Bersyukur, Ada Pelayanan Imam

Imamat 9

Di dalam bacaan Alkitab hari ini (Imamat 9), kita bisa membaca tentang apa yang menjadi keinginan Allah bagi umat-Nya setelah Dia memberikan ketetapan-ketetapan-Nya tentang berbagai korban persembahan kepada-Nya dan setelah penahbisan Harun sebagai imam besar dan penahbisan anak-anak Harun sebagai imam-imam biasa. Bagian firman Tuhan yang kita baca ini mengisahkan pelayanan di Kemah Pertemuan yang diadakan pertama kali. Adanya “persembahan korban penghapus dosa dan korban bakaran bagi imam-imam (Harun dan anak-anaknya)” dan “persembahan korban penghapus dosa, korban bakaran, korban keselamatan, dan korban sajian bagi umat Israel”, menunjukkan bahwa baik imam-imam maupun umat Israel sama-sama berdosa dan membutuhkan pengampunan dari Tuhan. Tujuan dari semua pelayanan ibadah di Kemah Pertemuan ini adalah agar Tuhan berkenan menyatakan diri-Nya (dan sekaligus kemuliaan-Nya) kepada umat Israel, sehingga umat-Nya dapat mengalami kehadiran Allah dalam kemuliaan-Nya (baca Keluaran 29: 43-46).

Kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui api yang secara ajaib keluar dari hadapan Tuhan, kemudian menghanguskan korban bakaran dan segala lemak yang diletakkan di atas mezbah (Imamat 9:24). Adanya pelayanan imam-imam menurut kehendak Tuhan Allah bagi umat Israel adalah untuk menjadi sarana yang dipakai oleh Tuhan untuk menyata-kan kemuliaan-Nya di tengah-tengah umat-Nya. Selanjutnya, umat Israel dipanggil untuk menjadi imam-Nya bagi bangsa-bangsa di sekitar Israel, agar kemuliaan-Nya juga dinyatakan bagi bangsa-bangsa lain.

Rasul Petrus menuliskan bahwa kita adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9). Kita diberi privilege (hak istimewa) oleh Tuhan Allah untuk menjadi imam-imam (lihat juga Wahyu 1:6). Betapa indahnya bahwa kita yang telah dipilih oleh Allah juga dipercaya untuk men-jalankan pelayanan sebagai imamat yang rajani (imam yang diutus oleh Raja yang Agung bagi dunia ini), supaya “seluruh bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan Allah” (Habakuk 2:14). [GI Abadi]

Lembu Jantan Hapus Lembu Emas

Imamat 8

Di dalam bacaan Alkitab hari ini, Tuhan Allah memerintahkan Musa untuk menahbiskan Harun dan anak-anaknya. Gambaran prosesi penahbisan ini dijelaskan secara amat terperinci, termasuk masalah pakaian, minyak urapan, dan (terutama) adanya lembu jantan korban penghapus dosa serta dua domba jantan dan bakul berisi roti yang tidak beragi (8:2). Gambaran lebih lengkap tentang penahbisan Harun dan anak-anaknya dapat dibaca dalam Keluaran 28-29. Penahbisan Harun sebagai imam besar dan anak-anak Harun sebagai para imam yang melayani dalam Kemah Pertemuan dan melayani mezbah adalah agar umat Allah mengetahui bahwa “[Dia-lah] TUHAN Allah yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya [Dia] diam di tengah-tengah mereka, [menjadi] Allah mereka” (Kel. 29: 44-46).

Dalam Imamat pasal 8, frase “yang diperintahkan Tuhan” tertulis sebanyak 7 (tujuh) kali (8:4; 9; 13; 17; 21; 29; 36). Pengulangan sampai tujuh kali—angka kesempurnaan dalam perspektif Alkitab—menunjuk-kan bahwa penahbisan Harun dan anak-anaknya sebagai imam telah dilakukan “secara utuh”. Pengulangan ini juga memperlihatkan ketaatan Musa dan Harun “sepenuhnya” terhadap firman Tuhan Allah. Umat Allah yang berkumpul (8:4) dalam upacara penahbisan menunjukkan bahwa upacara itu adalah “tonggak sejarah” dalam sejarah umat Allah (bandingkan dengan 8:9 tentang “penahbisan orang Lewi” dan Bilangan 20:8 tentang narasi “air dari bukit batu”).

