Rela Mempersembahkan yang Terbaik

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 25

Kehadiran Allah di atas Gunung Sinai membuat gunung itu menjadi kudus, dan kekudusan Allah membuat bangsa Israel dilarang mendekati gunung itu (bandingkan 24:2 dengan 19:11-16,21). Saat menerima sepuluh hukum dan berbagai peraturan lain (pasal 20-23), Musa disertai oleh Harun (19:24). Akan tetapi, setelah perjanjian disahkan dalam pasal 24, Harun tinggal bersama dengan bangsa Israel agar bisa menyelesaikan permasalahan yang muncul di antara bangsa Israel, sedangkan Musa kembali menghadap Allah dengan disertai oleh Yosua (24:13). Akan tetapi, mengingat bahwa apa yang disampaikan Allah kepada Musa tentang penyelewengan bangsa Israel belum dimengerti oleh Yosua (32:7-18), nampaknya Yosua ditinggalkan di satu tempat di kaki gunung atau di lereng gunung, dan hanya Musa sendirian yang diperkenankan untuk menghadap TUHAN di atas puncak Gunung Sinai. Hal ini menunjukkan bahwa Allah memiliki derajat yang lebih tinggi daripada manusia, sehingga Allah harus dihargai. Allah tidak boleh diremehkan!

Penghargaan terhadap kekudusan Allah harus diwujudkan dalam ibadah, khususnya dalam persembahan kita kepada TUHAN. Perhatikan bahwa persembahan yang harus dipungut dari orang Israel untuk keperluan peribadatan—yaitu untuk membangun Kemah Suci dan membuat pakaian imam—adalah barang-barang yang berharga (emas, perak, tembaga, kain ungu tua, dan seterusnya, 25:1-7). Perhatikan pula bahwa persembahan ini merupakan persembahan sukarela (berdasarkan dorongan hati, 25:2), bukan persembahan yang dipaksakan. Dengan demikian, persembahan semacam ini hanya akan diberikan oleh orang-orang yang menghargai Allah! Ingatlah bahwa dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan), orang Israel tidak mungkin bekerja untuk mengumpulkan kekayaan. Mereka hanya membawa barang-barang yang mereka kumpulkan saat masih tinggal di Gosyen (tempat tinggal bangsa Israel saat berada di Tanah Mesir) serta membawa barang-barang yang mereka minta dari orang-orang Mesir (11:2; 12:35). Oleh karena itu, jelas bahwa kesediaan memberi mencerminkan kesediaan berkorban. Bagi orang Kristen pada masa kini, kesediaan memberi yang terbaik secara sukarela masih tetap dituntut (2 Korintus 9:6-7). Apakah Anda sudah membiasakan diri untuk menghargai TUHAN dengan mempersembahkan yang terbaik secara sukarela? [GI Purnama]

Janji dan Tuntutan Allah

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 23:20-33

Janji Allah kepada bangsa Israel luar biasa. Ia berjanji untuk mengutus malaikat-Nya mendampingi umat Israel. Malaikat Allah itu akan merealisasikan semua janji Allah kepada umat-Nya, khususnya yang berkaitan dengan Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan, 23:20, 23, 30-31). Allah berjanji untuk memberikan makanan, minuman, kesehatan, dan kemenangan dalam peperangan (23:20, 23, 25-31). Respons yang dituntut Allah dari umat Israel adalah kesediaan mendengar, ketaatan, dan kesetiaan kepada Allah (23:21-22, 24-25), serta kesediaan untuk tidak mengikat perjanjian dengan penduduk Tanah Kanaan (23:32). Mengingat bahwa bangsa Israel telah melihat berbagai perbuatan Allah yang dahsyat, baik selama mereka masih berdiam di Mesir maupun sepanjang perjalanan ke padang gurun, seharusnya jelas bahwa janji Allah sangat meyakinkan dan tuntutan-Nya tidaklah berat. Sayangnya, di kemudian hari, nampak bahwa bangsa Israel tidak dapat bertahan untuk terus setia kepada Allah.

