Memberi Bantuan

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 16

Apakah memberi bantuan berupa uang kepada orang yang membutuhkan merupakan masalah rohani? Ada orang Kristen yang berpendapat bahwa tindakan mendoakan lebih rohani daripada memberi bantuan, sehingga lebih baik mendoakan daripada memberi uang. Benarkah demikian? Sebenarnya, mendoakan memang merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Sekalipun demikian, tindakan nyata berupa memberi bantuan adalah tanggung jawab moral setiap orang percaya (bandingkan dengan Galatia 2:10). Dalam bacaan Alkitab hari ini, Rasul Paulus mengemukakan beberapa prinsip pengumpulan uang yang bisa menjadi pedoman saat orang Kristen hendak memberi bantuan kepada orang lain:

Pertama, memberi bantuan harus dilakukan secara sukarela, bukan karena terpaksa atau karena ingin dipuji. Kata “pengumpulan” yang dipakai oleh Rasul Paulus (16:1) berasal dari kata Yunani logia yang berarti pengumpulan uang secara ekstra (di luar kewajiban). Berbeda dengan persembahan yang diberikan secara rutin, persembahan seperti ini diberikan sesuai dorongan Roh Kudus di dalam hati. Ada orang yang tidak mampu, namun tetap memberi karena tidak mau dianggap miskin. Ada orang yang memberi supaya mendapatkan pujian. Motif-motif seperti itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Pemberian harus diberikan secara tulus, sesuai dengan dorongan Roh Kudus.

Kedua, pemberian dilakukan oleh semua jemaat, sesuai dengan kekayaan mereka (16:2). Jemaat yang miskin—jika hatinya tergerak—bisa memberi sedikit. Jemaat yang kaya—jika hatinya tergerak—seharusnya memberi lebih banyak. Jangan terbalik: Yang kaya memberi sangat sedikit, sedangkan yang lebih miskin malah memberi lebih banyak. Walaupun Roh Kudus tidak menentukan berapa jumlah yang harus diberikan, namun ketika seseorang tergerak untuk memberi, ingatlah bahwa yang lebih banyak diberkati seharusnya lebih banyak memberi.

Ketiga, Rasul Paulus mengajarkan bahwa pemberian harus disiapkan lebih dulu di rumah (16:2), dengan tujuan agar setiap orang benar-benar mempersiapkan hati untuk memberi (memeriksa motivasi hati dan memohon pimpinan Roh Kudus). Jumlah yang seharusnya diberikan sesuai dengan berkat yang diperoleh, sehingga pemberian itu berkenan di hati Tuhan dan membangkitkan sukacita di hati kita. [GI Wirawaty Yaputri]

Waspada Ajaran Sesat

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 15:12-34

Beberapa waktu belakangan ini, muncul slogan yang popular di kalangan anak-anak muda (ABG). Slogan itu disingkat “YOLO” yang kepanjangannya adalah, “You Only Live Once”, yang artinya adalah, “Engkau hanya hidup sekali”. Karena hidup hanya sekali, hidup harus dinikmati, tidak perlu bersusah-susah, jangan berpikir ribet, jangan pusing-pusing, nikmatilah hidup ini dan lakukanlah apa yang Anda suka karena hidup hanya sekali. Slogan ini serupa dengan perkataan yang muncul dalam jemaat di kota Korintus, “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (15:32). Orang-orang dengan slogan seperti ini tidak memercayai adanya kebangkitan atau kehidupan kekal sesudah kematian. Pemikiran seperti ini nampaknya berasal dari seorang filsuf Yunani yang bernama Epikurus. Ia berkata, “kita tidak perlu takut terhadap kematian. Pada waktu kita hidup, kita tidak mati. Pada waktu kita mati, kita tidak hidup.”