Ada satu hal yang mengingatkan akan kasih karunia Allah dalam prosesi ritual ini, yaitu adanya “lembu jantan” sebagai korban penghapus dosa. Harun dan anak-anaknya menerima pengampunan melalui penyembelihan korban lembu dan melalui darahnya yang menyucikan. Pembuatan “Lembu” (“anak lembu emas”, Keluaran 32) adalah kesalahan fatal Harun yang membuat Allah murka terhadap umat-Nya. Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih karunia-Nya kepada Harun dan anak-anaknya melalui seekor “lembu” lain sebagai korban penghapus dosa. Jelaslah bahwa Tuhan masih mau mengampuni Harun dan memakai dia sebagai imam-Nya, sekalipun dia telah melakukan kesalahan besar. Apakah Anda sudah bersyukur karena kita mempunyai seorang Imam Besar Agung yang jauh melebihi Harun (Ibrani 4: 14 dan seterusnya.)? [GI Abadi]

Ingatlah Bagian untuk Para Imam

Bacaan Alkitab hari ini:
Imamat 7:22-38

Di dalam bacaan Alkitab hari ini, umat pilihan Allah kembali diingatkan agar tidak memakan lemak dari hewan yang dipersembahkan sebagai korban api-apian bagi Tuhan dan tidak memakan darah apa pun (baca juga 3:16b-17). Larangan ini dilatarbelakangi oleh keyakinan bahwa lemak dari hewan yang dipersembahkan sebagai korban adalah milik Tuhan dan darah merupakan sarana penebusan/pendamaian (bandingkan dengan 17:10 dan seterusnya). Seriusnya larangan itu diberikan melalui suatu peringatan, yaitu bahwa siapa pun yang melanggar ketetapan ini akan dilenyapkan dari antara bangsa Israel (7:25; 27).

Di dalam ritual (upacara) persembahan korban keselamatan, Tuhan “mengingat” para imam yang melaksanakan ritual tersebut serta menetapkan apa yang menjadi bagian bagi imam yang melaksanakan ritual serta bagi Imam Besar Harun dan anak-anak-Nya. Hal yang menarik di sini adalah bahwa Tuhan menetapkan “dada” dari persembahan unjukan dan “paha kanan” dari persembahan khusus pada korban keselamatan sebagai porsi yang harus disisihkan untuk imam Harun dan anak-anaknya (7:34). Jelaslah bahwa Tuhan Allah menaruh perhatian besar kepada mereka yang melayani persembahan dan yang membawa umat-Nya untuk beribadah kepada Tuhan Allah. Perhatikan bahwa bagian “kanan” adalah bagian terbaik bagi manusia, sedangkan “lemak” adalah bagian terbaik milik Tuhan.

Di dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus mengingatkan jemaat Tuhan (di kota Korintus) agar mereka memperhatikan bagian yang harus dikhususkan bagi mereka yang menjadi pemberita Injil dengan cara membandingkan pelayanan mereka yang memberitakan kabar baik dengan mereka yang melayani mezbah. “Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1 Korintus 9:13-14). Tuhan begitu peduli terhadap umat-Nya dan juga terhadap para pelayan-Nya. Di dalam konteks masa kini, apakah Anda juga memperhatikan dan menaruh hormat kepada pelayan-pelayan Tuhan? [GI Abadi]

Layakkah Aku di Meja Perjamuan?

Bacaan Alkitab hari ini:
Imamat 7:1-21

Dalam bacaan Alkitab hari ini, sekali lagi Tuhan Allah memberi perintah dan petunjuk kepada Harun dan anak-anaknya (para imam) tentang pengaturan persembahan korban penebus salah dan korban keselamatan. Firman Tuhan mengungkapkan bahwa Tuhan Allah memperhatikan mereka yang melayani. Persembahan korban bakaran dari binatang harus dibakar semuanya, kecuali bagian kulit yang menjadi bagian para imam. Demikian pula halnya dengan korban sajian. Korban sajian yang dimasak (7:9, yaitu dibakar, diolah dalam wajan, dipanggang) diberikan kepada imam yang mengerjakan ritual, sedangkan korban sajian yang tidak dimasak diberikan kepada semua imam (anak-anak Harun). Kita tidak mengerti mengapa korban sajian jenis pertama (dimasak) hanya untuk imam yang melakukan ritual dan korban sajian jenis kedua (tidak dimasak) bagi semua anak-anak Harun. Ada kemungkinan bahwa korban sajian yang pertama (dimasak) lebih jarang dan jumlahnya lebih sedikit.

