Ketaatan Menghasilkan Kemenangan

Yosua 8

Ketidaktaan selalu mengandung konsekuensi, sedangkan ketaatan menghasilkan reward (hadiah) atau berkat. Ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan masalah ketaatan: Pertama, Ketaatan adalah cara untuk mengungkapkan bahwa kita mempercayai Allah. Kegagalan dari penyerangan pertama ke kota Ai membuat Yosua dan bangsa Israel merasa gentar (7:1-9). Dalam kondisi seperti itu, Tuhan berfirman kepada Yosua, "Janganlah takut dan jangan-lah tawar hati; bawalah seluruh tentara dan bersiaplah, majulah ke Ai. Ketahuilah, Aku serahkan kepadamu raja negeri Ai, rakyatnya, kotanya dan negerinya, dan haruslah kaulakukan kepada Ai dan rajanya, seperti yang kaulakukan kepada Yerikho dan rajanya; hanya barang-barangnya dan ternaknya boleh kamu jarah.” (8:1b-2a). Lalu bersiaplah Yosua beserta seluruh tentara untuk pergi ke Ai (8:3a). Walaupun mereka baru saja dikalahkan saat menyerbu kota Ai, mereka tidak membantah saat diminta untuk menyerang kota Ai lagi. Mereka memercayai Allah sehingga mereka menaati perintah Allah. Kedua, Ketaatan adalah cara untuk menyaksikan Tuhan bekerja. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Allah mengajarkan suatu strategi perang agar Yosua dan seluruh tentara Israel bisa mengalahkan penduduk kota Ai dan rajanya. Sebagian tentara Israel bersembunyi di belakang kota, dan sebagian lagi menyerang dari depan untuk memancing agar tentara lawan mengejar dan meninggalkan kota. Saat tentara Ai meninggalkan kota, tentara Israel yang bersembunyi datang menyerang dan berhasil merebut kota tersebut (8:1-29). Dengan demikian, Yosua dan tentara Israel meraih kemenangan yang berasal dari Tuhan. Ketaatan Yosua dan tentara Israel kepada perintah Tuhan membuat mereka bisa melihat Tuhan berkarya memberikan kemenangan. Dalam hidup kita sebagai orang percaya, banyak hal yang telah terjadi. Bila kita merasa tidak bisa menyaksikan bagaimana Allah berkarya dalam hidup kita, hal itu pastilah disebabkan karena kita tidak bersedia untuk taat kepada kehendak-Nya. Ketaatan akan membuat kita bisa menyaksikan kepedulian Allah serta kasih Allah kepada kita dan keluarga kita. Ingatlah selalu bahwa yang Allah tuntut dari setiap orang percaya adalah ketaatan, yaitu kehidupan yang sesuai dengan firman-Nya. [GI Mathindas Wenas]