Orang percaya tidak boleh memiliki prinsip hidup seperti itu karena Yesus Kristus telah bangkit dari kematian dan orang percaya kelak juga akan dibangkitkan (15:20-23). Kehidupan orang Kristen bukan hanya mencakup kehidupan yang singkat di dunia ini, karena orang yang percaya kepada Kristus akan dibangkitkan dan memperoleh hidup kekal. Oleh karena itu, orientasi hidup orang percaya tidak boleh hanya mencakup saat ini, tetapi juga meliputi kekekalan. Rasul Paulus mengatakan bahwa orang-orang Kristen yang hanya berorientasi pada kehidupan masa kini dan tidak memercayai kebangkitan adalah orang-orang yang paling malang, yang harus dikasihani. Untuk apa menjadi Kristen jika ternyata tidak ada kehidupan sesudah kematian? Kebangkitan Kristus menjamin adanya kemenangan atas dosa, dan selanjutnya menjamin adanya kebangkitan dari kematian (15:17-19).

Mengapa ada anggota jemaat Korintus yang tidak memercayai kebangkitan orang mati? Rasul Paulus mengatakan bahwa doktrin yang sesat itu muncul dari pergaulan yang buruk dengan guru-guru palsu atau guru-guru filsafat Yunani yang pemikirannya bertentangan dengan ajaran Alkitab. Kita harus waspada terhadap ajaran-ajaran sesat. Seorang ahli Perjanjian Baru yang bernama Leon Morris mengatakan bahwa doktrin menentukan perbuatan. Doktrin yang tidak benar dapat menghasilkan dosa. [GI Wirawaty Yaputri]

Yesus Bangkit

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 15:1-11

Rasul Paulus mengangkat tema kebangkitan Yesus Kristus dalam suratnya karena ada anggota jemaat Korintus yang tidak memercayai kebangkitan orang mati (15:12). Ia menegaskan bahwa kebangkitan Yesus Kristus bukan mitos atau dongeng, melainkan fakta sejarah. Kebangkitan Yesus Kristus sudah dinubuatkan, baik di dalam Perjanjian Lama maupun oleh Yesus Kristus sendiri (15:3-4). Kebangkitan Yesus Kristus disaksikan oleh murid-murid-Nya dan disaksikan juga oleh lebih dari lima ratus orang percaya yang masih hidup pada waktu Rasul Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat Korintus. Kebangkitan Yesus Kristus adalah hal yang tidak dapat disanggah karena ada ratusan saksi mata yang menyaksikan sendiri tubuh kemuliaan Yesus Kristus. Rasul Paulus adalah saksi mata yang terakhir (15:5-8).

Jika Yesus Kristus tidak bangkit, mustahil kebangkitan-Nya menjadi dasar pemberitaan (terjemahan dari kata dalam Bahasa Yunani, kerygma) Rasul Paulus serta para rasul yang lain, dan selanjutnya menjadi dasar pemberitaan gereja. Secara teologis, kita bisa mengatakan bahwa Yesus Kristus tidak hanya bangkit secara fisik dalam sejarah, tetapi Ia juga bangkit di dalam hati setiap orang percaya. Kebangkitan Yesus Kristus bukan hanya bersifat informatif, tetapi bersifat transformatif. Kebangkitan Yesus Kristus bukan hanya sekadar kabar gembira, tetapi kebangkitan-Nya memiliki kuasa dalam diri orang percaya. Oleh karena itu, berita yang disampaikan para rasul dan orang percaya yang lain telah berkumandang dari Yerusalem sampai ke daerah-daerah yang dikuasai oleh kekaisaran Romawi, termasuk kota Korintus. Hal ini merupakan bukti yang tidak dapat disanggah bahwa ada kuasa dalam berita kebangkitan Yesus Kristus.

