Perjalanan Itu Merupakan Tujuan

Markus 4:21-41

Hasil lebih penting dari proses atau proses lebih penting dari hasil atau dua-duanya penting (proses dan hasil sama penting)? Perlukah kita membuat pengkategorian untuk menjawab pertanyaan di atas? Di dunia bisnis, hasil sangat penting karena ketiadaan hasil berarti ketiadaan profit (keuntungan). Akan tetapi, profit yang diperoleh secara tidak saleh akan membuat kita berhadapan dengan hukum. Bagaimana halnya bila masalah ini diterapkan untuk pertumbuhan rohani?
Tuhan Yesus mengajak para murid untuk bertolak menyeberangi Danau Galilea dengan memakai perahu. Di tengah jalan, tanpa diduga, mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu sehingga perahu itu penuh dengan air. Ketaatan para murid terhadap ajakan Tuhan Yesus membuat nyawa mereka ter-ancam. Parahnya, Yesus Kristus—yang bersama-sama dengan mereka—bisa-bisanya tidur, seakan-akan tidak mempedulikan situasi mencekam yang sedang terjadi. Reaksi sarkastis para murid ketika membangunkan Tuhan Yesus dapat dimengerti. Mereka berseru, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”. Tuhan Yesus bangun, menghardik angin, lalu berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Hanya dua kata saja yang diucapkan Tuhan Yesus dan angin menjadi reda sehingga danau itu menjadi teduh sekali. Murid-murid yang semula ketakutan karena perahu mereka terancam tenggelam, sekarang menjadi sangat takut melihat seorang Manusia yang perintah-Nya ditaati oleh angin dan danau (4:35-41). Seandainya tidak ada amukan taufan dan semburan ombak, seandainya para mantan nelayan itu menolak menyeberang karena sudah memprediksi cuaca yang tidak bersahabat, mereka tidak akan melihat kebesaran Tuhan. Bukan tempat tujuan yang penting. Tuhan Yesus tidak menyebut tempat tujuan yang akan mereka datangi. Akan tetapi, perjalanan itu sendiri menjadi sangat penting karena di dalam perjalanan itulah mereka semakin mengenal siapa Yesus itu.
Kita cenderung ingin memastikan outcome (hasil, tujuan, capaian, dll) dari segala usaha yang kita lakukan berhasil atau mencapai target. Untuk itu, kita bisa menghalalkan segala cara atau mengambil jalan pintas. Jangan melupakan dan mengabaikan proses untuk mencapai tujuan. Perjalanan untuk mencapai tujuan akan membentuk kita. Perjalanan yang dipersingkat justru akan membuat kita kehilangan pengalaman yang paling berharga! [GI Mario Novanno]

