GEMA 2019

Menaati Hukum dan Melayani

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 7:17-40

Ada dua hal yang ingin ditekankan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Korintus dalam bacaan Alkitab hari ini, yaitu:

Pertama, ketaatan kepada hukum dan pelayanan adalah bukti dari iman yang menyelamatkan. Rasul Paulus mengajar jemaat Korintus agar tidak memperhatikan status atau hal-hal lahiriah, melainkan lebih memperhatikan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Keadaan bersunat atau tidak bersunat serta status sebagai budak atau orang merdeka tidak mempengaruhi keselamatan. Seseorang pasti diselamatkan jika ia sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan Yesus. Yang penting diperhatikan adalah ketaatan terhadap perintah Tuhan dan kerelaan untuk melayani Tuhan (7:18-24).

Kedua, melayani dengan fokus pada Tuhan adalah yang terbaik, mengingat bahwa jemaat pada masa itu menghadapi ancaman dari pemerintah Romawi yang sewaktu-waktu bisa bertindak represif berdasarkan fitnah yang sering dilontarkan orang Yahudi yang tidak menyukai perkembangan kekristenan (Perhatikan perkataan “waktu yang singkat” dalam 7:26, 29, 31b dan “kesusahan” dalam 7:28). Orang yang hidup lajang akan lebih leluasa melayani Tuhan (7:35). Mengingat bahwa waktu untuk melayani Tuhan terbatas, sedangkan ladang begitu luas. Rasul Paulus mengingatkan agar hidup ini tidak dipusatkan pada hal-hal duniawi yang bersifat sementara (7:29-31). Dalam kondisi seperti di atas, kehidupan selibat (tidak menikah) akan mengurangi risiko dalam pelayanan, khususnya saat muncul penganiayaan. Bayangkan kondisi Rasul Paulus saat menghadapi penganiayaan jika ia memiliki istri dan anak yang masih kecil. Bukankah keluarganya merupakan beban yang membangkitkan rasa khawatir? Pilihan untuk hidup selibat sesuai dengan panggilan dan anugrah Tuhan akan membuat seseorang dapat melayani dengan lebih efektif karena tidak diganggu oleh masalah keluarga, termasuk mengurus suami, istri, dan anak. Waktu mereka dapat dipersembahkan sepenuhnya untuk melayani Tuhan (7:32-35).

Apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus di atas bukanlah sekadar mengulang kembali perkataan Tuhan Yesus (7:25), melainkan merupakan hasil pengilhaman Roh Kudus yang memberi hikmat kepadanya (7:40). Pilihan hidup selibat atau menikah sangat penting untuk kondisi jemaat saat itu! [GI Wirawaty Yaputri]

Bukan Milikmu Sendiri

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 6:12-20

Kebebasan yang dimiliki orang percaya bukanlah kebebasan untuk berbuat sesuka hati, melainkan kebebasan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita menemukan bahwa ada anggota jemaat Korintus yang melakukan percabulan atau penyimpangan seksual (aktivitas seksual di luar konteks pernikahan). Mereka mencoba untuk membela diri dengan memakai slogan, “Makanan untuk perut dan perut untuk makanan”. Kemungkinan, slogan ini dilanjutkan dengan pemikiran, “tubuh untuk seks, dan seks untuk tubuh”. Rasul Paulus menjelaskan bahwa slogan di atas adalah keliru. Di satu sisi, benar bahwa makanan untuk memenuhi kebutuhan perut dan perut untuk diisi makanan. Akan tetapi, perut dan makanan tidak kekal sifatnya (6:13). Di sisi lain, tubuh berbeda dengan perut. Tubuh jelas-jelas bukan untuk seks, melainkan untuk Tuhan (6:13). Selain itu, tubuh kita akan dibangkitkan kelak, sehingga kelak akan ada tubuh kebangkitan yang bersifat kekal dan yang tidak memerlukan makanan (6:14).