Kebangkitan Yesus Kristus mengubah kehidupan setiap orang percaya secara pribadi. Fakta inilah yang seharusnya dilihat oleh orang yang tidak percaya. Kehidupan Rasul Paulus merupakan bukti nyata: Sebelumnya, Paulus adalah seorang penganiaya, pembenci kekristenan. Setelah bertemu dengan Yesus Kristus, ia mempersembahkan hidupnya kepada Kristus dan bekerja keras memberitakan Injil (15:10). Ia rela mengalami penderitaan karena pemberitaan Injil, bahkan ia rela mati demi pemberitaan Injil. Apakah Anda sudah mengalami kuasa kebangkitan Yesus Kristus dan memberitakan Injil? [GI Wirawaty Yaputri]

Karunia dan Pengendalian Diri

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 14:26-40

Pernahkah Anda mendengar ungkapan seperti, “tergantung pada gerakan Roh Kudus”, “nanti lihat saja bagaimana Roh Kudus menggerakkan atau mengarahkan saya”, atau “saya melakukan sesuai dengan pimpinan Roh Kudus”. Dari satu sisi, ungkapan seperti di atas menunjukkan adanya unsur keterpaksaan dalam diri seseorang karena orang itu didorong (dipaksa) oleh Roh Kudus untuk melakukan sesuatu. Di sisi lain, kadang-kadang ungkapan seperti di atas disalahgunakan untuk bertindak semaunya dengan alasan bahwa Roh Kuduslah yang berwewenang mengatur. Salah satu contoh nyata: Orang yang berbahasa roh sering berkata bahwa ia tidak dapat mengendalikan lidahnya, sehingga ia harus terus-menerus berbahasa roh sampai Roh Kudus menghentikannya. Pemikiran seperti di atas bertentangan dengan ajaran Rasul Paulus tentang karunia roh dalam bacaan Alkitab hari ini. Menurut Rasul Paulus, karunia berbahasa roh seharusnya dapat dikendalikan.

Rasul Paulus menegaskan bahwa bila ada orang yang berbahasa roh dalam pertemuan jemaat, harus ada orang yang menafsirkan (14:5). Bila tidak ada orang yang memiliki karunia untuk menerjemahkan bahasa roh, anggota jemaat yang memiliki karunia berbahasa roh harus berdiam diri atau berdoa secara pribadi, dan tidak boleh mengucapkan kata-kata dalam bahasa roh (14:27-28). Dalam sebuah pertemuan jemaat, yang diizinkan untuk berbicara dalam bahasa roh seharusnya hanya dua atau tiga orang saja, dan penggunaan karunia berbahasa roh itu harus dilakukan secara teratur (bergiliran satu per satu) serta diikuti tafsirannya agar bisa dipahami oleh seluruh jemaat. Bahasa roh tidak boleh diucapkan secara serempak (sekaligus beramai-ramai) karena bahasa roh yang diucapkan secara serempak itu tidak akan bisa dimengerti. Petunjuk pelaksanaan penggunaan karunia yang disampaikan oleh Rasul Paulus ini menjelaskan bahwa karunia-karunia Roh Kudus—termasuk karunia berbahasa roh—harus digunakan secara teratur, dengan pengendalian diri. Ingatlah bahwa karunia-karunia rohani harus digunakan untuk membangun jemaat, bukan untuk kebanggaan diri sendiri. Penonjolan karunia tertentu dalam ibadah—seperti karunia berbahasa roh—akan memadamkan karunia-karunia yang lain, padahal karunia berbahasa roh yang tidak ditafsirkan hanya bermanfaat bagi orang yang memiliki karunia itu saja (14:4). [GI Wirawaty Yaputri]

Karunia Yang Berfaedah

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 14:1-25

Dalam sejarah gereja, terdapat banyak kelompok orang Kristen yang sangat mengagungkan karunia berbahasa roh, termasuk jemaat di kota Korintus. Di awal pasal 12, Rasul Paulus mengatakan bahwa dia menginginkan agar jemaat Korintus mengetahui ajaran yang benar tentang karunia-karunia Roh (12:1). Di awal pasal 14, Rasul Paulus melanjutkan uraian tentang pentingnya kasih dalam pasal 13 dengan mengingatkan jemaat Korintus untuk mengejar hal yang paling utama dalam kehidupan Kristen, yaitu memiliki kasih (14:1). Kasih menjadi alasan dan dorongan bagi orang percaya untuk memakai karunia rohani yang ada padanya guna kepentingan bersama.