Celah Antara Pengetahuan dan Perbuatan

Markus 4:1-20

Jarak terjauh di bumi bukanlah jarak antara ujung bumi yang satu dengan ujung bumi yang lainnya. John Maxwell mengatakan: “The greatest gap in the world is the gap between knowing and Doing.” (Jarak terjauh dalam dunia adalah jarak antara pengetahuan dan perbuatan). Ada kebenaran alkitabiah yang penting dalam teks yang mendasari renungan hari ini.
Tuhan Yesus mengajar tentang pendengar dan pelaku firman de-ngan memakai perumpamaan tentang penabur. Ada empat jenis wadah tempat benih yang ditaburkan itu jatuh, yaitu pinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, semak duri, dan tanah yang baik. Semua wadah mendapat taburan benih. Pembedanya terletak pada kualitas wadah (tanah) penerima benih. Demikian juga mereka yang (sering) mendengarkan firman. Jika diibaratkan sebagai wadah, ada tipe pendengar yang seperti pinggir jalan, ada tipe pendengar yang seperti tanah berbatu-batu, ada tipe pendengar yang seperti semak duri, dan ada tipe pendengar yang seperti tanah yang baik. Keempatnya adalah pendengar firman, tetapi hanya pendengar yang termasuk kategori kualitas baik yang menikmati pertumbuhan, yaitu mereka yang bukan hanya mendengar, menerima informasi, mendapat pengetahuan, dan menyimpan dalam hati, tetapi juga menerapkan (menggunakan) informasi (pengetahuan) yang mereka terima untuk mengembangkan diri serta mengikuti dorongan hati untuk bertindak sesuai dengan pimpinan Roh Kudus. Ya, merekalah yang dianggap berhasil di mata Tuhan.
Sudah berapa kali Anda mengikuti kebaktian dan mendengarkan pengkhotbah inspirasional yang diurapi Tuhan? Sudah berapa kali Anda membaca Alkitab dan mendapatkan pemahaman baru oleh Roh Kudus yang membuat Anda kagum terhadap kedalaman firman Tuhan? Akan tetapi, mungkin saja Anda merasa frustrasi karena kehidupan spiritual Anda seperti berlari di atas treadmill. Anda mencerminkan situasi, “Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.” (Markus 4:12). Masalahnya bukanlah seberapa sering atau seberapa banyak Anda mendengar atau membaca. Anda sudah tahu banyak, tetapi mungkin Anda baru melakukan sedikit atau bahkan belum melakukan sama sekali. Anda enggan melakukan karena banyak informasi lain yang mengalihkan apa yang Anda tahu harus Anda lakukan sesuai dengan kehendak Allah. [GI Mario Novanno]

Disalah Mengerti

Markus 3:13-35

Yesus Kristus adalah sosok yang kontroversial. Hal ini bukan disebab-kan karena Ia tampil flamboyan, necis, atau memilih penampilan yang nyeleneh, tetapi karena Ia mengajar dan melakukan hal-hal yang dianggap bersifat provokatif dan bertentangan dengan wawasan dunia yang menjadi pola pikir dan sistem (budaya, kerohanian, etika) dalam tatanan masyarakat, baik selama masa hidup-Nya di bumi maupun pada masa kini yang diwakili oleh para pengikut-Nya. Tidak mengherankan jika banyak orang menyalahartikan dan tidak memahami diri-Nya.
Keluarga-Nya sendiri menganggap Yesus Kristus sudah tidak waras lagi (3:21). Para ahli Taurat yang khusus datang dari Yerusalem mencoba untuk menggiring opini publik dengan mengatakan, “Ia kerasukan Beelzebul. Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.” (3:22). Artinya, Tuhan Yesus dituduh kerasukan roh jahat (3:30). Tuduhan ini merupakan suatu fitnah keji yang ironisnya terlontar dari mulut orang yang dikenal sebagai ahli Kitab Suci (Taurat). Bagaimana reaksi Tuhan Yesus ketika disalahmengerti? Apakah Dia membela diri dengan nada tinggi dan balik menyerang lawan bicaranya? Tidak nampak sama sekali bahwa Yesus Kristus terprovokasi dan menjadi marah. Jika kita perhatikan dengan jeli, Yesus Kristus tidak membela diri, melainkan menyatakan kebenaran yang mengoreksi pola pikir mereka yang keliru, baik terhadap para ahli Taurat maupun terhadap ibu dan saudara-saudara-Nya. Kelihatan sekali bahwa Yesus Kristus tidak mau membuang-buang tenaga untuk berdebat kusir, apalagi membela diri-Nya.
Kesalahpahaman dapat terjadi pada siapa saja. Kita mungkin saja menjadi korban. Saat terjadi kesalahpahaman, bagaimana kita bereaksi? Apakah kita menjadi gelisah dan berusaha membela diri, bahkan membalas dengan berusaha menjatuhkan? Kita harus menyadari bahwa bila kita bisa “mengalahkan” orang lain, tidak berarti bahwa pandangan orang lain terhadap diri kita menjadi positif. Kita bertanggung jawab untuk memberi penjelasan bila terjadi kesalahpahaman, tetapi kita tidak bisa mencegah orang lain tetap berpikir dan berkata buruk tentang diri kita. Kita harus menyadari betapa sulitnya mengontrol lidah (Yakobus 3:1-8). Daripada berjuang untuk mengalahkan orang lain, lebih baik kita berpegang teguh pada kebenaran yang berasal dari firman Allah. Cara kita bereaksi saat menghadapi kesalahpahaman memperlihatkan kedewasaan kita sebagai murid Kristus. [GI Mario Novanno]

