Gema

Doa Didasarkan pada Firman Tuhan (Renungan tentang Doa)

Bacaan Alkitab hari ini:

Yohanes 15:1-8

Apakah Allah selalu mengabulkan doa yang kita panjatkan kepada-Nya? Tidak! Allah bebas menentukan apa yang hendak Dia putuskan atau apa yang hendak Dia kerjakan. Manusia tidak bisa mengatur Allah! Kesalahpahaman terhadap janji Allah tentang pengabulan doa umumnya berkaitan dengan dua hal, yaitu bahwa janji Allah terikat dengan konteks dan bahwa janji Allah seringkali mengandung persyaratan yang harus dipenuhi lebih dulu. Sebelum kita menuntut terpenuhinya janji Allah, kita harus memperhatikan masalah konteks dan persyaratan itu. Dari sisi konteks, seringkali janji Allah berkaitan dengan misi yang harus dijalankan oleh si penerima janji. Sebagai contoh, janji penyertaan Tuhan Yesus (Matius 28:20b) diberikan dalam konteks misi menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus (Matius 28:19). Kita tidak bisa menuntut terpenuhinya janji penyertaan Kristus bila kita mengabaikan misi yang Dia tugaskan kepada murid-murid-Nya.

Janji pengabulan doa dalam Yohanes 15:7b—mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya—mengandung persyaratan bagi terpenuhinya janji tersebut, yaitu “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu” (Yohanes 15:7a). Menjalin relasi dengan Kristus (Jikalau kamu tinggal di dalam Aku) dan menyimpan firman Tuhan di dalam hati (firman-Ku tinggal di dalam kamu) merupakan dua persyaratan penting yang menjamin pengabulan doa. Adanya firman Tuhan di dalam hati kita akan membuat kita bisa menyesuaikan keinginan kita dengan kehendak Allah dan memungkinkan kita berdoa dengan iman, “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” (1 Yohanes 5:14).

Tidak berdoa dan salah berdoa merupakan dua penyebab yang membuat kita gagal (Yakobus 4:2-3). Kita harus senantiasa menyadari bahwa sumber kesuksesan adalah kekuatan yang berasal dari Tuhan. Dengan berdoa kita menyatakan kebergantungan kita kepada Tuhan. Dengan mendasari doa kita pada firman Tuhan, kita menaklukkan keinginan kita di bawah kehendak Tuhan. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk bergumul mencari kehendak Tuhan melalui firman-Nya? Apakah Anda menganggap kehendak Tuhan sebagai lebih penting daripada keinginan Anda sendiri? Apakah doa Anda selalu didasarkan pada kehendak Allah bagi kehidupan Anda? [P]

Doa adalah Sumber Kekuatan (Renungan tentang Doa)

Bacaan Alkitab hari ini:

Matius 26:31-46

Untuk apa Tuhan Yesus datang ke dunia ini? Apakah Dia menyadari maksud kedatangan-Nya? Ya, Tuhan Yesus adalah Allah Sejati yang datang ke dunia ini dan menjadi Manusia Sejati untuk menebus dosa manusia. Tugas ini berat karena menebus dosa manusia berarti menanggung murka Allah terhadap manusia berdosa. Yang paling mengerikan bagi Tuhan Yesus bukanlah penderitaan fisik di kayu salib, melainkan penderitaan rohani karena ditinggalkan oleh Allah (Matius 27:46). Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia ini, kesatuan-Nya dengan Allah Bapa di sorga tidak pernah hilang (Yohanes 10:30). Akan tetapi, saat Tuhan Yesus berada di kayu salib, Ia menempati posisi manusia berdosa yang sedang menerima hukuman Allah. Kengerian Tuhan Yesus menghadapi peristiwa tersebut terlihat jelas dalam bacaan Alkitab hari ini (Perhatikan Matius 26:38-39). Dalam Lukas 22:41-44, dijelaskan bahwa rasa ketakutan menghadapi murka Allah membuat peluh Tuhan Yesus menjadi tetesan darah (kondisi yang disebabkan karena stres berat).