Dalam hukum tentang korban keselamatan, Tuhan Allah memberi kesempatan kepada umat Allah yang mempersembahkan untuk ikut memakan persembahan itu, selain ada bagian khusus untuk imam. Dalam memakan persembahan, Tuhan Allah mengingatkan umat-Nya untuk memakan korban keselamatan berupa daging korban syukur pada hari itu juga dan tidak boleh disisakan untuk keesokan harinya. Untuk korban nazar dan korban sukarela, umat Allah harus makan korban tersebut pada hari itu juga, tetapi masih boleh memakan sisanya pada keesokan harinya. Akan tetapi, pada hari ketiga, bagian yang tersisa harus dibakar. Jika umat masih makan persembahan itu pada hari ketiga, Tuhan tidak lagi berkenan kepada orang itu. Di sini kita melihat keseriusan Allah akan kekudusan-Nya dan kasih setia-Nya terhadap umat-Nya. Secara natural, makanan daging yang dibiarkan begitu saja sudah rusak pada hari ketiga dan tidak layak untuk dimakan. Kekudusan Allah menuntut bahwa korban binatang harus tanpa cacat dan hanya umat yang berkenan kepada Allah yang boleh beribadah kepada Allah. Dalam sakramen perjamuan kudus, kita (yang mengaku percaya kepada Kristus) diundang untuk makan dan minum semeja dengan Tuhan. Namun, apakah sebelum mengikuti perjamuan kudus, kita senantiasa memohon agar Tuhan menguduskan diri kita? [GI Abadi]

Api Yang Tetap Menyala

Bacaan Alkitab hari ini:
Imamat 6:8-30

Tuhan Allah memberi petunjuk yang sangat terperinci tentang cara mempersembahkan korban kepada-Nya. Berbeda dengan bacaan Alkitab sebelumnya, bacaan Alkitab hari ini berisi instruksi kepada para imam, yaitu Harun dan anak-anaknya.

Untuk pengaturan korban bakaran, para imam diingatkan untuk menjaga supaya “api di atas mezbah tetap menyala”. Api yang menyala mengingatkan umat Israel akan (1) kehadiran Allah yang menjadi penuntun dan pelindung mereka (Keluaran 13:21), serta (2) murka Allah yang membakar dosa dan para pendosa (Imamat 10:1-3). Api yang dijaga agar tetap menyala mengingatkan bahwa kehadiran Allah selamanya ada dan sekaligus mengingatkan tentang kebutuhan penebusan dari dosa dan pengudusan yang terus-menerus.

Dalam pengaturan tentang korban sajian, kita melihat bahwa Tuhan Allah sangat memperhatikan para pelayan-Nya (para imam). Dia memerintahkan bahwa sisa selebihnya dari korban sajian yang telah dikhususkan untuk Tuhan merupakan bagian untuk Harun dan anak-anak-Nya. Namun, jika imam-imam itu sendiri yang mempersembahkan korban sajian kepada Tuhan, seluruh korban sajian itu harus dibakar untuk Tuhan menjadi bau yang menyenangkan bagi Tuhan.

Pengaturan korban penghapus dosa mengajarkan tentang kekudusan Allah. Kekudusan memiliki kualitas “menjalar”. Setiap orang yang tersentuh (terkena) sesuatu yang kudus akan terpengaruhi sehingga menjadi kudus (6:18b). Darah yang menguduskan mezbah dan barang-barang suci lain-nya tidak boleh menyentuh barang-barang lain. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan segera, apakah barang-barang terebut dibersihkan atau dicuci (6:27) atau dihancurkan (6:28).

Melalui pengaturan persembahan korban, kita melihat bahwa Tuhan Allah sangat mempedulikan umat-Nya. Dia ingin agar umat-Nya mengenal Dia sebagai Allah yang berinisiatif untuk membawa mereka kepada hubungan yang benar, baik itu berupa pendamaian melalui persembahan korban-korban tersebut maupun berupa peringatan akan kekudusan Allah. Syukur kepada Tuhan Yesus! Melalui karya Tuhan Yesus di atas kayu salib, seluruh maksud upacara persembahan korban sudah digenapi. Tuhan Yesus sekali saja menjadi korban di kayu salib, dan dampaknya untuk selama-lamanya (Ibrani 7:27). [GI Abadi]

Korban Penebus Salah Sudah Tersedia

Bacaan Alkitab hari ini:
Imamat 5:14-6:7

Dalam bacaan Alkitab hari ini, dijelaskan tentang jenis persembahan korban yang terakhir, yaitu “korban penebus salah”. Semua jenis persembahan—termasuk korban bakaran, korban keselamatan, dan korban penyucian—mencakup penumpahan darah yang berhubungan dengan “mengampuni kesalahan”. Akan tetapi, persembahan “korban penebus salah” memiliki ciri khas, yaitu memberi ganti rugi terhadap orang yang telah dirugikan secara materi karena kesalahan dan pelanggaran pemberi persembahan, sekaligus memohon pengampunan kepada Tuhan Allah sendiri. Pelanggaran yang disebutkan di sini adalah pelanggaran kepercayaan (“berubah setia’).

