Gema

Tuhan Yesus Dikuburkan (Pra-Paskah)

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 27:57-66

Menurut hukum Romawi, mayat yang mati disalib boleh diambil oleh keluarga atau kerabat untuk dikuburkan. Jika tak ada yang mengambil, mayat itu akan dibiarkan menjadi makanan anjing liar. Sementara itu, menurut hukum Taurat, mayat orang yang mati dihukum gantung tak boleh dibiarkan tergantung semalam-malaman (Ulangan 21:22-23). Kemungkinan, dengan alasan itu, Yusuf dari Arimatea menghadap Pilatus ntuk meminta izin menurunkan mayat Tuhan Yesus dan menguburkan-Nya di kuburannya yang baru. Tindakan Yusuf mengajarkan bahwa pelayanan tidak mengenal kata terlambat. Meskipun Tuhan Yesus sudah mati, Yusuf tetap mengambil kesempatan terakhir untuk melayani-Nya. Yusuf memanfaatkan kekayaan dan statusnya sebagai anggota Majelis Besar (Luk. 23:50) untuk menghadap Pilatus, sehingga ia dapat menguburkan mayat Tuhan Yesus.

Tindakan Yusuf bertolak belakang dengan tindakan para imam dan orang Farisi. Mereka juga menghadap Pilatus, namun dengan tujuan berbeda. Kebencian pada Tuhan Yesus membutakan mata mereka dari kebenaran, sehingga mereka melakukan tindakan yang tidak masuk akal. Mereka melanggar hukum Taurat dengan datang ke tempat Pilatus pada hari Sabat, yakni sesudah hari persiapan (27:62). Ironisnya, mereka mengingat perkataan Tuhan Yesus tentang kebangkitan-Nya pada hari ketiga, namun mereka tidak percaya dan mencurigai bahwa para murid akan datang mencuri mayat Tuhan Yesus. Atas permintaan mereka, Pilatus mengirim para penjaga ke kubur Tuhan Yesus untuk memeterai dan menjaganya. Tindakan tersebut sebenarnya sia-sia karena para murid sudah dilanda ketakutan yang besar dan menyembunyikan diri, sehingga mereka tidak mungkin keluar untuk mencuri mayat Tuhan Yesus. Sebaliknya, tidak mungkin ada kekuatan yang mampu melawan kuasa Allah yang membangkitkan Tuhan Yesus, termasuk para penjaga, meterai, dan batu besar penutup kubur.

Kisah Yusuf dari Arimatea mengajar kita untuk memanfaatkan semua potensi kita guna melayani Allah. Selagi masih ada kesempatan, persembahkanlah jabatan, harta, karier, dan potensi kita yang lain untuk memuliakan Allah. Apakah Anda selalu memakai kesempatan untuk melayani Allah? Sebaliknya, kisah para pemimpin agama Yahudi mengingatkan kita untuk tidak melawan kehendak Allah dalam kehidupan, agar usaha kita tidak berakhir sia-sia. Adakah ada sesuatu di dalam kehidupan Anda saat ini yang bertentangan dengan kehendak Allah? [TF]

Tuhan Yesus Disalibkan dan Mati (Jumat Agung)

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 27:32-56

Bacaan Alkitab hari ini menceritakan kisah paling mulia dan paling agung yang pernah terjadi dalam sejarah. Karena kasih-Nya, Tuhan Yesus yang tidak berdosa dengan taat menyerahkan tubuh-Nya, mengalami siksaan salib, dan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi dosa umat manusia. Bacaan Alkitab hari ini mengandung dua kebenaran:

Pertama, kematian Tuhan Yesus adalah fakta sejarah. Penulis menampilkan bukti lengkap yang menunjukkan bahwa penyaliban dan kematian Tuhan Yesus adalah peristiwa nyata dalam sejarah, bukan fiksi. Selain menceritakan lokasi dan waktu kejadian secara persis, penulis menggambarkan secara rinci perjalanan Tuhan Yesus memikul salib menuju Golgota, proses penyaliban, penjagaan oleh tentara di bawah salib, hingga kematian-Nya. Bukti sejarah lain yang tak terbantahkan adalah adanya daftar panjang saksi mata dengan latar belakang berbeda dari peristiwa tersebut. Para saksi mata hadir di sana dengan berbagai kepentingan, mulai dari Simon dari Kirene yang dipaksa memikul salib, para tentara yang menjalankan tugas, para pemimpin agama yang membenci Dia, para penyamun yang disalib bersama-Nya, hingga para pengikut-Nya, yakni para murid dan beberapa perempuan, termasuk ibu-Nya sendiri. Semua bukti sejarah di atas dengan tegas mengonfirmasi bahwa kematian Tuhan Yesus adalah fakta sejarah.

