Gema

Ketidaksetiaan Keluarga Yakub

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 34

Pasal 34 ini sangat unik karena penulisnya menyelipkan suatu kisah aib yang luar biasa di pertengahan kisah kembalinya Yakub kepada Ishak. Kisah aib tersebut terbagi menjadi dua bagian: Pertama, kisah pemerkosaan Dina (satu-satunya putri Yakub yang tercatat di Alkitab) oleh Sikhem, anak Hemor—raja negeri Hewi. Kedua,kisah pembalasan dendam oleh Simeon dan Lewi yang mewakili keluarga Yakub. Penempatan kisah ini di tengah-tengah perjalanan pulang Yakub ke Tanah Kanaan memang sangat menarik, apalagi hal tersebut terjadi setelah situasi terlihat normal pasca rekonsiliasi Yakub dan Esau. Sesungguhnya, apakah yang terjadi?

Perhatikanlah konteks yang menyebabkan terjadinya aib pertama, yaitu aib yang menyangkut diri Dina. Ayat 1 jelas menceritakan bahwa Dina mengunjungi perempuan-perempuan negeri itu, namun alasannya tidak disebutkan. Kenekatan Dina yang pergi sendirian ke sana sungguh merupakan suatu kesalahan fatal mengingat kondisi zaman dahulu yang tidak aman bagi seorang perempuan muda untuk pergi sendirian tanpa dikawal keluarganya. Yakub dan keluarganya telah lalai dalam mengawasi anak perempuan tersebut! Kecerobohan Dina (dan keluarganya) menimbulkan akibat yang amat tragis.

Aib tersebut kemudian diperparah oleh aib kedua. Anak-anak Yakub berusaha melakukan pembalasan dendam dengan siasat licik: Mereka meminta seluruh penduduk negeri Hewi untuk bersunat. Permintaan itu disetujui oleh Hemor dan Sikhem. Saat mereka dalam keadaan lemah (kesakitan), Simeon dan Lewi melakukan penumpasan massal dan menjarah harta kota itu. Aib kedua ini lebih mengerikan dari aib pertama, karena mereka melakukan kekejian dengan berkedok perintah Tuhan (17:10-14)! Sungguh luar biasa dosa yang mereka perbuat! Rupanya semua kebaikan yang telah Tuhan lakukan untuk keluarga Yakub tidak membuat mereka bersyukur dan waspada, namun mereka menjalani kehidupan yang sama dengan orang-orang yang tidak beriman.

Sesungguhnya, ketidaksetiaan pada Tuhan bisa terlihat dari hal-hal kecil di dalam kehidupan kita. Barangsiapa setia dalam hal-hal kecil, ia akan dapat dipercaya dalam hal-hal besar (bandingkan dengan Matius 25:23). Sudahkah Anda mempraktikkan kesetiaan kepada Tuhan dalam kehidupan Anda hari ini? [Sung]

Bukti Kesetiaan Tuhan (6)

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 33

Tembok Berlin merupakan monumen yang menandai kekejaman Perang Dunia Kedua yang berakhir pada tahun 1945. Perang itu telah menghancurkan sebagian besar Eropa Barat. Tembok tersebut merupakan garis pemisah antara Blok Barat (NATO) dengan Blok Timur. Nyaris tidak ada seorang pun yang bisa mengharapkan perdamaian abadi di antara kedua Blok tersebut, terutama di masa perang dingin. Namun, pada bulan November 1989, dimulailah era baru yang ditandai dengan penghancuran Tembok Berlin yang berlangsung secara berangsur-angsur sampai 13 Januari 1990. Penghancuran Tembok Berlin ini merupakan tanda perdamaian antara kedua Blok yang bertikai. Banyak pihak terperangah melihat sesuatu yang mustahil tersebut dapat terwujud.