Tidak Seindah Kelihatannya

Markus 8:27-38

Dunia ini memiliki standarnya sendiri. Ketika pertama kali membaca pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias, saya terkagum-kagum. Pengakuan itu tidak pernah terpikir oleh para murid lain. Mengapa hanya Petrus yang berpikir seperti itu? Apakah Petrus adalah murid yang kerohaniannya paling dewasa? Apakah Petrus adalah satu-satunya yang dipilih untuk mendapatkan penyataan dari Bapa di Sorga? Petrus pasti orang yang istimewa! Apa standar yang saya pakai sehingga saya kagum terhadap Petrus?
Ketika Tuhan Yesus memarahi Petrus, kekaguman saya terhadap Petrus menjadi sirna dalam sekejap. Bagi Petrus, tidak semestinya Mesias menanggung banyak penderitaan, ditolak imam-imam kepala dan para ahli Taurat, bahkan mati dibunuh! Mesias seharusnya megah dan mulia! Bagaimana mungkin Mesias mengalami kesusahan seperti orang-orang terhukum? Mesias versi Petrus berbeda kriteria dengan versi Tuhan. Pengakuan Petrus tidak seindah pemahamannya. Kelihatannya, Petrus punya kualitas yang wow, tetapi ternyata pemahamannya dangkal. Kualitas Petrus tidak seindah apa yang nampak.
Ada yang lebih penting dari sekadar menilai kualitas seorang seperti Petrus. Sebagaimana Sang Mesias telah mengalami penderitaan, setiap pengikut Mesias juga harus mengalami penderitaan yang serupa. Pengikut Mesias harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Sang Mesias. Secara tidak langsung, Sang Mesias mengatakan bahwa setiap orang yang mau mengikut Dia harus rela kehilangan nyawanya karena Dia dan karena Injil.
Ternyata bahwa memiliki status sebagai anak Allah dan sebagai murid Kristus tidak otomatis menjamin adanya privilege (hak istimewa) yang dalam standar dunia seharusnya melekat pada status itu sendiri. Menjadi pengikut Kristus menghadapkan kita pada pilihan-pilihan sulit karena adanya pergolakan batin antara menuruti keingingan diri sendiri atau taat pada perintah Allah. Secara terang-terangan, Yesus Kristus mengatakan bahwa setiap orang yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salib. Hidup tidak akan menjadi lebih mudah, bahkan mungkin lebih buruk (secara keuangan, kesejahteraan, kesehatan). Setiap hari kita harus belajar melepas ego. Menjadi murid tidaklah seindah sangkaan orang. Akan tetapi, kesusahan kita akan tertutup oleh kemuliaan yang akan kita terima di masa depan! [GI Mario Novanno]

Hati yang (Tetap) Degil

Markus 8:1-26

Perkataan “Lebih sulit bagi Tuhan untuk mengubah hati manusia dibandingkan menciptakan dunia ini” telah menyentak pikiran saya. Saya langsung memikirkan pemahaman teologis yang ada di balik perkataan tersebut. Beberapa waktu selanjutnya, secara otomatis saya menyetujui perkataan tersebut. Benar bahwa sangat sulit untuk mengubah hati manusia. Saya menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak saya mengulang berbagai kesalahan dengan sengaja. Bahkan, dengan jujur dan sedih saya harus mengakui bahwa saya juga sering mengulang kesalahan yang sama terhadap Bapa Sorgawi.
Berulang kali, Yesus Kristus memperlihatkan kuasa-Nya yang besar melalui mujizat dan tanda-tanda lainnya. Akan tetapi, berulang kali pula para murid gagal paham. Berselang belum terlalu lama, Tuhan Yesus melakukan mujizat dengan memberi makan 4.000 orang. Akan tetapi, karena para murid Tuhan Yesus hanya membawa sepotong roti, mereka menghubungkan pengajaran untuk berhati-hati dengan ‘ragi’ orang Farisi dan ’ragi’ Herodes dengan kekurangan makanan. Tuhan Yesus menegur mereka, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?” (8:17b-18a). KBBI online mengartikan kata “degil” sebagai: (1) tidak mau menuruti nasihat orang; (2) keras kepala; (3) kepala batu. Kata “degil” ini sama artinya dengan kata “tegar tengkuk” (susah diajar, auban) yang berulang kali dipakai di dalam Perjanjian Lama untuk dikenakan pada bangsa Israel. Lebih mudah mengajar orang bodoh daripada mengajar orang degil
Tuhan itu panjang sabar. Dia tidak pernah memaksakan kehendak-Nya untuk mengubah kita, meskipun Dia mampu melakukan hal itu. Dia tidak mau menjadikan kita seperti robot. Dia tidak mau memprogram kita menjadi AI (Artificial intelligence). Robot dan AI punya pilihan yang terkalkulasi dengan baik. Tuhan tidak mau meneror kita dengan ancaman agar kita mau memahami dan melakukan kehendak-Nya. Dia menghendaki agar kita belajar mengasihi-Nya dengan kerelaan dan ketulushatian. Untuk menyingkirkan hati yang degil dan menjadi teachable (mau diajar), kita harus rendah hati serta mengakui dan membiarkan Tuhan menjadi Penguasa dalam hidup kita, agar kita dapat melihat dan memahami maksud Tuhan dengan (lumayan) jelas. [GI Mario Novanno]