Percabulan adalah dosa yang serius! Perlu diingat bahwa seksualitas diciptakan Tuhan untuk keintiman dalam hubungan suami istri. Dengan melakukan percabulan, seseorang telah mengikatkan dirinya dan menjadi satu dengan pasangan asusila yang bersamanya ia melakukan percabulan (6:16). Jiwa raganya bersatu dengan jiwa raga pasangannya yang cabul. Keadaan berdosa seperti ini sungguh mengerikan! Kekristenan memandang percabulan sebagai dosa yang serius karena tubuh adalah tempat berdiamnya Roh Kudus (6:19). Roh Allah diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, dan Roh Kudus akan menyertai orang percaya sebagai Meterai Keselamatan (Efesus 1:13) dan sebagai Penolong (Yohanes 14:16). Melakukan percabulan berarti mencemari tubuh yang seharusnya dipandang sebagai kudus dan mulia.

Hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan tentang percabulan adalah bahwa Tuhan Yesus sudah menebus hidup kita dari dosa. Tubuh yang kita miliki bukan lagi milik kita semata, karena Tuhan Yesus telah membayar tubuh kita, diri kita, dengan darah-Nya sendiri. Tubuh ini masih milik kita, tetapi tubuh kita juga merupakan milik Tuhan, sehingga kita tidak boleh memakai tubuh kita untuk melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Tubuh ini selayaknya kita pakai untuk memuliakan Sang Penebus kita. [GI Wirawaty Yaputri]

Sikap Terhadap Dosa

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 5

Apa yang harus dilakukan orang percaya saat mengetahui bahwa sesama anggota jemaat di gereja melakukan dosa tertentu? Rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang bersikap membiarkan terhadap anggota jemaat yang jelas-jelas melakukan dosa asusila, yaitu berhubungan seksual dengan ibu tirinya. Bukannya berdukacita karena adanya dosa tersebut, jemaat di Korintus malah menjadi sombong (5:2). Mengapa mereka menjadi sombong? Kemungkinan, kesombongan itu muncul dari rasa bangga karena mereka merasa telah menerapkan kasih melalui sikap toleran terhadap dosa asusila yang di kalangan orang yang belum percaya pun dianggap keterlaluan (5:1).

Rasul Paulus menegaskan bahwa sekalipun ia tidak hadir secara fisik di tengah jemaat, ia hadir secara roh dan ia telah menjatuhkan hukuman terhadap dosa seperti itu. Ia merasa berwewenang untuk menghakimi dalam kasus ini karena ia adalah rasul yang dipanggil dan dipakai Tuhan untuk membangun jemaat Korintus. Rasul Paulus memerintahkan agar jemaat berkumpul bersama, dan Rasul Paulus ikut hadir secara roh, kemudian mereka bersama-sama mengeluarkan orang itu dari gereja dalam nama Tuhan Yesus (“menyerahkan kepada Iblis” kemungkinan besar berarti dikeluarkan dari gereja, diserahkan kepada dunia sebagai tempat yang sarat dengan tipu muslihat iblis) (5:4-5). Tujuan dari disiplin rohani melalui ekskomunikasi (pengasingan) ini adalah agar orang itu sungguh-sungguh bertobat dan jiwanya diselamatkan pada hari penghakiman (5:5).

Dosa yang dibiarkan di tengah jemaat akan menjadi seperti ragi yang mengkhamirkan seluruh adonan (5:6-7). Artinya, dosa yang dilakukan orang itu dapat mempengaruhi anggota jemaat yang lain untuk ikut melakukan dosa. Sebagaimana Perayaan Paskah diikuti dengan Perayaan Roti Tidak Beragi, demikian pula pengorbanan Yesus Kristus—Sang Anak Domba Paskah yang sudah disembelih—harus diikuti dengan pembuangan ragi (dosa) supaya umat Tuhan menjadi adonan yang baru (hidup yang dipenuhi dengan kemurnian dan kebenaran) (5:7-8).