Kedua, kematian Tuhan Yesus lebih dari sekadar kematian manusia biasa. Kematian-Nya menggoncangkan alam semesta melalui peristiwa supernatural, yakni gempa bumi, bukit terbelah, kuburan terbuka dan orang kudus bangkit, serta matahari berhenti bersinar selama tiga jam (lihat Luk. 23:44). Kematian tersebut memulihkan relasi antara manusia dengan Allah yang ditandai dengan terbelahnya tabir Bait Suci dari atas hingga ke bawah, sebuah simbol berakhirnya era persembahan korban dan dimulainya era anugerah. Dengan mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban penebus dosa, Tuhan Yesus membuka sebuah akses baru bagi setiap orang percaya untuk dapat datang kepada Allah.

Kita tidak hanya patut bersyukur untuk kematian Tuhan Yesus yang telah membayar lunas hutang dosa kita, tetapi kita juga perlu mengabarkan kasih dan kematian-Nya kepada orang yang belum percaya kepada-Nya. Sudahkah Anda bersyukur untuk kematian Tuhan Yesus bagi Anda? Sudahkah Anda mengabarkan kematian-Nya untuk menebus dosa umat manusia? [TF]

Dia Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan (Masa Sengsara)

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 26:47-75

Tiga cerita berbeda yang kita baca hari ini memiliki kesamaan, yakni ketiganya menceritakan bahwa Tuhan Yesus membalas kejahatan dengan kebaikan:

Dalam cerita pertama (26:47-56), Tuhan Yesus menunjukkan kasih-Nya yang tak terbatas kepada Yudas yang tak mau bertobat meskipun sudah beberapa kali diperingatkan. Ketika dikhianati Yudas secara licik melalui sebuah ciuman, Tuhan Yesus membalas dengan sapaan penuh kasih, “Hai teman” (26:50). Tuhan Yesus juga melakukan kebaikan kepada rombongan besar yang datang menangkap-Nya dengan pedang dan pentung, khususnya menyembuhkan telinga seorang hamba Imam Besar yang putus karena dipotong oleh Petrus (26:51; Lukas 22:50-51). Sikap dan tindakan Tuhan Yesus yang penuh kasih dan kuasa tersebut seharusnya menyadarkan Yudas dan rombongan orang banyak sehingga mereka bertobat. Namun, kesempatan baik ini mereka lepaskan begitu saja.

Dalam cerita kedua (Matius 26:57-68), Tuhan Yesus menghadapi pengadilan yang tidak adil. Meskipun telah menghalalkan segala cara, mulai dari tuduhan palsu, kesaksian palsu, hingga intimidasi fisik berupa ludah, tinju, dan pukulan, para pembenci Tuhan Yesus tetap tidak menemukan kesalahan apa pun dari-Nya. Saat diperlakukan secara tidak manusiawi seperti itu, Tuhan Yesus justru mengabarkan kabar baik kepada mereka, bahwa Ia adalah Mesias yang akan duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan akan datang sebagai Hakim pada akhir zaman. Bukannya bertobat, para pemuka agama justru menjatuhkan hukuman mati atas-Nya karena kabar baik tersebut.

Dalam cerita ketiga (26:69-75), Tuhan Yesus menunjukkan simpati yang mendalam kepada Petrus yang tiga kali menyangkal-Nya. Petrus sebenarnya sudah diperingatkan oleh Tuhan Yesus, namun ia tetap tidak waspada dan tidak sadar bahwa ia telah mengkhianati Gurunya. Dalam kondisi demikian, Tuhan Yesus memalingkan wajah-Nya dan memandang Petrus (baca Lukas 22:61). Pandangan inilah yang menyadarkan Petrus sehingga ia begitu menyesal dan menangis dengan sangat sedih.