Orang percaya pada zaman ini adalah pewaris janji Allah yang diberikan kepada Abraham (Galatia 3:29). Ada banyak sekali janji yang diberikan Allah kepada umat-Nya di dalam Alkitab. Sebagian janji bersifat khusus (hanya berlaku saat itu), tetapi ada sangat banyak janji yang bersifat umum (Berlaku sepanjang zaman). Yang dituntut Allah dari umat-Nya pada masa kini masih tetap sama dengan apa yang dituntut Allah pada masa lampau, yaitu kesediaan untuk mendengarkan firman Tuhan, kesediaan untuk taat, dan kesetiaan. Sangatlah bodoh bila kita membiarkan hati kita tertarik kepada tawaran dunia ini dan mencampakkan janji-janji yang begitu berharga yang kita warisi di dalam Kristus. Sekalipun demikian, di satu pihak, perlu disadari bahwa ketaatan yang dituntut Allah itu adalah ketaatan jangka panjang atau ketaatan yang disertai dengan kesetiaan. Di lain pihak, Iblis terus-menerus mencari kesempatan untuk menggoda kita dan menggoyahkan iman kita (bandingkan dengan Lukas 4:13 dan 1 Petrus 5:8). Sepanjang zaman, firman TUHAN tetap merupakan sumber kekuatan yang akan menolong kita untuk melawan dan menolak godaan Iblis (Perhatikan bahwa Tuhan Yesus pun memakai firman TUHAN sebagai senjata untuk mengalahkan godaan Iblis (Matius 4:4, 7, 10). Kita perlu memandang kehidupan kita ini sebagai arena untuk berlomba dalam iman. Untuk memenangkan perlombaan ini, kita harus melawan dosa, bertekun, dan meneladani Kristus (Ibrani 12:1-4). [GI Purnama]

Hari-hari Raya Israel

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 23:14-19

Bacaan Alkitab hari ini membahas tiga hari raya tahunan yang utama bagi orang Israel, yaitu Hari Raya Roti Tidak Beragi (rangkaian Masa Raya Paskah), Hari Raya Menuai (Hari Raya Pentakosta atau Hari Raya Buah Bungaran), dan Hari Raya Pengumpulan Hasil (Hari Raya Pondok Daun). Hari Raya Paskah adalah peringatan terhadap peristiwa saat Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Tanah Mesir. Pada malam saat mereka hendak keluar dari Tanah Mesir, mereka memakan daging hewan korban beserta dengan roti tak beragi dan sayur pahit. Itulah awal sebutan Hari Raya Roti tak Beragi (Keluaran 12). Hari Raya Pentakosta (artinya kelima puluh) merupakan perayaan yang diadakan 50 hari sesudah Paskah, di awal masa panen. Saat itu, bangsa Israel harus mempersembahkan hasil yang terbaik dari buah Bungaran yang mereka panen (23:19a). Setiap Hari Raya Pondok Daun, bangsa Israel tidak tinggal dalam rumah, tetapi tinggal di pondok-pondok daun (Imamat 23:42). Hari Raya Pondok Daun adalah hari raya yang diadakan untuk memperingati pimpinan Allah saat bangsa Israel berada dalam perjalanan dari Tanah Mesir ke Tanah Kanaan, yang bertepatan dengan masa akhir pesta panen. Saat dalam perjalanan itu, jelas bahwa mereka tidak tinggal di rumah yang permanen, melainkan di kemah (pondok). Saat ketiga hari raya itu dirayakan, orang-orang Israel diharapkan berkumpul di kota Yerusalem.