Selanjutnya, Rasul Paulus menjelaskan bahwa karunia yang paling berguna untuk dimiliki oleh orang percaya adalah karunia bernubuat, bukan karunia berbahasa roh. Di satu sisi, karunia berbahasa roh adalah karunia berbahasa tertentu--yang tidak dimengerti manusia--yang digunakan untuk berdoa kepada Allah (14:2). Bahasa roh tidak ditujukan kepada manusia, melainkan kepada Allah, sehingga pemakaian bahasa roh hanya bermanfaat untuk membangun diri sendiri. Dengan bahasa Roh, seseorang bisa mengungkapkan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan, (bandingkan dengan Roma 8:26). Rasul Paulus tidak bermaksud meremehkan atau menolak karunia berbahasa roh. Akan tetapi, agar bahasa roh itu berguna bagi orang lain, ia meminta agar orang yang memiliki karunia berbahasa roh berdoa juga agar Allah memberikan karunia untuk menterjemahkan bahasa roh, sehingga orang yang berdoa bersama-sama dengan dia dapat mengerti apa yang ia doakan (14:13). Di sisi lain, karunia bernubuat bersifat membangun, menasihati dan menghibur (14:3), sehingga karunia ini bermanfaat untuk anggota jemaat yang lain. Secara khusus, karunia bernubuat ini sangat bermanfaat saat ada orang baru atau orang tidak beriman yang datang ke dalam gereja, karena karunia bernubuat menumbuhkan iman. Sebaliknya, karunia berbahasa Roh membingungkan (14:23-25). Rasul Paulus meminta jemaat Korintus untuk bersikap dewasa dalam menggunakan karunia rohani yang ada pada mereka (ay. 20-22). Jangan memamerkan karunia yang tidak memberi faedah bagi orang lain. Seharusnya, karunia digunakan untuk membangun orang lain karena kita mengasihi Tuhan dan gereja-Nya. [GI Wirawaty Yaputri]

Kasih Melampaui Karunia Roh

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 13

Karunia Roh sangat penting bagi pertumbuhan gereja. Karunia yang dimiliki seorang anggota jemaat dapat membangun iman anggota jemaat yang lain bila karunia tersebut digunakan untuk memuliakan Tuhan. Sekalipun demikian, Rasul Paulus menekankan bahwa memiliki kasih adalah lebih penting daripada memiliki karunia-karunia rohani. Mengapa demikian? Rasul Paulus memberikan beberapa penjelasan:

Pertama, kasih kepada Tuhan dan sesama akan memotivasi seseorang untuk menggunakan karunia rohani yang ada pada dirinya untuk kepentingan bersama. Bila seseorang menggunakan karunia rohani yang ada padanya tanpa kasih, apa yang ia lakukan—sekalipun kelihatan luar biasa--menjadi tidak berarti karena ia menggunakan karunia tersebut untuk kepuasan dirinya sendiri. Ingatlah bahwa tujuan Roh Kudus memberikan karunia rohani karunia rohani kepada seseorang bukanlah sekadar untuk keperluan diri orang itu, melainkan untuk kepentingan membangun gereja, menbangun tubuh Kristus (13:1-3).