Bacaan hari ini menjadi peringatan bahwa kita juga memiliki pengalaman yang sama dengan para tokoh di atas, meskipun dalam bentuk kesalahan yang berbeda. Saat ini, apakah ada sikap atau perilaku Anda yang tidak berkenan kepada Allah? Apakah Anda sedang jatuh dalam dosa tertentu? Selagi pintu pertobatan masih terbuka, segeralah bertobat supaya Anda tidak dihukum Allah. [TF]

Tuhan Yesus Bergumul Di Getsemani (Masa Sengsara)

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 26:36-46

Bacaan hari ini dimulai dengan kondisi kesedihan dan kegentaran besar yang dialami Tuhan Yesus di taman Getsemani. Kondisi ini membuktikan bahwa Tuhan Yesus adalah manusia sempurna yang memiliki perasaan sedih dan gentar. Oleh sebab itu, Ia memenuhi syarat untuk menggantikan manusia mati di kayu salib sebagai korban penebusan guna membayar lunas hutang dosa umat manusia (1 Petrus 2:24).

Peristiwa di taman Getsemani ini membuktikan kerelaan Tuhan Yesus menerima hukuman salib melalui tiga hal berikut: Pertama, meskipun tahu bahwa Yudas telah berkhianat dan akan menyerahkan-Nya kepada para musuh-Nya, Tuhan Yesus memilih untuk tidak menyembunyikan diri, melainkan pergi ke tempat yang biasa mereka kunjungi, agar Yudas dan pasukan Romawi dapat menemukan-Nya. Kedua,Tuhan Yesus tiga kali menyampaikan doa yang sama kepada Allah Bapa. Penekanan doa tersebut bukan pada permintaan agar Ia dapat dibebaskan dari cawan murka Allah, melainkan pada kerelaan-Nya untuk taat kepada kehendak Allah. Dalam berbagai kesempatan lain, Tuhan Yesus dengan tegas menyatakan bahwa kedatangan-Nya ke dunia adalah untuk melakukan kehendak Bapa, termasuk di dalamnya adalah menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Yohanes 6:38; 14:31; 15:10). Ketiga, Tuhan Yesus menggambarkan apa yang akan dihadapi-Nya sebagai meminum cawan dari Allah. Istilah “cawan” sering dikaitkan dengan murka Allah atas dosa umat manusia (Yeremia 25:15-17; 51:7; Mazmur 75:9; Wahyu 14:10). Dengan demikian, Tuhan Yesus mengetahui persis apa yang akan Ia hadapi ketika menyerahkan nyawa-Nya, yakni Ia akan menghadapi murka Allah atas diri-Nya karena Ia sedang menanggung dosa seluruh umat manusia. Meskipun Tuhan Yesus tahu cawan itu sangat menyakitkan, Ia dengan rela menerimanya.

Kerelaan Tuhan Yesus menanggung penderitaan salib tidak hanya menggenapkan keselamatan bagi orang percaya, namun juga menjadi teladan bagi kita dalam menaati kehendak Allah dalam segala keadaan. Umumnya, kita mudah menaati kehendak Allah yang berkaitan dengan berkat dan kemudahan hidup. Sebaliknya, kita akan bergumul dan sulit menaati kehendak-Nya yang menuntut pengorbanan atau penderitaan. Sudahkah Anda bersyukur kepada Tuhan Yesus atas kerelaan-Nya mati sehingga Anda dapat memperoleh hidup yang kekal? Apakah Anda senantiasa taat kepada kehendak Allah dalam segala keadaan, khususnya saat ketaatan tersebut menuntut pengorbanan Anda? [TF]

Dia Datang Untuk Menyerahkan Nyawa-Nya (Masa Sengsara)