Perhatikan bahwa untuk menghadapi tugas yang berat itu, persiapan Tuhan Yesus adalah bergumul dalam doa di Taman Getsemani. Kepada murid-murid-Nya, Tuhan Yesus berpesan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Sayangnya, para muridnya tidak bisa menguasai rasa mengantuk sehingga mereka semua tertidur (Matius 26:40, 43). Bagi Tuhan Yesus, doa adalah sumber kekuatan terpenting dalam menghadapi semua tantangan dalam kehidupan ini.

Apakah tujuan hidup Anda? Apakah hal terpenting yang ingin Anda lakukan dalam kehidupan Anda? Apakah tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam kehidupan Anda? Apakah Anda harus bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu yang Anda anggap sebagai di luar kemampuan Anda? Apa pun tujuan hidup Anda, apa pun tantangan yang Anda hadapi, dan apa pun tanggung jawab yang harus Anda pikul, hal terpenting yang harus Anda lakukan sebagai persiapan adalah bergumul dalam doa. Bila Anda telah bergumul dalam doa dan Anda percaya bahwa Allah berkenan dan menyertai Anda, Anda akan sanggup menghadapi tantangan apa pun dalam kehidupan Anda. Bersama dengan Rasul Paulus, marilah kita memegang keyakinan bahwa “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13) [P]

Doa Mengungkapkan Kebergantungan (Renungan tentang Doa)

Bacaan Alkitab hari ini:

Daniel 6:1-11

Daniel adalah orang Yehuda (Kerajaan Israel Selatan) yang ikut dibawa sebagai tawanan ke Babel. Karena dia adalah orang muda yang pandai, dia direkrut untuk menjadi pejabat tinggi di Kerajaan Babel (pasal 1). Setelah Kerajaan Babel ditaklukkan oleh Kerajaan Persia, Daniel kembali diangkat menjadi pejabat tinggi, bahkan menjadi salah satu (yang paling disegani) dari tiga pejabat tinggi yang membawahi 120 wakil raja (6:2-4). Karena prestasi Daniel amat menonjol, para pejabat tinggi dan para wakil raja menjadi iri dan ingin menjatuhkan Daniel. Karena Daniel tidak pernah berbuat salah, akhirnya mereka menghasut Raja Darius untuk mengeluarkan surat perintah—yang berlaku selama 30 hari—yang isinya adalah larangan memohon (beribadah) kepada siapa pun selain kepada Raja Darius, dengan ancaman dilempar ke gua singa bagi pelanggar aturan. Sekalipun demikian, respons Daniel amat mengesankan, “Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (6:11).

Mengapa Daniel tetap meneruskan kebiasaan berdoa walaupun menghadapi ancaman hukuman mati? Bagi Daniel, doa adalah bagian hidupnya. Melalui doa, dia menggantungkan seluruh hidupnya kepada Allah. Dia tidak takut terhadap ancaman apa pun karena hidupnya bergantung kepada Allah yang lebih berkuasa dari segala sesuatu. Doa justru merupakan sumber kekuatan dalam menghadapi ancaman apa pun. Walaupun sepanjang malam berada di gua singa, Allah telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga Daniel sama sekali tidak terluka (6:23-24).

Marilah kita mengevaluasi diri kita sendiri: Saat menghadapi ancaman bahaya—musuh, penyakit, bencana alam, kekurangan uang, ancaman PHK, dan sebagainya—apakah kita berani untuk tetap hidup bergantung kepada Allah? Hal apa yang paling menakutkan bagi diri Anda? Saat Anda menghadapi sesuatu yang menakutkan, apakah Anda berani untuk tetap bergantung kepada Allah? Mana yang paling Anda andalkan: simpanan uang, posisi tinggi dalam pekerjaan, prestasi (kerja, studi), popularitas, dan hal-hal lain, atau Anda mengandalkan Allah? Apakah kehidupan doa Anda telah menunjukkan bahwa Anda memang hidup bergantung kepada Allah? [P]