Kedua, kasih itu bersifat tidak berkesudahan. Kasihlah yang akan tetap ada saat orang percaya bertemu dengan Tuhan Yesus pada hari kedatangan-Nya. Saat itu, karunia nubuat, karunia bahasa roh, serta karunia pengetahuan sudah tidak ada karena sudah tidak diperlukan lagi (13:8). Oleh karena itu, orang Kristen yang dewasa secara rohani tidak akan mementingkan karunia-karunia rohani secara berlebihan, melainkan akan lebih mengutamakan hadirnya kasih dalam kehidupan (13:11-12). Kemungkinan besar, Rasul Paulus melihat bahwa karunia-karunia rohani sangat penting bagi gereja yang sedang bertumbuh. Akan tetapi, anggota jemaat yang sudah dewasa seharusnya lebih mengejar karakter yang menyerupai karakter Kristus, termasuk memiliki hati yang lebih mengasihi Tuhan dan lebih mengasihi sesama.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Rasul Paulus menjelaskan bahwa kasih itu seharusnya bukan sekadar kata-kata, melainkan harus berwujud perbuatan nyata. Kasih selalu membuat kita berbuat baik terhadap orang lain, bahkan membuat kita rela berkorban untuk kepentingan orang lain. Kasih menghilangkan sikap sombong dan rasa iri hati terhadap orang lain. Kasih membuat kita tidak mudah terprovokasi untuk marah atau memikirkan (mengingat) keburukan orang lain. Sebaliknya, kasih bersifat menutupi kesalahan orang lain. [GI Wirawaty Yaputri]

Anugrah Untuk Membangun

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 12:1-11

Semua karunia rohani diberikan oleh Roh Kudus berdasarkan kehendak-Nya bagi orang percaya. Tujuan utama pemberian karunia-karunia rohani adalah agar orang percaya memuliakan Kristus, baik di tengah jemaat maupun di luar jemaat (12:3). Roh Kudus hadir untuk bersaksi tentang Kristus, sehingga semua karunia rohani jelas dimaksudkan untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk memuliakan diri sendiri. Rasul Paulus menjelaskan hal ini karena ada anggota jemaat Korintus yang bersikap “ masa bodoh” terhadap karunia-karunia rohani. Ayat 1b dapat diterjemahkan menjadi, “Aku tidak ingin kalian bersikap masa bodoh.” Kemungkinan, sikap masa bodoh ini disebabkan karena mereka merasa sudah mengerti tentang karunia-karunia rohani. Rasul Paulus mengingatkan bahwa karunia-karunia Roh Kudus berbeda dengan karunia-karunia yang diajarkan dalam upacara penyembahan berhala (12:1-2).

Karunia-karunia rohani yang diberikan Roh Kudus dimaksudkan untuk membangun gereja (12:7), bukan untuk berkompetisi atau untuk kebanggaan dan kepentingan pribadi. Karunia-karunia rohani itu berbeda-beda bagi setiap orang agar bisa digunakan untuk saling melengkapi. Tidak semestinya bila karunia-karunia yang diberikan oleh Roh yang sama itu dibanding-bandingkan untuk menentukan siapa yang memiliki karunia lebih besar dan siapa yang memiliki karunia lebih kecil (12:11). Pemberian karunia-karunia rohani itu didasarkan pada kehendak dan kedaulatan Roh Kudus, bukan pada kehendak kita. Oleh karena itu, wajar bila kita tidak selalu bisa memahami mengapa Roh Kudus memberikan karunia tertentu kepada seseorang. Yang paling penting untuk diperhatikan adalah bahwa karunia-karunia rohani itu tidak menentukan kedewasaan rohani seseorang. Perkataan “karunia-karunia rohani” dalam bahasa Yunani—yaitu kharismata—berasal dari kata kharisyang berarti anugerah (pemberian tanpa syarat). Kharismata ini diberikan kepada orang-orang tertentu tanpa memandang kedewasaan rohaninya. Oleh karena itu, syarat bagi seorang pemimpin rohani bukanlah karunia rohani, tetapi kedewasaan rohani (1 Tim. 3:1-13; Titus 1:5-9). Karunia-karunia rohani penting untuk membangun jemaat. Akan tetapi, yang terpenting untuk dilakukan oleh semua orang percaya adalah mengejar pengenalan dan keserupaan dengan Kristus, bukan mengejar karunia rohani. [GI Wirawaty Yaputri]