Penetapan ketiga hari raya itu nampaknya disebabkan karena Allah menginginkan agar bangsa Israel menjadi umat Allah yang tahu berterima kasih (bersyukur). Agar mereka bisa bersyukur, mereka harus selalu mengingat kebaikan Allah dalam hidup mereka. Akan tetapi, Allah mengharapkan agar hari-hari raya bangsa Israel tidak dinodai oleh kebiasaan-kebiasaan kafir. Aturan “Janganlah kaumasak anak kambing dalam susu induknya” (23:19b) adalah salah satu aturan yang mencegah masuknya kebiasaan kafir dalam perayaan bangsa Israel. Pada masa itu, anak kambing biasa dimasak bersama susu induknya, dan airnya dipercikkan di kebun dan ladang untuk memastikan kesuburan tanah di masa panen berikutnya. Dengan tidak ikut melakukan kebiasaan kafir tersebut, Allah hendak mengajarkan bahwa kesuburan tanah adalah wujud dari berkat Tuhan. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk selalu bersyukur atas berkat yang Anda terima dari TUHAN? [GI Purnama]

Milikilah Integritas

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 23:1-13

Bacaan Alkitab hari ini mengajarkan kita untuk memiliki integritas, artinya diri kita menjadi suatu kesatuan yang utuh antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan, antara apa yang terlihat dari luar dan apa yang sebenarnya. Bila kita memiliki integritas, kita tidak akan ikut menyebarkan hoaks atau kabar bohong (23;1)). Orang yang memiliki integritas tidak akan memberikan kesaksian palsu (23:2). Orang yang memiliki integritas akan bersikap adil, tidak memihak orang kaya dan tidak memihak orang miskin (23:3, 6). Orang yang memiliki integritas adalah orang yang hidup apa adanya, tidak menutupi keadaan yang sebenarnya (23:7). Jelaslah bahwa orang yang memiliki integritas tidak akan menerima suap, karena penerima suap akan bersikap tidak adil untuk membalas “kebaikan” si pemberi suap (23:8). Orang yang memiliki integritas tidak akan bersikap serakah, melainkan mempersilakan orang lain memperoleh apa yang menjadi haknya (23:9-12). Orang yang memiliki integritas akan melaksanakan kewajibannya, bukan mencari keuntungan di atas kerugian orang lain. Orang yang memiliki integritas akan setia kepada Allah saja, dan tidak akan tergoda untuk menyembah ilah lain yang menawarkan keuntungan kepadanya (23:13).

Menjadi seorang yang mempertahankan integritas tidaklah mudah karena hal itu akan membuat kita kadang-kadang harus menentang arus. Bila kita gampang ikut-ikutan, kita tidak akan bisa mempertahankan integritas. Bila kita hendak menjadi seorang yang memiliki integritas, kita harus berani berbeda dengan orang lain, kita harus menjadi orang yang setia, betapapun beratnya tantangan yang harus kita hadapi. Kehidupan Tuhan Yesus dan kehidupan Rasul Paulus merupakan teladan bagi setiap orang yang hendak mempertahankan integritas. Tuhan Yesus tidak mau berkompromi dalam melakukan misinya menyelamatkan dunia ini. Dia tidak mau bekerja sama atau menyesuaikan diri dengan keinginan para pemimpin agama. Rasul Paulus juga tidak mau berkompromi dalam melaksanakan misinya. Dia tidak takut terhadap ancaman masuk penjara. Dia tidak takut menegur seniornya—Kefas atau Rasul Petrus—saat dia melihat bahwa Rasul Petrus tidak berani memperlihatkan identitas dirinya yang sebenarnya (Galatia 2:11-14). Apakah Anda memiliki integritas? Beranikah Anda hidup apa adanya, hidup dalam kebenaran walaupun kadang-kadang harus menentang arus? [GI Purnama]