Doa adalah Panggilan Seumur Hidup (Renungan tentang Doa)

Bacaan Alkitab hari ini:

1 Samuel 12

Setelah Musa wafat, yang menjadi pemimpin nasional bangsa Israel adalah Yosua. Sayangnya, Yosua tidak menyiapkan pengganti. Oleh karena itu, setelah Yosua wafat, tidak ada pemimpin nasional. Kepemimpinan Israel dipegang oleh para hakim. Para hakim yang memimpin bangsa Israel hanya bisa memimpin satu atau beberapa suku saja, sampai tampil Samuel sebagai hakim dengan kepemimpinan kuat. Nampaknya, Samuel adalah satu-satunya hakim berskala nasional. Patut disesalkan bahwa Samuel—yang merupakan seorang hakim yang baik—tidak mampu mendidik anak-anaknya. Akibatnya, setelah Samuel menjadi tua, anak-anaknya tidak bisa mengganti posisinya sebagai hakim karena mereka memang tidak pantas menjadi hakim. Ketiadaan calon hakim yang bisa diharapkan menjadi pemimpin nasional serta pengaruh suku-suku bangsa di sekitar bangsa Israel, membuat mereka menuntut kehadiran seorang raja sebagai pemimpin nasional pengganti Samuel. Tuntutan itu membuat Samuel merasa ditolak oleh bangsanya sendiri.

Pada zaman ini, hampr semua jabatan bersifat sementara (jangka waktunya terbatas). Setelah turun dari jabatannya, banyak orang merasa bahwa diri menjadi tidak berarti. Jabatan pelayanan dalam gereja pun tidak terbebas dari kondisi seperti ini. Banyak orang amat bersemangat untuk berdoa dan memberitakan Injil saat memangku jabatan dalam pelayanan. Akan tetapi, setelah turun dari jabatannya, mereka berhenti berdoa dan berhenti memberitakan Injil. Kadang-kadang, alasan yang dipakai kelihatan “rohani”, yaitu untuk memberi kesempatan kepada orang lain. Akan tetapi, sesungguhnya, pelayanan doa adalah pelayanan yang tidak mengenal kata “pensiun”. Samuel mengatakan, “Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu.” (12:23). Pelayanan doa adalah panggilan yang tidak dibatasi oleh usia dan jabatan.

Apakah Anda pernah menduduki jabatan pelayanan dalam gereja? Yakinkan Anda bahwa pelayanan doa adalah pelayanan yang amat penting yang seharusnya bisa dilakukan oleh setiap orang? Bila sekarang Anda sudah tidak (bisa) memiliki jabatan dalam pelayanan gereja, Anda tetap bisa melayani dalam pelayanan doa. Bila—sebagai seorang Kristen—Anda meyakini bahwa sumber kekuatan dalam pelayanan adalah kuasa yang berasal dari Allah, Anda tidak akan pernah berhenti melayani melalui doa. Apakah Anda masih tekun berdoa? [P]

Beban Doa Muncul dari Hubungan (Renungan tentang Doa)

Bacaan Alkitab hari ini:

Keluaran 33:11-19

Keakraban dengan Allah bukan hanya terlihat dalam relasi Abraham dengan Allah, tetapi juga dalam relasi tokoh-tokoh iman yang lain dalam Alkitab. Salah seorang tokoh iman yang menonjol dalam Alkitab adalah Henokh. Keakrabannya dengan Allah membuat Henokh langsung diangkat (ke sorga) oleh Allah, sehingga ia tidak mengalami kematian (Kejadian 5:22-24; Ibrani 11:5).