Kita tidak boleh bersikap toleran terhadap orang Kristen yang berbuat dosa, sekalipun kita memiliki relasi yang baik dengan orang itu. Sebaliknya, kita—bisa dengan bantuan rohaniwan di gereja—harus berusaha membawa dia kembali ke jalan kebenaran. [GI Wirawaty Yaputri]

Jangan Melampaui Yang Tertulis

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 4

Jemaat Korintus adalah jemaat yang mengutamakan kemegahan, jabatan, dan hikmat dunia. Sikap mereka yang memakai standar mereka sendiri dalam menilai orang lain membuat Rasul Paulus merasa dihakimi. Kemungkinan besar, sikap sebagian anggota jemaat Korintus membuat Rasul Paulus merasa direndahkan dan diragukan otoritas kerasulannya. Nampaknya, Rasul Paulus merasa dianggap kurang berkarisma, kurang pintar, dan kurang berhikmat bila dibandingkan dengan Apolos. Pandangan semacam ini muncul karena Rasul Paulus memilih untuk tidak memakai kata-kata yang indah—menurut standar hikmat dunia—dalam memberitakan Injil. Kemungkinan, Rasul Paulus juga diremehkan karena ia dianggap sebagai orang yang miskin. Pada intinya, jemaat Korintus meragukan kerasulan Rasul Paulus dan pelayanannya karena mereka beranggapan bahwa diri mereka lebih pintar, lebih berharga, dan lebih diberkati secara ekonomi (4:9-13).

Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar mereka jangan menghakimi melampaui apa yang tertulis (4:6). Mereka harus waspada agar tidak menjadi sombong sehingga menghakimi Rasul Paulus berdasarkan standar mereka sendiri, bukan berdasarkan standar firman Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan agar mereka jangan lupa bahwa segala sesuatu yang mereka miliki—baik harta, kepintaran, kemampuan, dan hal lain yang mereka banggakan—adalah anugerah (pemberian) Tuhan (4:7). Rasul Paulus dan Apolos hidup dalam kesusahan, kerendahan, penderitaan demi melayani jemaat Korintus yang kaya, pintar, dan sejahtera (4:6,9-13). Hal ini seharusnya membuat jemaat Korintus merasa malu dengan apa yang mereka banggakan (4:14). Mereka seharusnya berterimakasih dan mengapresiasi pelayanan Rasul Paulus, bukan malah meragukannya!

Bagaimana sikap Rasul Paulus terhadap jemaat Korintus yang bersifat menghakimi? Rasul Paulus tidak menjadi kecewa dan goyah. Ia tahu bahwa Tuhanlah—bukan manusia—yang pantas menghakimi. Meskipun Rasul Paulus tidak merasa terganggu hati nuraninya (4:4), ia tetap menyerahkan penghakiman atas pelayanannya kepada Tuhan (4:4). Ia menyadari bahwa manusia sering salah menilai sehingga penghakiman manusia sering tidak tepat. Rasul Paulus juga hanya mengharapkan pujian dari Tuhan, bukan dari manusia (4:5). [GI Wirawaty Yaputri]

Manusia Rohani atau Duniawi

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 3:1-9

Jika di renungan sebelumnya, Rasul Paulus membandingkan orang percaya—sebagai manusia yang rohani (matang)—dengan orang yang tidak percaya, maka di bagian ini, Rasul Paulus membandingkan sesama orang percaya. Ada orang percaya yang dewasa secara rohani, namun ada pula orang percaya yang duniawi (bayi secara rohani). Apa yang membedakan manusia rohani dengan manusia duniawi? Rasul Paulus menyebut manusia duniawi sebagai sarkikoi, yang artinya adalah manusia yang dikuasai oleh daging atau hawa nafsu. Yang paling dominan dalam kehidupan seorang manusia duniawi adalah kepuasan daging atau nafsu. Memuaskan kedagingan atau hawa nafsu tidak hanya berarti melakukan hal-hal yang amoral, tetapi bisa juga diungkapkan dengan melakukan hal-hal sederhana seperti iri hati, perselisihan, amarah, perseteruan, kepentingan diri sendiri, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, yang semuanya itu merupakan perbuatan daging (bandingkan dengan Galatia 5:19-21).