Perdamaian antara Yakub dan Esau yang dikisahkan dalam pasal 33 juga merupakan suatu perdamaian yang tidak pernah bisa diperkirakan sebelumnya, mengingat sejarah hubungan Yakub dan Esau di masa lampau yang penuh pertikaian. Yakub sendiri pun menyadari betapa parahnya keretakan hubungan antara dirinya dengan Esau, sehingga ia merasa sangat gentar saat hendak bertemu dengan Esau, seperti yang bisa kita baca dalam pasal 32. Yang menjadi pertanyaan adalah, Apa gerangan yang terjadi, sehingga Esau bisa berubah sikap secara drastis (Esau menyambut Yakub dengan hangat)?

Jawabannya tentu saja adalah karena berkat campur tangan Tuhan sebagai bentuk kesetiaan-Nya pada janji-Nya sendiri terhadap Yakub (31:3; 32:9, 12). Hal ini menjadi menarik karena sesungguhnya Tuhan tidak memiliki kewajiban sama sekali kepada Yakub untuk mempermudah jalan hidupnya, karena Tuhan sama sekali tidak berutang budi kepada Yakub. Hal ini sangat disadari oleh Yakub, sehingga sesudah berdamai dengan Esau, ia segera mendirikan mezbah bagi Tuhan sebagai ungkapan rasa syukur atas kebaikan Tuhan (33:20).

Hanya Tuhan yang berkuasa untuk mengubah hati Esau yang penuh kebencian terhadap Yakub—adiknya sendiri—menjadi hati yang penuh kasih, seperti yang telah dijanjikan-Nya kepada Yakub. Sungguh, Allah kita adalah Allah yang setia dalam memegang teguh janji-Nya kepada semua anak-Nya—suatu penghiburan sejati bagi kita semua. Soli Deo Gloria! [Sung]

Bukti Kesetiaan Tuhan (5)

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 32

Di pasal 32, kita membaca pertemuan antara Yakub dengan abangnya, yaitu Esau. Pertemuan ini menjadi klimaks hubungan antar kedua saudara kembar yang saling bermusuhan sejak lahir itu. Kita masih ingat dengan jelas kesembronoan Esau dalam menjaga hak kesulungannya sendiri yang ia jual hanya demi sepiring makanan (25:29-34, bandingkan dengan Ibrani 12:16), dan betapa culasnya Yakub yang tega membohongi Ishak, ayahnya sendiri, demi memperoleh berkat kesulungan (Kejadian 27). Oleh karena itu, pertemuan antara Esau dan Yakub seperti pertarungan final: Ketika hendak berjumpa dengan pasukan Esau, Yakub membuat strategi dengan membagi rombongannya menjadi dua rombongan keluarga (32:7). Bahkan, Yakub berupaya “menyogok” Esau dengan rombongan pasukan yang membawa persembahan harta benda dan ternak untuk mengambil hati Esau (32:13-21). Nampak jelas bahwa dosa lama Yakub bersemi kembali.

Di pasal 32 ini terlihat pertumbuhan iman Yakub. Dalam 32:9-12, ia berdoa memohon perlindungan Tuhan Allah agar ia diluputkan dari amarah Esau, abangnya sendiri, padahal kita tidak melihat catatan tentang doa semacam itu saat Yakub meninggalkan rumah orang tuanya dan pergi ke rumah Laban. Perkembangan iman seperti ini menyukakan hati Tuhan, sehingga Ia memberi kesempatan kepada Yakub untuk mengalami suatu pengalaman rohani yang langka, yaitu bergulat secara fisik dengan “seorang laki-laki” (32:24). Orang tersebut kemudian memberkati Yakub dan mengubah nama ‘Yakub’ menjadi ‘Israel’ (32:28). Siapakah “laki-laki” itu? Setelah pergulatan selesai, Yakub mengatakan, “Aku telah melihat Allah berhadapan muka” (32:30). Jelaslah bahwa “laki-laki” itu adalah penampakan diri Allah dalam wujud Manusia.