Terserah Tuhan Bagaimana Baiknya

Markus 7:24-37

Kedatangan seorang perempuan Yunani dari bangsa Siro-Fenisia untuk menemui Yesus Kristus adalah peristiwa yang wajar (7:25-30). Sebaliknya, aneh bila Tuhan Yesus mengharapkan untuk bertemu banyak orang Yahudi di daerah Tirus. Okelah seandainya Yesus Kristus mau mengambil kesempatan untuk me-time (waktu untuk menyendiri), sehingga Ia enggan diganggu. Akan tetapi, perlukah Tuhan Yesus ‘menghina’ perempuan itu—yang putus asa karena anaknya dirasuk setan—hanya karena Ia merasa terganggu? Toh dengan kuasa-Nya, Yesus Kristus dapat menyembuhkan anaknya hanya dengan mengatakan satu kalimat saja? Pada zaman kita, Tuhan Yesus dapat dituduh sebagai bersikap rasis (Catatan: Berdasarkan konteks, jelas bahwa Tuhan Yesus pasti tidak bermaksud menghina dan bersikap rasis).
Lain lagi dengan penyembuhan tidak lazim yang Yesus Kristus la-kukan terhadap seorang yang tuli dan gagap (7:32-35). Tindakan Tuhan Yesus memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu masih dapat dimaklumi. Akan tetapi, meludah dan meraba lidah orang itu benar-benar “out of the box” (di luar dugaan). Tuhan Yesus bisa dianggap sebagai Tabib yang nyeleneh, bahkan jorok. Bukankah cukup bila Tuhan Yesus sekadar meletakkan tangan-Nya ke atas orang itu dan mendoakannya seperti permintaan yang diajukan kepada-Nya? (catatan: pasti Tuhan Yesus memiliki alasan mengapa Dia memakai cara yang dianggap jorok ini).
Jangan bersikap terlalu kritis terhadap tindakan Tuhan Yesus yang tidak biasa karena cara kerja Tuhan tak selalu bisa kita pahami, “Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” (Roma 11:34; bandingkan dengan Yesaya 40:13). Tindakan Tuhan pasti mendatangkan kebaikan seperti yang dialami oleh ibu yang anak perempuannya kerasukan setan serta orang yang tuli dan gagap. Cara Tuhan bertindak tak perlu dipersoalkan. Sekilas, pemikiran ini seperti menganggap hasil lebih penting daripada proses. Sama sekali tidak! Tidak ada proses yang menunjukkan adanya pelanggaran terhadap hukum Allah saat Tuhan Yesus menyembuhkan dengan cara yang tidak biasa. Masalah muncul bila kita menilai kebijaksanaan Tuhan dari perspektif kita berdasarkan standar manusia yang sudah tercemar. Walaupun ada berbagai usaha untuk menjelaskan mengapa Tuhan Yesus melakukan ini dan itu, kita akan mengerti sejelas-jelasnya saat kita bertanya langsung kepada-Nya kelak dalam kekekalan. [GI Mario Novanno]