Belas Kasih yang Beresiko

Markus 3:1-12

Setiap kali tergerak untuk mengajar, menyembuhkan orang sakit atau mengusir setan, motivasi Tuhan Yesus sangat jelas: Dia digerakkan oleh belas kasihan (Markus 1:4; Matius 9:36; 14:14; bandingkan dengan Markus 8:2; Lukas 7:19, dan sebagainya). Sedemikian besar belas kasihan Tuhan Yesus sehingga seringkali Ia rela mengorbankan waktu dan energi-Nya untuk menolong orang sakit atau orang yang dirasuk setan. Belas kasihan membawa Tuhan Yesus ke dalam situasi yang membahayakan reputasi–Nya, bahkan mengancam nyawa-Nya. Berulang kali Dia berhadapan dengan kenyataan bahwa Ia menabrak tembok tebal tradisi Sabat sehingga Ia bertentangan langsung dengan para penegak tradisi. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Tuhan Yesus membongkar tradisi sakral—yaitu tradisi Sabat—dengan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Tuhan Yesus pasti sadar bahwa banyak mata yang mengamat-amati diri-Nya untuk mencari bukti guna dipakai untuk menjatuhkan diri-Nya dengan mempersalahkan Dia. Akan tetapi, Tuhan Yesus justru menunjukkan bahwa belas kasihan harus menang terhadap tradisi. Tidak ada sedikit pun kegentaran dalam diri-Nya saat Ia dengan sengaja mempertontonkan belas kasihan-Nya dengan menyembuhkan orang lumpuh di tengah ruangan rumah ibadat itu (3:1-5). Akibatnya, orang-orang Farisi segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian (yang biasanya menjadi musuh politik orang-orang Farisi) untuk membunuh Tuhan Yesus.
Sebagai manusia yang memiliki hati nurani, kita dapat merasa iba ketika melihat ada orang-orang yang tidak seberuntung diri kita. Mungkin kita memiliki keinginan untuk menolong orang-orang yang sedang bergumul dengan pernikahan mereka, kesehatan mereka, keuangan mereka, bisnis mereka, bahkan kesalahan dan dosa mereka. Akan tetapi, cukup sering bahwa dalam waktu yang singkat, keinginan itu padam saat kita mulai berhitung: Bila saya mendampingi orang itu, bagaimana bila pekerjaan saya terganggu? Berapa banyak waktu yang harus saya habiskan? Berapa uang yang harus saya keluarkan? Pehitungan untung-rugi mendasari tindakan kita. Akibatnya, bara belas kasihan kita dipadamkan oleh kekikiran kita. Kita lupa bahwa kita adalah orang-orang yang berhutang besar, sedemikian besarnya sampai kita tidak dapat melunasi hutang kita! Kita lupa bahwa sebenarnya kita adalah penerima belas kasihan Tuhan yang besar! [GI Mario Novanno]