Dalam bacaan Alkitab hari ini, keakraban antara Musa dengan Allah terungkap melalui perkataan, “Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” (Keluaran 33:11a). Peristiwa yang terjadi saat Allah memakai Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Tanah Mesir—yaitu menimpakan 10 tulah terhadap bangsa Mesir—merupakan rangkaian mujizat paling dahsyat yang pernah dilakukan oleh seorang nabi Allah. Bagi Musa, relasi dengan Allah amat penting, sehingga Ia tidak bersedia melaksanakan tugas memimpin bangsa Israel bila TUHAN tidak mau berjalan bersama-sama umat-Nya (33:15-17). Di satu sisi, keakraban Musa dengan Allah ini membuat Musa menjadi seorang nabi yang istimewa, khususnya dalam hal membuat tanda dan mujizat (Ulangan 34:10-12). Di sisi lain, keakraban Musa dengan Allah membuat Musa membela bangsanya saat Allah hendak melenyapkan bangsa Israel yang terus-menerus bersikap memberontak dan tidak mau memercayai Allah (Bilangan 14:11-23). Dalam Perjanjian Baru, kasih kepada umat Allah yang dilandasi oleh keakraban dengan Allah ini juga terungkap dalam perkataan Rasul Paulus, “aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” (Roma 9:3).

Tanpa keakraban dengan Tuhan, kita hanya akan berdoa untuk hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan diri kita sendiri. Tanpa keakraban dengan Tuhan, kita tidak akan berjuang dalam doa. Keakraban dengan Tuhan memungkinkan kita untuk mengenal isi hati Tuhan. Selanjutnya, pengenalan terhadap isi hati Tuhan membuat kita memahami apa yang perlu kita doakan. Relasi yang baik dengan Tuhan membuat pokok doa kita menjadi lebih luas karena doa kita akan berkaitan dengan rencana Tuhan dan kepentingan umat Tuhan. Hal-hal apa saja yang menjadi pokok doa Anda? Apakah pokok doa Anda telah melampaui batas-batas kepentingan pribadi Anda? Apakah isi doa Anda telah dilandasi oleh hubungan Anda dengan Allah? [P]

Doa adalah Komunikasi (Renungan tentang Doa)

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 18:17-33

Dalam kekristenan, doa bukan sekadar kata-kata yang diucapkan, melainkan suatu komunikasi. Sebagai suatu komunikasi, maka doa seorang Kristen bisa berisi berbagai hal, sesuai dengan kondisi yang dihadapi pada saat ia berdoa. Doa yang paling banyak dihafalkan orang Kristen, yaitu doa Bapa kami (Matius 6:9-13), mengungkapkan suatu pola doa yang mengingatkan orang Kristen untuk memasukkan unsur-unsur penting ke dalam doa yang mereka panjatkan. Salah satu unsur penting dalam doa adalah bahwa doa kepada Allah harus didasarkan pada hubungan antara diri kita (sebagai anak-anak Allah) dengan Allah (sebagai Bapa kita secara rohani). Hubungan “anak-Bapak” dalam doa itu mengharuskan kita untuk selalu menghargai Allah dan mengutamakan kehendak Allah dalam semua doa yang kita panjatkan.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, jelas bahwa hubungan antara Allah dengan Abraham—sebagai orang yang dipilih Allah untuk menurunkan bangsa pilihan Allah (Israel) serta menjadi saluran berkat bagi semua bangsa—membuat Allah memutuskan untuk mengungkapkan rencana-Nya menghukum penduduk kota Sodom dan Gomora yang telah sangat berdosa itu (Kejadian 18:16-21). Terhadap rencana penghukuman Allah tersebut, Abraham melakukan tawar-menawar dengan Allah. Sebenarnya, jelas bahwa yang ada dalam hati dan pikiran Abraham adalah Lot—keponakannya yang tinggal di kota Sodom. Sayang bahwa Abraham tiak berani langsung membela Lot. Sekalipun demikian, kita bisa melihat—dalam pasal 19—bahwa permintaan Abraham membuat Lot dan keluarganya diselamatkan dari hukuman Tuhan.