Cara Menjadi Munafik

Markus 7:1-23

Tuhan Yesus mencap serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat yang khusus datang dari Yerusalem untuk menemui-Nya sebagai orang-orang munafik. Ciri-ciri orang munafik adalah: (1) hatinya jauh dari Tuhan, (2) mengabaikan perintah Allah, dan (3) mengajarkan perintah manusia.
Sebenarnya, berdasarkan akal sehat, adat istiadat yang menjadi dasar orang Farisi dan ahli Taurat mempertanyakan perbuatan bebera-pa murid Tuhan Yesus ketika makan tidaklah salah, bahkan baik. Mem-basuh tangan sebelum makan, membersihkan diri setelah pulang dari pasar, tidak makan dengan tangan najis adalah adat istiadat yang baik bila ditinjau dari berbagai segi (higienis, etiket, disiplin pribadi, dan seba-gainya). Akan tetapi, masalahnya adalah bahwa mereka menggantikan hal yang terbaik dengan hal yang baik. Hal yang baik menggeser hal yang terbaik. Perintah Allah adalah hal yang terbaik. Ajaran (adat istiadat) yang baik merebut posisi perintah Allah yang merupakan hal yang terbaik. Hal yang kurang baik (bila dibandingkan dengan yang terbaik) dianggap lebih penting dari hal yang terbaik. Mereka seharusnya mengetahui bahwa hal itu salah! Akan tetapi, mereka tetap melakukan-nya. Tuhan yang mereka sembah menjadi kurang penting dibandingkan dengan diri mereka sendiri. Itulah kemunafikan!
Mudah bukan mempertahankan ‘warisan’ yang dari zaman ke zaman dianggap sudah dari sananya begitu? Bukankah banyak orang memilih bersikap tidak peduli saat sadar bahwa ada yang salah dalam warisan itu? Fanatisme terhadap warisan diam-diam menjadi berhala, sehingga saat ditemukan ada nya pelencengan terhadap prinsip firman Tuhan pun, warisan itu tetap dipertahankan? Warisan itu bisa berwujud pola pikir, cara bersikap, rasa bersalah yang salah, cara berbisnis, hingga model pelayanan. Segala hal yang berlawanan dengan ‘warisan’ yang sudah disepakati—sebagai hukum tidak tertulis—secara otomatis menja-di sumber serangan bagi orang-orang tertentu yang menikmati status quo (apa yang dari dulu sudah seperti itu dan sedang berjalan terus). Masalahnya, banyak orang yang menikmati status quo, walaupun mereka sadar bahwa warisan itu salah karena menyingkirkan prinsip firman Tuhan. Bagi Tuhan Yesus, berlaku munafik bukan sekedar ’memakai topeng’. Menjadi munafik adalah mengaku beriman, tetapi mengganti firman Tuhan dengan hal lain. Berhati-hatilah! [GI Mario Novanno]

Hati yang Degil

Markus 6:30-56

Pernahkah Anda diam sejenak dan memikirkan perjalanan hidup yang telah Anda lalui sampai saat ini? Dalam hidup kita, berapa kali Tuhan bertindak saat kita berada dalam masa kritis, saat kita merasa tidak ada jalan keluar lagi dan kita menyerah? Walaupun kita mungkin pernah kecewa terhadap Tuhan, Tuhan tetap setia dan Ia berkenan mengangkat kita dari situasi terpuruk. Kita melihat hal itu sebagai mujizat dari Tuhan, tetapi hanya untuk kemudian melupakannya (lagi) karena kita masih merasa sanggup mengatasi masalah kehidupan yang sedang kita jalani (mirip dengan pengalaman Yakub dalam Kejadian 32-33).
Rasul-rasul telah melihat mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus Kristus kepada orang-orang lain, bahkan mereka telah mengalaminya sendiri. Ketika perahu mereka hampir tenggelam di tengah danau yang mengamuk, Tuhan Yesus menenangkan danau itu (Markus 4:35-41). Rasul-rasul itu juga telah membuktikan sendiri bahwa kuasa ajaib Yesus Kristus bisa bekerja dalam pelayanan yang dipercayakan kepada mereka (6:30, bandingkan dengan 6:12-13). Selanjutnya, mereka menjadi saksi mata dan mengalami (lagi) mujizat Yesus Kristus memberi makan 5.000 orang laki-laki (tidak termasuk perempuan dan anak-anak) hanya dengan 5 roti dan 2 ikan. Setelah mereka makan sampai kenyang, ternyata masih tersisa roti sebanyak 12 bakul penuh (6:35-44). Peristiwa itu pasti menjadi ketakjuban tersendiri bagi para rasul dan normal-normal saja jika mereka terus membahasnya. Siapakah Yesus Kristus ini? Kok bisa Dia melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan ini wajar. Sayang-nya, berbagai peristiwa itu seperti hilang tidak berbekas dalam hidup mereka saat menghadapi kenyataan bahwa Yesus Kristus—Sang Pembuat mukjizat—dapat berjalan di atas air. Mereka sulit mempercayai kesanggupan Yesus Kristus! Hati mereka tetap degil!
Apakah pengalaman rasul-rasul di atas terulang dalam kita? Apakah kita sulit percaya bahwa Tuhan saat ini masih bisa melakukan mujizat dalam hidup kita? Jangan-jangan Anda telah melupakan mujizat yang pernah Anda alami sendiri sehingga Anda melupakan kesanggupan Tuhan. Ada baiknya bila Anda mengingat, menghitung, dan (sangat dianjurkan) mencatat mujizat-mujizat Tuhan dalam hidup Anda. Mulailah dengan mencatat kisah pertobatan pribadi diri Anda. Lanjutkanlah dengan mencatat pengalaman yang telah Anda alami sendiri, bukan sekadar mengingat apa yang pernah dialami oleh orang lain! [GI Mario Novanno]