Perjamuan Kudus

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 11:17-34

Perjamuan kudus adalah salah satu upacara gerejawi yang sangat penting. Selain memberikan perintah untuk melaksanakan pembaptisan, Tuhan Yesus memerintahkan semua orang percaya di sepanjang zaman dan tempat untuk melaksanakan perjamuan kudus (Matius 28:19). Namun, sampai sekarang, masih banyak orang percaya yang salah mengerti tentang perjamuan kudus. Ada orang Kristen yang beranggapan bahwa perjamuan kudus adalah sarana untuk mendapatkan berkat Tuhan, misalnya berkat berupa kesembuhan dari penyakit. Ada juga orang Kristen yang percaya bahwa roti dan anggur benar-benar berubah menjadi tubuh dan darah Tuhan Yesus saat diterima dalam perjamuan kudus. Pandangan ini adalah pandangan gereja Roma Katolik.

Pada umumnya, kalangan Protestan berpegang pada ajaran John Calvin. Calvin mengajarkan bahwa Yesus Kristus hadir secara spiritual melalui roti dan anggur perjamuan. Zwingli berpendapat bahwa roti dan anggur adalah simbol yang mewakili tubuh dan darah Yesus Kristus. Perjamuan kudus merupakan upacara yang kudus karena kita memercayai bahwa Yesus Kristus hadir saat perjamuan kudus dilangsungkan. Dengan melaksanakan perjamuan kudus, kita memproklamasikan atau memberitakan kepada semua orang tentang kematian Yesus Kristus yang menyelamatkan orang berdosa (1 Korintus 11:26). Perjamuan kudus harus dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga semua orang—baik orang yang sudah percaya maupun yang belum percaya dapat merasakan kasih Tuhan yang besar melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.

Oleh karena alasan di atas, Rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang tidak menghormati perjamuan kudus. Perjamuan kudus (atau perjamuan Tuhan) pada masa pelayanan Rasul Paulus dilakukan secara bersamaan dengan perjamuan kasih di antara jemaat. Sebelum perjamuan Tuhan dilakukan, anggota jemaat yang kaya sudah makan lebih dulu sampai kekenyangan dan mabuk, sedangkan anggota jemaat yang miskin tidak mendapat bagian dan menjadi lapar (11:20-22). Sikap dan cara melakukan perjamuan kudus yang dipersoalkan Rasul Paulus disini adalah sikap tidak hormat yang akan mendatangkan hukuman Tuhan (11:27-31). Setiap orang percaya harus mempersiapkan diri dengan baik saat menerima perjamuan kudus, yaitu melalui sikap hormat dan penuh ucapan syukur. [GI Wirawaty Yaputri]

Tradisi dan Firman Tuhan

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 11:1-16

Apakah orang percaya boleh mengikuti tradisi? Pertanyaan seperti ini sering ditanyakan oleh orang percaya di segala zaman. Pertanyaan ini muncul karena di satu sisi, kita menghadapi tuntutan dari keluarga dan masyarakat yang tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, kita bergumul karena firman Tuhan yang kita junjung tinggi mengatasi semua tradisi. Dalam surat 1 Korintus ini, Rasul Paulus memberikan prinsip tentang bagaimana bersikap terhadap tradisi bagi orang percaya.

Pada zaman saat Rasul Paulus menuliskan surat 1 Korintus, orang Yunani, Romawi dan Yahudi memegang tradisi tentang pemakaian kerudung (penutup kepala, tudung) di kalangan wanita. Kerudung atau tudung ini hanya untuk menutup kepala dan rambut, bukan cadar yang menutup semua bagian wajah dan hanya menyisakan mata. Wanita yang baik—bukan wanita asusila—selalu memakai tudung saat keluar rumah dan atau saat menghadiri pertemuan-pertemuan. Sebaliknya, kaum pria tidak boleh memakai tudung (penutup kepala) dan tidak boleh memanjangkan rambut karena tindakan semacam itu akan membuat dia terlihat feminine (seperti wanita), dan dengan demikian merendahkan gendernya (jenis kelaminnya) sendiri.