Anggur Baru HARUS Kantong Baru

Markus 2:18-28

Perubahan membongkar status quo (keadaan tetap) dan kebiasaan. Tidak heran bahwa perubahan pasti dapat membuat orang-orang yang sudah ada di dalam comfort zone (zona nyaman) menolak dengan keras. Zona nyaman mengambil banyak bentuk dalam hidup, budaya, dan tradisi manusia. Apa yang menjadi zona nyaman Anda?
Dalam kasus orang Farisi, aktivitas berpuasa adalah kebiasaan lama, bahkan merupakan tradisi turun-temurun yang telah berusia ratusan tahun. Kemungkinan besar, orang Farisi berpuasa sebagai aktivitas tanpa makna, tanpa tujuan, tanpa manfaat (bandingkan dengan Yesaya 29:13). Puasa harus dilakukan! Adalah aneh—bahkan salah—jika puasa tidak dilakukan. Selain puasa, tradisi Yahudi yang dianggap penting adalah tidak melakukan aktivitas yang dianggap sebagai ‘kerja’—termasuk memetik bulir gandum—pada hari Sabat. Oleh karena itu, saat orang-orang Farisi melihat para murid Tuhan Yesus memetik bulir gandum pada hari Sabat, mereka langsung memprotes Tuhan Yesus, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak dipebolehkan pada hari Sabat?” (Markus 2:24). Alasan para murid memetik bulir gandum jelas, yaitu karena mereka lapar. Sebenarnya, tidak ada larangan mengolah makanan pada hari Sabat. Protes keras orang-orang Farisi didasarkan pada penafsiran yang melenceng terhadap aturan Sabat. Mereka terbiasa menegakkan “kebenaran” versi mereka sendiri. Mereka kesal melihat betapa beraninya para murid Tuhan Yesus melanggar aturan Sabat di depan mata mereka. Perubahan (pelanggaran) terhadap tradisi harus dicegah!
Dunia berubah dengan sangat cepat. Teknologi informasi mendorong perubahan di hampir setiap aspek kehidupan manusia. Dunia menjadi kampung global karena semua informasi dapat dibagikan melalui ujung jari. Kita dipaksa menyesuaikan diri! Masalahnya, sering kali kita berpikir bahwa cara lama lebih baik daripada cara baru. Pola pikir kita (anggur lama) dibayangi keberhasilan di masa lalu (kantong lama). Kesuksesan pelayanan (anggur lama) di suatu gereja di masa lalu (kan-tong lama) sering dijadikan benchmark (standar) tanpa filter (penyaring). Tuhan Yesus berkata bahwa anggur baru HANYA dapat disimpan dalam kantong baru. Perubahan tidak mudah, tetapi tidak terelakkan. Kita perlu unlearn (melucuti apa yang kita tahu) supaya dapat relearn (belajar lagi untuk menyesuaikan diri). Bersediakah Anda? [GI Mario Novanno]

Sahabat Sejati

Markus 2:1-17

Di dalam dunia yang terkoneksi ini, terdapat suatu ironi. Meskipun manusia dengan mudah dapat berhubungan melalui berbagai media sosial/media komunikasi, faktanya adalah bahwa manusia sering tidak terhubung secara nyata. Relasi antar manusia tidak menjadi semakin dalam, tetapi semakin dangkal. Banyak orang mengalami kesepian. Kehadiran secara nyata semakin dibutuhkan. Kepedulian yang tulus semakin dirindukan. Persahabatan yang “dalam” yang dibuktikan melalui kesediaan menjalani kehidupan dengan bergandengan tangan menjadi tantangan bagi komunitas orang percaya.
Narasi (kisah) orang lumpuh yang disembuhkan dalam bacaan Alkitab hari ini memperlihatkan bagaimana seharusnya menjadi sahabat yang sejati. Usaha sahabat-sahabat orang lumpuh itu tidaklah kecil. Mereka harus menggotong sahabat mereka yang lumpuh (bayangkan bahwa selain mereka harus mengeluarkan banyak tenaga, di antara mereka juga harus ada komunikasi dan kerja sama yang baik). Mereka mengambil risiko tinggi saat dengan nekat mereka membobol atap rumah orang yang (mungkin) tidak mereka kenal. Mereka mengusik konsentrasi orang-orang yang sedang mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus. Mengapa mereka begitu berani membayar harga bagi sahabat mereka? Selain kasih, mereka memiliki keyakinan yang teguh bahwa Yesus Kristus adalah jawaban bagi permasalahan sahabat mereka yang lumpuh. Tuhan Yesus melihat hati mereka. Penulis Injil Markus mencatat bahwa saat melihat IMAN mereka, Tuhan Yesus berkata kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (2:5). Masalah terbesar (yaitu dosa) telah diselesaikan, masalah kesembuhan mengikuti.
Setelah menyembuhkan dengan perkataan yang menuai polemik, Tuhan Yesus memperlihatkan lebih jelas arti menjadi sahabat sejati saat Ia pergi ke pantai danau dan memanggil Lewi untuk menjadi sahabat-Nya (bukan hanya menjadi murid, lihat Yohanes 15:15). Kita tahu siapa Lewi: Ia adalah seorang pemungut cukai! Umumnya, pemungut cukai memungut pajak secara berlebihan sehingga menyebabkan kesusahan finansial dan dianggap pengkhianat oleh sesama orang Yahudi. Sekalipun demikian, Tuhan Yesus tidak mencerca atau menolak, melainkan memilih Lewi menjadi sahabat-Nya. Beranikah Anda menjangkau orang yang kita tahu bahwa sejarah hidupnya kelam atau reputasinya buruk? Sahabat macam apakah Anda bagi sesama manusia? [GI Mario Novanno]