Teguran, Menolong

Markus 6:14-29

Usia, status, posisi, prestasi, reputasi, jasa, kapasitas (kemampuan) merupakan atribut (ciri) yang melekat pada diri manusia. Atribut-atribut ini seringkali menentukan harga diri manusia. Jika tidak dikuduskan, harga diri hanya akan membuatnya anti dan merasa diri imun (kebal) terhadap masukan, kritikan, apalagi teguran. Padahal, tidak ada manusia yang sempurna. Siapa pun orangnya, selalu ada yang bisa dikritik dan ditegur. Faktanya, kritikan dan teguran yang positif—bahkan termasuk yang negatif pun—jika diterima secara sehat akan membuat seseorang menjadi lebih baik.
Yohanes Pembaptis menegur Herodes sehubungan dengan tindakan asusilanya karena mengambil Herodias, istri Filipus—saudaranya—menjadi istrinya sendiri. Tegoran Yohanes sebenarnya menggantikan suara hati nurani Herodes sendiri yang telah dia bungkam secara paksa. Perasaan lebih dari sisi usia, status, posisi, reputasi, jasa, dan kapasitas membuat Herodes menolak dan mengabaikan teguran Yohanes. Hasrat atau—lebih tepat—hawa nafsulah penyebab utama penolakan Herodes. Sebenarnya, terjadi konflik batin yang besar dalam diri Herodes. Di satu sisi, dia memenjarakan Yohanes karena ia tidak suka ditegur. Di sisi lain, ia sadar bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, sehingga Herodes melindunginya. Setiap kali mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan Yohanes benar, tetapi sisi gelap dalam dirinya membuat ia mengeraskan hati. Herodes gagal ‘memanfaatkan’ teguran Yohanes untuk mengikis kebebalan hatinya sendiri. Herodes pertama-tama membiarkan hasratnya menguasai dirinya (bandingkan dengan Yakobus 1:14-15). Selanjutnya, Herodes membiarkan statusnya sebagai Penguasa dimanfaatkan Herodias untuk membunuh Yohanes.
Jangan bersikap anti teguran, khususnya teguran yang positif! Ambillah hal positif dalam teguran itu. Dengarkan pesan dalam teguran itu. Jangan-jangan Tuhan sedang berusaha menyampaikan sesuatu melalui orang lain! Bawalah hati Anda ke depan cermin. Perhatikan reaksi hati Anda saat menerima dan menanggapi teguran. Apakah Anda marah? Apakah Anda ingin membalas? Respons yang dilandasi oleh kemarahan dan keinginan membalas adalah respons yang buruk. Orang yang dewasa secara rohani akan menguji diri dengan memandang teguran sebagai alat ukur bagi kesehatan hatinya sendiri. [GI Mario Novanno]