Orang-orang yang suka berselisih dan iri hati adalah mereka yang masih hidup dikuasai oleh kedagingan atau hawa nafsu (3:3). Mereka mementingkan diri sendiri, menganggap diri sendiri lebih berharga atau lebih penting daripada orang lain, iri hati saat melihat ada orang lain yang hidupnya kelihatan lebih menyenangkan atau yang melakukan hal-hal yang lebih baik daripada dirinya, termasuk dalam gereja dan di tengah pelayanan. Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus agar berubah dan meninggalkan perselisihan dan iri hati yang keduanya merupakan perbuatan daging. Mereka harus bertumbuh dewasa dengan membuang kepentingan diri sendiri dan berfokus pada hal yang paling penting, yaitu pekerjaan yang dipercayakan Allah kepada mereka.

Pekerjaan pelayanan yang dipercayakan Allah berbeda-beda bagi setiap orang percaya. Ada yang diberi talenta lebih dan dipercayakan lebih banyak. Ada yang dipercayakan sedikit, namun semuanya penting untuk membangun gereja (3:5). Di balik semua kesuksesan pelayanan, Allah yang memberi pertumbuhan (3:6-8). Inilah hal yang paling penting: Orang-orang yang berhasil melakukan sesuatu jangan membanggakan diri dengan prestasi mereka. Orang-orang yang tidak turut ambil bagian dalam pelayanan tersebut jangan iri hati, karena bukan manusia yang memberi pertumbuhan, melainkan Tuhan. [GI Wirawaty Yaputri]

Mengenal Hikmat Tuhan

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 2:6-16

Tidak semua orang dapat mengenal dan menerima hikmat Tuhan. Hikmat apakah yang dimaksud oleh Rasul Paulus dalam bacaan Alkitab hari ini? Sesuai dengan konteks pasal sebelumnya, hikmat ini adalah tentang karya penebusan Allah melalui salib Yesus Kristus. Rasul Paulus mengatakan bahwa hanya mereka yang matang (dewasa) secara rohani--kemudian disebut manusia rohani oleh Rasul Paulus--yang dapat menerima hikmat dari Tuhan (2:6, 14, 15). Siapakah manusia rohani yang dimaksudkan oleh Paulus dalam bagian ini? Tidak lain tidak bukan, yang dimaksud adalah orang percaya yang menerima Roh Kudus yang berasal dari Allah (2:12-13).

Orang-orang yang tidak rohani, yaitu orang yang tidak percaya, akan menganggap hikmat yang berasal dari Tuhan sebagai suatu kebodohan (2:14). Mengapa demikian? Rasul Paulus menjelaskan beberapa penyebab masalah itu: Pertama, hikmat tersebut bersifat tersembunyi dan rahasia dan telah dirancang Tuhan sejak kekekalan untuk kemuliaan orang percaya (2:7). Hikmat ini khusus diberikan untuk orang percaya, sehingga tidak dapat diakses oleh orang yang tidak percaya. Kedua,hikmat tersebut berasal dari Allah Pencipta Langit dan Bumi, bukan berasal dari manusia ataupun penguasa-penguasa di dunia ini (2:8), sehingga bila Tuhan tidak menyatakan hal itu, tidak ada manusia yang dapat mengerti. Ketiga, hikmat ini dinyatakan Allah melalui perantaraan Roh Kudus. Roh Kudus atau Roh Allah adalah Pribadi yang paling mengetahui tentang Allah dan pikiran-Nya (2:11-12). Roh Kudus adalah Pribadi yang paling tepat untuk mengajar atau mencerahkan hikmat itu agar dapat diterima oleh orang percaya (2:13). Mengapa orang yang tidak percaya tidak dapat mengerti atau menerima salib Yesus Kristus sebagai hikmat Allah yang menyelamatkan manusia? Karena mereka tidak memiliki Roh Kudus di dalam hati yang bisa mencerahkan pikiran mereka tentang hal ini.