Mengembangkan Kepedulian

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 22:21-27

Bagaimana reaksi Anda saat Anda berjumpa dengan seorang yang bernasib malang? Secara umum, ada tiga macam reaksi yang muncul saat seseorang bertemu dengan orang yang miskin atau bernasib malang, yaitu memandang rendah (bahkan bisa menindas karena merasa berkuasa), tidak peduli, atau merasa kasihan (sehingga berniat menolong). Ketiga macam reaksi ini ditentukan oleh hati kita, yaitu apakah kita mementingkan diri sendiri, kita takut dirugikan sehingga tidak mau berurusan dengan orang lain, atau kita memiliki hati yang berbelas kasihan saat melihat sesama yang menderita. Pada zaman dahulu, umumnya, orang asing, janda, dan anak yatim adalah orang-orang yang merupakan pihak yang lemah serta mudah mengalami penindasan. Akan tetapi, Allah menghendaki agar bangsa Israel tidak bersikap menindas terhadap orang yang posisinya lemah. Mereka diminta Tuhan untuk mengembangkan sikap empati (ikut merasakan perasaan orang lain) dengan mengingat bahwa mereka pernah berada dalam posisi sebagai pendatang yang ditindas di Tanah Mesir. Sikap empati seperti ini akan menghindarkan bangsa Israel dari sikap menindas orang yang lemah.

Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus memberikan nasihat, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 7:12). Nasihat ini berlaku bagi kita semua. Saat kita menjalin relasi dengan orang lain, kita tidak boleh mementingkan diri sendiri, melainkan kita harus memikirkan kepentingan orang lain. Sebagaimana kita berharap bahwa orang lain akan menolong kita saat kita berada dalam posisi lemah dan tertindas, demikian pula kita harus bersikap terhadap orang yang memerlukan pertolongan. Tanggung jawab menolong orang lain inilah yang membuat gereja selalu memiliki bidang diakonia yang mengkhususkan diri untuk melayani orang yang memerlukan bantuan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa tanggung jawab menolong orang lain bukan hanya merupakan tanggung jawab gereja, melainkan juga merupakan tanggung jawab pribadi. Kita harus mengembangkan kepedulian dan sikap berbelas kasihan. Sebagaimana Allah telah mengasihi kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8), demikian pula kita harus mengembangkan rasa belas kasihan tanpa syarat kepada orang-orang yang sedang mengalami penderitaan. [GI Purnama]

Pahami Batas-batas Kehidupan!

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 22:18-20

Ada beberapa hal yang secara jelas dibenci TUHAN, antara lain adalah relasi dengan roh jahat atau sembahan selain TUHAN serta cara hidup yang menyimpang dari kewajaran. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Allah secara tegas melarang praktik sihir (mengandalkan kuasa roh yang bukan kuasa TUHAN), berhubungan seks dengan binatang, dan mempersembahkan korban kepada ilah lain. Kita harus merasa puas dengan kehidupan yang wajar. Jangan berusaha mengerti hal-hal yang mistik (gaib, tidak nampak oleh mata). Waktu kita berusaha memiliki kuasa yang di luar kewajaran, kita bisa terjerumus menjadi orang yang mengabaikan kuasa Allah. Walaupun dalam kehidupan ini terdapat kuasa-kuasa gaib yang nampak menakjubkan, kita harus memilih untuk tetap bersandar kepada Allah dan melawan godaan untuk mencari kuasa di luar Allah. Karena Allah sudah menetapkan bahwa hubungan seks manusia itu harus antara pria dan wanita, maka hubungan seks dengan binatang dan hubungan seks sesama jenis merupakan hubungan seks yang tidak wajar dan terlarang. Manusia boleh bereksperimen dan berinovasi, tetapi eksperimen dan inovasi itu memiliki batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Bila manusia melangkah terlalu jauh sehingga meninggalkan ketetapan Allah, hukuman pasti akan muncul. Dosa yang dilakukan secara sengaja akan membuat manusia harus berhadapan dengan hukuman Allah!