Fokus Pada Panggilan

Markus 1:29-45

Sesuatu yang fenomenal mudah menarik perhatian, baik secara lang-sung maupun tidak. Orang-orang takjub terhadap pengajaran Yesus Kristus yang berkuasa, pengusiran roh jahat yang Dia lakukan, serta tindakan penyembuhan yang tidak biasa terhadap ibu mertua Simon. Orang-orang dengan sukarela dan sukacita menyebarkan kabar baik itu. Maka, berkerumunlah seluruh penduduk kota membawa orang-orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan kerasukan setan di depan pintu tempat Tuhan Yesus berada. Tuhan Yesus menyembuhkan banyak orang sakit dan mengusir banyak setan. Pelayanan-Nya membuat Dia langsung naik daun pada saat itu juga. Publikasi melalui instagram, facebook, website, youtube, atau sms blast tidak diperlukan lagi! Semua orang mencari Dia! Semakin banyak orang yang ingin mendapatkan jasa pelayanan-Nya. Yesus Kristus menjadi Sosok penting dalam sekejap. Jelas bahwa situasi seperti ini merupakan momentum berharga yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya supaya memberi keuntungan. Apakah pemikiran semacam ini yang terbersit dalam pikiran para murid? Setelah bertemu dengan Tuhan Yesus, mereka justru mendapat jawaban yang (mungkin) mengecewakan nalar mereka dan membuat mereka tidak dapat berkata-kata. Yesus Kristus menjawab, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” (1:38). Entah apa yang terbersit dalam pikiran murid-murid saat itu. Mungkin saja mereka berpikir, “Apa? Ayolah! Kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang kedua kali!”
Yesus Kristus tahu jelas panggilan-Nya. Tujuan utama kedatangan-Nya ke bumi bukanlah untuk menyembuhkan orang sakit atau mengusir setan. Ia tidak datang ke dunia untuk mengerjakan apa yang dianggap baik oleh dunia atau orang banyak. Ia datang untuk mengerjakan hal terbaik menurut kehendak Bapa-Nya, yaitu memberitakan Injil. Apakah yang sedang Anda lakukan saat ini adalah pekerjaan (termasuk pelayanan) yang baik? Sadarkah Anda bahwa ada pekerjaan terbaik yang dapat Anda lakukan, yang hanya dapat terwujud jika Anda berani merespons dengan tepat terhadap panggilan yang Tuhan nyatakan kepada diri Anda? Musuh dari yang terbaik bukanlah hal-hal yang buruk. Musuh dari yang terbaik adalah hal-hal baik yang membuat kita mengabaikan hal yang terbaik. [GI Mario Novanno]