Tugas kita adalah memberitakan Injil (hikmat) Allah kepada orang yang belum percaya. Kita tidak tahu apakah mereka adalah orang yang sudah Tuhan pilih sejak kekekalan atau bukan. Meskipun Roh Kudus yang mencerahkan pikiran kita sehingga kita bisa mengerti hikmat Tuhan, hal itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu membaca Alkitab. Roh Kudus justru mencerahkan pikiran kita saat kita membaca firman Tuhan, sehingga kita bisa mengerti hikmat Tuhan. [GI Wirawaty Yaputri]

Bermegah di dalam Tuhan

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 1:18-2:5

Belakangan ini, kemungkinan, banyak di antara kita yang sering mendengar perkataan “wise” dipakai dalam percakapan sehari-hari. Kata “wise”berarti “bijak”. Akan tetapi, banyak orang lebih suka menggunakan versi Bahasa Inggris, yaitu “wise”, mungkin untuk menambah efek “pintar” ke dalam perkataannya. Mungkin, Anda pernah mendengar percakapan yang isinya kurang lebih demikian: “Kamu kurang wise jika berbicara seperti itu…,” atau “Be wise-lah!” Zaman sudah berubah, kita tidak bisa lagi berpatok pada ajaran orang zaman dulu, …,” dan seterusnya.

Sebenarnya, tidak masalah bila kita memakai kata “wise” dalam percakapan sehari-hari. Sayangnya, seringkali kata “wise” yang dipakai banyak orang—termasuk orang Kristen—bukan “wise” yang sesuai dengan firman Tuhan, melainkan “wise” versi dunia. Banyak orang pada masa kini yang beranggapan bahwa ajaran atau prinsip-prinsip firman Tuhan adalah hal yang sudah jadoel alias ketinggalan zaman. Oleh karena itu, jika kita perhatikan, banyak orang yang lebih suka menghadiri seminar motivasi dan sejenisnya ketimbang menghadiri pembinaan atau kelas pendalaman Alkitab di gereja. Obrolan sehari-hari rasanya lebih berbobot jika kita mengetahui lebih banyak tentang kehidupan sosialita dan apa yang sedang viral di media sosial. Orang merasa “wise” jika mengetahui banyak informasi, bukan “wise” karena mengerti dan melakukan firman Tuhan.

Rasul Paulus dengan tegas mengatakan bahwa hikmat Allah melampaui segala hikmat manusia (1:25-29). Apa yang dianggap sebagai kebodohan di mata dunia, yaitu salib Kristus, adalah hikmat Allah yang justru menyelamatkan manusia dari persoalan terbesar mereka, yaitu maut. Manusia yang terbatas secara akal budi seringkali sudah merasa cukup berhikmat setelah mengetahui atau menguasai hal-hal tertentu, sehingga meremehkan firman Tuhan. Namun, bagi Rasul Paulus, salib Yesus Kristus yang dianggap kebodohan dan batu sandungan itu justru merupakan kekuatan dan hikmat Allah yang menyelamatkan manusia yang lemah, namun sering merasa kuat. Sebagai orang percaya yang sudah menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus, seharusnya kita bermegah di dalam hikmat Tuhan, bukan bermegah berdasarkan hikmat dunia (1:30-31). [GI Wirawaty Yaputri]

Demi Nama Tuhan Yesus

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 1:1-17

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita membaca nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di kota Korintus tentang perpecahan yang terjadi di antara mereka. Sangat penting bagi kita untuk memperhatikan nasihat Rasul Paulus yang disampaikan “demi Nama Tuhan kita Yesus Kristus” (1:10). Apakah maksud perkataan tersebut? Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan bersama:

Pertama, Rasul Paulus menasihati jemaat Korintus dengan otoritas yang berasal dari Tuhan. Beliau tidak berbicara kepada mereka berdasarkan kepentingan pribadi atau kepentingan manusia, melainkan berdasarkan kehendak Tuhan. Perpecahan di tengah jemaat adalah hal yang sangat tidak berkenan di hati Tuhan!