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 26:1-16

Pasal 26 menandai berakhirnya masa pengajaran dan pelayanan Tuhan Yesus di antara orang banyak. Bacaan hari ini mengajarkan tiga hal: Pertama, untuk keempat kalinya, Tuhan Yesus mengumumkan bahwa Ia akan diserahkan untuk disalibkan (26:2; lihat 16:21; 17:22-23; 20:18-19). Dengan mengaitkan peristiwa Paskah bangsa Yahudi dan kematian-Nya, secara tidak langsung, Tuhan Yesus menempatkan diri-Nya sebagai Anak Domba Paskah yang dikorbankan untuk menyelamatkan umat manusia melalui darah-Nya yang tercurah. Kedua, hal Tuhan Yesus dijual oleh Yudas Iskariot dengan harga tiga puluh uang perak (26:16) menggenapi nubuat tentang Mesias (Zakharia 11:12). Ketiga, ada tiga respons berbeda terhadap peristiwa penyaliban Tuhan Yesus: 1) Para pemimpin rohani bangsa Yahudi bersekongkol untuk membunuh Tuhan Yesus karena iri hati (baca Yohanes 11:47-48). 2) Seorang perempuan—didorong oleh kasih yang tulus—mengurapi kepala Tuhan Yesus dengan minyak yang mahal. 3) Yudas Iskariot mengkhianati Gurunya demi sejumlah uang kecil. Perbuatan Yudas ini tidak dapat diperhitungkan sebagai andil (jasa) terhadap penyaliban Tuhan Yesus. Peristiwa penyaliban hanya bisa terjadi karena Tuhan Yesus menyerahkan diri-Nya untuk disalib sesuai dengan tujuan kedatangan-Nya (baca Yohanes 13:1).

Informasi di atas mengonfirmasi bahwa kematian Tuhan Yesus bukan sebuah kecelakaan atau hasil rekayasa manusia, namun merupakan penggenapan dari tujuan kedatangan-Nya, yaitu untuk menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45). Kematian-Nya telah membayar lunas hutang dosa umat manusia, sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya akan menerima pengampunan dosa dan memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Sudahkah Anda menrima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi Anda agar Anda menerima pengampunan dosa? Jika belum, inilah saatnya bagi Anda untuk membuka pintu hati menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi Anda. Jika sudah, apakah orang-orang di sekitar Anda sudah menerima keselamatan yang sudah digenapkan Tuhan Yesus di kayu salib? Apakah Anda peduli terhadap orang-orang di sekitar Anda yang akan binasa bila tidak menerima pengampunan dari Tuhan Yesus? Tuhan Yesus sudah menggenapi keselamatan umat manusia dengan mati di kayu salib, tetapi mewartakan keselamatan kepada orang-orang di sekitar kita merupakan tugas kita. [TF]

Perbuatan Baik yang Berkenan di Hati Tuhan

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 25

Tuhan Yesus menjelaskan keadaan akhir zaman melalui perumpamaan. Terdapat satu pesan khusus dalam setiap perumpamaan. Kisah pertama—yaitu kisah gadis bijaksana dan gadis bodoh (25:1-13)—mengingatkan kita untuk selalu berjaga-jaga menyambut kedatangan-Nya. Kisah kedua—yaitu kisah tentang talenta (25:14-30)—mengingatkan bahwa pada akhir zaman, Tuhan akan meminta pertanggungjawaban atas setiap talenta yang sudah Tuhan percayakan. Apakah Anda sudah memanfaatkan talenta (kemampuan) yang Tuhan berikan secara maksimal bagi pekerjaan Tuhan? Perhatikan bahwa satu talenta adalah jumlah yang sangat besar (1 talenta = 6,000 dinar, 1 dinar = upah 1 hari kerja. Jadi, 1 talenta adalah upah kerja selama 16,5 tahun). Kisah ketiga—yaitu kisah domba dan kambing—mengingatkan bahwa pada akhir zaman, Tuhan Yesus akan datang dalam kemuliaan-Nya sebagai seorang Hakim (25:31-45) yang akan menilai dan memisahkan domba (orang benar) dan kambing (orang jahat). Ingatlah bahwa orang benar akan dinilai dari perbuatannya yang berkenan di hati Tuhan.