Dalam Perjanjian Baru, terdapat kisah dua orang yang hendak menipu Allah dalam hal persembahan, yaitu Ananias dan Safira. Mereka ingin menjadi orang yang terkenal. Oleh karena itu, mereka menjual tanah yang mereka miliki, lalu menyerahkan sebagian hasil penjualan tanah kepada Rasul Petrus dengan mengakui sebagian hasil penjualan itu sebagai seluruh hasil penjualan tanah. Dengan demikian mereka meremehkan Allah (mencobai Allah) karena mereka mengira bahwa Allah tidak memahami tipu daya mereka. Kita pun harus waspada agar kita tidak meremehkan kemahakuasaan Allah atau kemahatahuan Allah. Walaupun Allah tidak selalu langsung menjatuhkan hukuman saat kita berbuat dosa, kita harus waspada agar kita tidak mencobai Allah! Kita harus menjauhi semua dosa yang sudah jelas akan menyakiti hati Allah. Apakah Anda sudah berusaha memahami batas-batas yang boleh/tidak boleh dilakukan dalam kehidupan Anda? [GI Purnama]

Menghargai Kepentingan Orang Lain

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 22:1-17

Sejak Allah menciptakan manusia, Allah telah menginginkan agar setiap orang memperhatikan kepentingan orang lain. Perhatikan bahwa saat Allah hendak membentuk Hawa dari tulang rusuk Adam, maksud Allah adalah agar Hawa menjadi penolong bagi Adam (Kejadian 2:18). Saat Kain membunuh Habel, adiknya sendiri, Allah meminta pertanggungjawaban Kain karena Kain memang memiliki kewajiban untuk berbuat baik terhadap Habel (Kejadian 4:7-10). Dalam firman TUHAN yang kita baca hari ini pun, jelas bahwa Allah ingin agar menusia memperhatikan kepentingan sesamanya. Allah menetapkan bahwa pencuri ternak yang tertangkap harus memberikan ganti rugi yang besarnya bervariasi, tergantung dari apakah ternak itu sudah tidak ada (dipotong atau dijual) atau masih ada. Bila pencuri itu tidak sanggup mengganti, dia harus dijual sebagai budak untuk pembayaran ganti rugi (Keluaran 22:1-4). Ganti rugi juga diharuskan bagi orang yang ternaknya dibiarkan memakan hasil ladang orang lain (22:5). Berbagai kasus lain yang dibicarakan dalam bacaan Alkitab hari ini pada dasarnya mengharuskan setiap orang untuk memperhatikan kepentingan orang lain, bukan kepentingan (keinginan) diri sendiri saja.

Pada dasarnya, prinsip hidup mementingkan diri sendiri yang lazim pada zaman ini bertentangan dengan kehendak Allah. Berbuat baik adalah kewajiban, bukan pilihan. Bila berbuat baik dianggap sebagai pilihan, maka berbuat baik boleh dilakukan, tetapi boleh juga tidak dilakukan. Dalam Perjanjian Baru, penulis Surat Yakobus berkata, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17). Jelas bahwa orang beriman harus berbuat baik karena tidak berbuat baik merupakan dosa. Ada orang yang berpikir bahwa menghindari interaksi dengan sesama manusia akan menghindarkan kita dari perbuatan dosa. Pandangan semacam ini salah! Kita hanya bisa terhindar dari dosa bila kita secara aktif melakukan kebaikan. Kehidupan yang sekadar berusaha menghindari perbuatan jahat terhadap orang lain merupakan kehidupan dengan standar kebaikan yang rendah! Karena Kristus sudah mati untuk kita saat kita masih berdosa (Roma 5:8), maka kita harus membalas kebaikan Kristus kepada kita dengan secara aktif berbuat kebaikan. Marilah kita memulai kebaikan dengan menghargai kepentingan orang lain! [GI Purnama]