Kedua, dengan menasihati jemaat Korintus demi Nama Tuhan Yesus, Rasul Paulus menunjukkan bahwa Gereja adalah satu tubuh, yaitu tubuh Kristus, dan memiliki satu Kepala, yaitu Yesus Kristus sendiri. Gereja tidak semestinya terpecah belah karena perpecahan adalah penyangkalan terhadap hakikat gereja sebagai satu tubuh, yaitu tubuh Kristus. Tidaklah wajar bila anggota gereja terpecah belah menjadi beberapa kelompok. Kita harus memandang perpecahan yang terjadi dalam gereja sebagai masalah yang sangat serius yang harus segera diatasi.

Ketiga, demi Nama Tuhan Yesus Kristus berarti setiap anggota gereja, meskipun berbeda latar belakang, berbeda tingkat ekonomi, dan berbeda tingkat pendidikan, semuanya dipanggil oleh Tuhan yang sama dan semuanya dibaptis dalam nama Tuhan yang sama juga. Salah satu alasan perpecahan jemaat dalam jemaat Korintus adalah karena di sana terdapat pengidolaan terhadap Rasul Paulus (golongan Paulus), Apolos (golongan Apolos), dan Rasul Petrus (golongan Kefas). Yang tidak mengidolakan mereka bertiga disebut atau menyebut dirinya sebagai golongan Kristus (1:13). Pengidolaan tokoh itu keliru karena yang dimuliakan seharusnya adalah Kristus, bukan manusia. Pengidolaan tokoh itu juga bisa membuat kita sibuk bertengkar dan melupakan tugas yang amat penting, yaitu memberitakan Injil (1:17).

Karena semua orang percaya telah berada di dalam Kristus, kita semua memiliki Tuhan yang sama dan yang Satu. Oleh karena itu, seharusnya kita bersatu dalam mengikut Kristus, bukan terpecah belah karena mengikuti idola yang berbeda. [GI Wirawaty Yaputri]

Kemah Suci Didirikan

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 40

Kitab Keluaran diakhiri dengan pendirian dan pengudusan Kemah Suci serta perabot-perabot di dalamnya, serta penahbisan Harun sebagai imam besar dan penahbisan anak-anak Harun sebagai imam-iimam yang melayani dalam peribadatan bangsa Israel. Selesainya pendirian Kemah Suci dan penahbisan Harun dan anak-anaknya itu menandai dimulainya sistem peribadatan bangsa Israel. Struktur Kitab Keluaran yang dimulai dengan persiapan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Tanah Mesir dan berakhir dengan dimulainya sistem peribadatan menunjukkan bahwa bagi umat Allah, ibadah itu amat penting. Ibadah seharusnya menjadi sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sistem peribadatan dibangun sebelum bangsa Israel memasuki Tanah Kanaan dan menguasai Tanah yang dijanjikan bagi mereka. Setelah sistem peribadatan dibangun, langkah mereka selanjutnya adalah hidup mengikuti pimpinan TUHAN yang memimpin mereka melalui awan yang menutupi Kemah Suci. Bila awan itu naik, bangsa Israel harus membongkar kemah mereka, lalu bergerak mengikuti ke mana pun awan itu bergerak memimpin mereka sampai awan itu berhenti. Bila awan itu berdiam di suatu tempat dan tidak naik, bangsa Israel berdiam di tempat itu.