Pasal ini menunjukkan betapa besarnya kesetiaan Tuhan pada janji-Nya terhadap Yakub. Ia menumbuhkan iman percaya Yakub, bahkan menganugerahkan nama “Israel” untuk menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah lupa akan janji-Nya. Tuhan yang kita sembah saat ini adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan dalam kisah Yakub ini. Kesetiaan-Nya terhadap Yakub merupakan pegangan bagi kita saat ini, sehingga kita bisa sungguh-sungguh berharap dan mempercayai janji keselamatan dan penyertaan-Nya pada diri kita! Soli Deo Gloria (Segala Kamuliaan Hanya Bagi Allah)! [Sung]

Bukti Kesetiaan Tuhan (4)

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 31

Mulai pasal 31, kita akan melihat serangkaian akibat dari perbuatan dosa dalam keluarga Yakub, sekaligus kita juga dapat melihat kesetiaan Tuhan atas janji-Nya yang ditunjukkan dengan cara memberikan jalan keluar atas masalah yang muncul.

Masalah pertama yang muncul dalam bacaan Alkitab hari ini adalah bahwa Yakub dan keluarganya terpaksa melarikan diri dari rumah Laban setelah mereka sadar bahwa Laban telah mencurigai perbuatan culas (curang, tidak jujur) yang dilakukan oleh Yakub (31:1-2). Meskipun Tuhan sendiri berfirman menyuruh Yakub untuk pergi (31:3), jelas bahwa kondisi tidak nyaman itu terjadi karena kesalahan Yakub. Sayangnya, Yakub tidak merasa bersalah (bertobat), malahan dia berusaha membenarkan diri sendiri. Yakub menuduh Laban yang melakukan kecurangan terhadap dirinya (31:5-8) dan dia mengatakan bahwa apa yang diperolehnya merupakan berkat Allah baginya (31:7-12), padahal taktik keculasan Yakub terlihat jelas (30:37-43). Jawaban Yakub menunjukkan bahwa dia tidak mau bertanggung jawab dan tidak bersedia mengakui kesalahannya. Akhirnya, Laban mengizinkan Yakub dan keluarganya pergi. Kisah ini, menunjukkan bahwa dosa yang dipertahankan dan sikap membenarkan diri sendiri akan melahirkan dosa yang baru. Namun, ganjaran Tuhan tidak pernah salah sasaran. Pembuat dosa akan merasakan akibat dosa yang dilakukannya.

Masalah kedua dalam keluarga Yakub terjadi karena Rahel—istri kesayangan Yakub—bertindak terlampau jauh dengan mencuri terafim milik Laban—ayahnya sendiri—yang tercatat di Alkitab sebagai dewa asing di mata Tuhan. Hal ini menunjukkan kegagalan Yakub dalam mengajarkan kebenaran Tuhan kepada Rahel. Kemungkinan besar, Rahel “terpaksa” mengandalkan ilah lain karena ia dikuasai oleh rasa kuatir.

Kasih dan kesetiaan Tuhan terhadap janji-Nya kepada Yakub terlihat jelas melalui intervensi langsung yang Ia lakukan terhadap Laban. Allah berfirman secara langsung dalam suatu mimpi agar Laban tidak berlaku kasar terhadap Yakub (31:24). Oleh karena itu, sebelum Laban melepas kepergian Yakub dan seluruh keluarganya, Laban mencium cucu-cucunya dan anak-anaknya serta memberkati mereka (31:55). Sungguh sangat luar biasa kesetiaan Tuhan terhadap janji-Nya, meskipun pewaris janji itu bukanlah orang yang setia! [Sung]