Penghargaan Terhadap Martabat Manusia

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 21

Keluaran 21 mencatat berbagai peraturan untuk umat Israel. Bagi kita, beberapa peraturan terasa janggal—misalnya peraturan tentang masalah budak (21:1-11)—karena saat ini sudah tidak ada lagi perbudakan. Pertama-tama, sadarilah bahwa adanya peraturan tentang perbudakan tidak berarti bahwa Allah mendukung perbudakan. Sadari juga bahwa peraturan tentang perbudakan itu disampaikan dalam konteks masyarakat kuno, saat perbudakan merupakan kelaziman. Allah memahami kelemahan dan keterbatasan manusia yang telah tercemar oleh dosa, sehingga Ia memberikan peraturan tentang perbudakan dengan maksud agar praktik perbudakan dilaksanakan dengan lebih menghargai martabat manusiawi para budak. Allah mengingatkan umat Israel di zaman Musa bahwa mereka adalah mantan budak di Mesir, dan bahwa Allah telah menebus mereka (Ulangan 15:15). Seharusnya, prinsip yang melandasi sikap bangsa Israel terhadap para budak adalah kasih, yaitu “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Imamat 19:18).

Meskipun sudah tidak ada sistem perbudakan dalam perekonomian saat ini, relasi tuan-hamba, atasan-bawahan, dan pemilik usaha-karyawan tetap ada. Perilaku tidak adil, tekanan, bahkan kekerasan, masih bisa dialami oleh hamba, bawahan, dan karyawan. Bentuk ketidakadilan itu misalnya berupa: 1) Pembagian bonus atau tunjangan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku baik dari sisi nominal maupun sisi waktu pembagian; 2) Fasilitas dan lingkungan kerja yang mengabaikan kepentingan bawahan (seperti tidak tersedianya makanan dan minuman sehat, cahaya, serta ventilasi yang memadai); 3) Kata-kata kasar dari atasan terhadap pegawai; serta 4) Perilaku tidak manusiawi seperti tuntutan jam kerja yang melewati batas kewajaran.

Tindakan berdasarkan kasih dan penghargaan terhadap martabat manusiawi seharusnya dapat dipraktikkan saat ini. Perjanjian Baru memberi beberapa petunjuk: 1) Allah yang menciptakan para tuan sama dengan Allah para hamba. Pribadi Sang Khalik yang sama wajib disembah dan ditakuti, baik oleh majikan maupun bawahan, sebab Allah tidak pernah memandang muka (Efesus 6:9). 2) Setiap orang wajib melakukan segala sesuatu yang baik dalam hidupnya (Efesus 6:8, 5:2). 3) Segala tindakan harus dilakukan seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia (Efesus 6:7, Kolose 3:23). 4) Tuhan Yesus bersabda, “Kasihilah seorang akan yang lain,” (Yohanes 15:17). [Pdt. Emanuel Cahyanto Wibisono]

Kekudusan Pikiran dan Hati (10 Hukum Allah)

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 20:17 (Hukum Kesepuluh)

Dari zaman dahulu hingga saat ini, setiap manusia dikatakan bersalah apabila tindakan atau perkataannya didapati melanggar hukum yang berlaku. Misalnya, seseorang divonis bersalah sebagai pencuri apabila ia memang secara faktual terbukti melakukan tindakan mencuri benda yang menjadi hak milik orang lain. Seseorang dinyatakan telah melakukan perzinahan ketika dirinya terbukti melakukan hubungan badan dengan seseorang yang bukan pasangannya yang sah dalam pernikahan. Hukum kesepuluh merupakan teroboson bagi zaman itu, bahkan masih merupakan terobosan sampai sekarang, karena hukum kesepuluh ini bukan hanya mengatur apa yang dapat dilihat, tetapi juga mengatur apa yang ada di dalam pikiran dan hati. Standar Sepuluh Hukum dari Allah lebih tinggi daripada standar moral lain yang ada dalam dunia, karena Allah dapat menyelidiki dan menilai hati setiap orang, sampai bagian yang terdalam (1 Samuel 16:7).