Apakah tawar-menawar yang dilakukan oleh Abraham terhadap TUHAN bisa disebut sebagai doa? Ya! Doa tidak harus dilakukan dengan mata tertutup dan tangan dilipat! Doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan! Doa adalah pengungkapan isi hati kita kepada Tuhan. Doa bisa dilakukan di ruang tertutup, tetapi bisa juga dilakukan di mana saja, termasuk di tempat kerja. Doa bisa dilakukan sebagai respons saat kita mendengar atau membaca berita. Doa bila dilakukan tepat saat kita sedang berhadapan dengan ancaman bahaya atau saat kita sedang mengerjakan sesuatu. Yang penting diingat, doa bukanlah paksaan kepada Tuhan. Kita tetap harus tunduk kepada kehendak dan keputusan Tuhan. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk mengungkapkan isi hati Anda kepada Tuhan dalam doa? [P]

Tim Pemimpin

Bacaan Alkitab hari ini:

Keluaran 17:8-18:27

Walaupun Musa adalah pemimpin tertinggi bangsa Israel, dia memerlukan orang lain untuk membantunya melaksanakan tanggung jawab memimpin bangsa Israel. Bila dia melakukan segala sesuatu sendirian, dia akan menjadi sangat kelelahan karena yang harus dia kerjakan sangat banyak. Orang Israel yang menunggu giliran untuk menghadap Musa pun menjadi kelelahan karena antrian orang yang meminta penyelesaian masalah akan menjadi sangat panjang. Kesibukan Musa yang luar biasa itulah yang membuat Yitro—mertua Musa yang baru datang berkunjung—memberi saran agar Musa membentuk tim pemimpin yang akan membantunya menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di antara bangsa Israel. Yitro menyarankan agar Musa membentuk tim kepemimpinan yang berjenjang (pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang, dan pemimpin sepuluh orang, 18:21). Para pemimpin tersebut bertugas untuk mengatasi masalah yang muncul di dalam kelompok orang-orang yang berada di bawah pengawasan mereka, dan mereka harus membawa masalah yang besar atau sulit dipecahkan kepada Musa. Dengan demikian, tugas Musa menjadi tidak terlalu berat.

Pentingnya tim sudah terlihat saat terjadi peperangan antara bangsa Israel dengan bangsa Amalek (17:8-16). Yosua bertugas sebagai panglima yang memimpin bangsa Israel dalam berperang melawan bangsa Amalek. Sementara itu, Musa mengawasi dari puncak bukit sambil memegang tongkat. Bila Musa mengangkat tongkatnya, bangsa Israel semakin kuat mendesak musuhnya. Sebaliknya, bila Musa menurunkan tongkatnya, bangsa Israel akan terdesak. Oleh karena itu, Harun dan Hur membantu Musa memegang tongkat. Jelaslah bahwa dalam hal ini, mengangkat tongkat merupakan ungkapan sikap berharap (bergantung) kepada pertolongan Allah.

Kisah yang kita baca dalam bacaan Alkitab hari ini menunjukkan bahwa dalam pelayanan rohani pun perlu dibentuk tim pemimpin. Pemimpin harus bersedia mendelegasikan tugasnya kepada para anggota tim tersebut. Sebaliknya, setiap anggota tim harus menyadari batas-batas tugas dan wewenangnya. Apakah Anda telah terbiasa untuk bekerja sama dalam sebuah tim? Saat Anda menjadi anggota tim, apakah Anda menyadari batas-batas tugas dan wewenang Anda? [P]

Percaya: Taat dan Bersandar

Bacaan Alkitab hari ini:

Keluaran 16:1-17:7

Kata “percaya” mudah diucapkan, tetapi tidak mudah dilaksanakan. Masalahnya, kita sering menganggap kata “percaya” itu sebagai sekadar pengakuan intelektual, padahal kata “percaya” itu seharusnya mencakup seluruh aspek kepribadian kita. Kita perlu percaya secara intelektual, tetapi juga perlu memiliki gairah (perasaan) dan kemauan untuk melaksanakan (menerapkan) apa yang kita percayai. Saat melihat Allah bertindak menimpakan tulah kepada orang-orang Mesir serta membelah laut dan membuat mereka bisa melintasi laut seperti melintasi tanah kering, bangsa Israel pasti mempercayai kuasa dan kepedulian Allah terhadap diri mereka. Akan tetapi, kepercayaan intelektual itu belum menimbulkan gairah dan kemauan untuk menaati Allah. Oleh karena itu, saat menghadapi masalah fisik (lapar dan haus), mereka segera melupakan kuasa dan kepedulian Allah, sehingga mereka menujukan protes kepada Musa dan Harun yang menjadi pemimpin mereka. Perhatikan beberapa hal berikut ini: Pertama, Allah menuntut agar umat-Nya menaati dan memercayai (bersandar kepada) Allah. Kedua, Musa dan Harun memiliki kelemahan. Akan tetapi, sikap bangsa Israel terhadap Musa dan Harun yang mewakili Allah merupakan cermin dari sikap bangsa Israel terhadap Allah. Oleh karena itu, saat bangsa Israel bersungut-sungut terhadap Musa dan Harun, Musa mengatakan, “…. Bukan kepada kami sungut-sungut-Mu itu, tetapi kepada TUHAN.” (16:8). Menurut Musa, protes bangsa Israel terhadap kondisi yang mereka alami itu merupakan tindakan “mencobai TUHAN” (17:2).

Bacaan Alkitab hari ini merupakan peringatan bagi kita untuk memikirkan kembali sikap kita saat kita protes terhadap kondisi yang sedang kita alami. Sadarkah Anda bahwa kekesalan hati yang muncul saat Anda mengalami kekurangan uang atau saat Anda menderita sakit atau saat Anda mengalami kerugian atau mengalami kegagalan mencerminkan sikap hati yang tidak bisa memercayai pemeliharaan TUHAN? Apakah Allah tidak sanggup memelihara kehidupan Anda bila tidak ada uang di tangan Anda? Apakah Allah tidak sanggup menyembuhkan Anda saat Anda sakit? Apakah Allah tidak sanggup memberikan jalan keluar saat keadaan yang Anda hadapi terasa seperti suatu jalan buntu? Bersediakah Anda memercayai Allah: Menaati Dia dan bersandar kepada tangan-Nya yang kuat itu? [P]

Respons yang Beragam

Bacaan Alkitab hari ini:

Keluaran 15

Peristiwa bangsa Israel melintasi laut menghasilkan bermacam-macam respons. Musa bersama-sama dengan orang Israel mengungkapkan rasa syukur dan pujian mereka kepada Tuhan melalui nyanyian yang menceritakan peristiwa itu serta mengungkapkan keagungan Tuhan (15:1-18). Miryam—kakak Musa—memukul rebana dan menari-nari bersama-sama dengan para perempuan Israel sambil menyanyikan peristiwa itu (15:20-21). Peristiwa dahsyat itu membuat bangsa-bangsa yang tinggal di sekitar daerah itu—bangsa Edom, Moab, dan Kanaan—menjadi gemetar ketakutan (15:14-16). Peristiwa itu menyadarkan bangsa-bangsa di sekitar daerah itu bahwa Allah bangsa Israel adalah Allah yang mulia dan amat berkuasa, lebih berkuasa daripada ilah-ilah yang mereka sembah.

Sayangnya, respons terhadap kedahsyatan Allah Israel itu tidak membuat mereka beriman kepada Allah Israel. Bangsa-bangsa di sekitar Israel tetap menyembah ilah mereka dan bangsa Israel tetap belum bisa hidup bergantung pada TUHAN. Tidak lama sesudah peristiwa dahsyat itu terjadi, bangsa Israel tiba di Mara. Ternyata bahwa air di sana rasanya pahit sehingga tidak bisa diminum. Dalam kondisi seperti itu, mereka tidak mencari pertolongan Allah, melainkan bersungut-sungut kepada Musa yang mereka anggap telah menjerumuskan mereka ke dalam keadaan yang sulit. Setelah Musa berseru kepada TUHAN, TUHAN menunjukkan sepotong kayu, lalu Ia memerintahkan Musa untuk melemparkan kayu itu ke dalam air, dan air yang semula terasa pahit itu berubah menjadi manis.