Pengulangan Kesalahan dalam Keluarga

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 30

Sejarah terus berulang karena di bawah matahari ini “tak ada sesuatu yang baru” (Pengkhotbah 1:9). Di pasal 30, terdapat beberapa pengulangan terhadap kesalahan (dosa) yang pernah dilakukan oleh leluhur mereka. Pertama, ketidaksetiaan (ketidaksabaran) Rahel saat menanti penggenapan janji keturunan dari Allah membuat ia memberikan budaknya—Bilha—untuk menjadi gundik Yakub, agar Bilha dapat melahirkan anak bagi Yakub. Pada zaman itu, anak yang dilahirkan seorang budak perempuan bisa dianggap sebagai anak dari majikannya (yaitu Rahel). Hal serupa juga ditiru oleh sang kakak—yaitu Lea— yang memberikan budaknya—Zilpa—untuk menjadi gundik Yakub (Kejadian 30:1-13). Kedua peristiwa tersebut mengingatkan kita kepada Sara yang pernah melakukan hal yang sama (16:1-3). Kedua, peristiwa “pemerasan” oleh Lea kepada adiknya sendiri—Rahel—yang menginginkan buah dudaim (30:14-16) mengingatkan kita akan pemerasan yang dilakukan oleh Yakub pada Esau. Ketidaksetiaan terhadap janji Tuhan tersebut disempurnakan juga oleh Yakub sendiri, yang dengan tipu muslihatnya berhasil memperbanyak kekayaannya (30:29-43). Walaupun tipu muslihat Yakub merupakan tindakan penipuan terhadap penipu, tindakan seperti itu tetap merupakan hal yang tidak terpuji di hadapan Allah.

Walaupun dosa yang dipaparkan di atas tidak mendatangkan teguran atau hukuman Allah secara langsung, tidak berarti bahwa dosa seperti itu diizinkan Allah. Dalam lanjutan riwayat Yakub dan anak-anaknya, kita akan melihat bahwa dosa-dosa tersebut mendatangkan ganjaran di masa depan. Anak-anak yang tidak melihat teladan yang baik dari orang tua mereka akan meniru apa yang mereka lihat. Pelajaran untuk kita hari ini adalah: Pertama, jangan pandang remeh perbuatan dosa. Dosa yang terjadi dalam keluarga Yakub maupun leluhurnya selalu dimulai dengan pandangan bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang sepele. Sekalipun demikian, ketidaksetiaan dalam hal-hal kecil bisa mendatangkan konsekuensi yang mengerikan. Kedua, jangan bersikap santai atau menganggap lumrah bila dosa yang kita lakukan tidak langsung mendapatkan ganjaran, karena Tuhan adalah Hakim yang adil. Dosa pasti akan mendatangkan hukuman! Marilah kita terus setia berpegang pada penggenapan janji-janji Allah dan jangan bermain-main dengan dosa! [Sung]

Ketidakadilan Yakub dan Keadilan Allah

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 29

Suatu ketika ada sebuah berita yang sangat menarik di surat kabar. Berita itu menyangkut sebuah kasus penipuan yang memiliki unsur mistis. Berita itu menarik karena di antara para korban penipuan terdapat nama seseorang berinisial A yang merupakan mantan terpidana kasus penipuan dan penggelapan uang. Sungguh sangat ironis dan menggelikan bahwa sang penipu—yang sudah menerima hukuman atas perbuatannya—dapat tertipu untuk kasus yang mirip. Kira-kira demikianlah halnya dengan apa yang terjadi pada pasal 29 ini.

Di beberapa pasal sebelumnya, kita sudah membaca tentang kelakuan sang putra bungsu—Yakub—yang tega memeras Esau—abangnya sendiri—yang sedang dalam keadaan lelah dan lapar (25:29-34), serta bekerja sama dengan ibunya—Ribka—untuk menipu ayahnya sendiri—Ishak—agar memperoleh berkat kesulungan (27:1-29). Akibat perbuatannya sendiri, Yakub harus meninggalkan keluarganya untuk menyelamatkan diri dari ancaman Esau. Pada pasal 29 ini, diceritakan bahwa akhirnya Yakub sampai ke rumah pamannya sendiri—Laban—di Haran. Di sana, Yakub jatuh cinta pada Rahel—anak kedua sang paman—dan bersedia bekerja selama 7 tahun demi mendapatkan gadis itu. Akan tetapi, ternyata Yakub ditipu oleh Laban yang memberikan sang kakak (Lea)—bukan Rahel—sebagai istrinya. Untuk menebus Rahel—sang adik—Yakub terpaksa bekerja lagi selama 7 tahun berikutnya. Sungguh, peristiwa penipuan ini amat menyakitkan bagi Yakub. Akibat penipuan yang dilakukan Laban ini, Yakub berlaku tidak adil terhadap Lea, karena ia memang tidak mencintai Lea.