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, manusia memang hanya bisa mengkaji dan menilai perilaku serta perkataan yang teramati oleh panca indera. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk menyelidiki dan melakukan verifikasi terhadap apa saja yang berada dalam batin seseorang. Hukum maupun konsekuensi sosial hanya bisa berperan terhadap tindakan yang nyata dan ucapan yang terdengar. Oleh karena itu, manusia masih bisa melakukan, mengatakan, mengekspresikan, dan menuliskan segala sesuatu yang sebetulnya berbeda dengan sistem nilai dalam dirinya, pikirannya, asumsinya, serta keyakinannya. Melalui teguran Kristus kepada para pemimpin Yahudi, kita mengetahui bahwa Kristus mencela dengan keras sikap orang-orang yang mementingkan perilaku luar yang positif, namun menyembunyikan banyak hal yang tidak benar dalam hati dan pikiran (Matius 23:25-28). Allah menghendaki kebenaran yang utuh dari umat-Nya. Allah menuntut integritas (kesatuan pikiran, hati, perkataan, dan tindakan).

Setiap pengikut Kristus hendaknya menjaga hati dengan kewaspadaan yang tinggi (Amsal 4:23). Firman Tuhan menyerukan agar kita mengusahakan supaya pikiran kita sepenuhnya tunduk kepada firman Tuhan (2 Korintus 10:5). Kiranya Allah menolong agar hati kita menjadi kudus, sehingga kita bisa berpikir secara benar (Mazmur 51:12). [Pdt. Emanuel Cahyanto Wibisono]

Jangan Berdusta (10 Hukum Allah)

Bacaan Alkitab hari ini:
Keluaran 20:16 (Hukum Kesembilan)

Dalam konteks asli dari hukum kesembilan ini, Allah menghendaki agar orang tidak berdusta dalam konteks bersaksi di persidangan. Persidangan semestinya menegakkan keadilan, sehingga setiap pribadi yang bersaksi di dalamnya harus mengatakan yang benar, seperti dicatat di dalam Amsal 12:17, “Siapa mengatakan kebenaran, menyatakan apa yang adil.” Namun, hingga saat ini, masih ada orang yang mengatakan hal-hal yang tidak jujur dalam suatu sidang peradilan. Ia yang bersaksi dusta dalam persidangan hendaklah memperhatikan firman Tuhan yang berkata, “Tipu daya ada di dalam hati orang yang merencanakan kejahatan” (Amsal 12:20). Baik disadari maupun tidak, orang tersebut telah terlibat dalam upaya yang dinilai merencanakan kejahatan, sehingga perbuatan menjadi saksi dusta ini merupakan kekejian bagi Tuhan Allah (Amsal 12:22).

Selain di dalam konteks persidangan, hukum kesembilan ini juga mengatur perkataan seseorang kepada sesamanya dalam interaksi antarpribadi setiap hari. Allah adalah sumber kebenaran dan Allah tidak mungkin berdusta (Bilangan 23:19). Standar yang Allah kehendaki untuk terjadi dalam kehidupan kita adalah kesempurnaan, sama seperti Bapa di sorga adalah sempurna (Matius 5:48). Dengan demikian, seharusnya yang menjadi acuan dalam relasi kita dengan sesama adalah tidak mengatakan kebohongan sama sekali. Zakharia 8:16 menegaskan, “Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu.” Jadi, mengatakan kebenaran akan mewujudkan damai sejahtera di dalam hidup ini. Sebaliknya, sadarilah bahwa mendustai sesama adalah tindakan yang dibenci Allah (Zakharia 8:17).

Dalam hidup ini, ada beragam tuntutan terhadap kejujuran dalam bertutur kata maupun dalam bersikap. Misalnya, di setiap persidangan, kita tentu diminta untuk bersaksi secara benar. Saat membuat tulisan ilmiah dalam konteks pendidikan, jelas bahwa kita dilarang membuat karya yang tidak memenuhi kaidah kejujuran dalam penulisan. Namun, dalam interaksi sosial setiap hari, walaupun berbohong adalah salah secara etis, kebohongan belum tentu mendatangkan sanksi sosial yang besar. Sekalipun demikian, ingatlah bahwa dusta itu kekejian di mata Allah dan dusta dibenci oleh Allah. [Pdt. Emanuel Cahyanto Wibisono]