Fokus Pada Allah

Ulangan 27

Ada beberapa hal menarik yang penting untuk diperhatikan di dalam perintah Allah kepada orang Israel pada renungan hari ini: Pertama, Allah memerintahkan orang Israel untuk membangun mezbah dan mem-persembahkan korban bakaran di gunung Ebal ketika mereka mulai memasuki tanah Kanaan (27:1-8). Kedua, orang Israel diperintahkan untuk menuliskan perkataan-perkataan hukum Taurat Tuhan di atas batu-batu yang dilapis dengan kapur (27:2,3,8).
Hal menarik yang perlu diperhatikan adalah bahwa batu-batu besar yang didirikan orang Israel tidak boleh dipahat atau tidak boleh diolah sama sekali dengan perkakas besi (27:5). Mengapa Allah memberi perintah seperti itu? Seorang penafsir Alkitab memberikan tiga alasan: Pertama, Allah tidak ingin perhatian umat-Nya beralih dari Allah—yang harus mereka sembah—kepada keindahan dari batu yang dipahat. Fo-kus penyembahan haruslah Allah dan bukan hasil kreasi manusia! Kedua, penyembahan yang berkenan kepada Allah adalah yang sesuai dengan prinsip atau cara yang Ia berikan, bukan berdasarkan cara manusia. Ketiga, batu yang dipahat kemungkinan besar adalah karakteristik (ciri) praktik penyembahan berhala bangsa Kanaan. Ingatlah bahwa penyem-bahan kepada Allah harus didasarkan pada firman Allah dan tidak boleh dilakukan dengan cara-cara manusia.
Hal menarik lainnya adalah perintah Allah agar bangsa Israel menuliskan hukum-hukum-Nya pada batu-batu yang terlebih dahulu dilapisi dengan kapur. Mengapa batu-batu itu harus dilapis dengan kapur? Tujuannya adalah agar tulisan dapat dibaca dengan jelas. Setelah batu dilapis dengan kapur, tulisan yang ditulis di batu itu akan lebih mudah dibaca dibandingkan dengan yang dituliskan langsung di batu tanpa dikapuri lebih dahulu. Firman Tuhan harus jelas dan dapat dengan mudah dibaca atau diakses oleh semua orang. Perintah ini mengajarkan bahwa hamba Tuhan yang menyampaikan firman Tuhan harus menyampaikannya secara jelas dan apa adanya. Firman Tuhan harus disampaikan secara jujur, tidak dikurangi atau ditambahi. Hamba Tuhan harus menyampaikan apa yang ingin Tuhan sampaikan kepada umat-Nya. Waktu menyampaikan firman Tuhan, hendaklah firman itu dijelaskan agar mudah dimengerti oleh jemaat (bandingkan dengan Nehemia 8:9). [GI Wirawaty Yaputri]

Persembahan

Ulangan 26

Dalam kitab Ulangan, kita menemukan dua kali pencatatan tentang persembahan persepuluhan (14:22-29; 26:12). Persembahan perse-puluhan yang disebut dalam kitab ini dimaksudkan untuk dimakan di Yerusalem—yaitu tempat yang dipilih Tuhan—setiap tahun (14:22-23) dan untuk dimakan di kota tempat mereka tinggal setiap tiga tahun sekali (14:28; 26:12). Penegasan tentang persembahan persepuluhan ini penting karena orang Israel akan segera memasuki Tanah Perjanjian dan menikmati berkat-berkat Tuhan yang melimpah melalui hasil alam yang subur di Tanah Kanaan. Orang Israel tidak boleh lupa bahwa mereka dahulu adalah budak yang dibebaskan Allah, lalu dibawa masuk ke Tanah Perjanjian. Keberhasilan mereka memasuki Tanah Kanaan bukan semata-mata sebagai hasil usaha mereka, melainkan karena anugrah Allah. Sangat wajar jika Allah memerintahkan mereka untuk memberi persembahan, baik persembahan hasil pertama maupun persembahan persepuluhan, agar mereka senantiasa ingat akan kemurahan Allah dan tidak menjadi serakah dalam hidup mereka. Saat mempersembahkan hasil pertama dari hasil bumi yang mereka peroleh di Tanah Perjanjian, mereka harus mengucapkan pernyataan-pernyataan yang dimaksudkan untuk mengingat dan mengakui bahwa Allah-lah yang mengaruniakan keselamatan dan berkat-berkat kepada mereka di negeri yang melimpah-limpah susu dan madunya itu (26;1-11). Setelah itu, mereka dapat menik-mati hasil bumi itu dengan bersukaria (26:11). Persembahan perpuluhan juga diberikan dengan tujuan agar orang-orang Lewi yang tidak memiliki tanah, janda-janda, anak-anak yatim, dan orang asing mengalami kebaikan Tuhan melalui persembahan perpuluhan itu (26:12).
Allah mewajibkan orang Israel untuk memberikan berbagai macam persembahan. Bagaimana dengan kita pada zaman ini? Kita sudah mengalami berkat yang lebih besar daripada orang-orang Israel pada zaman dulu. Anak Tunggal Allah telah datang menebus dosa kita dan Roh Kudus telah dikaruniakan untuk menghibur, menguatkan, dan mengarahkan hidup kita. Apa yang hendak Anda berikan kepada-Nya? Ada orang-orang Kristen yang sangat hitung-hitungan (memakai banyak alasan) saat hendak memberi waktu untuk pekerjaan Tuhan, padahal Tuhan telah lebih dahulu memberi yang terbaik kepada kita. Berikanlah yang lebih baik untuk pekerjaan Tuhan! [GI Wirawaty Yaputri]