Struktur Kitab Keluaran ini memberi petunjuk kepada setiap orang Kristen pada masa kini, bahwa kita perlu menjadikan ibadah sebagai prioritas dalam kehidupan kita. Sangat tidak wajar bila orang-orang beriman lebih memprioritaskan mengejar prestasi studi atau prestasi pekerjaan atau pergi berlibur dengan mengabaikan ibadah. Bagi sebuah keluarga Kristen, seharusnya yang merupakan prioritas adalah ibadah, bukan kesenangan atau prestasi. Perlu diingat bahwa langkah awal kehidupan yang memprioritaskan ibadah adalah pertobatan dan pembebasan dari dosa yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Pertobatan dan pembebasan dari dosa inilah yang merupakan makna simbolik dari peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Tanah Mesir. Marilah kita memeriksa diri kita masing-masing: Apakah Anda telah menjadikan ibadah sebagai prioritas dalam kehidupan Anda dan keluarga Anda? Apakah Anda telah mengalami pertobatan dan pembebasan dari dosa yang kita terima melalui iman kepada pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib? [GI Purnama]

Pakaian dan Tanggung Jawab Jabatan

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 39

Pembuatan pakaian imam dalam bacaan Alkitab hari ini merupakan pelaksanaan perintah Allah kepada Musa dalam pasal 28. Dalam pasal 28, pakaian kudus untuk imam besar yang akan dipakai oleh Harun itu disebut sebagai perhiasan kemuliaan (28:2). Akan tetapi, dalam pasal 39 yang kita baca hari ini, pakaian tersebut disebut sebagai pakaian jabatan (39:1). Sebutan “perhiasan kemuliaan” menunjukkan bahwa jabatan sebagai imam besar merupakan jabatan yang mulia, sedangkan sebutan “pakaian jabatan” menunjukkan bahwa jabatan imam besar menuntut tanggung jawab yang besar. Sesudah menjabat sebagai imam besar, gaya hidup Harun harus disesuaikan dengan jabatannya. Dari sisi kemuliaan, jabatan sebagai imam besar bisa menimbulkan kebanggaan. Akan tetapi, dari sisi tanggung jawab, jabatan sebagai imam besar seharusnya menimbulkan kegentaran. Sebagai seorang imam besar, Harun harus terus waspada agar dia bisa terus hidup dalam kekudusan. Kegagalannya mengatasi permintaan bangsa Israel yang menuntut pembuatan patung anak lembu emas saat Musa berada di atas Gunung Sinai seharusnya membuat Harun selalu waspada agar dia tidak melakukan kesalahan lagi. Walaupun jabatan sebagai imam besar mungkin membangkitkan kebanggaan, Harun harus selalu mengingat bahwa jabatan sebagai imam besar adalah jabatan pelayanan. Harun melaksanakan jabatannya sebagai seorang yang melayani dalam peribadatan, bukan sebagai seorang penguasa yang memerintah para imam.

Dalam kehidupan kita, penting sekali bagi kita untuk selalu berusaha menjaga keseimbangan antara memegang jabatan yang dipercayakan kepada diri kita dengan melaksanakan kewajiban yang menyertai jabatan itu. Perlu diingat bahwa pola pikir seorang Kristen seharusnya berbeda dengan pola pikir duniawi. Seorang Kristen tidak boleh terbuai oleh jabatan dan kemuliaan yang menyertai jabatan itu, melainkan harus memandang jabatan sebagai kewajiban melayani orang lain. Teladan tertinggi kita adalah Tuhan Yesus yang telah datang ke dunia ini, bukan untuk menegakkan kekuasaan-Nya, melainkan untuk melayani, bahkan untuk mati di kayu salib guna menebus dosa manusia (bandingkan dengan Matius 20:25-28). Apakah Anda telah memiliki hati yang bersedia untuk melayani dalam jabatan apa pun yang dipercayakan kepada diri Anda? [GI Purnama]