Dari kisah ketiga, paling sedikit ada dua hal yang Tuhan ingatkan: Pertama, Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (Yakobus 2:17). Kesaksian hidup iman orang benar terwujud dalam kehidupan yang diabdikan untuk sesama dan untuk Tuhan. Setiap orang percaya perlu mengevaluasi diri: Apakah terang Kristus telah memancar dalam kehidupan Anda? Apakah orang lain dapat melihat perbuatan Anda yang baik dan memuliakan Bapa di Sorga (Matius 5:16)? Kedua,perbuatan baik yang berkenan di hati Tuhan adalah perbuatan yang tertuju kepada Tuhan dan kemuliaan-Nya. Saat menilai perbuatan orang benar, Tuhan akan mengatakan, “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Begitu pun sebaliknya untuk orang jahat. Artinya, tidak semua perbuatan yang nampak baik akan dianggap baik oleh Tuhan. Perbuatan baik yang berkenan di hati Tuhan adalah perbuatan yang kita laku kan untuk sesama, tetapi hati kita dan tujuan melakukan perbuatan baik itu adalah untuk Tuhan dan kemuliaan Tuhan. Tuhan tidak berkenan terhadap perbuatan baik yang dimaksudkan untuk mendapat pahala atau pujian. Apakah perbuatan baik Anda tertuju hanya kepada Tuhan dan kemuliaan Tuhan (Kolose 3:23)? [FL]

Sesudah Itu Barulah Tiba Kesudahannya

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 24

Ketika para murid menunjuk—kata menunjukberasal dari kata Yunani epideiknumi yang berarti memperlihatkan dengan kekaguman atau memamerkan—Bait Allah, Tuhan Yesus justru menubuatkan kehancuran Bait Allah itu (24:1-2). Murid-murid menanyakan tiga pertanyaan, yaitu kapan kehancuran Bait Allah terjadi, kapan kesudahan dunia, dan kapan Tuhan Yesus datang kembali? Tuhan Yesus tidak menjelaskan secara pasti tentang waktu, tetapi Tuhan Yesus mengemukakan hal-hal yang akan mendahului peristiwa itu dan menasihati para murid-Nya agar selalu berjaga-jaga. Nubuat kehancuran Bait Allah itu terwujud pada tahun 70 saat Jenderal Titus menghancurkan kota Yerusalem dan membakar Bait Allah. Saat itu, muncul banyak Mesias palsu dan terjadi penyiksaan hebat terhadap orang Yahudi, terutama pengikut Kristus. Saat ini, kita sedang bersiap sedia untuk menantikan kesudahan dunia dan kedatangan Kristus yang kedua kali. Apa yang akan Anda lakukan supaya Anda siap menyambut kedatangan-Nya?

“Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya” (24:14). Kesudahan dunia akan terjadi sesudah Injil Kerajaan Allah diberitakan di seluruh dunia. Pemberitaan Injil Kerajaan Allah di seluruh dunia ini berkaitan dengan tugas para murid—dan juga tugas semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus—untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus (28:18-20). Perintah Tuhan Yesus ini memiliki sasaran utama secara kualitas dan kuantitas. Secara kualitas, Tuhan Yesus menghendaki agar para pengikut-Nya bukan hanya sekadar menjadi penggemar yang asal-asalan dalam mengikut Dia, tetapi menjadi seorang murid yang semakin hari semakin serupa dengan Kristus. Secara kuantitas, Tuhan menghendaki agar semua suku bangsa menjadi murid-Nya. Untuk melaksanakan perintah tersebut, strategi yang harus ditempuh adalah melalui penginjilan (“Baptislah”), pembinaan (“Ajarlah”), dan pengutusan (“Pergilah”). Kualitas sebagai seorang murid tidak bisa terjadi secara otomatis, tetapi harus ada orang-orang yang dengan sengaja mengusahakan agar kualitas tersebut terwujud. Sudahkah Anda diperlengkapi untuk menjadi seorang murid Yesus Kristus di gereja Anda? Sesudah Anda diperlengkapi, apakah Anda terlibat dalam usaha memuridkan orang percaya yang belum memiliki kualitas sebagai murid Kristus? [FL]

Kasihilah Musuhmu!