Belas Kasihan

Ulangan 25

Ada dua hal khusus yang Allah inginkan agar dilakukan oleh bangsa Israel berkaitan dengan cara penanganan kriminal dan hewan. Seorang kriminal tidak boleh diperlaukan semena-mena, meskipun ia telah terbukti melakukan kesalahan. Hal ini bukan berarti bahwa Allah membiarkan saja seoarng kriminal luput dari hukuman. Akan tetapi, Allah menghendaki agar hukuman tidak dijatuhkan secara semena-mena dan berlebihan, melainkan dijatuhkan secara adil. Ketika terjadi perselisihan, kedua belah pihak harus dibawa ke pengadilan. Pengadilanlah yang berhak memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Hukuman terhadap seorang kriminal harus dilaksanakan setelah pengadilan memutuskan bahwa ia bersalah (25:1). Tidak boleh seorang kriminal dihukum sebelum pengadilan memutuskan bahwa ia bersalah. Tindakan main hakim sendiri adalah tindakan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Setelah pengadilan memutuskan bahwa seorang kriminal bersalah, ia harus dihukum. Namun, hukuman yang diberikan dibatasi tidak boleh lebih dari 40 kali pukulan (25:2-3). Untuk menghindari salah hitung, orang Yahudi mentapkan aturan bahwa hukuman maksimum adalah 40 kurang 1 pukulan (bandingkan dengan 2 Korintus 11:24). Hukuman dilakukan di hadapan hakim yang memperhatikan dengan saksama agar orang yang dihukum tidak dipukul melebihi batas. Pembatasan hukuman seperti ini adalah bentuk belas kasihan terhadap si kriminal. Hukuman diberikan sebagai pelajaran, sedangkan pembatasan merupakan pemberian kesempatan kepada si kriminal untuk mengubah perilakunya di kemudian hari.

Hewan pun harus diperlakukan secara sepantasnya, tidak boleh secara semena-mena. Mulut seekor lembu yang sedang mengirik-menginjak gandum agar lepas dar cangkangnya-tidak boleh diberangus alias ditutup sedemikian rupa dengan tujuan agar lembu itu tidak bisa memakan gandum (25:4). Peraturan itu memastikan agar lembu yang sedang bekerja bisa mendapat makanan. Sungguh tindakan yang semena-mena bila seseorang mempekerjakan hewannya, tetapi tidak memberinya makanan. Rasul Paulus memakai perintah ini untuk mengajarkan kepada jemaat bahwa para rasul atau para hamba Tuhan juga sudah sewajarnya mendapat penghasilan atau penghidupan dari pelayanan yang mereka lakukan (1 Korintus 9:9-14). [GI Wirawaty Yaputri}