Menolak, Menerima, & Imbasnya

Markus 6:1-13

Yesus Kristus datang ke dunia membawa pertentangan (Lukas 12: 51) dan pada akhirnya pemisahan. Tanggapan terhadap Yesus Kristus terbagi dalam dua kubu, yaitu kubu yang menerima dan kubu yang menolak. Tidak ada area abu-abu di antara keduanya. Tidak mungkin berdiri di tengah. Berdiri di tengah berarti menolak.
Yesus Kristus membuat takjub jemaat yang besar ketika Ia mengajar di rumah ibadat di tempat asal-Nya, yaitu Nazaret. Sayangnya, ketakjuban mereka tergeser oleh ketinggihatian yang membuat mereka menolak untuk mengakui bahwa Yesus Kritus memiliki keunggulan dan memang pantas untuk mengajar mereka. Penolakan itu membuat Yesus Kristus hanya menyembuhkan beberapa orang sakit di Nazaret, Jauh lebih sedikit daripada jumlah orang sakit yang disembuhkan di Kapernaum. Penolakan itu tidak merugikan diri-Nya, tetapi orang-orang Nazaret-lah yang rugi. Secara tidak langsung, Tuhan Yesus juga memberitahu para murid-Nya bahwa mereka juga akan menghadapi penolakan. Penolakan itu terlihat dari pesan berikut ini: “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” (6:10b-11). Lalu pergilah murid-murid dan Alkitab mencatat bahwa orang-orang yang menerima mereka mengalami berkat yang besar. Banyak orang mendengarkan berita pertobatan, dan banyak orang mengalami kesembuhan dari kerasukan setan dan dari sakit-penyakit mereka (6:12-13).
Kita mungkin sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Akan tetapi, apakah setiap firman yang kita dengar kita terima dengan utuh dan dengan iman yang teguh, dan kita merespons dengan menguji setiap rencana yang kita pikirkan serta setiap keputusan yang kita buat berdasarkan firman Tuhan? Penerimaan atau penolakan terhadap firman-Nya pasti berimbas dalam hidup kita. Penerimaan akan membuat kita mengalami kebaikan dan kebesaran Tuhan, tetapi penolakan akan membuat kita menjauh dari Tuhan. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk menerima setiap kebenaran firman Tuhan dengan iman yang teguh, termasuk kebenaran firman Tuhan yang terlihat seperti tidak masuk akal. [GI Mario Novanno]

Interupsi Ilahi

Markus 5:21-43

Salah satu hal yang terasa sangat menganggu adalah bila kita sedang terburu-buru, lalu tiba-tiba ada orang yang menghentikan langkah kita, kemudian—tanpa kepekaan dan rasa bersalah—menyita waktu kita dengan curhat-nya yang sangat panjang. Reaksi paling alami yang mung-kin kita ungkapkan adalah kita segera memutus percakapan tersebut dan melanjutkan apa yang menjadi agenda kita.
Tuhan Yesus diminta untuk segera datang ke rumah Yairus yang anaknya sedang kritis, hampir mati. Dia perlu bertindak cepat demi menyelamatkan anak itu. Dengan diiringi banyak orang yang berdesak-desakkan di dekat diri-Nya, Ia pergi ke tempat Yairus. Di tengah jalan, tiba-tiba Tuhan Yesus menghentikan langkah-Nya karena Dia merasa bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya. Dia mencari tahu siapa yang telah menjamah-Nya dengan bertanya kepada orang banyak, “Siapa yang menjamah jubah-Ku?” Pertanyaan ini aneh! Saat itu, orang banyak berdesak-desakkan sehingga pasti banyak orang yang tidak sengaja menyentuh jubah-Nya. Dia tak perlu secara khusus berhenti dan menghentikan gerakan beriringan orang banyak di tengah kondisi kritis anak Yairus. Sebagai kepala rumah ibadat, bila anaknya disembuhkan, Yairus pasti bisa memberi dukungan yang berarti terhadap pelayanan Tuhan Yesus. Akan tetapi, Tuhan Yesus berhenti dan—lebih aneh lagi—Dia mendengarkan dengan sabar penjelasan panjang lebar (perhatikan perkataan “segala sesuatu”, 5:33) dari perempuan yang telah sembuh karena menjamah jubah-Nya. Tuhan Yesus tidak meminta perempuan ini mempersingkat penjelasannya. Dia sengaja menyediakan waktu untuk mendengar. Akibatnya, ketakutan Yairus terwujud. Anak perempuannya mati. Akan tetapi, kisah ini berakhir dengan happy ending (5:35-42).
Tuhan tidak terburu-buru atau tergesa-gesa. Tuhan itu Mahatahu. Dia sudah tahu sebelum sesuatu terjadi pada diri kita. Dia mengerti hari esok kita. Akan tetapi, manusia itu terbatas. Rencana kita tidak selalu berjalan mulus. Saat rencana kita gagal, mungkin Tuhan sedang menyiapkan rencana lain yang lebih baik bagi diri kita, yang bisa saja kita pandang sebagai suatu interupsi (halangan atau rintangan). Akan tetapi, interupsi itu justru pada akhirnya memperlihatkan kesempurnaan rencana-Nya demi kebaikan kita. Bersediakah kita “diinterupsi” oleh Tuhan? Bersediakah kita menerima interupsi dari orang lain yang mungkin saja sebenarnya merupakan bagian dari agenda ilahi? [GI Mario Novanno]