Bila kita bersikap jujur dan terbuka, kita pun pasti pernah mengalami pertolongan TUHAN. Sekalipun demikian, saat mengalami sakit atau menghadapi persoalan berat, tidak mudah bagi kita untuk tetap memercayai TUHAN dan bergantung kepada-Nya saja. Banyak orang percaya yang bersungut-sungut kepada TUHAN saat menghadapi masalah dalam kehidupan mereka. Saat menghadapi kesulitan keuangan, banyak orang percaya yang tidak mengingat bahwa Allah telah memelihara dan mencukupi kebutuhan hidup mereka selama bertahun-tahun. Akibatnya, mereka bersungut-sungut kepada TUHAN, padahal masalah yang mereka hadapi sebenarnya kecil dan tidak berarti bila dibandingkan dengan berkat TUHAN yang telah mereka terima secara berlimpah-limpah. Bagaimana dengan Anda? [P]

Allah Menyatakan Kemuliaan-Nya!

Bacaan Alkitab hari ini:

Keluaran 14

Banyak orang salah sangka terhadap Allah. Karena Allah tidak dapat dilihat dengan mata, banyak orang membayangkan tentang Allah berdasarkan gambaran tentang apa yang dapat dilihat oleh mata. Hal itu menghasilkan gambaran yang salah tentang Allah. Walaupun Firaun dan seluruh bangsa Mesir telah menyaksikan perbuatan Allah yang dahsyat saat Allah membebaskan umat-Nya dengan menimpakan 10 tulah yang mengerikan, mereka masih tidak mengira bahwa Allah akan terus melindungi umat-Nya. Mereka mengira bahwa bangsa Israel telah tersesat dan menemui jalan buntu berupa lautan yang tak mungkin diseberangi. Dengan mengandalkan kekuatan pasukan yang bersenjata lengkap, Firaun hendak membawa kembali bangsa Israel ke Mesir. Akan tetapi, pada saat bangsa Israel menghadapi kondisi yang secara manusia merupakan jalan buntu, Allah menunjukkan kemuliaan-Nya. Allah bukanlah manusia! Manusia terbatas, tetapi Allah tidak terbatas. Secara manusiawi, keadaan yang dihadapi bangsa Israel merupakan jalan buntu. Akan tetapi, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil! Dengan perantaraan angin timur yang keras, Allah menguakkan air laut, sehingga air laut menjadi seperti tembok di sebelah kanan dan sebelah kiri, dan Allah membuat dasar air laut menjadi tanah kering, sehingga bangsa Israel bisa melewati laut dengan selamat. Firaun beserta seluruh tentaranya terus mengejar dan mencoba mengikuti jejak bangsa Israel melewati dasar laut yang telah menjadi kering. Akan tetapi, Allah membuat air laut yang tadinya tertahan menyerupai tembok berbalik ke tempatnya dan menenggelamkan Firaun dan seluruh tentaranya!

Perbuatan Allah yang dahsyat itu memperlihatkan kepada bangsa Mesir dan bangsa Israel bahwa Allah itu mulia! Allah itu berbeda dengan manusia! Allah tidak dibatasi oleh keterbatasan manusia! Sayangnya, bukan hanya bangsa Mesir yang tidak menyadari kemuliaan Allah. Umat Allah pun sering beranggapan bahwa Allah memiliki keterbatasan seperti manusia. Bila Anda mengalami sakit berat yang secara manusiawi tak mungkin disembuhkan, apakah Anda berani mengharapkan kesembuhan dari Tuhan? Saat Anda menghadapi persoalan berat yang belum Anda temukan jalan keluarnya, beranikah Anda mengharapkan Allah menolong Anda? Bagaimana pandangan Anda tentang Allah? Beranikah Anda memercayai Allah dan menyandarkan hidup Anda kepada-Nya? [P]