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 23

Salah satu realitas dalam kehidupan adalah bahwa selalu ada orang yang tidak menyukai kita (dapat disebut “musuh”). Walaupun kita sudah berusaha hidup dalam kebenaran dan kesucian, tetap akan ada orang yang berusaha menjatuhkan kita. Hal ini terjadi pula pada diri Tuhan Yesus. Bagaimana respons Tuhan Yesus setelah berulang kali dijebak oleh musuh-musuh-Nya, yaitu para pemimpin agama (ahli Taurat dan orang Farisi)? Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita akan melihat dengan jelas dua teladan Tuhan Yesus dalam mengasihi musuh (5:44).

Pertama, Tuhan Yesus menyatakan kebenaran dengan mengungkapkan dosa musuh-Nya. Perkataan ‘kasih menutupi banyak sekali dosa’ (1 Petrus 4:8) bukanlah anjuran untuk bersikap toleran terhadap dosa, melainkan kesediaan untuk mengampuni dosa. Tuhan Yesus pun tidak membiarkan dosa musuh-musuh-Nya. Dia menyebut mereka sebagai orang munafik yang memamerkan aktivitas agama agar dilihat orang (Matius 23:5). Mereka mengikat beban berat pada pengikutnya, tetapi mereka sendiri menghindar (23:4). Mereka mengabaikan hal-hal terpenting dari hukum Taurat (23:23). Mereka tampak suci di luar, tetapi kotor di dalam (23:27). Dosa tetap dosa, mengasihi musuh berarti mengungkapkan dosa dengan kasih Tuhan yang terus mencari dan menginginkan agar mereka bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Kedua, Tuhan Yesus mencari dan memberi kesempatan kedua kepada mereka untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Tuhan Yesus berkata bahwa Ia berkali-kali merasa rindu mengumpulkan mereka (untuk memberikan anugerah-Nya), namun mereka tidak mau (23:37). Pada masa kini, bagaimana mungkin kita bisa memberi kesempatan kedua dan mengampuni musuh-musuh kita yang telah membunuh orang tua kita atau yang telah menghancurkan masa depan kita? Walaupun mengasihi musuh itu sangat sulit, kita bersyukur bahwa Tuhan Yesus telah memberikan teladan bagi kita. Yesus Kristus adalah Allah yang telah merendahkan diri-Nya dengan datang ke dalam dunia untuk mencari kita (musuh-musuh-Nya). Ia tidak berdosa, namun Ia mau menanggung hukuman dosa kita dan memanggil kita untuk kembali kepada-Nya. Secara manusiawi, mengampuni musuh terasa mustahil. Akan tetapi, setiap orang yang telah menerima anugerah Allah harus belajar untuk meneladani Tuhan Yesus dalam hal mengasihi musuh. [FL]

Kasih adalah Kegenapan dari Hukum

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 22

Kegagalan tidak membuat orang-orang Farisi, orang-orang Saduki, dan para ahli Taurat menyerah. Mereka terus berusaha menjatuhkan Tuhan Yesus. Mereka berkomplot dan menyusun strategi baru untuk menjebak Tuhan Yesus dengan pertanyaan “Guru hukum manakah yang terutama dalam Hukum Taurat?” (22:34-36). Pada zaman itu, orang Yahudi memiliki berbagai pendangan tentang hukum mana yang paling penting: ada yang menganggap Hukum Sunat paling penting, yang lain menganggap Hukum Sabat paling penting, dan yang lain lagi menganggap Hukum Korban yang paling penting. Apa pun jawaban Tuhan Yesus, orang yang tidak sependapat pasti akan menyerang. Namun, jawaban Tuhan Yesus sangat bijaksana, Dia merangkum seluruh hukum Perjanjian Lama dalam dua hal, yaitu “Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” serta “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Kasih adalah kegenapan dari hukum. Orang yang mengasihi tidak akan melanggar hukum karena orang yang mengasihi suatu obyek akan berusaha memberikan yang terbaik untuk obyek yang dikasihinya itu. Sebagai contoh: undang-undang perlindungan anak dibuat karena ada orang tua atau pengasuh anak yang tidak sungguh-sungguh mengasihi anak yang diasuhnya. Jika semua orang tua atau pengasuh anak sangat mengasihi anak, undang-undang perlindungan anak tidak diperlukan. Orang yang mengasihi pasti menaati hukum, tetapi orang yang menaati hukum belum tentu mengasihi. Jadi, Tuhan ingin agar relasi kita dengan Dia merupakan relasi yang penuh kasih, karena kita akan menyembah apa atau siapa yang kita kasihi. Apa yang kita kasihi atau rindukan akan menjadi identitas yang mendorong semua tindakan kita.