Ada tiga jenis pelanggaran di sini: Pertama, pelanggaran yang berhubungan dengan “sesuatu hal kudus”, artinya segala sesuatu yang sudah dipersembahkan kepada Tuhan Allah, untuk para imam dan kemah Allah. Apa yang diperlukan untuk menebus kesalahan ini adalah pengorbanan seekor domba jantan yang tidak bercela dan pembayaran ganti-rugi yang ditambah 20% dari nilai itu. Kedua, pelanggaran yang tidak jelas tetapi sang penyembah “merasa bersalah” sekalipun dia tidak tahu pelanggarannya. Pemberi persembahan hanya mempersembahkan korban untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan Allah, tetapi tidak perlu membayar ganti-rugi 120 % tersebut. Ketiga, pelanggaran yang merugikan orang lain karena merusak kepercayaan menyangkut materi, termasuk barang yang dipercayakan, rampasan, pemerasan, atau penyangkalan terhadap barang yang ditemukan. Pelanggaran ini ditebus dengan mempersembahkan seekor domba jantan ditambah dengan ganti-rugi sebesar 120%. Untuk kasus serupa, jika yang melanggar tidak mau mengaku, namun terbukti bersalah, pembayaran ganti-rugi mencapai 200% (Keluaran 22:7-15). Pemberian ganti rugi kepada sesama harus dilakukan sebelum mempersembahkan korban kepada Tuhan. Pelanggaran secara aspek horizontal harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum aspek vertikal (hubungan dengan Tuhan) diselesaikan.

Dalam Yesaya 53, yang dipercayai sebagai nubuatan tentang Kristus Yesus, disebutkan tentang korban penebus salah (Yesaya 53:10). Jadi, kematian Kristus merupakan korban penebus salah—karena dosa-dosa horizontal kita juga—yang telah memuaskan Allah. Oh, betapa indahnya karya pengorbanan Yesus! [GI Abadi]

Disucikan oleh Darah

Bacaan Alkitab hari ini:
Imamat 4:1-5:13

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita membaca tentang satu jenis persembahan lagi. Alkitab versi Terjemahan Baru memberikan judul untuk perikop ini sebagai “korban penghapus dosa.” Sebenarnya, jenis persembahan ini lebih tepat bila diterjemahan sebagai “korban penyucian” (purification offering). Bacaan Alkitab hari ini membahas tentang mengapa dan bagaimana seseorang harus mempersembahkan korban penyucian. Jika ada orang yang berbuat dosa (melanggar kehendak Tuhan) dengan tidak sengaja, dia perlu mempersembahkan korban penyucian. Jika seseorang lalai dan melakukan kesalahan, lalu menyadarinya (5:1-4), dia juga perlu mempersembahkan korban penyucian. Saat seorang perempuan melahirkan, dia menjadi tidak tahir, sehingga dia harus mempersembahkan “korban penyucian” (12:6). Hal yang sama juga berlaku bagi orang berpenyakit kusta yang telah sembuh dan menjadi tahir (14:19) serta pria yang mengeluarkan lelehan (15:15). Jadi, korban penyucian bukan hanya perlu dipersembahkan karena dosa yang diperbuat secara tidak sengaja, tetapi juga karena kenajisan.

Salah satu fitur paling penting dalam korban penyucian adalah “pemercikan” darah binatang. Lokasi pemercikan darah dan jenis binatang yang dikorbankan tergantung kepada level tanggung-jawab, keseriusan, dan kemampuan orang tersebut. Jika yang berbuat dosa dengan tak sengaja adalah rakyat jelata, darah korban tersebut hanya perlu dibubuhkan di tanduk-tanduk mezbah korban bakaran. Jika seluruh umat atau imam besar berbuat dosa, darah korban harus dipercikkan ke bagian dalam kemah Allah. Dosa dan pencemaran individu dapat mencemarkan kemah Allah, tempat Allah memilih untuk tinggal bersama umat-Nya. Ingatlah prinsip berikut: “Bukan Tuhan Allah, tetapi manusia, yang mengalami celaka karena pencemaran dosa”. Kesucian Allah dapat diungkapkan dalam murka-Nya jika dosa dan kecemaran tidak segera disucikan. Bacaan Alkitab hari ini mengajarkan bahwa “segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah” (Ibrani 9:22).

