasi baru yang mungkin belum pernah melihat atau mengalami perbuatan Tuhan di masa lampau. Hari-hari raya ini menjadi sangat penting bagi mereka. Hari raya apa saja yang diperintahkan Allah untuk mereka rayakan?
Pertama, Hari Raya Roti Tidak Beragi. Hari raya ini dimaksudkan agar bangsa Israel mengingat bahwa Allah telah membawa mereka keluar dari Tanah Mesir. Hari raya ini berkaitan dengan peringatan Paskah bagi Allah. Pada bulan pertama penanggalan mereka, pada hari ke-14 sore, mereka mengadakan Paskah bagi Tuhan. Pada hari ke-15, selama 7 hari, mereka harus memakan roti yang tidak beragi, memper-sembahkan korban api-apian. Pada hari ke-7, mereka mengadakan perkumpulan raya (16:8, bandingkan dengan Imamat 23:5-8). Kedua, Hari Raya Tujuh Minggu. Hari raya ini diperingati tujuh minggu setelah orang mulai menyabit gandum yang belum dituai. Hari raya ini merupakan hari raya ucapan syukur atas panen yang diberkati Tuhan. Pada hari raya ini, orang Israel membawa persembahan sukarela kepada Tuhan, sesuai dengan berkat Tuhan yang telah mereka terima (Ulangan 16:9-10). Ketiga, Hari Raya Pondok Daun. Hari raya ini diadakan setelah orang Israel selesai mengumpulkan hasil pengirikan gandum dan pemerasan anggur, mulai dari hari pertama (Sabat) sampai hari ke-8 (Sabat berikutnya) (16:13-15). Selama hari raya ini, orang Israel mengambil waktu untuk beristirahat dan menikmati berkat Tuhan. Hari raya ini dimulai dengan istirahat penuh dan ditutup pula dengan istirahat penuh. Tujuan dari hari raya ini adalah untuk mengingat dan bersyukur atas pemeliharaan Tuhan dalam hidup mereka selama mereka mengembara di padang gurun (bandingkan dengan Imamat 23:39).
Semua hari raya agamawi itu penting bagi iman kita. Hari raya tidak boleh dilakukan sebagai sekadar rutinitas belaka, melainkan harus kita pahami maknanya. Melalui hari-hari raya, kita kembali mengingat perbuatan Tuhan bagi kita yang telah terjadi di masa lampau. [GI Wirawaty Yaputri]