Syukurlah bahwa Allah tidak hanya memerintah dari sorga, tetapi Ia memberi teladan melalui kehadiran Tuhan Yesus yang sangat mengasihi Allah Bapa (Yohanes 14:31) serta sangat mengasihi manusia. Ia rela memberikan segala-gala-Nya, bahkan menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk keselamatan manusia dan untuk memulihkan relasi manusia dengan Allah (Yohanes 3:16). Bagaimana relasi Anda dengan Tuhan saat ini? Tuhan ingin kita mengasihi Dia karena Dialah pribadi yang paling pantas kita kasihi. Bila kita benar-benar mengasihi Tuhan, kita pasti mengasihi manusia yang Tuhan kasihi. [FL]

Melayani adalah Bukti dari Mengasihi

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 21

Memasuki minggu terakhir sebelum disalibkan, Tuhan Yesus semakin memperjelas tujuan kedatangan-Nya di dunia, yaitu menggenapi nubuat tentang Sang Mesias di dalam diri-Nya: Ia memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai sesuai dengan nubuat Perjanjian Lama (Zakharia 9:9). Saat itu adalah menjelang hari raya Paskah orang Yahudi. Kebiasaan umum saat itu, orang Yahudi dari berbagai tempat akan datang ke Bait Allah untuk mempersembahkan korban. Oleh karena itu, banyak orang yang menjual hewan untuk korban di pelataran luar bait Allah. Saat Tuhan Yesus datang dan melihat bahwa pelataran luar Bait Allah dipakai untuk berjualan, Tuhan Yesus amat marah dan mengusir semua orang yang berjualan di sana (Matius 21:12). Mengapa Tuhan Yesus begitu marah? Perlu diketahui bahwa dalam Bait Allah terdapat tempat yang dikhususkan bagi orang-orang non-Yahudi untuk berdoa kepada Allah Israel, yang terletak di pelataran luar Bait Allah. Tuhan Yesus marah karena tempat yang seharusnya digunakan oleh orang-orang non-Yahudi untuk berdoa kepada Allah malah dipakai untuk berjualan (21:13). Kisah Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah ini dicatat oleh keempat penulis kitab Injil. Yang menarik, dalam Yohanes 2:17, terdapat catatan bahwa kemarahan Tuhan Yesus membuat murid-murid-Nya melihat betapa besar cinta Tuhan Yesus kepada Allah Bapa di Sorga (Ingatlah bahwa Bait Allah adalah simbol kehadiran Allah). Yang menjadi pertanyaan, mengapa Yohanes mencatat kisah ini di bagian awal pelayanan Tuhan Yesus? Sangat mungkin bahwa dengan berbuat seperti itu, Yohanes memperlihatkan bahwa pelayanan Tuhan Yesus sejak awal telah merupakan pelayanan yang digerakkan oleh cinta kasih yang besar kepada Allah Bapa.

Apakah Anda memiliki kasih yang besar kepada Allah, yang menggerakkan Anda untuk melayani, beribadah, bahkan menjadi landasan bagi seluruh kehidupan Anda? Kita harus waspada dan mawas diri agar jangan sampai menjadi seperti jemaat Efesus yang walaupun rajin melayani dan sabar dalam penderitaan, namun ditegur oleh Tuhan Yesus karena telah kehilangan kasih yang semula (Wahyu 2:1-7). Bertobatlah dan tumbuhkanlah kembali kasih Anda kepada Yesus Kristus! Anda bisa melayani tanpa mengasihi, tetapi Anda tidak akan bisa mengasihi tanpa melayani! Melayani adalah bukti adanya kasih! [FL]