Perlakuan Yakub yang diskriminatif itu membuat Tuhan Allah yang setia dan adil itu segera membuka kandungan Lea—sehingga Lea bisa melahirkan empat anak laki-laki, yaitu Ruben, Simeon, Lewi, dan Yehuda—sedangkan Rahel belum melahirkan seorang anak pun. Kisah keluarga Yakub ini mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan membenci ketidakadilan, dan Ia akan berpihak kepada orang yang menjadi korban. Prinsip keadilan Allah ini terlihat berulang kali dalam Alkitab, dan juga sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari pada masa kini. Allah menuntut kita untuk berlaku adil terhadap sesama, di samping menuntut kita untuk berlaku setia dan rendah hati di hadapan Tuhan (Mikha 6:8). Bersediakah Anda untuk berlaku adil, setia, dan rendah hati? [Sung]

Bukti Kesetiaan Tuhan (3)

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 28

Pada pasal sebelumnya, kita sudah melihat betapa hancur dan menyedihkannya kondisi rumah tangga Ishak dan Ribka, sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa keluarga tersebut sudah tidak bisa lagi disebut sebagai keluarga “teladan”. Keluarga itu praktis sudah tidak berfungsi secara efektif karena sudah mengalami disintegrasi (keadaan terpecah belah). Puncak keruntuhan keluarga itu terjadi saat mereka terpaksa melepas Yakub untuk pergi ke rumah saudara Ribka yang bernama Laban di Padan-Aram. Keadaan semakin memburuk setelah Esau—yang melihat kepergian Yakub dan mendengar perintah Ishak untuk tidak menikahi perempuan Kanaan—sengaja mengambil anak perempuan Ismael sebagai istri ketiga. Jelaslah bahwa ada banyak masalah yang bisa menimpa keluarga umat pilihan TUHAN!

Sekalipun demikian, apakah TUHAN membuang keluarga tersebut dari status sebagai umat pilihan? Untungnya tidak! Pengampunan TUHAN mengingatkan kita pada ucapan Nabi Yesaya bahwa “buluh yang terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya” (Yesaya 42:3), demikianlah kasih TUHAN pada keluarga Yakub. Di tengah perjalanan ke rumah Laban, tepatnya di daerah yang kini dikenal dengan nama Betel (artinya “Rumah Allah”), TUHAN berbicara langsung kepada Yakub melalui mimpi! Dalam mimpi tersebut, Tuhan mengulangi janji yang pernah Ia ucapkan pada Abraham (kakeknya) dan Ishak (ayahnya), yaitu bahwa Yakub akan mewarisi Tanah Perjanjian dan keturunannya akan sangat banyak (seperti debu tanah, artinya tidak mungkin bisa dihitung), dan semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat melalui keturunan Yakub (Kejadian 28:13-14). Tidak cukup sampai di situ, TUHAN juga kembali berjanji untuk selalu menyertai dan melindungi Yakub ke manapun Yakub berjalan (28:15). Perlakuan terhadap Yakub ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah lalai menepati janji-Nya!

Kejadian pasal 28 ini mengingatkan kita bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang selalu setia pada janji-Nya terhadap seluruh umat pilihan-Nya—termasuk kita semua—sekalipun mungkin kita sering tidak setia kepada-Nya! Kiranya kita semua mendapat penghiburan dari firman ini dan kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk setia kepada Allah! [Sung]

Umat Allah adalah Manusia Biasa

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 27

Mungkin banyak dari Anda yang pernah mendengar lagu “Rocker juga manusia” yang dipopulerkan oleh grup band Seurieus. Ungkapan semacam itu sering dikenakan pada berbagai profesi untuk mengingatkan bahwa kita tidak bisa mengharapkan kesempurnaan pada diri seseorang, siapa pun dia, karena pada dasarnya, ia hanyalah manusia biasa yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Ternyata, ungkapan yang serupa juga bisa dikenakan pada “keluarga idaman” yang seharusnya menjadi teladan karena status mereka sebagai “nenek moyang orang beriman,” yaitu keluarga Ishak.