Rasul Paulus meminta jemaat Korintus—pria maupun wanita—tetap menjalankan tradisi ini, karena tradisi ini tidak bertentangan dengan firman Tuhan, bahkan tradisi ini mendukung kebenaran firman Tuhan. Menurut Alkitab, pria diciptakan lebih dulu dan wanita dibentuk dari tulang rusuk pria, sehingga Tuhan menetapkan agar pria menjadi kepala atau pemimpin, baik di gereja maupun di rumah tangga. Wanita diharapkan untuk bersikap tunduk secara sukarela kepada sang kepala, yaitu pria. Sekalipun demikian, Rasul Paulus menekankan bahwa pria pun harus tunduk kepada Kristus sebagaimana Kristus tunduk kepada Allah Bapa (11:3-10). Selain itu Rasul Paulus mengingatkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi (11:11-12). Laki-laki memerlukan perempuan dan perempuan memerlukan laki-laki. Fakta ini merupakan dasar mengapa laki-laki (meskipun menjadi kepala dari perempuan), tidak diperkenankan bersikap atau bertindak semena-mena terhadap perempuan. Ajaran firman Tuhan tentang tatanan laki-laki dan perempuan melampaui tradisi! [GI Wirawaty Yaputri]

Untuk Kemuliaan Allah

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Korintus 10

Apakah makna ungkapan “melakukan segala-sesuatu untuk kemuliaan Allah”? Ungkapan ini adalah nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Korintus agar mereka melakukan segala sesuatu—termasuk makan dan minum—untuk kemuliaan Allah (10:31). Makan dan minum pun harus dilakukan sedemikian rupa agar orang lain turut memuliakan Allah. Hal ini dikatakan Rasul Paulus berkaitan dengan perihal makan daging yang dipersembahkan kepada berhala (10:23-28). Ada jemaat Korintus yang berargumen bahwa segala sesuatu diperbolehkan karena bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan (10:23, 26). Oleh karena itu, memakan daging persembahan berhala bukan masalah karena daging hewan adalah kepunyaan Tuhan. Namun, Rasul Paulus mengingatkan mereka bahwa kebebasan mereka haruslah kebebasan yang membangun dan tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri (10:23-24, mungkin nasihat ini berkaitan dengan diskon yang didapat bila membeli daging persembahan berhala). Memuliakan Tuhan berarti melakukan segala sesuatu dengan berhati-hati agar tidak menimbulkan syak (kecurigaan) dalam hati orang lain, baik orang percaya maupun orang yang tidak percaya, sehingga semua orang yang melihat perbuatan kita turut memuliakan Bapa di surga (10:29-33).

Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar bersikap hati-hati dan tidak menjadi sombong (terlalu percaya diri) karena merasa sudah memiliki iman yang teguh (10:12). Walaupun sudah dibaptis dan sudah terbiasa mengikuti perjamuan kudus, jangan beranggapan bahwa Tuhan sudah pasti berkenan terhadap kehidupan kita (10:16-21). Rasul Paulus mengingatkan bahwa orang Israel pernah mengalami pengalaman rohani yang luar biasa bersama Tuhan. Mereka mendapat banyak sekali hak-hak istimewa (10:1-4). Akan tetapi, Tuhan tidak berkenan kepada mereka karena hati mereka menyimpang kepada penyembahan berhala, percabulan, sikap mencobai Tuhan, dan bersungut-sungut (10:6-10). Walaupun makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala adalah makanan biasa yang boleh dimakan, orang Kristen tidak boleh memakan makanan itu bersama-sama dengan para penyembah berhala dalam suatu upacara penyembahan karena mengikuti upacara penyembahan berhala berarti ikut menyembah berhala (10:18-22). Apakah segala sesuatu yang Anda lakukan bertujuan untuk memuliakan Tuhan? [GI Wirawaty Yaputri]