Membayar Harga untuk Menyelamatkan

Markus 5:1-20

Pernahkah Anda mengerjakan sesuatu yang dianggap tidak signifikan (tidak penting) oleh orang lain? Suatu saat, komisi pemuda sebuah gereja menyelenggarakan retret di daerah Sukabumi. Yang menarik, peserta retret ’hanya’ 15 orang, 12 di antaranya adalah pengurus komisi pemuda itu. Mereka mengundang 8 anak muda yang terlatih (bukan anggoota gereja mereka) untuk melayani sebagai panitia, ditambah 2 orang pembicara. Perbandingannya, 8 orang melayani 15 orang dalam retret 3 hari 2 malam. Dari sisi efisiensi, retret ini terlihat sebagai suatu pemborosan. Tidak mengherankan bahwa ternyata gereja itu tidak mau menanggung seluruh biaya dan panitia diwajibkan menanggung sebagian biaya. Yang menarik, panitia bersedia menanggung kekurangan biaya itu dari uang mereka sendiri.
Tuhan Yesus pergi ke daerah orang Gerasa hanya untuk melayani satu orang yang kerasukan banyak setan. Perhatikan bahwa pelayanan ini hanya menjangkau satu orang saja! Demi orang itu, Tuhan Yesus bukan hanya rela memberi waktu, emosi, dan tenaga-Nya, melainkan ia merelakan 2.000 ekor babi yang nilainya milyaran rupiah sebagai pengganti bagi satu orang itu. Bagi masyarakat Gerasa, orang itu agaknya dianggap lebih baik mati saja daripada menjadi ancaman bagi setiap orang yang hendak melintas. Mereka beranggapan bahwa nilai 2000 ekor babi itu terlalu mahal untuk menjadi pengganti kesembuhan satu orang yang belum diketahui apakah setelah sembuh dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi daerah mereka. Apakah orang itu dapat memberikan keuntungan senilai keberadaan 2.000 babi itu?
Berapa harga yang harus kita bayar untuk membuat seseorang diselamatkan? Berapa harga yang harus kita bayar untuk memuridkan seseorang? Berapa harga yang harus kita investasikan untuk membuat seseorang mencintai Tuhan dan sesama? Jika mau fair, pertanyaan-pertanyaan itu harus diimbangi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: Seberapa berharganya diri saya sampai Tuhan Yesus mau mati buat saya, orang yang tidak layak ini? Apa keuntungan yang Tuhan peroleh sehingga Ia mau menebus hutang dosa saya, padahal saya masih sering jatuh dalam dosa? Mudah-mudahan kita tidak lupa bahwa kita telah menerima anugerah keselamatan secara cuma-cuma! Mudah-mudahan Anda tidak lupa bahwa Anda ditebus untuk melakukan pekerjaan baik yang disediakan Allah bagi diri Anda! (Efesus 2:10). [GI Mario Novanno]