Pasal 27 dapat dipandang sebagai pasal “penelanjangan” rusaknya kehidupan rumah tangga Ishak. Kisah mereka diawali dengan cerita tentang tindakan pilih kasih yang dilakukan oleh Ishak dan Ribka terhadap Yakub dan Esau, lalu dilanjutkan dengan kelicikan Yakub yang menjebak Esau (pasal 25), dan diakhiri dengan tindakan gegabah Esau—mengambil dua perempuan Het menjadi istrinya—yang menimbulkan kedukaan di hati Ishak dan Ribka (26:34-35). Puncaknya adalah peristiwa penipuan yang dilakukan oleh Ribka dan Yakub yang pada akhirnya berhasil merampas berkat kesulungan Esau (27:1-29). Tindakan penipuan ini bagaikan sebuah palu godam yang dihantamkan kepada keluarga yang seharusnya menjadi teladan ini. Sejak saat itu, hubungan antar pribadi dalam keluarga tersebut praktis telah hancur. Tindakan Esau yang mengancam akan membunuh Yakub setelah Ishak meninggal kelak hanyalah konfirmasi atas hancurnya hubungan tersebut, yang memaksa Yakub untuk melarikan diri ke rumah pamannya, Laban, di Haran atas perintah Ribka (27:41-28:5).

Peristiwa ini jelas merupakan aib terbesar bagi bangsa Israel yang membacanya, namun sekaligus merupakan peringatan bagi mereka dan bagi kita—umat Allah penerus iman Abraham—yang hidup sekarang ini. Jelaslah bahwa status sebagai umat pilihan TUHAN bukanlah jaminan bahwa segala sesuatu akan berlangsung baik-baik saja. Sebaliknya, status sebagai umat pilihan TUHAN mengharuskan kita untuk selalu waspada dan bergantung sepenuhnya pada TUHAN, termasuk dalam hal menjaga keutuhan rumah tangga. Kesalahan Ishak dan Ribka yang pilih kasih yang nampaknya sepele justru menjadi penyebab (pemicu) retaknya rumah tangga mereka. Kita pun harus waspada saat membangun rumah tangga, agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama. [Sung]

Pengulangan Kesalahan

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 26

Ingatkah Anda pada peristiwa kegagalan Abraham untuk bergantung (beriman) kepada TUHAN, sehingga ia tidak berani mengakui Sara sebagai istrinya karena menguatirkan keselamatan nyawanya sendiri (Kejadian 20)? Dalam bacaan Alkitab hari ini, peristiwa yang serupa kembali terulang, namun dengan aktor yang berbeda.

Konteks latar belakang kisah di atas diawali dengan laporan adanya bencana kelaparan di negeri sekitar tempat tinggal keluarga besar Ishak, yang memaksa mereka untuk pindah ke tanah Gerar. Sebutan “Abimelekh” untuk raja Gerar merupakan sebutan umum (gelar), sehingga Abimelekh pada zaman Ishak bisa saja berbeda dengan Abimelekh pada zaman Abraham. Kepergian Ishak ke Gerar mendapatkan restu dari TUHAN yang menjanjikan pertolongan dan penyertaan, selama Ishak tinggal di Gerar (26:1-3). Akan tetapi, apa yang terjadi?

Ishak tidak bersandar kepada jaminan penyertaan TUHAN, sehingga ia merasa takut dan mengulangi kesalahan Abraham: Ia tidak berani mengakui Ribka sebagai istrinya dengan alasan yang serupa dengan alas an Abraham, yaitu takut keselamatannya terancam. Apakah Ishak telah kehilangan iman? Bukankah TUHAN bukan hanya sekadar merestui, tetapi juga berjanji untuk menyertai dan melindunginya? Bukankah Ishak adalah pewaris janji Allah kepada Abraham—bapa orang beriman? Kisah Ishak ini menyadarkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Untuk bisa mempertahankan iman, kita harus bergantung kepada kekuatan (anugerah) dari TUHAN.