Dalam Perjanjian Baru, kita mendapat penjelasan bahwa Tuhan Yesus—sebagai Imam Besar Perjanjian Baru—telah mempersembahkan darah-Nya sendiri untuk “menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia” (Ibrani 9:11-14). Apakah hati Anda telah dipenuhi rasa syukur atas karya pengorbanan-Nya bagi orang berdosa? [GI Abadi]

Ingat, Lemak Adalah Kepunyaan Tuhan!

Bacaan Alkitab hari ini:
Imamat 3

Bacaan Alkitab hari ini mengajarkan tentang persembahan korban keselamatan. Tujuan persembahan korban keselamatan adalah untuk mendapatkan keselamatan (damai-sejahtera) serta menjalin persekutuan antara yang mempersembahkan dengan Tuhan. Persembahan korban keselamatan merupakan ungkapan syukur kepada Allah atas segala berkat-Nya. Di pasal 7, kita bisa membaca tentang tiga macam persembahan korban keselamatan, yaitu korban syukur, korban nazar, dan korban sukarela (7:11, 16). Perhatikan bahwa dalam upacara persembahan korban keselamatan, sesudah bagian untuk Tuhan Allah dipersembahkan lebih dahulu, orang yang mempersembahkan dan para imam ikut mendapat bagian makanan dari persembahan korban ini.

Prosedur mempersembahkan korban keselamatan ini mirip dengan persembahan korban bakaran, termasuk hal menyiramkan darah ke sekeliling mezbah. Binatang yang dipakai sebagai korban keselamatan dapat berupa lembu atau kambing domba, tetapi—berbeda dengan korban bakaran—binatang yang dipersembahkan dapat berupa hewan jantan maupun betina. Hal ini menunjukkan bahwa korban keselamatan tidak sepenting korban bakaran (yang harus berupa binatang jantan). Hanya bagian lemak dari binatang—yang dibakar semuanya sebagai korban api-apian—yang baunya menyenangkan bagi Tuhan. Lemak dipandang sebagai bagian yang terbaik dari binatang. Mempersembahkan semua lemak kepada Allah merupakan pengakuan bahwa Tuhan itu layak menerima segala hormat dan pujian.

Bagaimana dengan mereka yang menganggap rendah ritual persembahan korban ini? Alkitab memberikan peringatan melalui kisah Imam Eli yang membiarkan anak-anaknya—sebagai imam-imam—memakan lemak dari persembahan ini. Eli ditegur karena ia dianggap lebih menghormati anak-anaknya daripada menghormati Tuhan (1 Samuel 2:29). Imam Eli bukan hanya mendapat teguran, tetapi Tuhan menghukum keluarganya karena “Segala lemak adalah kepunyaan Tuhan”. Selain lemak—bagi orang Israel—darah juga tidak boleh dimakan karena darah merupakan simbol kehidupan. Prinsip firman Tuhan dalam persembahan korban keselamatan adalah “Segala yang terbaik adalah kepunyaan Tuhan!” Berikanlah yang terbaik kepada Tuhan. Bagaimana dengan Anda? [GI Abadi]

Apakah Korban Sajian-mu?

Bacaan Alkitab hari ini:
Imamat 2

Dalam Imamat pasal 2, Tuhan Allah menjelaskan aturan dalam mempersembahkan korban sajian: Pertama, korban sajian terbuat dari tepung terbaik, minyak, dan kemenyan. Korban sajian bukan binatang. Hanya segenggam korban sajian yang dibakar di atas mezbah (2:2). Bagian selebihnya (yang tidak dibakar) diberikan untuk Harun (Imam Besar) dan anak-anaknya (para imam). Meskipun dapat dipersembahkan secara tersendiri, biasanya persembahan korban sajian dipersembahkan sesudah korban bakaran dipersembahkan lebih dulu.

Kata dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan sebagai “korban sajian” mengandung arti “penghormatan” atau “pemberian”. Oleh karena itu, orang yang mempersembahkan “korban sajian” seperti bawahan yang memberi “hadiah” untuk menyenangkan hati atasannya. Dengan demikian, persembahan “korban sajian” merupakan ungkapan “penghormatan” dari seorang penyembah yang setia kepada Tuhan yang telah menyelamatkan umat-Nya. Ketika mempersembahkan korban bakaran kepada Allah, umat Allah mendapat pengampunan dosa. Sebagai respons terhadap pengampunan yang telah mereka terima, umat Allah mengungkapkan rasa syukur dan ketaatan kepada Allah dengan cara mempersembahkan korban sajian. Korban sajian yang dibakar (hanya segenggam tangan) menjadi “bagian ingat-ingatan” dan korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi Tuhan (2:2). “Bagian ingat-ingatan” berarti korban tersebut mengingatkan Tuhan akan perjanjian kasih setia-Nya terhadap umat-Nya yang dinyatakan melalui garam perjanjian yang dibubuhkan ke atas korban sajian (2:13).

Alkitab tidak menjelaskan arti dan fungsi dari bahan yang terkandung dalam korban sajian tersebut. Korban sajian tidak boleh mengandung ragi atau madu (2:11). Mungkin larangan ini disebabkan karena keduanya memiliki efek fermentasi yang bersifat “merusak”. Sebaliknya, korban sajian harus dibubuhi minyak dan kemenyan (2:15) yang membentuk nuansa “sukacita” atau “menyenangkan hati” (Amsal 27:9). Saat ini, kita sudah tidak perlu mempersembahkan korban sajian karena sudah ada korban yang sempurna, kekal, dan baunya menyenangkan hati Tuhan, yang disediakan Allah di dalam Kristus Yesus. Sebaliknya, kita dapat mempersembahkan hidup dan mulut kita sebagai pujian penghormatan bagi Tuhan. [GI Abadi]

Puji Syukur, ada Korban Bakaran

Bacaan Alkitab hari ini:
Imamat 1

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Tuhan mengajarkan tentang tiga kategori binatang yang dapat dipersembahkan kepada Tuhan sebagai korban bakaran yang baunya menyenangkan bagi Tuhan (1:9, 13, 17), sehingga Allah berkenan. Ketiga kategori binatang tersebut adalah lembu (1:3-9), kambing atau domba (1:10-13), dan burung (burung tekukur atau anak burung merpati) (1:14-17). Adanya pilihan ini membuat orang Israel bisa memilih untuk memberikan persembahan korban sesuai dengan kemampuan keuangannya. Yang penting adalah bahwa seorang yang hendak mempersembahkan korban harus bersedia membayar harga (bandingkan dengan 2 Samuel 24:24).

Ada beberapa prinsip utama tentang persembahan korban bakaran yang perlu untuk kita perhatikan: Pertama, binatang yang dipersembahkan haruslah binatang jantan yang tidak bercacat cela (1:3, 10). Binatang yang cacat kurang bernilai sehingga tidak layak dipersembahkan kepada Tuhan (bandingkan dengan Maleakhi 1:8). Kedua, tindakan meletakkan tangan ke atas binatang yang dikorbankan (1:4) menunjukkan bahwa orang yang mempersembahkan korban mengidentifikasikan (menempatkan) dirinya sebagai korban bakaran tersebut. Korban bakaran itu menanggung segala kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan oleh si pemberi persembahan. Ketiga, binatang yang dikorbankan harus dibakar seluruhnya untuk Tuhan. Penyiraman darah binatang ke sekeliling mezbah (1:11) dilakukan karena (pada hakikatnya) darah mengandung kehidupan. Tindakan di atas mencerminkan prinsip, ‘Jika kamu ingin hidup, maka sesuatu harus mati menggantikan kamu” (bandingkan dengan Keluaran 12:1-30).

Tuhan Yesus telah mempersembahkan diri-Nya untuk kita semua, umat manusia yang berdosa. Dia tidak bercacat cela (tidak berdosa) (Ibrani 9:14; 1 Petrus 1:19). Dia menanggung segala penyakit, kesengsaraan, dan dosa kita (Yesaya 53:5). Dia telah menjadi persembahan dan korban yang menyenangkan bagi Allah Bapa (Efesus 5:2). Dia mempersembahkan diri-Nya (tubuh-Nya) sendiri sebagai korban (Ibrani 7:27). Oh, sungguh ajaib dan indahnya pengorbanan Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah! Apakah Anda merasa sedang memikul beban yang berat karena dosa dan pelanggaran yang Anda perbuat? Datanglah kepada Tuhan Yesus! [GI Abadi].