Sekalipun diri kita lemah, kita patut bersyukur karena TUHAN penuh dengan kasih sayang serta belas kasihan kepada umat pilihan-Nya yang pernah berbuat salah. TUHAN bukan saja melepaskan Ishak dari ancaman kemarahan Abimelekh yang merasa tertipu, tetapi TUHAN juga bersedia mengampuni dan mengulangi janji penyertaan dan keselamatan bagi Ishak (26:24), sehingga Ishak dapat melanjutkan kehidupannya dengan baik.

Seringkali kita melakukan dan mengulangi kesalahan, sama seperti Ishak. Sekalipun demikian, syukurlah bahwa Allah Ishak adalah Allah kita juga. TUHAN tetap baik dan setia pada janji-Nya, dan Ia berkenan menerima pertobatan kita serta tidak membuang kita yang telah berbuat dosa. Soli Deo Gloria (Segala kemuliaan hanya bagi Allah)! [Sung]

Akibat dari Ketidakpekaan

Bacaan Alkitab hari ini:

Kejadian 25:19-34

Kita telah membahas mengenai akibat dari ketidaksetiaan Abraham pada perkara rumah tangganya di paruh pertama pasal 25 ini, yaitu bahwa ketidaksetiaan dalam hal yang nampak kecil dan sepele (menurut pandangan masyarakat pada saat itu), ketika dibiarkan, bisa membawa dampak besar di kemudian hari. Rupanya Ishak, anak Abraham, juga tidak menyadari bahwa masalah kecil bisa berdampak besar.

Masalah dalam keluarga Ishak muncul dari kegalauan hati Ishak dan istrinya yang merindukan kehadiran anak—kondisi seperti ini sama persis dengan kondisi Abraham dan Sara yang juga merindukan kehadiran anak. Bedanya, bila Abraham kemudian mengambil perempuan asing (Hagar, dan selanjutnya—sesudah Sara mati—juga Ketura) sebagai istri, Ishak tidak. Ishak bertindak secara positif, yaitu berdoa memohon TUHAN memberikan keturunan. Tindakan berdoa yang menunjukkan bahwa Ishak mengandalkan TUHAN ini direspons TUHAN dengan membuat Ribka mengandung anak kembar. Namun, ternyata kemudian muncul persoalan: Sejak dalam kandungan, kedua anak kembar yang dikandung Ribka sudah saling bertolak-tolakan di dalam rahim. TUHAN berfirman bahwa kedua anak itu kelak akan saling bersaing dan keturunannya akan saling berseteru (25:22-23). Lantas, apa yang diperbuat oleh Ishak?

Ishak dan Ribka mempercepat permusuhan di antara anak-anak mereka melalui sikap pilih kasih (25:28). Dengan kata lain, permusuhan antara Yakub dan Esau berkembang karena teladan buruk yang ditularkan oleh kedua orang tua mereka sendiri! Ketidakseimbangan perlakuan terhadap anak (sikap pilih kasih) adalah bentuk ketidaksetiaan pada TUHAN, karena TUHAN menghendaki agar keberadaan keluarga orang beriman dapat menjadi contoh yang baik bagi orang lain yang tidak mengenal Dia! Peristiwa Yakub memeras Esau agar menjual hak kesulungannya (25:29-34) hanyalah kepanjangan dari masalah hubungan Ishak dan Ribka yang akan disoroti lebih mendalam di pasal berikutnya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketidakpekaan Ishak dan Ribka terhadap peringatan Allah membuat mereka tidak membesarkan anak-anak mereka sesuai dengan kehendak Allah. Walaupun sikap pilih kasih nampak seperti masalah sepele yang lumrah terdapat dalam sebuah keluarga, masalah ini bisa memicu munculnya masalah lain yang lebih besar. Jangan tiru kesalahan mereka! [Sung]